
Bianca hanya bisa diam terpaku saat Aaron tiba-tiba kembali ke istana setelah 3 hari pergi berkelana. Udah gitu dia melarang sang ratu untuk pergi Kerajaan Altuvia minggu depan.
‘Kamu melarangku pergi ke sana? Alasanmu apa sampai-sampai melarangku secara tiba-tiba, malapetaka?” tanya Bianca melipatkan kedua tangannya.
Tanpa banyak bicara, Aaron memberikan sebuah bola mata naga putih dan bros milik Putri Tashannie secara berbarengan. “Coba anda lihat lebih teliti, yang mulia.”
Emang kenapa sih? batin Bianca bingung dan melihat dua benda di tangan Aaron secara bergantian.
Ternyata benar, bahwa aura dari dua benda itu sama-sama gelap, namun bedanya aura di bros itu justru lebih gelap pekat ketimbang bola mata naga putih.
“Bola mata naga putih memiliki racun yang sangat kuat. Jika dikonsumsi atau berinteraksi secara langsung, akan mati begitu saja.’
“langsung mati?!” ucap Bianca tidak percaya dan Aaron mengangguk benar. “Kita tidak tau apa yang dipikirkan tuan putri sampai-sampai membenci anda atau alasan yang lain, tetapi menurutku, lebih baik tidak usah ikut sekalian.”
'Tapi, kenapa auranya berbeda sekali. Yang satu gelap biasa, yang satu gelap pekat banget."
"Aku juga tidak tau kenapa bisa berbeda begitu," Bianca berpikir keras. Bisa saja dia menggunakan 'sesuatu' di dalam brosnya selain bola mata naga putih.
“Tapi... “
“Anda ingin mengulang kejadian itu?” Benar sih… Bisa-bisa Vina pasti gagal dalam misinya.
Padahal dirinya sudah ada janjian dengan Allan.
“Aku akan memikirkan itu, Aaron,’ ucapnya menghela nafas dan berjalan menuju sofa untuk merebahkan dirinya di atas sofa yang panjang.
Aaron memandang sang ratu yang sangat frustasi. “Pasti anda memikirkan tentang anak itu, bukan?”
“Anak ‘itu’?” tanya sang ratu sambil bangkit dari rebahannya.
“Ya… Pokoknya itulah. Ngomong-ngomong…. Perasaanku saja atau apa, di sini terasa ramai sekali.”
Seketika, Bianca langsung duduk dengan tegap. Mampus kalau Aaron dan Patrick bertemu langsung. Bisa-bisa mereka berdua akan perang lagi itu.
“Yang mulia… Yang mulia baik-baik saja?” tanya Aaron.
“AKU BAIK-BAIK SAJA!!” ucap Bianca setengah berteriak membuat Aaron langsung menutup kedua telinganya.
“Santai aja kali…. Telingaku bisa-bisa tuli kalau kamu teriak,’ balas Aaron sambil menggosok kedua telinganya.
“m-maaf…” Aaron menghela nafas panjang dan duduk di sebelah sang ratu.
"Cuman mencari bola mata naga putih doang?" dia melirik ke arah wanita di sebelahnya.
"Gak juga sih... Aku mencari sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Oh ya tentang energiku..."
"Kamu mengalihkan pembicaraanku, malapetaka."
"Hei... Ini juga penting, tau..."
"Pertanyaanku juga penting, ya..."
__ADS_1
Tiba-tiba suara ketukan terdengar membuat Aaron dan Bianca saling menoleh ke arah pintu tersebut.
“Masuklah…” perintah Bianca. Paling Calius, kepala pelayan itu mengomel ke sang ratu karena hal-hal yang bertentang dengan sang ratu.
Tetapi, ternyata bukan Calius, melainkan si penyihir agung yang masuk.
“P-patrick??!!” Bianca terkejut melihat kehadiran pria gondrong itu, sementara itu Aaron menyempitkan kedua matanya ke arah Patrick karena dirinya merasa familiar dengan pria di depannya.
“Maafkan saya yang mulia membuat saya mengganggu waktu anda, tapi saya ingin meminta pertolongan anda-”
‘Tunggu!” Patrick dan Bianca saling menoleh ke arah Aaron yang berjalan mendekati Patrick.
“Aaron, jangan memotong pembicaraan orang,’ ucap Bianca.
‘Apa kita saling kenal sebelumnya?” tanya Aaron mendekatkan wajahnya ke Patrick.
MAMPUSS!!
“Maaf?” balas Patrick bingung.
“Bukan apa-apa,’ ujar si malapetaka sambil berjalan menjauhi Patrick dan Bianca menghela nafas lega.
“Boleh saya bertanya?”
“Ke saya?” tanya Bianca menunjuk dirinya sendiri.
“Bukan. Pria itu,’ tunjuk Patrick ke arah Aaron. “Ya?”
Walaupun suhunya dingin, keringat Bianca langsung keluar dan turun secara perlahan. Dia benar-benar panik dan takut kalau misalnya Patrick mengetahui kalau Aaron adalah Malapetaka.
Habislah sudah hidup Vina. rasanya dirinya ingin kabur dan pergi sejauh-jauhnya dari dua pria di depannya itu.
“Benar. Siapa kamu?”
“Tidak mungkin…” Patrick menoleh ke arah Bianca membuat ratu salju itu juga berdiri tegap secara tiba-tiba.
“Kenapa dia bisa di sini, yang mulia?”
“Hei, hei… Kenapa kamu menanyakan tidak sopan kepada klienku.”
“Klienmu?’
“OH! Apa jangan-jangan kamu adalah penyihir agung itu? Wah lama tidak jumpa, ya?” ucap Aaron sambil tersenyum menyeringai.
"Siapa namamu, hah?"
"Ngapain kamu menanyakan namaku?"
Sudah dipastikan akan terjadi perang kedua setelah perang 200 tahun itu.
“Yang mulia… Tolong jelaskan kenapa si malapetaka itu ada di si-’ kedua pria itu langsung dibuat bingung karena sang ratu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
“Kemana dia?” tanya mereka berdua sambil mencari sang ratu.
Kemanakah sang ratu?
__ADS_1
Sementara itu, Kay dan Greda dibuat kebingungan dengan tingkah sang ratu yang aneh. “Pokoknya kalau ada yang mencariku, bilang kalau aku sedang pergi jalan-jalan ke kota.” ucapnya sambil bersembunyi di bawah kasur mereka.
Mereka berdua saling pandang satu sama lain. Masih bingung, tetapi mereka juga harus menuruti perkataan yang mulia yang tidak masuk akal.
"Yang mulia... Apa semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya baik kok," balasnya yang masih berada di bawah kasur.
"A-anu... Yang mulia... Saya mau nanya."
"Tanya apa?"
"Itu... Apa yang mulia akan jadi ke sana?"
"Maksudnya ke Kerajaan Altuvia?" Greda mengangguk mengiyakan.
"Emang kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja aku memiliki mimpi aneh," Bianca tidak membalas perkataan Greda, sementara Kay juga terdiam sambil membaca buku.
"Mimpi apa?"
"Kalau yang mulia pergi ke sana, yang mulia akan mati."
"APA?!"
"Kay, Greda!! Kalian tau yang mulia ratu, tidak?" tanya Aaron membuka pintu secara tiba-tiba disusul Patrick.
"Tidak! Tidak ada!!" seru Kay dan Greda kompak.
"Oh... Baiklah..." Aaron menutup pintu kamar dua anak kecil tersebut.
"Gara-gara kamu... Yang mulia pada hilang bukan?"
"Kok aku? Kamu yang duluan yang nanya, seharusnya..." Mereka bertiga masih mendengar suara keributan antar dua pria dewasa itu.
Bianca langsung muncul dari di bawah kasur Kay dan Greda.
"Apa semuanya aman?" Kay dan Greda mengangguk mantap.
Akhirnya sang ratu bisa keluar dari tempat yang sepi itu. "Kamu bilang bahwa kalau aku ke sana, aku akan mati?" Greda mengangguk mantap.
Sebelumnya, Aaron juga bilang hal seperti itu.
Apa dirinya tidak ikut saja? Tapi bagaimana dengan Allan? Bagaimana reaksi Kerajaan Altuvia?
"Yang mulia..." Bianca menoleh ke arah Kay dan Greda secara bergantian.
Tiba-tiba Bianca terbatuk-batuk cukup kencang membuat mereka berdua khawatir dengan sang ratu.
"Yang mulia... Yang mulia baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa," sang ratu memandang cairan merah kental di telapak tangannya.
"Bisakah kalian mengambil tisu?" Kay segera mengambil kotak tisu dan menyerahkan kepada sang ratu.
__ADS_1
Dengan cepat, Bianca menghapus darah-darah di tangannya. Mereka tidak boleh tau tentang penyakitnya sama sekali.