
"Jadi semuanya..." mereka semua langsung tertuju ke arah Markus
"Hari ini kita akan dibantu oleh Black Hole. Karena di istana hanya kita-kita saja dan kita perlu pengawasan yang ketat, apa salahnya mereka membantu kita."
Markus menoleh ke arah kiri darinya dan menyuruh 'orang itu' masuk ke dalam.
Setelah dia masuk, berbagai macam reaksi tergambar dengan jelas di wajah mereka.
Ada yang biasa saja, ada yabg bingung, ada juga yang tidak tau harus bereaksi apa.
"Perkenalkan... Dia Isabella, salah satu anggota Black Hole. Dia akan membantu yang mulia untuk mencari siapa pelaku sebenarnya."
"Ada yang perlu ditanyakan?" tanya Markus kepada semua orang di dalam ruang pertemuan kali ini.
"Tidak ada, Jendral..." balas Oscar akhirnya.
Bianca melipatkan kedua tangannya dan menatap Bella dengan serius. Setelah pertemuan dadakan di pagi hari, kini Bella harus menghadap kepada sang ratu.
"Kamu tau, kan kalau tugasku sebagai ratu sudah selesai?" Bella mengangguk.
"Jadi... Anda melakukan apa selain mencari tau pelaku utamanya?"
"Membantu..." Bella memasang wajah kebingungan tanda ia tidak menangkap maksud dari wanita berambut putih itu.
"Membantu Ivan memasak. Kamu, kan sudah liat kalau dia selalu memasak."
"Tugasmu... Selain membantuku, kamu harus bantu Ivan masak makan malam tiap hari. Masak buat para prajurit di istana ini, mengerti?"
Bella mengangguk paham. " Oh! Dan juga, saat kita bertemu dengannya, jangan terlalu berlebihan. Biasa saja."
"Siap, yang mulia!" seru Bella dengan antusias. Bianca mengangguk bangga.
Sang ratu membukakan pintu dapur dan melihat si koki sedang duduk santai. Tampaknya dia sedang istirahat sejenak.
"Lagi istirahat?" tanya Bianca mengajak bicara.
Koki beruang itu mengangguk. " Beberapa menit lagi aku akan mempersiapkan makan malam," Ivan menoleh ke arah wanita berambut merah yabg berada di belakang tubuh Bianca.
Bianca menyadari tatapan si koki itu dan cepat-cepat menjelaskan kepadanya. " Dia ditugaskan ke sini untuk membantuku, Ivan. Tidak apa-apa kan kalau dia ikut bersama kita?"
Ivan terdiam cukup lama hingga Bianca berkata, " Tenang saja... Kalau ada apa-apa sama dia, lapor saja ke saya, oke?"
Ivan mengangguk paham, sementara Bella hanya merasa kalau dirinya merupakan orang yang jahat.
"Hari ini kita masak apa, Ivan?" tanya Bianca sambil mengganti topik.
"Oh... Tunggu sebentar..." Ivan bangkit berdiri dan mencari sesuatu di meja dapur.
"Menu makan malam hari ini adalah..."
Sementara itu, Oscar sedang mengawasi gerak-gerik Gerda yang sedang berlatih dengan giat.
"Cukup latihan hari ini, nona. Anda mengalami peningkatan yang lumayan signifikan, tetapi nona harus memperhatikan ayunan pedangmu, anda terlalu cepat mengayunkan pedangnya."
"Baik!" balas Gerda dan menyuruh Oscar untuk istirahat, kemudian ia melihat lelaki berambut putih sedang berdiri memandang mereka dari kejauhan.
"Mencari udara segar, tuan?" tanya Oscar basa-basi kepada Aaron.
__ADS_1
Dia hanya tersenyum kecil saja. "Bagaimana dengan investigasimu?"
Aaron mulai sadar sesuatu dan berkata, " Sepertinya penyihir agung itu sudah menemukan siapa yang menculik Gerda waktu itu."
"Benarkah?" tanya Oscar mulai penasaran.
"Kamu ingat, bukan? Saat tempat ini sedang ada pertemuan antara 3 perwakilan beberapa hari yang lalu?" Oscar mengangguk ingat.
"Aku dan dia beserta anak-anak pergi ke markas Black Hole. Si ketua menjelaskan apa yang sedang terjadi saat penculikan ini."
Seketika, wajah Aaron langsung berubah menjadi serius. " Tampaknya yang menculik si Gerda adalah 'mereka'."
"Maksudnya?" ucap Oscar masih bingung dengan ucapan Aaron.
"Mereka... Orang-orang yang berusaha mencariku dengan mengaku kalau mereka ada 'Black Hole'," seketika Oscar terkejut dan ingat.
Aaron tersenyum menyeringai melihat anak dari komandan pasukan istana mengingat apa yang dia bicarakan.
"Sudah tau kan maksudku Oscar?"
Oscar menghela nafas panjang. " Aku tidak habis pikir kenapa mereka bisa ada di dunia ini?"
Aaron langsung mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Begitupun juga James."
Tiba-tiba Oscar menemukan sesuatu yang membuat Aaron terkejut bukan main. " Kalau begitu... Apakah mereka datang ke sini untuk membalas dendam kepada Black Hole yang asli?"
"Kenapa kamu bisa mengetahui hal seperti itu?" tanya Aaron dibuat takjub dengan pemikiran Oscar.
"Aku hanya nebak saja."
"Bagaimana dengan yang mulia?" ujar Oscar mengalihkan topik.
Oscar mengangguk sambil memikirkan hal yang sama.
...****************...
Bianca menghela nafas sambil menyeka keringat di dahinya. Ini pertama kalinya ia berkeringat di cuaca yang super ekstrem dingin seperti ini.
Apakah karena ia sering berdekatan dengan api kompor jadinya sampai keringatan begini?
Wanita itu melirik ke arah Ivan dan Bella satu-satu. Dari tadi, mereka berdua belum bicara sama sekali.
Seperti orang pacaran yang sedang berantem saja.
"Ivan... Ini sup sudah matang. Aku taruh di mangkok, ya?" ujar Bianca berusaha mencairkan suasana.
Ivan menoleh ke sang ratu dan mengangguk mengiyakan.
Di sisi lain, Bella sedang sibuk memotong wortel dengan serius membuat Ivan tidak sengaja melihat wanita di sebelahnya dan berkata.
"Kamu memotongnya terlalu kecil. Lihat, ya..." Ivan mengambil pisau di tangan Bella dan menujukkan cara memotong dengan baik kepada Bella.
Bella memandang Ivan dengan seksama dan serius. "Nah... Coba lakukan seperti yang aku tunjukan."
"B-baik!!" serunya dan mempraktekan kemampuannya kepada Ivan.
"Lumayan juga... Pertahankan," ujar si koki itu dan melanjutkan aktivitasnya.
__ADS_1
Bella yang berada di sebelah Ivan hanya bengong saja.
Dia baru saja ngobrol dengan santai dengannya?! Tidak hanya Bella, Bianca tiba-tiba sudah ada di belakang Bella dan memandang Ivan dengan wajah kaget dan kebingungan.
Kedua wanita itu saling tatap satu sama lain dan Bianca menjawab. "Astaga... Dia baru saja..."
"Yang mulia... Bisa tolong ambilkan rempah-rempah di lemari atas sana?" ujar Ivan membuat Bianca langsung sigap dan segera mengambilnya.
Setelah berjam-jam memasak untuk makan malam dan menjamu para ksatria beserta orang-orang di istana, Bianca memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.
Sementara, Bella masih berada di dapur sambil beristirahat. Tiba-tiba Ivan memberikan sebuah piring berisi makanan yang mereka buat kepada Bella.
"Makanlah..." ujarnya. Bella mengambil piring itu dan menyantap hidangan dengan lahap.
Sementara Ivan, sibuk mencuci peralatan dapur yang sudah digunakan.
Bella melirik ke arahnya sambil menyuap satu per satu sendok ke arah mulutnya. "Kamu tidak makan?" tanya wanita cantik itu kepada koki istana itu.
"Nanti saja... Aku sedang membersihkan peralatan ini dulu."
Bela melanjutkan makanannya dan tidak lama dia baru saja tersadar sesuatu.
Ivan baru saja membalas pertanyaan darinya?
Seketika Bella memutuskan untuk memberanikan dirinya berbicara dengannya. "Anu... Soal itu..."
Ivan yang baru saja selesai mencuci langsung menoleh ke arah wanita di sana.
"Waktu itu aku minta maaf sudah melakukan hal yang membuatmu ketakutan..."
Ivan tidak menjawab sama sekali, kemudian ia duduk berhadapan dengannya. "Aku sudah tau kalau kamu datang ke sini untuk meminta maaf kepadaku."
"Tidak apa-apa... Ini semua salahku. Aku tiba-tiba melakukan sesuatu yabg membuatmu kebingungan."
Bella memutuskan untuk diam dan melanjutkan makannya. Sebenarnya ia ingin tau banyak hal kepada koki istana itu.
Alasan takut kepada 'Wanita'.
"Sepertinya kamu tidak takut denganku seperti kemarin," Ivan tersadar dari lamunannya dan berkata. "Sepertinya karena insiden kemarin, aku jadi merasa bersalah denganmu."
"Oh... Begitu," balasnya dengan helaan nafas lega.
Ivan berkata, "Kemarin... Kamu ingin berbicara denganku, bukan?"
Bella tersentak dan mengangguk. "Aku hanya bilang terima kasih kepadamu sudah membantuku saat kita perjalanan ke Yurta 2 tahun yang lalu."
"Yurta... 2 tahun lalu?" ucap Ivan berusaha mengingat dan seketika ia mulai mengingat kejadian itu.
"Tidak masalah kok. Aku-"
"Ivan!!" seru Giselle tiba-tiba datang dan menghampiri si koki itu.
"Ada apa?" tanya Ivan bingung melihat ekspresi wajah Giselle panik sekali.
"Ada tamu yang mencari kamu."
"Siapa?"
__ADS_1
"Ibu kamu."