
Kay berdiri di tengah pintu kamar sang ratu. Menunggu sang ratu keluar dari kamar Ratu Aspendia itu.
Calius yang sedang menuju ke kamar tuannya menyadari seorang anak laki-laki yang berdiri menunggu seseorang.
"Sedang apa anda di sini, tuan?" tanya Calius terheran. Kay menoleh ke arah lelaki dewasa itu dengan raut wajah tidak ketebak.
"Apa yang mulia baik-baik saja? Sudah 2 hari dia tidak keluar dari kamarnya?" Calius akhirnya mengetahui maksud dari perkataan Kay.
"Tenang saja, tuan. Yang mulia baik-baik saja. Beliau sedang sibuk akhir-akhir ini."
Bersamaan itu, pintu kamar sang ratu terbuka dan menampakan Bianca keluar dari kamarnya. Ia menyadari kehadiran Calius dan Kay.
"Kalian? Kenapa kalian di sini?" tanya Bianca kebingungan.
"Aku ke sini karena mengkhawatirkan anda, yang mulia," balasnya dengan polos. Bianca melirik ke arah Calius mendengar jawaban dari lelaki itu.
"Saya ingin menanyakan menu sarapan anda, yang mulia."
"Tidak perlu, Calius. Saya akan makan di luar."
"A-apa?" tanya Calius kebingungan.
Bianca mengangguk benar. " Oh Calius. Tolong bantu Kay dan Greda untuk ganti baju. Mereka akan ikut denganku."
Kay dan Greda memakan steak dengan lahap, sementara Bianca hanya memandang mereka berdua dengan pandangan berseri.
"Yang mulia..."
"Ya?"
"Yang mulia tidak makan?" Bianca langsung menujukkan sebuah piring kosong. Bekas daging steak yang sudah dimakan oleh Bianca.
Bianca tersenyum menujukan kalau dirinya sudah makan.
Kay dan Greda hanya mengangguk percaya dengan mulut terbuka.
"Ayo... Makan yang lebih banyak, biar tidak lemas badan kalian."
"Siap, yang mulia."
...****************...
Di sisi lain, Aaron sedang berjalan di tengah pusat kota. Ini bukan suruhan kliennya, tetapi ini keinginan dirinya karena penasaran.
Perkataan penyihir tua itu membuat ia menyelidiki lebih lanjut.
Penyihir tua itu bilang kalau dirinya bukan dari dimensi ini. Untuk itu ia menanyakan kepada orang-orang di kota ini.
Setidaknya dia tau apa yang terjadi padanya.
"Apa Perang Ursania?"
"Aku tidak mendengar perang seperti itu."
"Coba kamu cari di perpustakaan kota. Mungkin yang kamu maksud ada di sana."
__ADS_1
Aaron mengikuti saran dari para warga dan bergegas menuju ke perpustakaan kota.
Sudah hampir 3 jam ia mengilingi dan membaca buku-buku sejarah manapun tidak ada yang membahas tentang Perang Ursania.
Ia mendengus kesal dan menjatuhkan kepalanya ke arah meja.
Ia yakin sekali kalau Perang Ursania merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah. Kenapa tidak di ditulis dalam buku manapun?
Apa ia harus berkelana ke kerajaan lain untuk bisa mencari tau tentang perang itu.
Tapi tidak mungkin terjadi sih...
Soalnya kalau dia pergi jauh-jauh, Bianca pasti ngomel dan marah karena pergi jauh. Udah gitu tanpa bilang lagi.
Apa aku minta ijin, ya? pikir Aaron.
Saat ia keluar dari perpustakaan, ia mendengar percakapan 2 orang yang menarik perhatian dirinya.
"Membekukan hati?"
"Iya. Aku mendengar kalau orang itu akan berubah karena hatinya beku."
"Maksudnya berubah menjadi monster?"
"Bukanlah... Maksudnya berubah sifat menjadi jahat."
"Kamu mendengar itu darimana?"
"Bukankah itu menjadi rahasia umum?"
Membekukan hati seseorang menjadi jahat?
Es cahaya? batin Aaron mulai penasaran.
Dan sekarang Aaron kembali ke istana karena langit sudah mulai gelap.
Ia kembali ke istana bersamaan dengan Bianca dan 2 anak kecil itu yang juga telah kembali dari jalan-jalan.
"Yang mulia..." panggil Aaron kepada wanita pucat itu.
Bianca menoleh ke arah lelaki dengan tatapan bingung. " Ada yang ingin aku bicarakan kepada anda."
Dari raut wajahnya yang serius, tampaknya lelaki itu ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepadanya.
"Anak-anak... Kalian masuk ke dalam dan belajar sendiri, oke?" tanpa pandangan curiga sama sekali, Kay dan Greda mengangguk mengiyakan.
"Kita bicarakan di kamarku saja."
"Hah?! Hati yang membeku?" Aaron mengangguk benar.
Hati membeku....
Ah!! Kalau tidak salah di dongeng aslinya diceritakan jika hati seseorang membeku, maka sifat manusia akan berubah menjadi jahat.
Es cahaya akan menyentuh seseorang dan hati itu akan membeku. Hati itu bisa dilelehkan dengan kekuatan tulus dan murni.
__ADS_1
Di dongeng asli, hanya Greda yang bisa melakukan itu saat ia menyelamatkan Kay.
"Memang kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Bianca balik.
Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Aku hanya mendengar dari orang-orang sana."
Jawaban Aaron tidak salah, karena orang-orang pasti membahas sesuatu rumor yang kadang tidak nyata maupun nyata.
"Kalian kemana tadi? Kenapa kamu tidak mengajak aku?" tanya Aaron mengganti topik.
"Awalnya aku mengajak kamu, tapi kamu langsung hilang begitu saja," Aaron menujukkan ekspresi masam kepada wanita berambut putih salju itu.
Seharusnya ia pergi bersama dengan mereka saja. Kenapa juga pergi sendiri mencari catatan tentang Perang Ursania.
"Ngomong-ngomong..."
"Apa yang mulia tau tentang Perang Ursania 200 tahun yang lalu?"
Bianca terdiam dengan mimik wajah yang tidak bisa ditebak. "Perang apa tadi?"
"Lupakan sajalah..." ucap lelaki itu menyudahi percakapan mereka. Sementara Bianca sibuk sendiri di laci meja.
"Ngapain kamu?"
"Mencari sesuatu," ucap Bianca yang sibuk mencari sesuatu dan akhirnya dia menemukan apa yang dia cari, kemudian ia berjalan meninggalkan kamar.
Tentu saja, si malapetaka ikut dengannya. " Kenapa kamu ikut sih?"
"Ya terus kenapa? Kamu kan klienku," balasnya tidak mau kalah.
Kini mereka sampai di ruang kerja sang ratu. Seperti biasa, Bianca melanjutkan pekerjaan sebagai pemimpin negara. Aaron sedang melihat-lihat ruangan kerja kliennya.
Ini pertama kalinya ia melihat ruang kerja kliennya karena ia selalu berada di kamar sang ratu atau tidak kamar Kay dan Greda.
Sembari menunggu kliennya selesai dengab tugasnya, ia merebahkan dirinya di atas sofa.
"Ngomong-ngomong..." Aaron melirik ke arah Bianca yang sibuk dengan dokumen negara.
"Kamu penasaran tidak dengan ucapan nenek itu?"
Tentu tidak karena ia sudah tau apa nenek itu ucapkan. " Aku tidak tertarik dengan begitu."
"Benarkah? Aku jadi penasaran..."
"Entah kenapa aku selalu kepikiran dengan perkataan itu. Tapi kalau nenek itu memberi sesuatu ke kita, kita harus membawa Greda tiap 3 bulan sekali."
"Terus?"
"Aku tidak mau Greda bertemu penyihir itu," balasnya kesal mengingat syarat aneh dari penyihir tua kemarin.
Aaron terdiam sambil berpikir. Apakah ia harus memberitahukan ini kepada sang ratu?
"Jangan dipikirkan lagi. Mungkin saja dia melakukan itu biar ketemu Greda."
"Benar... Uhukk..." Aaron menoleh ke arah Bianca yang sedang terbatuk.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" Bianca mengangguk baik-baik saja dan melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba lelaki itu memiliki firasat aneh kepada sang ratu itu.