Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 87 : Kedatangan Ibu


__ADS_3

"Ibu kamu mencarimu, Ivan," ujar Giselle dan segera Ivan bangkit berdiri dan meninggalkan dapur.


Giselle melirik dan terkejut Bella masih ada di sini. "Ibunya datang?"


Giselle mengangguk dengan ragu.


Ivan menghampiri ibunya yang tengah berdiri di lorong istana.


"Ibu? Kenapa ibu ada di sini?" Ibunya menoleh dan segera berkata.


"Kamu harus berhenti dari pekerjaanmu dan bantu ibu di desa."


"Ibu..." dia menghela nafas panjang. "Bu... Aku tidak bisa mengundurkan diri secepat itu. Mereka sedang membutuhkanku."


"Setidaknya ada pengganti kamu yang lain. Lebih baik kamu pulang bersama ibu ke desa. Ibu sudah mencari jodoh buat kamu di sana."


Mendengar itu, Ivan dibuat kaget. "Ibu!! Aku tidak mau menikah dengan orang yang aku tidak tau."


"Nanti kamu bisa kenalan sama dia, Ivan," balas ibunya tidak mau kalah.


"T-tapi..."


"Pokoknya kamu harus nurut sama ibu, mengerti? Tidak boleh ada alasan dari mulutmu."


"Dan satu lagi, besok lusa kamu sudah berhenti dari tempat ini."


Ibunya pergi meninggalkan Ivan sendirian di sana.


Di dapur....


"Kemana Ivan?" tanya Bianca melihat kalau di dapur cuman ada Bella di sana.


"Dia sedang menemui ibunya, yang mulia."


"Hah? Ibunya Ivan datang ke sini? Malam-malam begini?" Bella mengangguk mengiyakan.


Bersamaan, Ivan datang dengan raut wajah penuh sedih. "Ada apa, Ivan? Wajahmu sangat sedih sekali."


Ivan melirik ke arah Bella dan ia kembali memandang ke arah sang ratu. " Yang mulia... Bisa kita bicara sebentar di ruangan kerja anda. Ada hal yang saya katakan dengan anda."


Tanpa pikir panjang, Bianca mengangguk saja.


"Bella, kamu boleh pulang sekarang."


"Baik, yang mulia," balasnya dan mereka berdua segera pergi meninggalkan Bella sendirian.


Setiba di ruang kerja Bianca, Ivan langsung mengatakan secara langsung. "Ibuku menyuruh untuk berhenti bekerja di sini."


Bianca hanya bisa diam saja. Antara kaget dan tidak kaget.


"Pasti karena perjodohan itu, bukan?"


"Darimana anda tau yang mulia?" tanya Ivan terkejut.

__ADS_1


"Bukannya kamu sudah bilang sebelumnya, Ivan?" Ivan langsung teringat apa yabg dia katakan sebelumnya.


"Tapi aku tidak mau berhenti. Selain karena aku suka bekerja di sini, orang-orang juga membutuhkanku."


"Benar sih..." gumam Bianca membenarkan perkataan Ivan.


"Apa yang harus aku lakukan? Dua hari lagi, ibuku akan datang lagi dan juga akan menjemputku..."


Mereka berdua berusaha memikirkan caranya supaya Ivan tidak berhenti bekerja.


"Bagaimana..." tiba-tiba Bianca memiliki sebuah ide yang cukup gila.


"Bagaimana kalau kamu mencari wanita sendiri saja. Atau tidak pura-pura pacaran gitu, lah..."


Ivan pun terdiam begitupun juga Bianca. Ia menghela nafas panjang.


"Ide anda.... M-masuk akal..." jawabnya dengan keraguan. Melihat reaksi Ivan, Bianca berkata, " Sepertinya kamu keberatan, Ivan."


Ivan menghela nafas panjang lagi.


"Apa boleh buat... Mau tidak mau aku harus menuruti perkataan ibu," mendengar itu, Bianca langsung menoleh ke arah Ivan dengan pandangan tidak percaya.


"Kamu serius, Ivan? Tapi..."


"Tidak apa-apa, yang mulia... Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," balasnya sambil tersenyum dan ia langsung pergi menuju ke kamarnya.


Bianca keluar dari ruangan kerjanya setelah kepergian Ivan dan betapa terkejutnya melihat Bella yang berada di depannya.


"Kenapa kamu ada di sini? Bukannya aku menyuruhmu pulang?"


"Ya udah... Habis itu kamu pulang, ya..."


Bella mengangguk dan berjalan meninggalkan Bianca, tetapi ia berhenti dan menoleh ke arah sang ratu.


"Yang mulia..." Bianca menoleh ke arahnya dengan tanda tanya.


"Bolehkah... Bolehkah saya tau permasalahan Ivan ada apa?"


...****************...


Patrick menguap dengan lebar dan melihat Oscar dan Ivan berdiri di depannya. "Kalian berdua ngapain sih di jam segini?" tanyanya setengah ngantuk.


Ini sudah pukul 11 malam dan dua makhluk itu tiba-tiba datang ke kamarnya.


"Tuan Firlutz... Sebenarnya..." Oscar menoleh ke arah Ivan dan Patrick juga menoleh ke arah koki tersebut.


"Ada apa, Ivan?" Ivan menelan ludahnya sendiri.


"T-tolong saya, Tuan Firlutz!!" seketika Ivan berlutut memohon kepada si penyihir agung itu membuat Patrick maupun Oscar dibuat terkejut bukan main.


"I-ivan... Ba-bangunlah... Sebenarnya apa yang terjadi?" ujar Patrick semakin panik.


Ivan segera bangkit dan menceritakan apa yabg sebenarnya terjadi kepada Patrick dan Oscar tentu saja.

__ADS_1


"Kamu bilang besok lusa kamu harus berhenti bekerja di sini dan kamu harus ikut dengan ibumu pulang ke desamu untuk dijodohkan, begitu?"


Ivan mengangguk mantap. "Dan kamu bilang kalau kamu tidak mau dijodohkan karena... Kamu memiliki trauma dengan wanita?" tanya Oscar dan Ivan sekali lagi mengangguk mantap.


Baik Oscar dan Patrick saling pandang satu sama lain. Ini permasalahan yang sangat rumit yang pernah mereka dengar.


Patrick berusaha berpikir sejenak, sementara Oscar menanyakan dengan berhati-hati kepada Ivan kenapa Ivan bisa memiliki trauma seperti itu.


Ivan menjelaskan dari awal hingga akhir yang intinya ia sering dikejar oleh para wanita dan pernah dilecehkan oleh wanita juga.


Mendengar itu baik Oscar dan Patrick langsung menelan ludah sendirinya. Makin ruwet nih mencari solusinya.


"Tuan Firlutz... Tolonglah aku!! Apapun caranya supaya aku tidak boleh dijodohkan oleh wanita pilihan ibu!!"


Patrick menghela nafas panjang. Ada satu cara, tetapi ini tidak akan berefek panjang.


"Aku bisa membantumu, tetapi... Efeknya tidak lama."


"Apa itu?" tanya Oscar penasaran. Begitupun juga dengan Ivan.


"Alu bisa membuat ibumu lupa tentang itu, tetapi itu akan bertahan selama 2 hari."


Mereka bertiga kemudian terdiam cukup lama. "Jadi... Bagaimana?" tanya Patrick dengan hati-hati.


"Itu... Itu tidak efesien, Tuan Firlutz... Kalau udah 2 hari... Akan sama saja dengan sebelum memakai sihir."


Mereka bertiga kembali berpikir bagaimana caranya menolong Ivan.


"Oh! Aku punya ide!!" seketika Patrick dan Ivan langsung menoleh ke Oscar.


"Bagaimana?!" tanya Ivan antusias.


Oscar langsung menepuk dadanya dengan percaya diri.


"Serahkan saja padaku, Ivan!!"


2 hari kemudian...


Ibunya Ivan telah datang dan tentu saja untuk menjemput putranya pulang ke desanya.


Giselle, Rossa, dan Bianca mengintip dibalik tembok kejauhan di sana.


"Astaga... Ibunya Ivan benar-benar serius membawa Ivan pulang," ujar Giselle tidak habis pikir.


Tiba-tiba muncul Oscar yabg datang menghampiri ibu beruang putih itu. Ketiga wanita itu melihat Oscar dan ibu Ivan tersebut sedang berbincang sejenak.


"Mereka sedang ngapain?" tanya Rossa penasaran.


Mereka bertiga menunggu sambil melihat kedua orang itu dan setelah ibu Ivan pergi, ketiga wanita itu langsung berlari menghampiri Oscar.


"Oscar..." Oscar menoleh ke mereka dan berkata, " Kalian... Kalian menguping?"


"Simpan perkataanmu, Oscar. Kamu sedang berbicara dengannya, bukan?" tanya Bianca dengan serius.

__ADS_1


"Tentu saja. Kalian penasaran bukan apa yang aku bicarakan dengan ibunya?" mereka bertiga saling pandang satu sama lain.


Mereka penasaran apa yang dibicarakan oleh Oscar.


__ADS_2