Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 44 : James Rattoulle


__ADS_3

Bianca menghela nafas panjang sambil mengelus Sello yang sedang tertidur dengan pulas.


Dia masih kepikiran dengan mimpi barusan. Mengenai pesta ulang tahun Bianca dan pertemuan pertama dengan James.


Oh ya!!


Ngomong-ngomong soal James...


Bianca mengambil tablet yang ia sembunyikan di laci kerjanya dan mencari informasi tentang lelaki itu.


"James Ratoulle..." ia menscroll terus menerus mencari informasi mengenai pria tersebut.


Tetapi, dia gagal mendapat informasi mengenai lelaki itu.


Sebenarnya... Siapa dia?


Dalam mimpi Vina, lelaki bernama James itu kelihatannya dari kalangan bangsawan dari negara lain.


"Masa aku harus mencari informasi ke negara lain sih?"


"Anda mencari siapa, yang mulia?" Bianca langsung kaget dan buru-buru membunyikan tablet di laci dan melihat siapa pelaku suara tersebut.


"Oh... Ternyata anda, Komandan Baraouske."


Jacob berjalan menghampiri sang ratu dan melaporkan misinya kepada Bianca.


"Jadi begitu..." balas Bianca sambil mengangguk paham.


"Yang mulia... Bolehlah saya bertanya kepada anda?"


"Silahkan. Anda ingin bertanya apa?"


"Anda mencari siapa? Mungkin saya bisa membantu anda."


Bianca menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Tidak perlu, Komandan Baraouske. Orang itu tidak terlalu penting bagiku sekarang."


Jacob diam saja sambil memikirkan sesuatu, kemudian ia bertanya lagi kepada sang ratu. "Saya dengar... Anda tadi sempat pingsan di gedung selatan istana. Apa yang mulia baik-baik saja?"


Bianca terpukau selama beberapa detik. Darimana dia tau?


"Maafkan saya, yang mulia. Saya diberitahu oleh Calius saat aku kembali ke istana."


Dasar tukang ember!!


"Tenang saja, komandan. Aku baik-baik saja," setelah itu, Jacob pamit meninggalkan ruang kerja sang ratu dan tinggal lah Bianca sendirian.


"Tampaknya kamu membutuhkanku, Vina?" ucap Jenny tiba-tiba datang setelah Jacob keluar dari ruangan kerja ratu.


"Tadi pagi, aku bermimpi aneh lagi."


"Mimpi aneh? Mimpi apa itu?" Bianca menjelaskan mimpi anehnya dari pertama kalinya hingga sekarang kepada Jenny, si malaikat itu.


Jenny hanya diam saja setelah mendengar penjelasan dari Bianca.


"Bagaimana menurutmu?"


"Ah!! Aku mengerti sekarang..." mendengar jawaban terang dari Jenny, Bianca semakin penasaran dan meminta penjelasan dari malaikat itu.


"Kamu tidak bermimpi, Vina. Kamu masuk ke tubuh ratu salju di masa lalunya. Kamu bilang, kamu tidak tau banget dengan asal-usul dari ratu salju, bukan?"


Benar juga...


Selama ini, Vina selalu mencari tau tentang masa lalu Bianca seperti apa, tetapi berujung gagal karena sangat minim sekali informasi yang dia dapat.

__ADS_1


Bahkan Calius, Ivan, dan Oscar sama sekali tidak begitu tau lebih dalam karakter si ratu karena mereka hanya bekerja sementara waktu sampai mereka sudah pensiun.


"Jadi... Selama aku tidur panjang itu, jiwaku masuk ke tubuh masa lalu gitu?"


"Bisa dikatakan seperti itu."


"Ngomong-ngomong... Aku penasaran tentang pria bernama James Rattoulle itu?"


"James Rat- siapa?"


"James Rattoulle, Jenny... Mimpi terkahir saat Bianca bertemu dengan dia."


"Apakah kamu sudah mencari informasinya?" Bianca menggelengkan kepalanya tanda dia belum mendapatkan informasinya.


"Aneh... Padahal dari penampilannya dia seorang bangsawan kelas atas dan pastinya dia juga memiliki hubungan dengan kerajaan ini."


"Mungkin dia sempat meninggal muda karena perang," tebak Jenny asal. Bianca memandang Jenny cukup lama membuat Jenny merasa risih.


"Kamu kenapa? Ada yang salah?"


"Bukannya kamu malaikat?"


"Memang. Kenapa?"


"Kalau dia meninggal, seharusnya dia sudah tercatat di buku surga atau apalah itu."


Seketika sebuah ide melintas di otak Jenny. "Benar juga!! Tunggu sebentar..."


Jenny langsung menghilang dihadapan Bianca.


Sementara itu, Bianca meletakan Sello yang masih tidur dengan pulasnya di atas tempat tidur naga putih itu.


Sebuah ketukan terdengar membuat Bianca menoleh ke arah daun pintu dan menyuruh untuk masuk.


Ternyata Aaron memasuki ruangan. "Bolehkah saya ijin pergi ke suatu tempat?"


"Itu..." ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melirik ke arah Patrick yang sedang mengintip di balik pintu.


"Aku ingin menjelajah tempat. Kau tau, kan aku butuh energiku kembali."


"Sendirian?"


"Tidak. Sama penyihir agung itu."


Bianca memasang wajah mencurigakan. "Tumben sekali kalian akrab? Kalian tidak merencanakan sesuatu yang disembunyikan dariku, bukan?"


"T-tidak... Aku butuh dia dan dia juga ingin menjelajah juga sepertiku."


Tanpa pikir panjang, Bianca akhirnya mengijinkan si Malapetaka. "Berapa lama kalian akan pergi?"


"Sekitar 2 bulan," balas Aaron sambil berpikir kemungkinan dirinya dan Patrick menjelajah.


"Lama banget! Kalian menjelajah kemana aja sih?"


"Ya... Namanya juga berpetualangan. Kenapa sih? Kangen?"


"Bukan aku yang kangen sih, tapi Sello," tunjuk Bianca ke arah bayi naga itu yang sedang tertidur dengan lelap.


Aaron menghela nafas panjang. "Tenang saja, yang mulia. Aku akan kembali dengan cepat."


"Terserah kau saja, tapi kapan kalian akan pergi?"


"3 hari lagi... Setidaknya aku bisa menghabiskan waktu dengan anda, yang mulia," ucap si malapetaka sambil menggoda

__ADS_1


Bianca.


"Mimpi kau!!" ucap Bianca ketus, kemudian ia mengusir Aaron keluar dari ruangannya.


"Gimana?" tanya Patrick saat lelaki itu telah keluar dari ruangan sang ratu.


Aaron mengangguk mantap menandakan bahwa mereka bisa pergi ke sana.


Patrick menghela nafas lega.


"Apa tidak apa-apa?"


"Maksudnya?"


"Kalau kita pergi selama 2 bulan untuk mencari bunga itu?" tanya Patrick sedikit khawatir.


"Tenang saja... Kita bisa kembali lebih cepat dari rencana kita."


"Bagaimana caranya?" Aaron mengulum senyuman misterius.


"Nanti kamu juga akan tau dengan sendirinya."


...****************...


Vero secara tidak sengaja mendengar sebuah alunan piano di ruang istirahat dimana para anggota lainnya sedang mengobrol dengan santai.


Ia memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat Allan sedang memainkan grand piano dengan lihai.


Alunan piano itu kini berhenti hingga Vero berkata, "Aku tidak menyangka kalau kamu bisa bermain piano dengan bagus."


Allan melirik ke arah anggota paling muda yang sedang melipat kedua tangannya.


"Sejak kapan kamu ada di sini?"


"Barusan saja," balasnya dengan santai dan berjalan menghampiri lelaki itu.


"Bagaimana dengan kristal itu?"


"Kristal apa?"


"Kristal Admend, aku dengar dari Richard kalau kamu dan dia disuruh oleh ketua untuk menyelidiki kristal tersebut."


Vero memandang Allan sekilas, kemudian ia menutup kedua matanya.


"Sama saja dan.... Semakin buruk."


"Semakin buruk?" ucap Allan bingung.


"Kristal itu adalah benda yang sangat penting bagi kita, kalau sampai kristal itu bereaksi negatif dan meledak, kekuatan kita akan langsung menurun drastis."


Sesuai dengan perkataan Kepala Desa Delta batin Allan sambil memperhatikan Vero yang sedang berbicara.


"Aku dengar dari Isabella... Kalau kau sering sibuk akhir-akhir ini."


"Tentu saja aku sibuk. Kamu tau kan kalau aku ini Grand Duke."


"30% sibuk dengan tugasmu sebagai grand duke dan sisanya..." Allan memandang dengan tajam ke arah gadis bergaya emo itu.


"Sibuk memikirkan ratu salju."


"Aku tidak memikirkan dia..." Vero menghela nafas panjang.


"Jangan mengelak. Aku tau kalau kamu sedang memikirkan dia."

__ADS_1


Allan bangkit berdiri dan segera pergi meninggalkan Vero sendirian.


"Dia benar-benar mirip dengan si ketua," gumam Vero sambil mendengus kesal.


__ADS_2