Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 91 : Kota Vindo, Kota Langit


__ADS_3

Bianca dan lainnya telah sampai di Pelabuhan Udara Dabasca, pelabuhan satu-satunya yang bisa diakses ke Kota Vindo. Mereka melihat sekeliling di pelabuhan tersebut, cukup ramai didatangi oleh orang-orang.


"Ramai sekali... Aku tidak menyangka kalau pelabuhan ini dipenuhi oleh orang-orang," ujar Rossa tidak menyangka begitu banyak orang yang berseliweran di pelabuhan itu.


"Lihat di poster itu!!" seru Giselle menunjuk ke sebuah poster yang menampilkan seorang wanita berpose sedang bernyanyi dan dituliskan jadwal manggung. Bianca menduga kalau poster itu adalah poster konser.


"Tempatnya di Stadium Holvade, Kota Vindo. Apa ini konser?"


"Bisa saja," jawab Allan bersamaan Chris berjalan membawa tiket. "Kita berada di gerbang 2."


Bianca melihat tiket dan ternyata jadwal untuk berangkat 30 menit lagi. "Kita harus pergi ke gerbang sana. 30 menit lagi kapal udaranya akan berangkat," mereka semua segera menuju ke gerbang 2.


Perjalanan menuju Kota Vindo dari pelabuhan udara tadi sekitar 1 jam dan kini mereka sampai kota Vindo.


"Selamat datang di Kota Vindo, Kota Langit. Kalian akan merasakan pemandangan kota langit yang menakjubkan di sini," ujar operator memberi selamat datang kepada pendatang.


benar kata operator, kota ini sangat menakjubkan dan indah. Bangunan klasik yang sangat bersih, jalanan utama yang sangat besar, kendaraan di kota ini tidak memaki kuda sebagai penarik, tetapi sihir, dan sebuah layar menampilkan seorang wanita cantik memperkenalkan produk layaknya iklan.


Bianca yang memandangi kota tersebut langsung dibuat kagum dan juga merasa nostalgia dengan tempat tinggal aslinya sebagai Vina. Tidak hanya Bianca, yang lain juga merasa kagum dengan pemandangan kota tersebut.


"Pantas saja disebut kota paling maju dari kota lain, ternyata kota ini sangat menakjubkan," ucap Giselle yang tidak bisa lepas dengan rasa kekagumannya.


"Baiklah... Sekarang kita cari dua kakak-adik itu," Kata Rossa dan mereka memutuskan melanjutkan misinya. Mencari Barton bersaudara itu.


"Yang pertama... Kita harus mencari di tempat ini," tunjuk Bianca ke sebuah peta yang berlogo restoran.


restoran Torro Star, restoran milik koki terkenal, Fransiscus Torro. Menurut informan yang mencari keberadaan Daryl dan Lorent, mereka berdua sering makan siang di sana. Dan sekarang mereka berlima berada di restoran tersebut.


Bianca yang melihat dekorasi restoran tersebut dibuat tercengang. ini, kan restoran bintang lima?! Uang darimana kalau tiap hari makan di sana?


"Mau pesan apa, nona-nona dan tuan-tuan sekalian?" Mereka semua langsung melihat menu.


Entah kenapa menu-menu yang ditampilkan itu terasa asing bagi mereka. Akhirnya mereka memesan ala kadarnya saja. Selain menunggu makanan datang, Allan membuka suara, "Mereka berdua seharusnya sudah datang di jam segini."


Perkataan Allan memang benar. Seharusnya mereka sudah datang ke restoran ini.


"K-kak Rossa?" Bianca dan lainnya saling menoleh ke arah asal suara dan betapa terkejutnya melihat pemuda berambut pirang berada di belakang Bianca dengan ekspresi terkejutnya.


"K-kenapa anda bisa ada disini?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Rossa.


"Halo Daryl. Lama tidak berjumpa," sapa Rossa dengan tersenyum lembut.


"Ngomong-ngomong... Dimana Lorent?" tanya Rossa lagi dan ekspresi Daryl langsung berubah drastis.


"D-dia... D-dia tidak ada di sini."


"Dia sudah meninggal."

__ADS_1


...                                                                       **********************...


"Waktu itu... Kami sedang menonton pertunjukan konser Band Tuca sekitar 6 bulan yang lalu."


"Band Tuca 6 bulan yang lalu..." gumam Allan merasa aneh.


"Ada apa, Allan. Ada masalah?" tanya Chris menyadari sikap Allan.


"Kalau tidak salah ada kejadian pemboman besar di konser Band Tuca 6 bulan yang lalu di Stadium Dordi, bukan?" Daryl mengangguk lemah.


"Pemboman berlangsung saat di tengah jalan konser, semua bangunan stadium itu hancur akibat ledakan. Banyak orang meninggal dan menghilang di sana, salah satunya Lorent."


"Aku mencari dia kemana dan ternyata dia tertimbun reruntuhan stadium. Waktu itu... Aku sangat ketakutan..."


Mereka semua langsung terdiam mendengar cerita Daryl.


"Oh ya... Kenapa pada banyak orang di sini?" seketika mereka saling pandang satu sama lain.


...                                                                   ************************...


"Jadi begitu..." setelah dijelaskan Bianca yang tengah menyamar, Daryl mulai paham.


"Aku boleh bertanya sesuatu denganmu?"


"Tentu. Ada apa, yang mulia?"


"A-astaga... Kalian tau darimana?"


"Sesuatu," jawab Bianca sambil melipatkan kedua tangannya.


"Aku pemilik restoran ini," jawab Daryl dengan enteng membuat mereka semua menatap pemuda berambut pirang dengan tatapan melotot.


"A-apa katamu?!" tiba-tiba seorang manager berjalan menghampiri mereka dan manager itu berkata kepada Daryl, 'Tuan Barton, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."


'Baiklah... Aku harus pergi sekarang. Masalah aku ikut atau apa, nanti malam sekitar jam 8 datanglah ke rumahku," jawab Daryl sambil menyerahkan kartu alamat kepada Bianca.


"Senang bertemu dengan anda lagi, yang mulia ratu," ucap Daryl dengan senyuman mengembang dan berjalan meninggalkan mereka semua.


"Tak kusangka dia pemilik restoran mewah ini..." sementara itu, Chris langsung mengambil makanannya setelah pelayan tersebut datang dengan membawa pesanan mereka.


...****************...


Malamnya...


Mereka berlima berkumpul di rumah Daryl sesuai janji dia. Begitu masuk ke dalam, tidak disangka bahwa rumah Daryl begitu besar dan mewah.


Giselle memandang isi interior rumah Daryl dengan kagum dan Allan langsung berdecak malas. "Bagusan rumahku," gumamnya.

__ADS_1


"Jadi... Bagaimana jawabanmu?" ucap Bianca menunggu jawaban Daryl.


"Tentu. Aku akan ikut dengan kalian," jawab Daryl dengan enteng.


Kok kenapa jawaban enteng begitu! batin Bianca bingung.


"Tapi... Kalian harus menolongku."


Sudah aku duga!!


"Kamu ingin menolong apa, Daryl?" tanya Rossa angkat suara.


"Besok lusa ada konser penyanyi terkenal, Monika di Stadium Lorde. Kalian ingat kasus pemboman konser Band Tuca 6 bulan yang lalu?" mereka semua mengangguk mantap.


"Aku dengar kalau ada pemboman lagi di sana," jawabnya dengan serius.


"Jadi... Kita harus bagaimana?" tanya Chris dan Giselle tunjuk kemampuannya sebagai taktisi.


"Kalau begitu... Apakah kamu mempunyai denah Stadium Lorde?" Daryl mengangguk mantap dan mengeluarkan denah stadium dari salah satu rak buku dan meletakan denah di atas meja.


Kemudian, Giselle menunjuk sebuah ruang mesin sambil mengetuk dua kali. "Aku sudah baca berita-berita tentang pengeboman konser Band Tuca dan ternyata bom diletakan di ruang mesin."


"Kenapa mereka meletakan di sana?" tanya Allan mulai penasaran.


Giselle melanjutkan, " Ruang mesin mudah meledak. Bom di letakan di sekitar mesin-mesin dan saat bom diledakan akan mengenai mesin tersebut dan juga mesinnya juga meledak dengan ukuran besar."


"Tetapi..."


"Tetapi?"


"Jika dilakukan seperti 6 bulan yang lalu, pelaku tidak akan melakukan itu besok lusa. Karena ruang mesinnya sudah diawasi oleh para penjaga ketat."


"Hanya satu ruangan yang lolos dari penjagaan dan bisa menimbulkan ledakan besar."


"Dimana?" Giselle mengangkat kedua bahunya.


"Aku tidak tau. Tetapi aku sudah mencari informasi dari penyanyi sampai staf dan penonton yang akan nonton."


"Kamu mencari sampai segitunya?" tanya Allan kaget dengan kemampuan hebatnya Giselle.


'Kau tidak tau kalau dia adalah anak dari Markus Stenberg."


"Oh! Kamu anaknya Markus?!" kata Daryl tidak percaya bahwa gadis muda di depannya adalah anak dari mantan gurunya dulu.


"Oke kita mulai bikin rencana untuk besok lusa!" seru Bianca dengan semangat.


Mereka semua mengangguk paham dan Giselle mulai merencanakan yang sangat brilian itu.

__ADS_1


__ADS_2