Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 94 : Reunian


__ADS_3

Mereka telah kembali setelah kurang-lebih 2 minggu berpergian mencari orang terakhir dalam rencana Bianca, Kapten Daryl Barton. Tetapi, sayangnya saudaranya, Lorent meninggal akibat pemboman di stadium di mana mereka berdua menonton pertunjukan musik di stadium.


Bianca sibuk memberi makanan kepada hewan peliharaannya, seekor naga putih langkah. Kini dia sudah besar dan dia bisa terbang secara mandiri dan Lorge, nama aslinya kini bisa mengeluarkan semburan api.


Kini, rencana Bianca hampir 80% selesai. Dan sekarang, dia harus menyelesaikan sisanya. Bianca mengubah penampakannya sebagai penyamaran dan dia mengelus Lorge dengan lembut.


"Ini saatnya kamu terbang, Lorge," Lorge membalas dengan sangat antusias. Bianca menaiki tubuh Lorge dan Lorge mengepakan kedua sayapnya untuk naik ke atas dan terbang ke suatu tempat.


                                                               *******************


Putri Tashannie menyeruput tehnya dengan tenang. dia mengembangkan senyuman dan menghirup udara yang sangat segar di pagi hari. Hari ini merupakan hari yang sangat tenang. "Adeline... Bisakah kamu mengambil kotak biru di nakas meja riasku?"


"Baik, tuan putri?" ujar pelayan setianya, Adeline itu pergi menngambil kotak yang diperintahkan oleh sang putri. Tidak lama, Adeline datang dengan membawa kotak biru yang mewah dan memberikan kepada Tashannie.


Gadis itu membuka kotak tersebut dan tersenyum menyeringai. "Sepertinya mereka tidak menyadari kalau barang pusaka yang lainnya ada di sini."


"Sayang sekali, Ratu Bianca. Anda sudah mati, kerajaanmu sedang dalam kesusahan untuk menggantikanmu, dan..." Tashannie mengangkat ke sebuah bola berkilau ke atas dengan senyuman puas dan lebar.


"Kali ini... Impian tuan akan berhasil..."


"Ah... Benarkah?" tiba-tiba Tashannie menoleh ke arah asal suara tersebut. dia mengingat bahwa suara barusan bukan Adeline, pelayannya.


"S-siapa kamu?!!"


"Ya ampun... Masa kamu tidak ingat aku sih?" jawabnya dengan suara centilnya.


Sang putri mencari pelayannya, tetapi dia tidak menemukan ke mana Adeline itu berada. "Tenang, tuan putri. Pelayanmu tidak apa-apa. Hanya tertidur saja di dalam."

__ADS_1


"TIDUR KATAMU?! SIAPA KAMU SEBENARNYA??!!" sosok yang selalu bersembunyi itu akhirnya menujukkan identitasnya. Tashannie begitu terkejut melihat sosok wanita yang sebenarnya kenal.


Wanita berambut pirang keemasan dengan gaun berwarna merah. "K-kamu..."


Dia tersenyum kepada Tashannie dan menyapa kepada sang putri. "Sudah lama tidak bertemu, ya... Lucy."


"K-kau..." Tashannie terkejut bukan main. Wanita di depannya adalah Annastasia Girdadez. Putri Duke Girdadez.


"Tampaknya kamu ingat padaku," balasnya berjalan mendekati Tashannie.


"Mau apa kau?!!" serunya menjauhi Anna. mengapa Anna ada di sini? Di dunia yang berbeda dari dunia sebelumnya. Anna merebut bola berkilau tersebut dan mengamati bola itu dengan saksama. "Kamu beruntung, ya... Hidup kembali menjadi seorang putri. Bagaimana rasanya menjadi seorang putri, Lucy?"


Tashannie mulai geram. Dia tidak suka seseorang memanggil dirinya dengan nama sebelumnya. "Maumu apa, hah?! Pergi dariku sekarang!!" Anna melirik ke arah Tashannie dengan tatapan tajam.


"Kamu mengusir mantan majikanmu, Lucy?" Tashannie tersentak dengan tindakan Anna tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan.


"BERIKAN ITU KEPADAKU!!" teriak Tashannie berusaha meraih bola yang dipegang oleh Anna dan dengan gesitnya, Anna menjauhi Tashannie hingga dia menghilang dengan sekejap.


Tashannie dengan emosi yang masih ada di dalam tubuh itu, berteriak kepada gadis itu.


"Kalau kamu ingin mengambil bola ini. Kamu harus menjelaskan siapa itu tuanmu itu," katanya seakan-akan Anna mengancam kepada sang putri.


"Oke!! Oke... Aku akan menjelaskan siapa tuanku," ucapnya akhirnya. Anna kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. Menunggu jawaban Tashannie.


Tashannie berdecih kesal dan akhirnya menjawab, "Ratu Aspendia terdahulu. Ibu dari Ratu Bianca. Kamu pasti tau itu siapa," Anna terdiam dan mengedipkan beberapa kali.


"Maksud kamu... Ratu Dementria, begitu?" Tashannie mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"mengapa Ratu Dementria melakukan itu?"


"Ada satu alasan. Dia membalas dendam kepada putrinya yang membunuh Ratu Dementria."


Segitunya kah? batin Anna tidak percaya. Oke, ini alasan yang klasik membalas dendam kepada putrinya yang membunuh Dementria. Tetapi...


.... mengapa Bianca membunuh ibunya sendiri?


"di mana dia sekarang?" tanya Anna harus bergegas untuk menemukan pelaku utamanya. Waktunya sudah mau habis.


"Aku tidak bisa memberitahumu, Anna Girdadez. lagipula, mengapa kamu mencoba mencari tuanku?" ujar Tashannie yang menolak memberitahukan di mana keberadaan Dementria.


"Aku ada misi untuk menemui dia, Lucy. Sekarang ada di mana dia?" kata Anna sekali lagi dengan suara yang tegas. Tetap saja, Tashannie a.k.a Lucy menggeleng kuat, tidak memberitahu di mana ibu dari Bianca berada. Akhirnya, mau tidak mau Anna mencoba untuk mengancam dengan merusak bola bercahaya yang berkhasiat sebagai bola sihir yang sangat kuat.


"kamu tidak memberitahu kepadaku? Baiklah... Lagipula kamu sepertinya tidak ingin bola kesayanganmu ini jatuh pecah atau aku makan," Tashannie yang mendengar itu langsung mengamuk seperti kesurupan.


"KEMBALIKAN!! AKU SUDAH MEMBERITAHUMU, NONA HANTU!!"


"Nona hantu katamu?" ucap Anna tersinggung, kemudian dia membentangkan tangan kirinya ke arah luar balkon. Berisap-siap untuk menjatuhkan bola yang dipegang ke arah bawah. Tashannie berteriak keras. meminta untuk jangan sampai menjatuhkan bola kesayangannya.


"kalau begitu... di mana dia?' kata Anna sekali lagi dan akhirnya Tashannie menjelaskan secara rinci di mana ratu Dementria berada. Anna tersenyum puas dengan jawaban Tashannie.


"Sekarang... Serahkan bolanya kepadaku," ucap Tashannie mengulurkan tangannya untuk meminta Anna mengembalikan bola miliknya. Anna memandang bola sihir yang dia pegang cukup lama.


"Anna!! Berikan bolanya!!" ucap tashannie kesal dan Anna memandang ke arah sang putri di depannya.


"Lucy... Kamu ingat, tidak?" Tashannie memasang wajah kebingungan. mengapa hantu di depan matanya bertanya seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2