
"Anda mengingatkanku pada seseorang."
"Hah?" tanya Bianca dengan bingung. Patrick tertawa kecil melihat ekspresi bingungnya sang ratu.
"Mengingatkan pada seseorang? Siapa?"
"Mantan bosku..." ujarnya sambil menghela nafas panjang. "Setiap kali aku merasa kangen dengan dia dan juga teman-temanku..."
Kini, Bianca sudah menebak kalau Patrick membahas tentang Anna dan lainnya.
"Aku dengar, kamu sudah menikah bukan?" ujar Bianca kepada pria itu.
Patrick mengangguk. " Wah... Tak kusangka kamu sudah menikah. Aku kira kamu masih lajang."
Dia tersenyum kecil, " Takdir tidak akan tau, yang mulia."
Vina merasakan kalau Patrick sudah mulai berubah dari sejak ia menjadi Anna. Kini Patrick yang ia lihat menjadi pria yang lebih dewasa.
Apa karena ia sudah menikah dan punya anak?
"Bagaimana dengan istri dan anakmu?" Patrick terdiam sambil memandang ke arah depan dengan sendu.
"Mereka baik-baik saja." Bianca yang melihat tingkah Patrick langsung tersadar sesuatu.
Kalau tidak salah, Patrick bilang saat pertama kali menginjak ke sini, ia sempat mengunjungi makam istri dan anaknya.
"Melihat Kay yang sedang belajar di sana mengingatkanku pada anakku."
Bianca melirik ke arahnya. " Tampaknya kalian berdua akrab, ya..." Patrick melirik ke arahnya dan tersenyum simpul.
"Ah! Ternyata anda di sini..." ujar Calius menghampiri mereka berdua.
"Ada apa Calius?" Calius menghela nafas panjang. " Yang mulia... Apa sebaiknya kita menambahkan chef baru?"
"Menambahkan chef baru? Memangnya kenapa Calius?"
"Akhir-akhir ini Ivan tampaknya sedang sakit. Aku tidak mau ikut berurusan lebih dalam tentang pribadinya, tapi aku kasihan dengannya."
Benar juga...
Ivan adalah satu-satunya koki yang ada di istana. Bahkan untuk makan malam dengan prajurit lain, ia memasak semua hidangan dengan kedua tangannya sendiri.
Bianca salut sekali dengan kerja keras Ivan.
"Kenapa kamu memberitahu kepadaku? Seharusnya tugas untuk itu kan ada di kamu?"
"Walaupun anda tidak bertugas lagi, saya harus memberitahu anda terlebih dahulu," jawab Calius.
Bianca menghela nafas panjang. Sebenarnya dia tidak tau kriteria apa yang Bianca asli rekrut ke orang-orang.
Mengingat Bianca asli sangat tidak suka dengan para pekerja dulu.
"Untuk sementara.... Biarkan Ivan cuti," ucap Bianca akhirnya.
"Tapi... Bagaimana dengan masaknya?" tanya Calius.
"Kalau itu... Serahkan saja kepadaku!"
...****************...
"Kamu yakin masak ini semua?" tanya Aaron memandang Bianca tengah sibuk memasak.
__ADS_1
"Kamu tidak tau bakat rahasiaku, Aaron," balasnya sambil memotong wortel.
Aaron memandang dari jauh dengan diam, kemudian ia berjalan mendekati Bianca dan membantu memasak.
"Kau bukan koki hebat seperti Ivan, jangan dipaksakan."
Bianca tertegun dengan sikap lelaki itu. " Kau memang bisa diandalkan, Aaron."
Lelaki itu tersenyum simpul. " Baiklah... Nona koki, apa yang bisa saya bantu?"
...****************...
Giselle berhenti berjalan dan melihat Oscar yang sedang duduk termenung di taman.
"Kenapa anda ada di sini?" Oscar menoleh ke arah Giselle dan berkata. " Oh! Sejak kapan kamu ada di sini?"
"Barusan. Tadi aku habis membantu Tuan Firlutz tentang dokumen-dokumen negara."
Oscar mengangguk saja dan ia menyuruh Giselle untuk duduk di sebelahnya. Giselle manut saja dan duduk do sebelah lelaki itu.
"Anda sedang memikirkan apa, tuan-"
"Panggil saja aku Oscar," ucapnya terpotong.
"A-anda sedang apa di sini?"
"Hanya beristirahat saja," Oscar memandang perempuan itu sebentar, kemudian ia berkata, " bagaimana dengan perjalananmu mencari Jendral Harris?"
"Menyenangkan! Aku bisa melihat hal-hal yang baru di sana dan-" Oscar memasang wajah kebingungan saat perempuan itu tiba-tiba terdiam.
"Ada apa?" tanya Oscar penasaran. Giselle langsung menggelengkan kepalanya kuat.
Giselle bangkit berdiri dan berpamitan kepada Oscar. " Aku harus pergi. Ada yang yang harus aku lakukan sekarang."
Oscar mengangguk paham dan Giselle segera pergi meninggalkan Oscar sendirian.
"Wahh... Sayang sekali. Padahal aku ingin melihat adegan bermesraan kalian."
"Kita tidak melakukan adegan mesra, ya!!" kata Oscar marah kepada Jenny, si malaikat yang suka tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang.
"Tapi kalian cocok... Sama-sama anak dari pemimpin pasukan hebat."
Oscar berdecih kesal. " Kau sendiri... Kenapa kamu ada di sini?"
"Menemui Vina," jawabnya dengan santai.
Oscar menghela nafas, kemudian ia mengacak rambut merahnya dengan kasar.
"Aku kira tugasmu udah selesai..." Jenny melirik ke arah pria di sebelahnya.
"Tugasku belum selesai."
"Terus... Kenapa kamu kemarin-kemarin tidak muncul?" tanya lelaki kepada Jenny.
"Aku ada kesibukan. Emang kenapa sih? Kamu kangen sama aku?" tiba-tiba wajah pria itu langsung memerah bagaikan tomat.
"Siapa juga yang kangen sama kamu?! Aku kan cuman tanya saja! Lagian kalian berdua bukanya selalu bersama?"
Jenny langsung duduk di sebelah Oscar sambil memandang taman istana dengan tatapan sendu.
Oscar memandang Jenny begitu dalam. ' Hey... Makasih, ya."
__ADS_1
Jenny menoleh ke arahnya dan membalas tatapan itu. " Makasih apa?"
"Tentu saja menolongku. Aku tau kalau kamu membangkitkanku dari kematian, bukan?" Jenny terdiam sambil memandang pria itu cukup lama.
"Matamu indah juga..." Oscar langsung mundur beberapa langkah.
Orang ini benar-benar menyeramkan.
"Ah sudahlah... Pokoknya aku berterima kasih padamu karena sudah menolongku," ia bangkit dari bangku taman dan segera pergi meninggalkan Jenny.
"Hey, Oscar!!" seru Jenny memberhentikan Oscar.
Lelaki itu menoleh Jenny. " Sebenarnya... selain bertemu Vina, ada hal yang aku omongin denganmu."
Oscar memandang malaikat itu selama beberapa detik dan berkata, " Apa itu?"
"Ini tentang ibumu."
...****************...
"Lama tidak jumpa, Jendral Harris," sapa Jacob kepada wanita itu.
"Heh... Kau tampak tidak berubah sama sekali, komandan," Jacob hanga tertawa mendengar jawaban Rossa.
Markus datang dan bergabung dengan lainnya. "Hmm?! Kamu sudah datang juga, Jendral."
"Bagaimana kabarmu, Tuan Stenberg?" Dia tersenyum simpul.
"Ya beginilah..."
"Jadi... Hanya mereka berdua yang kota harus cari."
"Kalau masalah Letnan Morphy... Aku tidak tau keberadaan dia," ucap Rossa.
"Bagaimana dengan Komandan Rows?" baik Rossa maupun Markus sama sekali tidak mengetahui keberadaan mereka berdua.
Jacob menghela nafas panjang. " Ini jauh lebih susah dari apa yabg aku pikirkan."
Mereka bertiga sedang memikirkan masing-masing hingga sebuah ketukan yang membuyarkan mereka.
Munculah Giselle, anak dari Markus. Melihat anak sulungnya datang, Markus bertanya kepada putrinya.
"Ada apa, nak?"
"Ayah... Apakah ayah ada kesibukan?" mereka bertiga saling pandang satu sama lain.
"Tidak ada," Markus bangkit berdiri dan menghampiri putrinya serta meninggalkan mereka berdua di dalam sana.
"Ada apa?" tampak Giselle ragu-ragu menjawab kepada sang ayah.
"Ayah... Ayah tau siapa itu Gaspal," mendengar nama Gaspal, Markus sedikit terkejut.
"Gaspal? Kamu tau darimana?" Giselle mengajak ayahnya ke tempat jauh dari Rossa dan Jacob serta orang-orang di istana.
Setelah menemukan tempat aman, Giselle menujukkan kemampuan 4 elemen yang diberikan oleh murid Gaspal.
Api, petir, udara, dan cahaya semuanya Giselle tunjukan kepada ayahnya.
"K-kenapa 4 elemen itu ada di kamu?"
"Ayah tau Gaspal?' Markus tampak panik sambil menggaruk kepalanya. " D-dia... Dia kakekmu, Giselle."
__ADS_1