
"James..." panggil Vina pelan kepada pemuda itu.
"Aku tidak apa-apa... Kalian tidak perlu khawatir," balasnya seakan-akan dia baik-baik saja.
"Duduklah... Gue tau lo pasti syok melihat hal-hal yang buruk terjadi di masa lalu."
James menuruti dan duduk di seberang kasur.
"Kamu pasti ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, bukan?" tanyanya kemudian.
"Jangan dipaksakan, James... Takutnya mempengaruhi mental lo," dia tersenyum kecil.
"Aku hampir saja lupa kalau kamu belum berubah wujud."
Vina melihat sosoknya yang masih belum berubah menjadi ratu salju.
"Ahh... Benar juga."
"Kamu ingin tau lebih dalam tentang Bianca, bukan? Aku akan menceritakan semuanya kepadamu."
Kemudian, James menceritakan semuanya.
Dia menceritakan bahwa ibu Bianca, Ratu Demetria adalah ratu yang terkenal paling tegas dan jahat.
Bahkan dua kata tadi pun tidak jauh berbeda. Bianca sangat tidak suka dengan sikap ibunya yabg terlalu kejam, terlalu mengatur hidupnya, bahkan memperlakukan anaknya sendiri seperti hewan.
Bianca bertemu dengan James saat pesta ulang tahun Bianca dan setelah pesta tersebut mereka berdua saling bertemu di waktu yang kesempatan.
Demetria merasa curiga dengan hubungan putrinya serta laki-laki asing itu. Ia takut bahwa jika suatu saat menikah, James akan mencuri kesempatan itu dan merebut tahta pemimpin kerajaan.
"Tapi... Lo tidak berniat, bukan?" tanya Vina kepada pemuda itu.
James menghela nafas panjang. "Memimpin organisasi saja melelahkan, apalagi memimpin negara. Tentu saja, tidak."
James melanjutkan lagi.
Akhirnya Demetria membayar informan paling hebat untuk mencari tahu hubungan mereka hingga 2 bulan kemudian, sang ratu waktu itu mendapatkan hasilnya.
Ternyata mereka berdua memiliki hubungan spesial bahkan James dan Bianca berencana untuk menikah.
Marah lah sang ratu dan menyuruh pasukan untuk mencari dan menangkap James.
"Dan setelah itu.. Kalian sudah tau, bukan?" Jenny dan Vina terdiam satu sama lain.
"Bagaimana dengan insiden Bianca membunuh ibunya?" tanya Jenny secara to the point.
"Aku tidak tau alasan Bianca membunuh ibunya, tetapi... Menurutku dia membunuhnya karena sudah muak dengan sikap ibunya yabg semena-mena."
"Kalau begitu... Seluruh rakyat di sini tau, dong kalau Bianca membunuh ibunya?" James terdiam cukup lama, kemudian ia menjawab, " Saat aku sedang mengembangkan organisasi ini, aku mendengar kalau Bianca membunuh ibunya sudah terdengar di mana-mana."
"Pantas saja..." Vina langsung menoleh ke arah Jenny.
"Rakyat-rakyatnya pada tidak suka dengannya."
"Tetapi setidaknya mereka bisa menikmati di jaman Bianca daripada di jaman ibunya," balas Vina.
"Terus... Setelah ibunya dibunuh olehnya, pasti dia di angkat menjadi ratu, bukan? Bagaimana setelah itu? Apakah kamu kembali bertemu dengannya."
James terdiam seribu bahasa membuat Vina bahkan Jenny pun dibuat kebingungan.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam, James?"
"100 tahun lalu... Aku bertemu denganya, tetapi... Bianca yang aku kenal bukanlah dia..."
"M-maksudnya?" tanya Vina semakin bingung.
"Aku tau persis gimana dia, tetapi terakhir ketemu saat perjanjian kita waktu itu. Dia mengenalku seperti dulu, tetapi...."
"Semakin kita sering bertemu... Aku merasa bahwa Bianca yang aku kenal dulu bukan Bianca yang aku bertemu."
"Seakan-akan jiwa Bianca pergi dan Bianca yang aku ketemu bukanlah dia."
James mengeluarkan sebuah cincin dari kantong jasnya.
"Padahal aku berniat ingin melamarnya..."
Vina terdiam dengan rasa kasihan kepada James, tetapi di sisi lain...
Ia merasa janggal dengan perkataan James terakhir.
"Jenny..."
"Iya?"
"Apakah daftar orang matinya ada di sana?"
"Buku itu? Masih ada. Kenapa?"
"Coba kamu cek buku daftar itu dan cari nama Bianca."
"Hah?!" mendengar itu Jenny dibuat kebingungan dan James langsung menoleh ke arah mereka berdua.
Jenny langsung paham dan mengangguk mantap. " Kalau begitu... Aku akan pergi dulu."
Setelah kepergian Jenny, tinggal lah Vina dan James sendirian di kamar Bianca.
Tanpa ragu sama sekali, Vina langsung duduk di samping pemuda itu dan berkata, " Cincin yang bagus..."
James tersadar dan melihat cincin perak itu. " Ini..."
Vina melirik ke arah pria di sebelahnya dan tiba-tiba ia curhat kepadanya. " Terkadang... Kalau kita sudah berusaha semampu kita untuk mempertahankan cinta kita, tetapi orang tua tetap bersikeras...."
"... Mau tidak mau kita harus pisah..." James menoleh ke arah Vina dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
"Memang susah sih kalau kita berhadapan dengan orang tua yang bersikeras kalau pasangan yang kita pilih itu salah."
"Sepertinya... Kamu punya pengalaman, ya..." Vina hanya terkekeh saja.
"Sejujurnya... Tidak sih. Teman-temanku mengalami seperti itu."
"Apalah aku... Dari lahir sampai sekarang aku masih belum menemukan jodoh."
"Teman-teman sudah pada nikah, punya anak, gue... Masih menggalau artis idola gue."
James tertawa sejenak. " Sepertinya kehidupanmu enak juga..."
"Perkataanmu benar... Enak sendirian. Makan sendirian tanpa bingung ataupun sampai berdebat perihal makan, nonton bioskop sendirian juga enak, travelling sendirian..."
"Tapi... Terkadang kalau kita melakukan sesuatu sendirian... Rasanya kesepian saja gitu..."
__ADS_1
Vina menoleh dan menujukkan deretan giginya. " Bagaimana kisah hidup gue yang sangat singkat ini?"
"Tidak buruk," jawabnya sambil mengangguk.
"Setelah kamu kembali... Apa rencanamu?" tanya James dan Vina berpikir sejenak.
Pertanyaan yang sangat bagus.
"Aku berniat untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi."
"Sekolah tinggi?" seketika Vina tersadar sesuatu.
"Ehh.... Sepertinya lo tidak tau. Intinya gue mau melanjutkan cita-cita gue. Intinya begitu."
"Bagaimana dengan lo?" James terdiam sambil memandang cincin perak itu.
"Devina... Tampaknya dugaanmu benar," tiba-tiba Jenny datang.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Vina langsung bangkit berdiri begitu pun juga dengan James.
"Aku sudah mengecek daftar-daftarnya dan.. Aku menemukan fakta mengejutkan."
"Apa itu?" Jenny mengeluarkan sebuah kertas yang ia catat, kemudian ia berkata, " Aku menemukan nama Bianca ada di dalam daftar kematian, Vina."
Mendengar itu Vina dibuat terkejut bukan main. " Bianca Alba Aspendia, dia meninggal di tahun 1269. Ia meninggal karena penyakit yang ia tidak ketahui, tetapi..."
"Tetapi..." Jenny melirik Vina dan James yang sudah menunggu jawaban sang malaikat.
"Aku menemukan catatan yang sangat aneh."
"Kalian pasti tau, kalau orang sudah meninggal, jiwanya juga terangkat dari tubuhnya, tetapi di kasus Ratu Bianca, jiwanya sudah terangkat, tetapi ada jiwa lainnya yang masuk tubuh sang ratu."
"Jiwa kain yabg masuk tubuh Bianca? Jangan bilang gue, dong?" tanya Vina sambil menunjuk dirinya sendiri.
Jenny menggelengkan kepalanya. " Tidak. Dia meninggal sekitar 200 tahun yang lalu dan kamu masuk sekitar tahun 1430-an."
"Berarti..."
"Ada jiwa lain selain Vina, gitu?" tanya James menebak.
Jenny membaca catatan itu lagi, kemudian ia menjawab, " Pihak surga sudah mengkonfirmasi kalau jiwa lain yang masuk tubuh Bianca adalah jiwa Biancanya sendiri."
"Maksudnya?" tanya James yang bingung sendiri.
"Oh! Gue tau maksudnya!!" James dan Jenny saling menoleh ke arah Vina.
"Jadi..."
"Jadi gini... Jiwa asli Bianca sudah tidak ada, kemudian masuk lah jiwa lain yang mirip dengan Bianca. Dengan kata lain, Bianca asli sengaja membuat 'jiwa boneka' yang mirip dengannya."
James berpikir keras, sedangkan Jenny hanya bengong dengan jawaban yang sangat luar biasa dari Vina.
"Masuk akal sih... Terakhir aku bertemu dengannya, dia memang Bianca yang aku kenal... Tetapi ada yang sesuatu yang bukan dengannya..."
"Jadi kesimpulannya... Bianca sengaja membuat 'Boneka Jiwa' karena dia tau kalau kematiannya akan segera menghampirinya, gitu?"
Vina mengangguk mantap.
"Oke itu masuk akal, tetapi bagaimana bisa ia membuat seperti itu?" dan mereka bertiga saling diam satu sama lain.
__ADS_1