Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 64 : Asal-Usul Black Hole


__ADS_3

"Perang sesungguhnya akan datang?" Jenny mengangguk.


"Aku tidak tau siapa yang mulai, tetapi Black Hole bukanlah yang memulai peperangan ini."


"Terus siapa yang memulainya?" Jenny mengangkat tanda tidak tau.


"Untuk itu, aku meminta bantuanmu untuk mencari asal-usul kedua batu tersebut."


"Tapi... Batu itu masih bereaksi negatif, bukan?" tanya Vina memastikan.


"Memang benar, tetapi akan menjadi sasaran empuk bagi musuh untuk mengambil kedua batu tersebut."


"Batu Permata ada di istana, batu kristalnya ada dimana?"


Jenny menjawab, " Batu itu ada di tangan James. Tenang saja, dia sudah menjaga barang tersebut dengan baik."


"Berarti... Tugas gue udah selesai gitu?" ucap Vina sekali lagi.


"Bisa dikatakan seperti itu," Vina terdiam beberapa saat kemudian ia menghela nafas sambil mengangkat salah satu kakinya di atas sofa.


Beberapa menit, Jenny dan Oscar sedang sibuk mencari dokumen-dokumen tentang kedua batu itu, sementara Vina, hanya duduk dengan sangat santai, mengangkat salah satu kaki di sofa dan menonton drakor di hpnya.


"Sepertinya ini akan cukup untuk penelitian."


"Kalian akan pergi?" ucap Vina menyadari Oscar dan Jenny bangkit berdiri.


"Ya. Kami akan pulang ke istana," balas Oscar.


"Kalau begitu titip salam ke semuanya, ya?" ucap Vina memberi salam perpisahan dengan santainya.


"Oh ya... Jangan lupa bilang ke Patrick jaga Sello, ya."


"Ya... Tenang saja."


"Terus... Dijaga Kay sama Gerda. Mereka berdua suka ngilang tuh..."


"Iya..."


"Terus..."


"Iya, iya... Kalau gitu kami pulang, ya..." ucap Oscar menarik Jenny dan langsung meninggalkan Vina sendirian di apartemennya.


...****************...


"Anda kemana saja, ketua?" tanya Chris melihat James, ketua dari organisasi Black Hole telah pulang.


"Kami semua mencarimu, ketua," balas Isabella juga.


"Aku hanya jalan-jalan saja."


"Jalan-jalan? Masa jalan-jalan sampai 3 hari?" tiba-tiba Allan muncul dan berjalan ke arah James.


"Allan..." panggil Chris memperingati pria muda itu.


"Aku ingin berbicara denganmu."


"Baguslah... Aku juga ingin berbicara denganmu juga," Bella tiba-tiba berkata, " Ketua... Kami mendapatkan surat dari Kerajaan Altuvia."


James melirik ke arah Bella dan membalas, " bawa surat tersebut ke ruang kerjaku."


"Baik, ketua."


"Kamu, ikut saya sekarang," mereka berdua berjalan meninggalkan Bella dan Chris bersamaan.


"Aku punya firasat buruk dengan mereka," ucap Bella kepada Chris.


"Iya... Apalagi dari raut wajah Allan... Tampaknya dia marah."

__ADS_1


"Apa?" Bella menoleh ke arah pria di sebelahnya.


Di sebuah ruangan istirahat mereka berdua duduk saling berhadapan dengan tatapan saling membunuh.


"Kau ingin bicara apa, Allan?" tanya James memulai.


"Kemana saja kamu selama ini?"


"Sudah aku bilang kalau aku sedang jalan-jalan."


"Jalan-jalan? Aku tau kamu sedang pergi ke tempat sesuatu," James menghela nafas panjang.


"Baiklah... Aku sedang pergi menemui ratu salju."


"Menemui ratu salju katamu?!" balas Allan meninggikan suaranya.


James melirik ke arahnya dengan tatapan bingung. " Kenapa kamu marah?"


"Kau pergi tanpa bilang ke kita dan ternyata kamu pergi ke makam beliau? Kamu tidak waras apa?"


"Memangnya kenapa? Masa tidak boleh mengunjungi teman lama," James terdiam beberapa detik, kemudian ia berkata lagi.


"Apakah... Kamu suka dengannya?"


"Jangan sembarangan kamu!!" balasnya dengan emosi.


James menatap Allan dengan tatapan biasa dan dalam.


"Ternyata rumor itu benar."


"Apa maksudmu?"


"Bukan apa-apa..." dia menoleh ke arah jendela dan menutup kedua matanya.


Kemudian ia bangkit dari sofa dan berkata, " Allan... Aku ingin berbicara singkat kepadamu."


Allan memandang ketuanya dengan rasa emosi.


"Huh! Dari dulu aku sudah menyesal kenapa aku tidak berani mengutarakan isi hatiku."


James terdiam sejenak dan berkata lagi, " Kalau misalnya aku berhasil mendapatkannya... Bagaimana?"


Allan terdiam beberapa menit, kemudian ia menjawab, " Memangnya kalian saling kenal?"


James tersenyum kecil. " Aku hanya bercanda. Kalau begitu istirahatlah. Aku tau kau habis mengunjungi acara pesta dari salah satu keluarga bangsawan, bukan?"


James pergi meninggalkan Allan sendiri dan pergi ke suatu tempat dimana ada seseorang yang membutuhkan dia.


...****************...


"Ishh... Kesal banget... Masa nembak aja susah beett..." gumam Vina sambil ngomel-ngomel ke arah adegan drama korea.


"Tuh kan... Dipanggil sama temannya. Ah... Gak seru!!"


"Gak seru kenapa?" tanya seseorang membuat Vina kaget bukan main hingga berteriak.


"Kamprett!! Ngagetin aja!!"


"Maaf..." balas James meminta maaf.


"Kalau mau berkunjung itu diketuk atau salam. Ini malah tiba-tiba datang darimana?"


"Maaf..." balas James sekali lagi.


"Ngomong-ngomong... Anda memanggilku untuk apa?" tanya James mengganti topik.


Vina memberhentikan drama koreanya dan berkata.

__ADS_1


"Gue baru ingat sekarang. Tentang Perang Ursania dan memanggil Lord Decius..."


"Ah tentang itu. Itu cerita yang sangat panjang."


"Singkat saja apa yang lo bisa ceritakan."


James akhirnya menceritakan kepadanya bahwa Kota Ursania merupakan ibukota dan kota terbesar di Kerajaan Ferdalano.


James menjelaskan bahwa alasan Black Hole menghancurkan kota itu bahkan satu kerajaan adalah ini adalah perintah Tuhan.


"Tunggu... Tunggu... Kau bilang kalau Black Hole menghancurkan Kerajaan Ferdalano adalah karena utusan dari Tuhan?"


Bagi Vina ini pertama kalinya ia mendengar sebuah fakta yang sangat mengejutkan.


James menjelaskan lagi, alasan tambahannya adalah Kota Ursania memiliki catatan sejarah paling buruk yang pernah ada.


Kasus narkoba, perjudian, **** bebas, dan lain-lain. Bahkan **** bebas sangat legal di kota itu.


Tentu saja Tuhan marah besar dan sebagai organisasi pengawas, Tuhan mengutus mereka untuk menghancurkan satu kerajaan tersebut.


"Tapi... Kenapa di catatan sejarah ditulis kalau Black Hole adalah organisasi yang jahat?" .


"Memang tujuan kita begitu."


"Hah? Jadi maksudnya kalian sengaja menjadi karakter jahat begitu?"


"Memang terlihat aneh, tetapi kalau kita menghancurkan satu kerajaan dengan bersikap baik, itu akan membuang waktu dan bukan sebagai 'misi penghancuran'."


Dan sekarang Vina paham. Masuk akal sih... Kalau menghukum dalam bentuk menghancurkan satu kerajaan, harus bersikap frontal dan jahat.


"Terus... Bagaimana dengan Lord Decius?"


"Kita memang sengaja memanggil dia. Lord Decius sebenarnya tau tentang aib Kota Ursania."


"Dan juga... Aku penasaran kenapa kamu bisa mendapat kertas panggilan malapetaka?"


"Ahh... I-itu... Sebenarnya pas gue mengunjungi desa Kay dan Gerda, aku menemukan kertas itu."


"Desa tempat Kay dan Gerda?"


"Iya. Pas gue ke sana, desanya sudah hancur. Gue kira kelompok lo yang berulah. Dan pas itu gue bertemu 3 orang berjubah yang mencari seorang anak kecil yang digunakan sebagai alat perang."


Dari ekspresi James, bisa ditebak kalau pria ini baru pertama kali mendengar seperti itu.


"Jadi... Itu bukan ulah kalian?"


"Tentu saja bukan. Mana ada kita mengincar anak kecil. Kalau misalnya salah satu dari Kay ataupun Gerda yang kita cari ngapain mereka berdua masih ada di sana?"


"Anda tau darimana soal itu?"


"Dari Ar- maksud gue Lord Decius."


"Terus... Mereka siapa dong?" tanya Vina membuat mereka berdua saling berpikir keras.


"Sial... Ratu Bianca kan meninggal, apalagi beritanya sudah tersebar. Bisa-bisa 'mereka' mencuri kesempatan untuk menculik salah satunya."


"Kalau begitu mau tidak mau anda harus ikut," balas James sambil mengulurkan tangannya ke arah Vina.


"Apa? Sekarang?! Tapi, kan misiku udah selesai."


"Misimu memang sudah selesai, tapi mereka membutuhkanmu."


Vina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh gimana nih?"


"Kalau urusan itu, biar aku yang akan bicara dengan Tuhan. Dia akan pasti paham, kok."


Vina segera bangkit dan mengangguk paham dan James juga mengangguk sebagai balasan.

__ADS_1


"Sepertinya ada orang ketiga dibalik semuanya ini."


"Benar. Kita harus bergegas."


__ADS_2