
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Oscar melihat Markus, Kay, dan Giselle yang sedang sibuk membantu Ivan memasak sesuatu.
"Oh Oscar ternyata... Kami sedang membantu Ivan," ucap Markus santai.
Sementara Giselle, ia melihat lelaki itu sambil menyipitkan kedua matanya.
"Ayah... Dia siapa? Aku tidak melihat dia sebelumnya."
"Oh! Aku lupa memberitahumu. Dia adalah Oscar, Giselle."
Giselle yang mendengar bahwa lelaki raksasa dan bernampilan menyeramkan terkejut bukan main.
"Nanti ayah akan jelaskan kepadamu setelah ini," jawab Markus.
"Kenapa kamu ada di sini, Oscar?" tanya Ivan saat dia melihat kehadiran Oscar.
"Aku disuruh oleh yang mulia membantumu ataupun Calius karena aku sering berlatih di hari libur."
"Melihat sudah ada bantuan, aku akan mencari Calius," Oscar berjalan dan pamit kepada mereka.
Giselle melihat kepergian Oscar membuat Kay bertanya kepada gadis tersebut. "Kakak. Kenapa kakak lihat Oscar?"
"Ah... Itu..." ucap gadis muda itu salah tingkah.
"Baiklah... Kita lanjutkan kegiatan kita," balas Markus kepada mereka berdua.
Jenny melihat Kay bersama lainnya di dapur istana sambil mengangguk paham. Ternyata Kay diajak oleh Markus untuk membantu Ivan membuat makan malam.
Lalu ia melihat ke arah Oscar yang sedang berjalan ke arah lain.
Mau kemana dia?
Akhirnya Jenny mengikuti pria itu dengan penasaran.
"Kenapa kamu mengikutiku?"
"Hah?" Jenny seketika terkejut dengan ucapan kapten dalam pasukan khusus kerajaan.
Oscar menoleh ke arah Jenny seolah-olah dia bisa melihat si malaikat tersebut.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya dia sekali lagi.
"Kau bisa melihatku?' dia menaikkan sebelah alisnya.
"Memangnya aku buta apa?"
Sekali lagi, Jenny dibuat terkejut lagi.
"Oh Oscar... Sedang apa kamu ke sini?" tanya Calius tiba-tiba datang entah darimana.
"Ah... Aku dengar kamu sedang meminta bantuan bukan? Mumpung lagi libur aku bisa membantumu."
"Tidak perlu Oscar. Aku bisa mengatasi sendirian. Lebih baik kamu beristirahat dulu saja. Mumpung libur, bukan?" Calius pamit kepada Oscar dan berjalan melewati dia.
"Tunggu!!" Calius menoleh ke arah pemuda itu.
"Apa kamu bisa melihat dia?" tanya Oscar secara random. Sedari tadi, Calius tidak melihat Jenny sama sekali.
Calius melihat arah yang ditunjuk oleh Oscar, tetapi tidak ada satupun di sana.
"Tidak ada apa-apa. Sudahlah kamu istirahat saja."
__ADS_1
Setelah Calius pergi, Oscar masih tidak percaya apa yang dia lihat. "Bagaimana bisa?"
"Ternyata tidak hanya Vina yang bisa melihatku," gumam Jenny sambil berpikir sejenak.
"Hei kamu!! Apakah kamu hantu atau apa hah?"
"Apa hantu katamu?! Aku bukan makhluk aneh yang kamu bicarakan!" balas Jenny membela.
"Bagaimana bisa yang lain tidak lihat, tapi aku bisa?"
"Mana aku tau. Ah udahlah aku pergi dulu..."
Tiba-tiba lengan si malaikat itu ditarik oleh Oscar.
"Kamu harus jawab dulu pertanyaanku..." ucap Oscar memasang wajah garang dan menakutkan membuat Jenny bingung sekaligus ngeri melihatnya.
Di tempat lain, Bianca menghela nafas sambil berjalan mencari Jenny sekaligus Kay.
Kemana sih tuh anak?
Bersama Gerda dan Jacob mencari anak lelaki itu. Tiba-tiba dia melihat Markus yang baru keluar dari ruang dapur istana.
"Kalian sedang ngapain ke sini?" tanya Markus menyadari kehadiran mereka bertiga.
"Kami sedang mencari Kay," balas Jacob kemudian.
"Ah! Kay... Dia sedang bersama Giselle dan aku bantu Ivan masak buat makan malam."
Jacob dan Bianca menghela nafas panjang.
Tiba-tiba Calius datang menghampiri mereka semua. "Tumben sekali kalian pada berkumpul di sini. Ada apa?"
"Loh? Bukankah kamu sedang bersama Oscar?"
"Terus... Dia ada dimana?" tanya Bianca kepada kepala pelayannya. Takut lelaki itu kembali berlatih lagi.
"Entalah... Tapi sebelum aku pergi, dia menanyakan ke aku apakah ada seseorang selain kita berdua."
"Selain kita berdua?" tanya Jacob bingung dan Calius hanya mengangkat kedua bahunya saja.
Sementara itu, Bianca masih mencari si malaikat itu.
"Kemana sih dia..."
Di tempat lain, Oscar dan Jenny saling pandang satu sama lain di perpustakaan istana.
"Sebenarnya kamu ini apa, hah?" tanya Oscar seolah-olah Jenny sedang diintograsi.
"Ya... Bisa dibilang immortal lah..." jawab Jenny santai.
"Immortal katamu?" Jenny tidak menjawab seolah jawaban dia benar.
"Terus... Kenapa aku bisa melihatmu, yang lain tidak."
"Aku sudah bilang kalau aku tidak tau tentang itu, tuan..."
Oscar menghela nafas panjang. "Terserah kai sajalah..." Jenny melihat sekelilingnya.
"Kenapa kita dibawa ke sini?" tanya Jenny dengan polosnya.
"Biar tidak ada orang yang mendengar kita," ucapnya.
__ADS_1
Jenny melirik ke arah lelaki itu dengan penasaran. "Aku heran... Kenapa cuman kamu saja yang bisa melihatku? Selain..."
"Aku..." Jenny dan Oscar saling menoleh ke arah Bianca, ratu salju itu.
"Yang mulia..." tanya Oscar terkejut.
"Jenny... Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu di sini."
"T-tunggu... Yang mulia bisa melihat dia?" tanya Oscar dengan kebingungan.
"Tentu saja. Oh! Apakah kamu bisa melihat Jenny?" Bianca menoleh ke arah Jenny yang juga mempertanyakan kepadanya.
Kemudian ia menghela nafas panjang. "Kalau begitu dia siapa, yang mulia?"
"Malaikat... Ya malaikat," Bianca melihat ekspresi kapten itu dengan kedua matanya sendiri.
"Hahaha... Tidak mungkin, kan?"
"Kalau kamu tidak percaya ya sudah."
Oscar melihat lebih mendalam ke arah Jenny. Baju putih polos panjang. Mukanya berseri dan bercahaya, tidak ada sayap yang sering diceritakan orang-orang, tetapi aura dari malaikat itu sangat berbeda dari makhluk yang lain.
Oscar menelan ludahnya sendiri. Bianca menghela nafas panjang.
"Tenanglah Oscar. Kamu tidak sendirian dianggap orang gila. Walaupun semua orang tidak bisa melihat Jenny."
"B-berarti cuman berdua? Kita berdua?" Bianca mengangguk benar.
"Tetapi aku baru menyadari sesuatu kenapa bisa kamu melihat Jenny."
"A-aku juga tidak tau, yang mulia."
Mereka terdiam setelah itu. Jenny juga ikut dalam kesunyian di perpustakaan istana.
"Ya sudah... Kamu kembali ke rumahmu. Jangan latihan terus, mengerti."
"Baik, yang mulia," Bianca dan Jenny akhirnya pergi meninggalkan Oscar sendirian di sana.
Lelaki itu menghela nafas panjang. Mau tidak mau dia harus pulang walaupun sekarang masih siang.
"Kau akan pulang, Jacob?" tanya Markus melihat Jacob yang sedang siap-siap pulang.
"Ya. Kamu tau kan kalau aku punya rumah di daerah sini."
"Kukira kamu menjual rumahnya," Jacob tersenyum simpul.
"Kalau begitu aku pulang, ya..."
Setelah meninggalkan istana, Jacob berjalan menuju rumahnya. Jacob merupakan satu-satunya pasukan hebat dari 5 Great Commander yang masih memiliki rumah di Aspendia. Yang lainnya sudah dijual dan pergi ke luar kerajaan untuk memperbarui hidup baru. Seperti Markus.
Ia membuka pintu rumahnya karena pintunya tidak terkunci sama sekali. Ia mengira kalau ada orang selain dirinya.
"Ah... Kau sudah pulang rupanya," ucap Jacob melihat seseorang sedang mencuci piring di dapur.
Dia melirik ke arah Jacob sambil berkata, "Yah..."
"Besok mau pergi tempat ibumu, tidak?" tanya Jacob menawarkan kepada orang itu.
Dia tidak menjawab sama sekali, kemudian ia akhirnya membuka suara. "Aku tidak tertarik pergi ke sana."
Jacob menghela nafas panjang. "Baiklah... Ayah akan pergi ke sana besok."
__ADS_1
Jacob pergi meninggalkan putranya yang sedang mencuci alat-alat masak di dapur.