Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 65 : Rencana Tidak Terduga


__ADS_3

Oscar telah kembali dan menceritakan kepada Jacob, ayahnya bahwa batu permata itu harus dijaga dengan baik karena ada seseorang atau kelompok yang mencuri batu tersebut.


"Kau yakin, Oscar?" Oscar mengangguk mantap.


"Perkataan dia memang benar, Tuan Baraouske," tiba-tiba patrick datang dan berjalan menghampiri ayah-anak itu.


"Aku memiliki firasat bahwa ada sebuah kejadian buruk yang menghampiri kita."


"Terutama, sejak yang mulia meninggal, pertahanan istana mulai menurun, kita harus waspada segera."


Jacob berpikir keras dan berkata, " Perkataanmu masuk akal, Tuan Firlutz. Aku akan memerintahkan lainnya untuk menjaga gerbang istana."


"Jangan, Jacob," Markus datang dan berkata, " Mereka pasti tau kalau kita dalam keadaan panik sekarang."


"Terus kita harus bagaimana, Jendral?" tanya Oscar kepada Oscar.


"Tuan Firlutz, bisakah kamu membuat sihir pelindung di seluruh area istana ini?"


"Apakah ini akan efektif, Markus?" tanya Jacob kepada lelaki beruban itu.


"Ini sebagai pertahanan sementara, dan sisanya kita harus mencari cara agar batu permata tersebut bisa dijaga dengan baik."


Sementara itu, Kay dan Gerda sedang bermain bersama di kamar Gerda.


"Kay..."


"Iya?" tanya Kay sambil menoleh ke arah gadis kecil itu.


"Apa kamu merindukan yang mulia?" tanya Gerda tiba-tiba.


"Tentu saja aku merindukannya, kamu juga begitu kan?" Gerda mengangguk mantap.


"Ngomong-ngomong... Kenapa orang-orang pada ramai, ya?" Gerda menyadari ada suara gaduh di luar kamarnya.


Mereka berdua segera keluar dari kamar Gerda dan mendapati Calius sedang buru-buru.


"Calius... Kenapa kamu buru-buru seperti itu?"


"Maafkan atas ketidaknyamanan anda, tuan dan nona. Kami sedang sibuk untuk mempersiapkan pelindung istana."


"Pelindung istana?" tanya Kay dan Gerda bersamaan.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Calius pamit dan segera pergi meninggalkan dua bocah tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Di tempat lain, Jenny menghampiri Vina di markas Black Hole.


"Aku tau kamu pasti mengkhawatirkan mereka semuanya sampai nekat ke sini."


"Apa yang kamu tau apa yang sedang terjadi di istana?" tanya Vina kepada malaikat itu.


"Mereka mempersiapkan sihir pelindung di sekitar istana."


"Sihir pelindung katamu?" tanya James tiba-tiba.


"Yep. Mereka tampaknya sudah sadar bahwa ada penyusup yang mengambil batu tersebut."


James dan Vina saling pandang satu sama lain.


"Sebenarnya ada satu lagi yang mereka incar," Jenny melirik ke arah Vina.


"Aku tidak tau siapa yang mengambil antara Kay atau Gerda, tetapi salah satunya adalah target mereka."


"Aku setuju denganmu."


"Kalau begitu kita harus ke sana segera."

__ADS_1


"Tunggu!" Vina dan Jenny menatap James dengan pandangan bingung.


"Kenapa?"


"Kamu yakin pergi ke sana dalam wujud 'hantu'?"


"Kita bisa minta tolong ke Oscar," balas Vina dengan polosnya.


"Walaupun Oscar adalah satu-satunya yang bisa melihat anda, dia pasti ada kesibukan lain."


"Terus, gimana?" James berpikir keras dan Vina serta Jenny menunggu jawaban James.


"Kenapa kita ambil saja batu permata itu?" tiba-tiba Jenny memberi saran.


"Maksud lo... Kita mencuri gitu?"


"Ya... Enggak. Aku punya ide bagus," Jenny menjelaskan rencananya kepada Vina dan James.


"Baiklah... Itu masuk akal."


"Kalau begitu kalian pergi dulu, aku akan mempersiapkan semuanya. Temui aku di Ruang 3 Lantai 4."


Vina dan Jenny mengangguk dan mereka berdua segera pergi meninggalkan markas. James berjalan menuju ruang tengah dimana Chris sedang membaca surat kabar.


"Dimana Veronica?" tanya James langsung.


Chris menoleh ke arah kanan dimana ada sebuah tirai yang menutup setengahnya.


"Vero... Kau dipanggil sama ketua."


Vero langsung keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekati ketua.


"Ada apa ketua?"


"Tolong buka portal lingkaran kehidupan ruang 3 lantai 4," mendengar perkataan James, Vero mengkerutkan dahinya.


Ia tersenyum dengan misterius seraya berkata, " Iya."


...****************...


Vina dan Jenny tiba di istana tampaknya satu area istana sudah memakai sihir pelindung.


"Kita harus bergegas sekarang," mereka berdua segera menuju altar sihir dimana batu permata itu diletakan di sana.


"Kamu yakin mencuri batu ini?"


"Mau gimana lagi, ini dalam keadaan darurat."


Vina langsung mengambil batu permata itu dan meletakan sebuah kertas di atas tempat peletakan tersebut.


Mereka berdua segera pergi meninggalkan istana dan kembali ke markas.


Di markas, Allan berlari ke arah ruang 3 dan menarik kerah James saati ia tiba.


"MAUMU APA SEKARANG, HAH?! MENGHIDUPKAN KEMBALI KATAMU?!!"


"Allan tenangkan dirimu," ucap Chris menenangkan Allan.


"Kamu kenapa, Allan?"


Allan mengatur nafas sejenak dan ia akhirnya kembali tenang.


"Sebenarnya... Apa maumu? Kenapa kamu tiba-tiba membangkitkan seseorang dan siapa yang kamu maksud?"


"Allan..." panggil Chris pelan.


"Maafkan aku, Allan. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang."

__ADS_1


"A-apa?"


"Chris. Bawa Allan keluar dari ruangan ini sekarang."


"Kamu sudah gila, hah?! Ketua!!" Chris terpaksa menarik Allan keluar dari ruangan dan James menghela nafas panjang.


"Wow... pertikaian yang sangat dramatis," ucap Vina tiba-tiba datang bersama Jenny di sebelahnya.


"Vina..."


"Apakah itu sarkas?" ucap James mempersiapkan lingkaran sihir.


Vina menyerahkan batu permata tersebut. " Apa ini bekerja?"


"Aku tidak tau, tetapi semoga saja ini bekerja dengan lancar," James meletakan batu permata tersebut ke tempat seharusnya.


"Berdirilah ke sana," Vina mengikuti arahan James dan berdiri di tengah kedua batu tersebut.


"Santai saja, oke? Ini tidak akan sakit."


"Darimana kamu tau kalau ini tidak sakit?" tanya Vina balik.


James mengangkat kedua bahunya. "Insting."


James menggunakan sihirnya dan kedua batu tersebut bereaksi bersamaan. Lingkaran sihir kini juga bersinar dan bereaksi.


Sebuah kilatan cepat menerangi satu ruangan tersebut.


Chris, Bella, Allan, dan beberapa anggota yang lain yang berada di luar ruangan melihat sebuah cahaya dibalik sela-sela pintu.


Beberapa menit tidak ada suara sama sekali di dalam, pintu tersebut dibuka dan menampilkan James keluar dari ruangan.


"Ketua..." Semua langsung berhenti kaku melihat sosok di belakang James.


"Tidak mungkin..." Bianca melihat seluruh orang yang ada di sana dengan pandangan bingung.


"H-halo semuanya..."


"Astaga!! Ini beneran Ratu Salju?!"


...****************...


Markus dan Oscar sedang berjalan menuju tempat peletakan batu permata Aspendia.


Batu tersebut masih ada di sana, tetapi ada sebuah kertas di sebelah batu tersebut.


Oscar mengambil surat tersebut dan membaca dengan seksama.


Sebuah senyuman menghiasi wajahnya. " Ada apa, Kapten? Ada terjadi sesuatu?"


"Tidak apa-apa, Jendral. Hanya sebuah surat dari yang mulia."


Mendengar nama Bianca, Markus langsung mendekati Oscar dan membaca juga.


𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 π’Œπ’‚π’π’Šπ’‚π’ π’Žπ’†π’π’Šπ’‰π’‚π’• 𝒃𝒂𝒕𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕 π’Žπ’‚π’”π’Šπ’‰ 𝒂𝒅𝒂, π’ƒπ’†π’“π’‚π’“π’•π’Š 𝒃𝒂𝒕𝒖 π’Šπ’π’Š π’Žπ’‚π’”π’Šπ’‰ π’‚π’Žπ’‚π’. π‘¨π’Œπ’– π’”π’†π’Žπ’‘π’‚π’• π’Žπ’†π’Žπ’Šπ’π’‹π’‚π’Žπ’Œπ’‚π’ 𝒃𝒂𝒕𝒖 π’Šπ’π’Š π’–π’π’•π’–π’Œ 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖.


𝑴𝒂𝒂𝒇 π’šπ’‚ π’Œπ’‚π’π’‚π’– π’Œπ’†π’”π’‚π’π’π’šπ’‚ π’”π’‚π’šπ’‚ π’Žπ’†π’π’„π’–π’“π’Š π’ƒπ’‚π’“π’‚π’π’ˆ π’Žπ’Šπ’π’Šπ’Œπ’Œπ’– π’”π’†π’π’…π’Šπ’“π’Š. π‘¨π’Œπ’– 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 π’Žπ’†π’π’ˆπ’†π’Žπ’ƒπ’‚π’π’Šπ’Œπ’‚π’ π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π’ƒπ’‚π’Šπ’Œ.


𝑷.𝑺 : π‘±π’‚π’π’ˆπ’‚π’ 𝒍𝒖𝒑𝒂 π’Œπ’‚π’”π’Šπ’‰ π’Žπ’‚π’Œπ’‚π’ π’Œπ’† 𝑺𝒆𝒍𝒍𝒐!!


Setelah membaca surat itu, Markus tertawa kecil, kemudian ia menjawab. " Aku yakin ini tulisan sang ratu."


"Darimana tuan bisa tau?" Markus menunjuk ke arah P.S-nya.


"Yang mulia selalu ngomel kalau Sello tidak dikasih makan tepat waktu."


Oscar mulai paham dan juga sebelum itu, Vina dan Jenny juga bertemu dengannya dan berbicara sebentar ke Oscar bahwa ia meminjam batu tersebut untuk 'dibangkitkan'.

__ADS_1


"Baiklah... Kita kembali sekarang."


__ADS_2