
Vina membuka kedua matanya secara perlahan dan berusaha melihat sekelilingnya.
Aku dimana?
Dia melihat sekelilingnya. Sebuah kereta pengangkut yang pengap dan panas.
"Perasaan aku dikamar deh..." gumamnya sambil kebingungan.
"Dorothy..." panggil seseorang secara tiba-tiba.
"Dorothy!! Dipanggil kok gak nyaut-nyaut sih?" Vina menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iyalah... Siapa lagi kalau bukan kamu," ujar seorang wanita paruh baya.
Namaku bukan Dorothy... batin Vina masih kebingungan.
Ia melihat kedua tangannya. Bukan putih pucat yang ia selalu lihat saat bercermin.
Ia juga melihat rambutnya yang sangat berbeda dengan rambut Ratu Bianca yang putih salju.
Vina langsung terkejut melihat tubuh yang ia masuk bukan tubuh ratu salju.
Bersamaan itu, sebuah kereta api yang ditumpangi telah berhenti.
Vina yang masih bingung turun dari kereta dan melihat kota yang sangat asing baginya. Tanpa sengaja, ia melihat dirinya di sebuah kaca yang bisa memantulkan bayangan.
Kedua matanya membulat dengan sempurna, rambut bewarna cokelat terang dengan dikepang dua, gaun sederhana, dan badannya sangat kurus sekali.
Ini bukan tubuh ratu salju yang ia masuki, melainkan tubuh orang lain.
KENAPA BISA MENJADI BEGINI?!!
"A-anu..." Vina berjalan menghampiri seorang ibu yang sempat memanggil dirinya.
"Kita dimana sekarang?"
"Masa kamu lupa, Dorothy? Ini Kota Ontare, ayahmu pindah tugas di sini, jadi kita juga pindah."
Vina dibuat terkejut. "I-ibu... Ibu tau Kerajaan Aspendia?"
Dahi wanita yang dipanggil ibu itu mengkerut. " Kerajaan Aspendia? Kerajaan dimana tuh?"
"Ibu gak tau? Gimana kalau Kerajaan Arabella?"
"Dorothy... Sepertinya kamu kecapekan akibat perjalanan jauh. Apa kita harus ke rumah sekarang?" ucap seorang pria dewasa yang diyakini oleh ayahnya Dorothy.
"Baiklah... Besok juga Dorothy akan masuk universitas."
Vina a.k.a Dorothy masih bingung dan linglung apa yang terjadi sebenarnya.
Ia meyakini bahwa sebelum ke sini, ia masih sakit-sakitan dan terus berada di kamarnya untuk membunyikan kondisi tubuh lemahnya kepada seluruh penghuni istana.
Tetapi, mau tidak mau Vina ikut-ikut aja kepada orang asing baginya.
Ia tidak tau siapa Dorothy itu, pekerjaan ayahnya sampai-sampai satu keluarga pindah, ibunya, dan saudara-saudaranya yang bersama dengan dirinya.
Vina merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Rumah ini terkesan biasa saja, tapi sangat nyaman dan hangat mengingat sebentar lagi memasuki musim gugur.
Oke... Waktunya menyelidiki apa yang terjadi.
Pertama, Vina masuk ke tubuh Dorothy Betherhold, anak kedua dari tiga bersaudara. Besok dia akan masuk ke Universitas Ginharld, sebuah universitas bergengsi di kota ini dengan mengambil jurusan hukum.
__ADS_1
Ayah Dorothy, Matthew Betherhold bekerja di sebuah bank besar milik negara dan sekarang ia dipindah tugaskan ke kota ini karena ayahnya naik jabatan sebagai direktur bank.
Ibunya, Fransisca Betherhold hanya sebagai ibu rumah tangga saja. Walaupun Fransisca sebagai ibu rumah tangga, perannya sangat besar.
Ia adalah donatur terbesar dari 3 donatur terbesar di sekolah Akademi Militer Calkuts.
Darimana uang sebesar itu didapatkan? Entalah...
Setelah Vina mencari tau semuanya tentang Fransisca Betherhold, ia sama sekali tidak menemukan darimana uang yang dimiliki oleh ibu Dorothy.
Dorothy memiliki 2 saudara. Kakak perempuan dan adik laki-lakinya.
Kakak perempuannya adalah Penelope Betherhold. Tahun ini, Poppy, nama panggilannya akan lulus dari Universitas Calkuts jurusan kedokteran.
Sementara adik bungsunya, Jeremy Betherhold. Tahun ini, dia akan memasuki tahun kedua di Akademi Militer Calkuts, tempat ibunya sebagai donatur terbesar di sana.
Dan lucunya adalah hanya Jeremy lah yang tidak mengetahui kalau ibunya merupakan donatur terbesar di sekolahnya.
"Dorothy... Ayo makan!" panggil sang ibu menyuruh makan malam.
Yah... Setidaknya Vina mengetahui latar belakang keluarga Dorothy Betherhold ini sedikit walaupun sebenarnya masih bingung kenapa dia ada di sini secara random.
Mereka berlima menikmati makan malam bersama dengan diam.
"Bagaimana persiapan kelulusanmu, Poppy?" tanya sang ayah bersuara.
"100% aku sudah siap ayah."
"Ibu dengar kamu akan co-*** di rumah sakit Calkuts, bukan?" ujar sang ibu dan Poppy mengangguk mantap.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, ibu."
Sementara itu, Dorothy hanya menyimak percakapan orang tua-anak ini.
"Oh, ya bu... Besok Theo akan datang ke sini."
Theo... Kok pernah dengar, ya...
"Mattheo Ansford?" Jeremy mengangguk mantap.
"Baiklah... Tapi kamu harus menjaga rumah dengan baik."
"Emangnya ibu mau kemana?"
"Ibu ada urusan di luar."
Tunggu!!
Mattheo Ansford?! Bukankah dia tokoh utama novel aksi kesukaan Bang Vino, bukan?
Vina memandang Jeremy dengan tatapan tidak menyangka.
B-berarti...
Dirinya masuk di tubuh kakak dari tokoh sampingan di novel 'Battlefield World: Step 1' novel kesukaan kakak Vina yang selalu dibaca jaman Vino masih SMA.
KENAPA GUE MASUK KE DIMENSI LAIN LAGI SIHH?!!
...****************...
Dimensi lain lebih tepatnya, seluruh penghuni istana Aspendia masih sibuk mencari keberadaan sang ratu.
__ADS_1
Bahkan dengan bantuan Patrick yang notabene adalah seorang penyihir kuat saja, keberadaan sang ratu tidak ditemukan.
"Bagaimana? Sudah menemukan petunjuk?" tanya Oscar kepada Patrick.
Pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Aduh... Aduh... Gawat-gawat!!" seru Calius berlari ke arah mereka.
"Black Hole datang ke istana!" mendengar itu, Patrick yang sedang mencari sang ratu langsung menoleh ke arah Calius.
Black Hole katanya...
Aaron menepuk pundak Patrick seraya berkata kalau ini bukan urusan Patrick dan melanjutkan pencariannya.
"Apakah kamu bisa mengatasi mereka, Calius?" tanya Aaron kemudian.
"S-saya bisa sih, tapi..."
"Bilang aja apa yang kamu bisa dan pokoknya jangan sampai mereka tau kalau sang ratu menghilang."
"B-baik!" balas kepala pelayan itu sambil bergegas meninggalkan mereka.
Patrick yang melihat tindakan malapetaka itu berkata, " Kenapa kamu tidak ikut ke sana?"
"Mereka akan tau kalau aku ada di sini," jawabnya dengan santai.
Sebenarnya penyihir itu juga menanyakan kenapa si malapetaka bahkan Black Hole berada di dimensi lain.
Aaron melirik ke arah dua anak kecil yang sibuk berlatih. Walaupun kondisi istana lagi kacau karena sang ratu menghilang, mereka berdua harus diberi bekal terlebih dahulu jika ada orang-orang yang mencoba meruntuhkan kekuasaan sang ratu.
"Gerda..." panggil Kay sedikit khawatir melihat wajah pucat dari gadis di sebelahnya.
"Istirahatlah, Gerda," perintah Oscar menyuruh Gerda untuk beristirahat.
"Apa kamu ingin istirahat juga, Kay?" Kay menggeleng kuat.
"Kalau dirasa capek duduklah bersama Gerda."
"Baik!" Aaron tersenyum simpul melhat mereka sudah besar sekarang.
...****************...
Kembali lagi ke Vina yang masih terjebak di tubuh kakak dari tokoh sampingan, Dorothy masih berjalan bolak-balik sambil berdoa kepada Tuhan.
"Ayolah Tuhan... Aku benar-benar butuh bantuanmu..."
Sebuah sinar menyilaukan mata Dorothy secara tiba-tiba.
Dan ketika ia membuka kedua matanya, ia sudah berada di ruangan serba putih.
Akhirnyaa...
"Maafkan aku yang telat memberitahu engkau, anakku."
"Apa yang terjadi, Tuhan? Kenapa aku dipindahkan ke cerita lain?"
Tuhan masih dian di sana.
"Ada yang harus aku jelaskan kepadamu,anakku?" Vina tidak membalas lagi.
Ia curiga ada yang lebih buruk mendengar intonasi Tuhan yang sangat lemah dan sedih itu.
__ADS_1
"Untuk sementara... Kamu akan masuk tubuh ini."
"Hah?!"