
"Ahh... Hari ini benar-benar capek sekali..." ujar Bianca sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Kau sudah selesai dengan kerjaanmu?" tanya Aaron.
"Iya," balas Bianca sambil bangkit dari kursinya.
"Besok aku harus pergi ke acara perjamuan teh dengan Keluarga De Costa."
"Kau akan pergi?" tanyanya sambil membuka pintu dan mempersilahkan sang ratu untuk keluar duluan.
"Iyalah... Ini juga tugasku sebagai ratu. Masa aku harus menolak undangannya?"
Aaron hanya diam saja dan Bianca tau maksud dari lelaki itu. "Tenang saja. Aku tidak akan lama-lama di sana."
...****************...
Keesokan paginya, Gerda melihat Oscar sedang membawa barang-barang yang berat.
"Oh! Nona muda... Apa nona ingin berlatih pagi ini?"
Gerda mengangguk."Tolong ajarin saya, Oscar!" serunya bersemangat.
"Baiklah... Kamu tunggu di sini dulu. Aku mau membawa barang ini ke gudang dulu."
Gerda mengangguk dan menunggu Oscar yang sedang meletakan barangnya ke gudang istana.
"Nah sekarang, kamu sudah menguasai apa saja, nona?"
Jacob yang baru saja datang ke istana melihat ke arah Oscar dan Gerda yang sedang latihan.
"Tuan Baraouske... Selamat pagi," ucap Patrick memberi salam diikuti oleh Kay yang berada di sebelahnya.
"Selamat pagi. Mau kemana kalian?" tanya Jacob basa-basi.
"Kami sedang pergi ke menara sihir istana. Dia sedang berlatih dibawah bimbinganku."
"Begitu rupanya... Baiklah selamat berlatih, Kay."
"Terima kasih paman," balas Kay semangat dan mereka berdua berjalan beriringan ke menara sihir istana.
Jacob yang melihat keduanya mengingatkan dirinya dengan anaknya dan kembali melihat Oscar dan Gerda yang sedang berlatih bersama.
Jacob berjalan meninggalkan area lapangan.
"Bagaimana kemampuanku, Oscar?" tanya Gerda sambil ngos-ngosan.
"Bagus! Kamu sudah semakin berkembang tiap hari," pujinya sambil menepuk pucuk kepala gadis kecil itu.
"Aku tidak menyangka di usia muda dan badanmu yang kecil, energimu masih besar."
"Oscar... Sejak kapan suka berpedang?" tanya Gerda kepada Oscar.
"Sejak umur 4 tahun. Ayahku adalah seorang ksatria yang hebat."
"Benarkah? Terus dimana ayahmu?"
Oscar tersenyum. "Dia sudah pensiun. Baiklah... Kita istirahat dulu. Mau pergi ke dapur istana?"
"Boleh!"
"Astaga nona... Anda sampai keringatan begini."
Gerda hanya terkekeh saja. "Saya ambilkan handuknya dulu, oke," ucap Calius segera mengambilkan handuknya.
__ADS_1
Sementara Ivan, sedang memasak sesuatu kepada Oscar dan Gerda.
"Bukannya jam makan siang masih lama. Kenapa dimasakin makanan berat, Ivan?" tanya Gerda menyadari kalau sang koki beruang itu sedang memasak makanan berat.
"Ini untuk Tuan Oscar, nona muda," ucap Ivan.
Seketika Gerda langsung menoleh ke arah Oscar. "Kenapa makan di jam segini?"
"Karena aku sudah kebiasaan makan jam segini."
Ivan menyerahkan sebuah piring ke arah Oscar dan langsung makan dengan lahap.
"Ini ice cream buat kamu."
"Gimana kalau kita jalan-jalan saja," tiba-tiba Oscar mengajak bersama Gerda.
"Hah? Gak apa-apa?" tanya Gerda sedikit takut.
"Tenang saja, Gerda. Kita cuman jalan-jalan saja. Kamu pasti bosan, bukan?"
"Itu... Baiklah..." Ivan hanya diam saja.
"Kapan kita akan pergi Oscar?"
"Sekarang?"
"Hah?! Sekarang?"
Di tempat lain, Aaron sedang mengelus Sello yang sedang bermain dengan mainannya.
"Bagaimana perjalananmu kemarin, Tuan Decius," ucap Jacob tiba-tiba.
"Oh rupanya kamu. Iya begitulah..." kedua mata lelaki paruh baya itu menatap ke arah rambut baru Aaron.
"Apakah kamu dan dia memotong rambut selama perjalanan?"
Aaron hanya tertawa kecil. "Tidak. Kami memotong rambut karena ada masalah mendesak."
"Masalah mendesak, ya..." Jacob bergumam sambil mengangguk saja.
"Aku dengar yang mulia sedang mencari ketiga pemimpin lainnya bukan?" dan Jacob mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak tau tujuan asli yang mulia apa, tapi firasatku mengatakan bahwa ada peperangan lagi di masa depan."
"Perang?" Jacob mengangkat kedua bahunya.
"Aku hanya menebak saja."
...****************...
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Oscar melihat Gerda sedang makan dengan lahap.
"Ini sangat enak!!" balas Gerda dengan mata yang berbinar.
"Baguslah..." mereka diam satu sama lain. Oscar melihat gadis kecil di depannya, sedangkan Gerda sibuk makan.
"Gerda... Apa mimpimu?"
"Mimpi? Errhhgg...." Gerda tampak berpikir keras.
"Mimpiku ingin menjadi pahlawan! Dan bisa membuat yang mulia bahagia!"
"Membuat yang mulia bahagia?" tanya Oscar penasaran dan Gerda mengangguk mantap.
__ADS_1
"Aku tau yang mulia sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini. Walaupun yang mulia selalu membunyikan itu, aku merasa sedih dan bersalah dengannya."
"Yang mulia sudah membantuku dan Kay bahkan merawat kami layaknya ibu kami. Aku dan Kay memutuskan bagaimana caranya supaya yang mulia bisa bahagia."
Oscar terdiam beberapa saat dan mengangguk paham.
"Kalau Oscar? Apa mimpimu?" tanya Gerda balik ke kapten itu.
"Mimpiku, ya..." ucapnya sambil berpikir.
"Aku tidak tau."
"Kok tidak tau?"
"Hahaha.... Ya beginilah hidupku. Tidak ada yang seru."
"Kalau sudah selesai, aku mengajak sesuatu denganmu," ucap Oscar dan Gerda hanya mengangguk saja walaupun dirinya ingin tau mau dibawa kemana mereka.
Setelah makan siang do restoran dan membeli bunga, mereka berdua pergi ke sebuah pemakaman.
Gerda dibuat kebingungan. Kenapa Oscar mengajak ke tempat seram seperti ini?
Mereka berhenti dan Oscar meletakan bunga yang dia beli ke sebuah batu nisan yang bertulis Nama 'Elena'.
Lelaki itu menghela nafas sambil mengelus batu nisan tersebut.
"Elena? Siapa dia, Oscar?" tanya Gerda to the point.
"Dia ibuku, Gerda," balas Oscar lemah.
"Ah! Maafkan aku..." ucap Gerda merasa bersalah.
"Tidak perlu meminta maaf, Gerda. Tidak apa-apa kalau kamu tidak tau ibuku."
Kemudian ia menatap makam ibunya dengan dalam. "Ibuku meninggal ketika aku berusia 12 tahun."
"Saat kampung halaman ibuku diserang oleh kerajaan sebelah."
"Waktu itu aku bersama dengan ayahku di kota ini dan keesokan harinya, kami mendapat berita bahwa ibu sudah meninggal karena diserang oleh pasukan kerajaan lain."
"Tentu saja ini menjadi pukulan yang sangat keras bagi ayah dan aku juga. Semenjak saat itu, ayah perlahan berubah dan semakin sibuk dengan tugasnya sebagai pemimpin pasukan khusus kerajaan."
"Sementara aku, yang waktu seusiamu membutuhkan kasih sayang orang tua... Tidak ada yang memberiku sama sekali."
Oscar bangkit berdiri dan mengajak Gerda untuk kembali pulang.
...****************...
"Oh! Rupanya kalian berdua di sini?" tanya Bianca melihat Patrick dan Kay yang sedang berlatih menggunakan sihir.
"Selamat siang, yang mulia. Apa yang mulia sedang berlatih juga?" tanya Patrick memulai.
"Tidak. Aku sedang meneliti sihir terbaruku. Kalian lanjutkan saja latihannya," ucap Bianca sambil duduk dan meneliti sihir terbarunya.
Terdengar suara derapan langkah kaki yang menuju ke arah menara sihir istana.
"Yang mulia!! Gawat!! Oscar..." tiba-tiba seorang pasukan ksatria membuka pintu dengan keras dan melapor kepada sang ratu.
"Ada apa dengan dia?" tanya Bianca menoleh ke arah lelaki itu begitupun dengan Kay dan Patrick.
"Oscar... Oscar terluka parah yang mulia!!"
Seketika ia teringat dengan kejadian kemarin.
__ADS_1
Apakah dia akan mati sesuai perkataan Jenny?