
Giselle melihat sekelilingnya dengan takjub. Ini pertama kalinya ia bisa melihat istana Aspendia dengan kedua matanya sendiri.
"Selamat datang di Istanaku, Giselle," ucap Bianca sambil menyambut tamu dengan hormat.
"Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Calius, antarkan mereka ke kamar mereka berdua."
"Baik, yang mulia," sementara itu, Bianca menyadari kehadiran Kay dan Gerda yang sedang mengintip tidak jauh darinya.
"Kalian pasti ingin berbicara denganku, bukan?" mereka berdua mengangguk mantap.
"Kemarilah, kita akan menghabiskan waktu di taman istana."
Bianca duduk sambil melihat sekelilingnya. Ini pertama kalinya ia melihat taman istana bagian pusat. Berbanding dengan dirinya yang sering pergi ke taman bagian timur istana.
Dan juga, ia merasa ada yang familiar dengan tempat ini.
"Yang mulia..." Bianca melirik ke arah Kay.
"Ada apa, Kay? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Kay melirik ke arah Gerda sementara Gerda menggerakan kepalanya mengisyaratkan sesuatu.
"A-anu... Yang mulia... Bolehkah saya i-ingin bertanya kepada anda?"
"Tentu... Apa itu, Kay?" Kay menelan ludah sendirinya, kemudian ia berkata, "Apakah yang mulia sakit?"
Bianca langsung diam seribu bahasa mendengar pertanyaan Kay.
"Kalian tau darimana?"
"Aduh... Kita pasti akan dimarahin," ucap Gerda takut.
"Kami tidak sengaja mendengar dari Dokter Atkinson dan paman beberapa hari yabg lalu."
Bianca menghela nafas panjang. "Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kondisiku sekarang. Yang penting, kalian harus belajar biar kuat dan pintar, mengerti?"
Mereka berdua mengangguk. Tiba-tiba Bianca melihat sebuah pancuran air yang tidak asing baginya.
"Kalian berdua. Kalian boleh masuk ke dalam dan susul Ivan di dapur."
Mereka berdua hanya mengangguk saja tanpa jawab apapun dan langsung pergi meninggalkan sang ratu sendirian.
Bianca kemudian berjalan menuju pancuran air yabg sangat besar.
Kalai tidak salah, Vina bermimpi dimana Bianca (asli) dan seorang pria bernama James berbicara di sana.
Ia mendekati pancuran tersebut dan sebuah angin yang cukup besar mengkibarkan rambut putih sang ratu.
Ia melihat ke belakang dimana langit sore telah tiba.
Tanpa sadar dan dikendalikan oleh Vina sendiri, perempuan itu meneteskan air matanya turun ke wajahnya dan menyebutkan nama seseorang, "James..."
...****************...
Kedua matanya langsung membuka dengan lebar dan langsung bersikap duduk tegak sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
Sebuah ketukan pintu terdengar membuat orang itu menyuruh untuk masuk.
"Ada apa memanggil saya, ketua?" ucap Isabella berjalan mendekati sang ketua organisasi itu.
Ketua mengacak rambutnya dengan gusar kemudian, ia berkata, " Bagaimana dengan batu Aspendianya, Bella?"
"Masih sama dengan kemarin, ketua. Tetapi perlahan namun pasti, batu itu semakin hitam dan bereaksi sangat negatif."
Ia kemudian bangkit berdiri dan berjalan melewati Bella. "Suruh kokinya untuk siapkan makan malamnya."
"Sekarang, ketua?"
"Iya. Dan juga panggilkan aku kalau makan malamnya sudah datang, aku ingin tidur."
Bella menghela nafas panjang dengan kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi dengan ketua?
Setelah sang ketua pergi, Bella menyusul keluar dari ruang kerja ketua dan melihat Chris yang sedang berjalan ke arah lain.
"Habis melapor ke ketua?" tanya Chris ketika ia melihat Bella.
Bella mengangguk mantap. "Dan sekarang ia menyuruhku memberitahukan kepada koki untuk menyiapkan makan malamnya."
"Makan malam? Sekarang? Tumben sekali..." Bella hanya mengangkat kedua bahunya.
"Sebenarnya aku juga bingung kenapa ketua menginginkan makan malam sekarang."
"Ngomong-ngomong..." mereka berdua berbicara sambil berjalan bersama, kemudian Chris berhenti berjalan diikuti oleh Bella.
"Apakah kamu merasa tidak aneh dengan Allan akhir-akhir ini?"
"Kau tidak merasakan hal aneh, Bella?"
"Aku terlalu sibuk dengan wilayah Dobert, Chris. Mengurusi Allan saja sudah semakin capek."
"Tetapi... Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Bella dan mereka berdua kembali berjalan.
"Kamu ingat, kan dengan Batu Admand? Allan ingin menelusuri batu tersebut, tetapi ketua tidak mengijinkannya."
"Terus?"
"Tiba-tiba Allan kesal dengan keputusan ketua dan pergi tanpa bilang apa-apa."
Bella yang mendengarnya langsung berpikir keras. Entah kenapa baik ketua dan Allan memiliki rahasia yang sama, tetapi tujuannya beda.
...****************...
Sementara itu, Giselle menghela nafas lega sambil berkacak pinggang karena capek. Hampir seharian ia membersihkan kamarnya dan kamar ayahnya yang baru.
Maklum, pelayan di istana ini cuman Calius saja. Dirinya penasaran kenapa sang ratu memecat semua pelayan di istana dan hanya menyisakan kepala pelayan itu.
"Kakak sudah selesai membersihkan kamarnya?" tanya Gerda mengintip dibalik pintu kamar Giselle.
"Benar. Ada apa?" tanya Giselle.
__ADS_1
"Kata Ivan, kakak harus makan kudapan dulu sambil menunggu makan malam tiba."
"Ah... Tidak perlu. Aku lagi tidak ingin makan kudapan sekarang."
Giselle melihat ekspresi Gerda yang tampak sedih membuat dirinya merasa bersalah.
"Ya sudah deh... Aku akan ke sana, tapi kakak ngambil sedikit doang, ya..."
Akhirnya mereka berdua pergi ke dapur, di sana sudah ada Ivan, beruang putih kutub yang sedang membuat hidangan makan malam para prajurit istana dan Kay yabg sedang membantu Ivan.
"Ah... Nona sudah datang rupanya!! Duduklah... Aku sudah siapkan kudapan untuk anda."
Giselle duduk di sebelah Gerda dan mencicipi buatan Ivan.
"Ini benar-benar enak!" serunya tak menyangka kudapan buatan Ivan sangat enak.
"Itulah kenapa aku dikerjakan di sini," mendengar jawaban si koki beruang itu, Giselle bertanya lagi.
"Jadi... Sebelumnya bukan koki istana?"
"Bukan. Sebelum itu, aku bekerja di sebuah restoran bintang lima. Tetapi, selama 2 tahun kerja, aku bertemu dengan yang mulia ratu yang sedang berkunjung di sana."
"Yang melihat kemampuan masakku akhirnya membawaku ke istana dan menjadikanku sebagai koki istana."
Giselle mengangguk paham. "Aku baru dengar cerita dari Ivan," ucap Kay dengan polosnya.
"Tentu saja, tuan muda. Ali tidak menceritakan itu kepada kalian."
"Berarti Calius juga dong?" ucap Kay tiba-tiba.
Gerda menatap temannya dengan tajam.
"Hahaha.... Iya... Bisa dikatakan seperti itu. Pertama kali aku ke istana ini juga seperti kalian, kaget kenapa tidak ada satupun pekerja di sini."
"Tetapi, saya sangat senang dan berterima kasih kepada yabg mulia yang sudah menemukanku waktu itu."
Kemudian, Ivan melihat Giselle yang sedang makan. "Kalau tidak salah, anda Nona Giselle, bukan? Kau mirip sekali dengan ayahmu."
"Ah... Terima kasih banyak, tuan..."
"Panggil saja Ivan, nona," Ivan mengambil piring yang sudah kosong dan mencucinya.
"Aku dengar kalau kamu akan ditugaskan sebagai asisten yang mulia, bukan?" ucap Ivan mengganti topik.
"Iya... Yang mulia tiba-tiba memberi tawaran kepadaku. Katanya aku memiliki bakat yang bisa digunakan di masa depan."
Ivan tersenyum saat mencuci piring.
"Memang... Memang yang mulia tidak salah menrekrut orang."
"Ivan... Ivan tadi ngomong apa?" tanya Gerda kepada beruang putih itu.
"Ah... Tidak apa-apa."
__ADS_1
Kemudian Giselle dan Gerda membantu Ivan serta Kay menyiapkan makan malam.