Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 89 : Bisnis Keluarga Calius


__ADS_3

Bianca menelan ludah sendiri ketika Calius, kepala pelayan di istana ini sedang berpikir keras.


Ini pertama kalinya pria paruh baya ini menujukkan raut wajah serius di depan sang ratu.


Biasanya dia selalu santai atau biasa saja.


"Ada apa Calius? Kamu kelihatannya serius sekali," akhirnya Bianca angkat suara.


"Begini..." kemudian ia menghela nafas panjang.


"Aku harus ngomong apa dulu nih..." gumam lelaki itu frustasi dan sang ratu bisa mendengar suara dari Calius.


"Jadi begini... Karena yang mulia masih ilang ingatan, saya akan menjelaskan lagi dari awal."


Raut wajah wanita itu berubah menjadi kebingungan. Tampaknya ia tidak mengerti maksud perkataan lelaki itu.


"Sebenarnya... Keluargaku memiliki bisnis yang besar..." Bianca mengangguk paham.


"Bisnis anggur wine. Anda tau 'Windery Wine', bukan?"


Windery Wine? Oh! Wine yang selalu diminum oleh Markus dan Jacob itu bukan?


Kata mereka wine itu sangat enak dan terkenal. Bahkan produk itu sampai ekspor ke beberapa negara.


Calius menghela nafas panjang frustasi.


Uh... Oh... Sepertinya ada masalah baru lagi nih...


"Kakak lelakiku beberapa hari yang lalu menghilang tanpa jejak. Keluargaku saat itu sangat panik dan berusaha mencari keberadaan dia sekarang."


"Terus?" tanya Bianca dengan penasaran.


"Sudah seminggu lebih kakakku belum ditemukan dan bisnis keluargaku sedang membutuhkan sosok dia."


"Selama dalam pencarian, aku diminta untuk mengurus bisnis itu," mendengar itu Bianca hanya bisa diam saja.


Terkejut, tetapi tidak terkejut.


"Bagaimana dengan istri dan anaknya? Atau orang terpecaya yang bisa mengurus bisnis wine itu."

__ADS_1


Calius menggelengkan kepalanya dengan memelas. "Kakakku dan istrinya kehilangan anaknya sekitar 2 tahun yang lalu. Dan itu satu-satu penerus di keluarga ini."


Ah benar... Calius saja tidak memiliki anak. Jangankan anak, nikah saja dia belum.


"Terus... Kamu gimana? Kembali ke keluargamu dan mengurus masalah sampai selesai, gitu?"


Calius mengangguk dan Bianca hanya bisa menerima saja.


"Baiklah... Itu urusan keluargamu, Calius. Aku tidak bisa ikut campur dengan masalah keluargamu."


"Kapan kamu akan pergi?"


"Besok, yang mulia," balas Calius.


Setelah memberi ijin kepada Jacob atas urusan perijinan, Calius langsung berangkat ke keluarganya dan mengurusi permasalahan bisnis keluarganya.


Bianca yang melihat dari kejauhan hanya bisa menghela nafas panjang. Ia berbalik dan melihat sosok yang ia kenal.


"Mau pergi kencan, Ivan?" tanya Bianca kepada Ivan yang siap-siap pergi. Ivan menoleh ke arah sang ratu dan mengangguk.


"Bersenang-senanglah... Kalau kamu merasa gak kuat, bilang saja ke Bella langsung. Dia anak yang baik."


"Terima kasih, yang mulia. Saya akan pergi dulu," ucapnya dan segera pergi meninggalkan istana.


"Yang mulia... Ada hal yang saya bicarakan dengan anda," Bianca menoleh ke arah Oscar dengan raut wajah kebingungan.


Di tempat lain, Aaron dan James duduk saling berhadapan dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.


Mereka saling diam memikirkan pikiran masing-masing, hingga James membuka suara, " Kamu akan kembali ke tempatmu, Tuan Decius?"


Dia diam saja, tetapi ia akhirnya membuka suara juga. " Ya... 'Dia' sedang memanggilku. Sesuatu hal yang sangat penting."


James hanya diam dalam seribu bahasa, menatap lelaki di depannya dengan lekat, kemudian ia menghela nafas panjang.


Aaron bangkit dari kursinya dan hendak berjalan meninggalkan James. " Tentang kepergianku... Aku sudah memberitahu itu kepada wanita itu, jadi... Tolong jaga dia baik-baik selama aku pergi."


Aaron langsung pergi meninggalkan James sendirian di sana. James memegang dagunya sambil berpikir sejenak.


"Hmm yang serius, ya..."

__ADS_1


Di tempat lain, Bianca melipatkan kedua tangannya menunggu lelaki muda itu memberi tahu sesuatu.


"Ada apa, Oscar?" tanya wanita itu dibuat penasaran.


Oscar masih diam saja selama beberapa menit, mungkin dia bingung harus mengungkapkan seperti apa.


"Ada hal yang saya ingin tanyakan kepada anda, yang mulia."


Tanpa sadar, Bianca memiringkan kepalanya tanda bingung. Tumben sekali Oscar menampilkan wajah seriusnya.


"Apakah... Apakah... Ada sesuatu hal aneh kepada anda, yang mulia. Seperti tiba-tiba batuk berdarah atau pusing?"


Bianca mulai berpikir sejenak. Akhir-akhir ini dia sering mengalami batuk darah tiap hari.


Bianca mengangguk dan Oscar hanya bisa diam saja.


Sudah aku duga.... batinnya menduga.


"Ada apa Oscar?" tanya gadis itu kebingungan.


"Tidak... Tidak apa-apa, yang mulia," balasnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," Oscar segera meninggalkan Bianca dan pemuda itu berjalan sambil berpikir sesuatu.


Di tempat lain, Giselle membawa beberapa dokumen ke ruang kerja ratu. Meskipun sekarang Bianca tidak bisa mengerjakan tugasnya sebagai seorang pemimpin negara, Jacob yang akhirnya menggantikan sementara dibantu oleh Bianca. itupun Bianca membantunya sedikit doang.


Giselle menghela nafas lega setelah meletakan beberapa dokumen ke meja kerja ratu. "Kamu ada di sini rupanya."


Giselle melirik ke arah Bianca yang barusan datang dari entah kemana. "Aku butuh bantuanmu kali ini."


"Yang mulia ingin membutuhkan apa?"


"Aku dengar kamu punya kenalan seorang informan, bukan?"


"Tentu. Ada apa? Anda mencari seseorang?" Bianca mengangguk mantap.


Bianca mulai sekarang mencari dua pemimpin pasukan yang lainnya. Daryl dan Lorent Barton. Dua bersaudara yang terkenal memimpin pasukannya berperang di wilayah timur Aspendia.


Menurut Calius, setelah Bianca (asli) memecat para kelima pemimpin tersebut, dua bersaudara itu pergi ke arah Kota Vindo.

__ADS_1


Tetapi saat mencari mereka di kota itu, Barton bersaudara itu justru menghilang.


"Iya. Si Barton bersaudara. Aku mencari mereka mulai sekarang."


__ADS_2