Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 34 : Pasangan Wakil Dewi


__ADS_3

Patrick memasuki dapur dan menemukan Ivan yang sedang bersih-bersih.


"Ada apa, tuan? Tuan lapar?" dia menggelengkan kepalanya.


"Ivan? Apa itu Ivan?" mendengar suara ghoib, Ivan langsung melihat sekeliling.


"Suara siapa itu? Hantu?"


"Shh!! Ini suara yang mulia," ucap Patrick menyuruh beruang putih itu diam.


"APA??! INI YANG MULIA?!!"


"Suaramu dikecilin kenapa sih?" akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Ivan karena ini tempat paling aman bagi sang koki istana itu.


"Apa yang terjadi yang mulia? Dimana yang mulia sekarang?"


Patrick menggunakan bola visual untuk bisa melihat dimana sang ratu berada.


"Yang mulia? Kenapa wajah yang mulia sangat berbeda? Ini beneran yang mulia?"


"Ivan... Tenang dulu. Aku akan menjelaskan satu-satu semuanya kepada kalian..."


Dorothy melirik ke arah wanita peramal yabg sedang berdeham. Ia tau maksud kode tersebut dan mengeluarkan saru kantong berisi emas kepada peramal tersebut.


"Setelah itu, aku akan pergi. Oke, jadi... Dimulai darimana dulu... Oh! Oke... Jadi awalnya aku berubah seperti ini karena tubuhku terpisah dengan jiwaku."


"Terus, bangun-bangun aku udah masuk ke tubuh orang."


"Apa kita akan menjemput yang mulia sekarang?" ucap Patrick buru-buru.


"Jangan!! Kalian tidak bisa menemukanku karena aku berada di dimensi lain."


"Terus... Bagaimana cara yang mulia kembali? Tubuh anda ada dimana?" Dorothy tidak bisa mengatakan sejujurnya bahwa tubuh sang ratu sudah hancur akibat penyakitnya.


"A-aku... Aku juga tidak tau ada dimana tubuhku. Pokoknya kalian jangan khawatir, oke? Aku akan mencari cara lain untuk bisa kembali ke sana."


"Terus bagaimana dengan yang lain. Sudah banyak rumor yang aneh tentang anda."


"Tenang... Aku sudah tau caranya. Patrick bisa tolong, tidak? Aku ingin menyampaikan hal ini kepada Calius dan Dokter Atkinson. Dan... Ivan bagaimana dengan kay dan Gerda?"


"Mereka semuanya baik-baik saja, yang mulia."


Dorothy menujukkan sebuah gambar hasil dia kepada Patrick.


"Kamu bisa, kan menyalin ini dan menyerahkan kepada mereka. Yang satu untuk Calius, yang satu lagi untuk Dokter Atkinson."


"Saya bisa melakukannya, yang mulia."


"Oh ya, ada satu lagi. Jangan kasih tau hal ini ke siapa pun selain kalian, oke."


"Yang mulia, saya-"


"Aku harus pergi dulu! Waktuku tidak banyak lagi. Jangan lupa pesanku tadi!"


Setelah itu visual yabg ditampilin oleh Dorothy langsung menghilang.


Ivan dan Patrick saling pandang satu sama lain.


...****************...


"Bagaimana? Apa ada terjadi sesuatu?" tanya Helda kepada Dorothy ketika adik dari Poppy keluar dari tenda itu.


"Aku baik-baik saja. Dia hanya membacakan mada depanku saja."


"Apa yang dikatakan peramal itu, kak?" tampaknya sang putri benar-benar penasaran dengan masa depan Dorothy.

__ADS_1


"Tidak ada yang menarik dan ambigu, lagian aku tidak mempercayai begituan," balasnya.


Sebenarnya, wanita itu cuman memberi dia sebuah kotak kecil kepada Dorothy setelah ia berbicara kepada Ivan dan Patrick.


"Oh ya ngomong-ngomong... Siapa akan menjadi pasangan Kak Poppy?"


"Hari ini akan diadakan pertandingan siapa yang menjadi pasangan untuk wakil dewi," jawab Poppy.


"Oh! Oh! Bagaimana kalau kita lihat pertandingan itu?!" tanya Dorothy antusias.


"Wah!! Itu ide yang bagus," balas Helda ikut antusias.


"Aku tidak ikut, deh..."


"Lah kenapa, Kak Poppy? Lagian juga orang-orang tidak akan tau kalau kakak adalah wakil dewinya."


"Iya, betul kata Kak Dorothy. Orang-orang akan tau wakil dewi tahun ini besok, jadi santai saja."


Mau tidak mau, Poppy akhirnya mau ikut bersama mereka berdua.


Persis sama yang dilakukan ketika menjadi Annastasia Girdadez, area untuk bertanding berada di pusat kota dan dikelilingi oleh para warga yang menonton.


Bedanya, sekarang sudah ada penjagaan biar acaranya semakin menarik.


"Kak Poppy!! Kak Dorothy!!" mereka bertiga saling menoleh ke arah asal suara tersebut.


Jeremy berlari ke arah ketiga gadis cantik tersebut disusul oleh teman-temannya.


"Apa-apaan ini? Kok pada rame begini?"


"Kita lagi patroli, kak," jawab seorang wanita remaja yang diyakini bernama Laura.


Dorothy tau nama gadis itu dari nametag yang dikenakan di seragamnya.


Sementara itu, Dorothy melirik ke arah anak laki-laki di pojokan sana.


Ia tebak pasti si Theo.


"Theo?! Theo, bukan? Sudah lama kita tidak bertemu,' Theo tersadar, kemudian menjawab, " Ah ya... Lama tidak berjumpa."


"Kalian ke sini ngapain?" tanya Jeremy akhirnya.


"Kami sedang melihat pertandingan 'Pasangan Wakil Dewi'."


"Kalian tidak ikut?" tanya Dorothy membuat semua orang yang ada di sekitarnya langsung menoleh ke arahnya.


Apa kata-kataku salah?


"Kakak masa lupa sih? Yang ikut harus berusia 18 tahun ke atas," jawab Jeremy.


Seketika Dorothy salah tingkah. Namanya juga bukan jiwanya Dorothy yang asli.


Helda menoleh ke arah suara keributan di sebrang sana.


"Ada apa di sana? Kenapa ada keributan di sana?" Mendengar ada kata 'keributan', anak-anak akademi militer beserta gurunya segera menuju ke lokasi.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Benjamin memulai.


"Mereka..."


"APAAN INI? MASA KITA DI DISKUALIFIKASI SIH?" ucap pria berbadan besar yang marah kepada panitia.


"Maafkan saya, tuan. Anda melanggar peraturan bahwa anda membawa senjata asli."


"Masa pertandingan seperti ini tidak boleh bawa sih? Yang benar saja!!"

__ADS_1


Entah kenapa bagi Dorothy adegan ini terasa familiar baginya.


"Maaf tuan, sekali lagi anda di diskualifikasi dari pertandingan," ucap Benjamin sambil menepuk pundak pria itu.


"Siapa kamu?! Aku tidak bertanya sama kamu, ya... Aku merasa kesal karena tiba-tiba di diskualifikasi gara-gara membawa senjata asli."


"Kalau tuan membawa senjata asli, bisa berbahaya bagi penoton di sini."


"Setidaknya mereka terjaga oleh para penjaga di sana!" Benjamin menghela nafas panjang.


"Anak-anak... Kalian lanjutkan patrolinya."


"Terus... Instruktur bagaimana?" tanya Tia, teman sekelas Jeremy.


"Aku akan mengurusi anak berandal ini."


Mereka langsung meninggalkan lokasi dengan buru-buru. Kini, Dorothy paham kenapa Benjamin merupakan guru paling killer fi sekolah adik bungsunya.


Tatapan pria itu benar-benar tajam. Lebih tajam dari pisau lagi.


"Apakah anda ikut pertandingan ini selain uang bukan?"


Pria berbadan besar hanya bisa terkekeh mendengar pertanyaan dari Benjamin.


"Sepertinya anda tau tujuanku. Kudengar wakil dewi tahun ini sangat cantik, jadi aku penasaran dengan dia."


"Kalau tidak sesuai ekspetasi, bagaimana?"


"Tentu saja sesuai ekspetasi. Dari tahun ke tahun, wakil dewi selalu cantik, bukan?" para pengikut tertawa dengan lelucon pria berbadan besar itu.


"Apakah masih bisa mendaftar, tuan?" tanya Benjamin tiba-tiba ke arah salah satu panitia.


"M-masih bisa, tuan!" serunya. .


"Kalau begitu saya akan mendaftarkan diri."


Mendengarnya, Dorothy membuka mulutnya dengan lebar, Helda dibuat syok, dan Poppy terdiam entah kenapa.


"Ikut dia dalam pertandinganku."


"T-tapi..."


"Ada apa? Apa aku harus lawan yang lain dulu?"


"B-bukan begitu... Masalahnya lawan yang akan tanding sudah dikalahkan oleh dan tinggal mengumumkan juaranya, tetapi ternyata dia membawa senjata asli secara diam-diam "


"Makanya dia di diskualifikasi?" Panitia itu mengangguk.


"Baiklah... Aku akan bertanding denganmu. Jika aku menang, aku akan menjadi pasangan wakil dewi besok, kalau aku kalah kamu akan menjadi pasangannya."


"Heh... Siapa takut."


...****************...


"Uurrgghhh...." pria berotot itu terjatuh dengan kondisi babak belur. Pertandingan kali ini menggunakan tangan kosong, tetapi walaupun menggunakan tangan kosong, akhirnya Benjamin dinyatakan sebagai pemenang dalam pertandingan tahun ini.


Dorothy yang melihat itu dibuat takjub dan tidak heran. Tidak heran karena guru dari Jeremy merupakan jendral terkuat di pangkalan udara.


Dan juga... Terasa sangat deja vu baginya.


Helda menggoyangkan tubuh Poppy dengan pandangan berbunga-bunga.


"Akhirnya.. Pasangan kakak kali ini sangat menawan."


Dorothy merasa kasihan dengan kakak sulungnya itu. Ia tau kalau kakaknya sebenarnya tidak tertarik dengan begituan.

__ADS_1


__ADS_2