
"K-kau bilang Monika dibunuh?" kata Daryl tidak percaa dan mereka berdua mengangguk mantap.
Bianca menoleh ke arah kepolisian yang berjaga di area stadium. "Kalian berdua sempat ditanyain oleh kepolisian?"
"Iya. Hanya beberapa pertanyaan, setelah itu kita disuruh pulang."
"Kalau begitu, kita harus pulang sekarang. Besok kita bahas tentang ini," ujar Bianca dan mereka mengangguk memutuskan untuk pulang.
************************
"Jadi... Bagaimana bisa Monika ditemukan meninggal di ruang kosong belakang panggung?" tanya Chris memulai diskusi kali ini.
Salah satu pelayan membawa beberapa hidangan untuk sarapan pagi dan pelayan itu segera pergi meninggalkan mereka semua.
"Setelah Monika selesai menyanyi lagu terakhir, Monika pergi ke ruang istirahatnya dan setelah itu, aku dan Allan sibuk mengurusin bagian belakang panggung."
Tiba-tiba Allan mengeluarkan sebuah kalung dengan botol ungu di sana. Seketika Bianca merasa familiar dengan kalung tersebut. "Apa ini?"
"Kami menemukan kalung di sebelah Monika," tiba-tiba Bianca langsung merebut kalung tersebut dengan pandangan horor. Tidak salah lagi kalau kalung ini adalah kaung yang dipakai oleh salah satu Black Hole palsu saat dirinya menjadi Anna.
"Ada apa, yang mulia?" tanya Chris menyadari ekspresi Bianca.
"Bukankah ini..." bukan Bianca yang berbicara, melainkan Daryl lah yang mengatakan hal itu. "Kamu tau, Darl?" Daryl mengangguk mantap.
"6 bulan yang lalu... aku melihat kalung itu persis di sebelah tubuh Lorent. Tidak hanya Lorent saja, semua koran juga ada kalung di sana."
"Bagaimana denganmu, yang mulia? Apakah anda mengenal kalung itu?" tanya Chris mulai penasaran dan Bianca menjawab iya.
Wanita berambut putih seperti salju itu tidak bisa menjawab lebih mendalam kepada mereka karena kalau dia menjelaskan kepada mereka, identitas Bianca sebagai Vina akan terbongkar. Cukup Oscar dan James yang tau identitas aslinya, yang lainnya tidak boleh.
"Mungkin..." mereka semua langsung tertuju ke arah putri pertama dari Markus tersebut.
__ADS_1
"Ini ada hubungannya dengan kelompok yang berusaha mengambil batu permata dan batu kristal milik kerajaan."
"Dugaanmu memang benar, Giselle," balas Bianca mengangguk setuju dengan dugaan Giselle.
"Benarkah?"
"Iya. Aku juga merasakan kalau aura dari kalung itu sama dengan pencuri batu kristal tersebut," jawab Rossa mengikuti dan Daryl hanya diam sambil memandangi kalung yang dipegang sang ratu.
Melihatnya, emosi Daryl langsung memuncak. Mereka harus menemukan pelaku itu secepatnya.
'tetapi... Kenapa mereka melakukan itu?" tanya Allan yang membuat mereka akhirnya berpikiran pertanyaan pria berambut hitam tersebut.
Benar juga.... Kenapa mereka melakukan hal seperti itu? Peboman dan pembunuhan penyanyi terkenal. Tujuan mereka apa?
Bianca terus berpikir keras. Apakah mereka melakukan iu untuk menakut-nakuti biasa saja atau melakukan aksi terorisme?
Bianca harus menemukan jawaban itu segera.
"Bagaimana menurutmu? Apakah kamu ingin kembali ke istana?" Bianca dan lain menoleh bersama ke arah Daryl.
Pemuda berambut pirang terdiam cukup lama dan kelima orang yang menunggu Daryl hanya berdiri di depannya dan masih menunggu jawaban pemuda itu.
'Aku akan bergabung dengan kalian," jawab Daryl akhirnya dan Bianca tersenyum lebar. Kini rencana Bianca sudah terpenuhi.
*******************
"Kamu belum tidur?" tanya Giselle melihat Allan sedang menatap pemandangan di malam hari.
"Kamu juga... Belum tidur?" tanya pria tampan itu berbalik kepada dia.
'Aku tidak bisa tidur," jawabnya dengan enteng. Mereka berdua kemudian terdiam menikmati suara kesunyian malam hari.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong..." Allan menoleh ke arah Giselle.
"Bagaimana kamu bisa tau?"
"Bisa apa?" tanya Giselle bingung dengan pertanyaan Allan.
"Kenapa kamu bisa tau kalau aku sering memakai sarung tangan?" ujar Allan menujukan kedua tangannya yang sedang memakai sarung tangan.
"Memangnya orang-orang tidak menyadari kalau kamu memakai sarung tangan?" Allan menggelengkan kepalanya. Bahkan ketuanya sendiri, James yang sering menemuinya tidap hari saja tidak menyadari kalau Allan memakai sarung tangan. Terutama adiknya sendir, Gladys.
Giselle terdiam beberapa saat, kemudian ia menjawab, "Saat bantu-bantu angkat barang properti panggung tadi," jawabnya akhirnya.
Allan memandang kedua tangannya dengan sendu. Ada sebuah kenangan buruk dengan kedua tangannya itu. Giselle yang tidak sengaja melihat betapa sendu tatapan lelaki disebelahnya, memilih untuk diam dan memandangi pemandangan langit malam.
"kamu pernah mengajak seseorang melihat bintang-bintang, tidak?" pertanyaan Giselle barusan membuat Allan mengingat saat dirinya mengajak sang ratu jalan-jalan bermain ice skating.
"Tidak. Tapi aku pernah mengajak bermain ice skating."
"Ice Skating... Udah lama aku tidak bermain Ice Skating..."
"Kapan-kapan kita bermain bersama, ya!!" seru Giselle bersemangat kepada Allan.
Pria itu terkejut saat perempuan itu mengajak bermain bersama dengannya. Ini pertama kalinya seorang perempuan mengajak dia selain Gladys.
Allan mendengus, kemudian ia menjawab, " Kapan-kapan kalau aku tidak sibuk."
"Janji?" tanya Giselle mengangkat jari kelikingnya sebagai bukti janji kepada Allan.
"Seperti anak kecil saja."
'Ayolah... Janji tidak?" tanyanya lagi dengan kesal.
__ADS_1
"Iya aku janji."