Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 11 : Black Hole Datang Lagi


__ADS_3

Mereka berempat membuka tudungnya dan menampakan wajah mereka. Semuanya terasa asing bagi Vina.


"Kalian ke sini dalam rangka apa?" tanya Bianca to the point.


Pria muda berambut hitam itu tersenyum misterius.


"Kami meminta bantuan kepada anda, yang mulia," Bianca hanya memutar bola matanya malas.


Ini orang bikin berulah lagi...


"Apa itu?"


"Kami sedang mencari seorang anak yang di Desa yang kami bicarakan itu. Ingat, kan?"


Tentu saja aku ingat batin Bianca masih ingat.


"Terus... Mau kalian apa?"


"Karena kami mencari anak itu tanpa ada jejak sama sekali, maukah yang mulia membantu kami?"


"Mencari anak itu?"


"Benar. Mungkin saja anak itu berada di sekitar kerajaan sini dan juga..." Ia menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada sang ratu.


"Dan juga, sebagai permintaan maaf kami, kami memberi hadiah kepada yang mulia. Tenang saja, ini tidak membuat anda mengalami kecelakaan."


Sang ratu menyuruh Calius mengambil gulungan kertas tersebut.


"Kalau begitu permisi, yang mulia kami permi-"


"Saya ingin bertanya kepada kalian..."


Mereka berempat terdiam menunggu jawaban sang ratu salju. " Kalian pernah membicarakan tentang malapetaka, bukan? Apakah dia nyata?"


Mereka berempat tidak menjawab apapun dari pertanyaan Bianca.


"Dia tidak nyata," balas seorang perempuan di sebelah pria muda berambut hitam.


"Maksudnya?"


"Dia tidak nyata di dimensi ini. Yang mulia ingat, kan kalau kita bukan dari dimensi ini. Malapetaka yang kita bicarakan juga tidak mungkin kita panggilkan karena pertama, dia tidak muncul saat kita panggil dan kedua kemungkinan kecil kalau kita panggil dia, tetap tidak muncul," jelas perempuan berambut merah darah itu.


Tapi, kenapa aku bisa? batin Bianca bingung.


"Ada pertanyaan lain, yang mulia?"


"Tidak ada..." balas Bianca.


"Kalau begitu kami permisi dulu, yang mulia," setelah itu, anggota-anggota dari Black Hole telah menghilang dihadapan sang ratu.


"Kamu mendengarnya?" tanya Bianca saat ia berjalan dari ruang altar dan bertemu dengan Decius.


"Aku mendengar saat kalian menyebutku."


"Siapa mereka berempat?"


"Hanya kelompok jahat menguasai dunia," balas Bianca enteng dan jujur.


"Apa mereka terkenal?" tanya Decius mengikuti perempuan itu. Tampaknya dia tidak menyadari kalau Bianca sedang berbicara dengan Black Hole.


"Dimensi ini tidak, tetapi kamu pasti kenal dia."


Decius berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, " Black Hole?"


Bianca berhenti berjalan begitupun juga dengan Decius.


"Sudah kuduga ternyata memang benar," ucap Decius menduga.

__ADS_1


"Tapi... Kenapa mereka bisa pindah ke dimensi?"


Itu yang aku pertanyakan kenapa mereka bisa? batin Bianca.


"Aku tidak tau. Dan jugaa..."


Decius menunggu kelanjutan dari Bianca.


"Tidak jadi. Aku lupa."


"Bagaimana dengan anak-anak?"


"Oh bocah-bocah aneh itu? Mereka sedang main."


"Hah? Main apa?"


Bianca membuka mulutnya dengan lebar saking kagetnya melihat 2 anak kecil itu penuh dengan salju dan berantakan.


"Kalian habis ngapainnnn..."


"Tadi kita mau ngajak paman main bersama, tetapi paman lagi tidak ingin main terus paman menyuruh kita mencari cincin yang paman bilang."


"Terus kalian cari gitu?" Kay dan Greda mengangguk dengan polos.


"Kauuu..." Bianca menoleh ke arah lelaki itu penuh emosi.


"Tidur di luar."


"Hah?!" tanya lelaki itu tidak percaya.


"Kamu tidur di luar. Kalian berdua, kalau paman ini masuk ke kamar kalian buat numpang tidur, bilang ke saya."


"S-siap, yang mulia..."


"APA-APAAN INI? MASA AKU TIDUR DI LUAR? APALAGI DINGIN LAGI!! HEY WANITA PUTIHH!!"


...****************...


Ia menghela nafas panjang. " Apa karena kecelakaan Ratu Aspendia itu, sampai-sampai kamu khawatir dengan beliau?" tebaknya.


"Ya... Benar, tapi ada lagi."


"Tertidur panjang, bukan?" Pria berambut hitam itu menoleh ke arah teman satu organisasinya.


"Gara-gara itu, dia tampak curiga dengan hadiah tadi." Pria itu menoleh lagi ke arah seorang pria berusia 30-an awal itu.


"Seharusnya kamu ngecek kalau alat labnya benar-benar baru."


"Maafkan saya," balas dia. Mungkin pria dewasa itu malas berdebat dengan pria berambut hitam.


"Allan... Ketua memanggil anda," pria berambut hitam bernama Allan mengangguk sekali.


"Oh ya... Tugas 'itu' kuserahkan kepada kalian semua."


Ia berjalan meninggalkan teman-temannya yang terdiam layaknya patung.


"Kudengar kalau kalian mencari anak itu, bukan?" tanya sang ketua kepada Allan.


"Iya. Kami meminta kepada sang ratu untuk mencari mereka."


"Ahh... Ratu salju itu bukan? Aku dengar lagi kalau sang ratu baru bangun dari tidur panjangnya."


"Ketua memanggil saya, bukan? Pasti anda ingin membahas sesuatu yang penting." tanya Allan.


"Oh ya... Apa kamu merasakan adanya malapetaka?" Allan memiringkan kepalanya.


"Merasakan?"

__ADS_1


"Iya. Aku sedikit merasakan kalau dia ada di sini."


"Ah... Tapi sudahlah... Mungkin ini perasaanku saja," Allan diberi sebuah kertas dari sang ketua.


"Apa ini?"


"Tugasmu kali ini. Hanya kamu yang bisa mengatasi ini."


Pria muda itu melihat kertas tersebut dan ia mengerutkan keningnya.


"Tempat ini, kan?"


Sang ketua yang tidak diketahui identitasnya tersenyum menyeringai.


"Semoga kamu berhasil, Allan."


...****************...


Bianca bangkit dari tidurnya. Ia sekarang tidak bisa tidur. Entah ia mengalami insomnia atau apa malam ini ia tidak bisa tidur.


Akhirnya ia memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya ia menemukan Decius duduk memeluk dirinya sendiri karena kedinginan di sebelah daun pintu kamar sang ratu.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Bianca tiba-tiba. Decius langsung menoleh ke arahnya.


"Kata kamu, aku disuruh tidur di luar," Bianca menghela nafas panjang.


Tak menyangka kalau Sang Malapetaka yang terkenal kuat dan kejam itu adalah orang yang polos di depan matanya.


Kini mereka berdua berdiri di balkon kamar sang ratu. Bianca melirik ke arah lelaki itu yang sedang kedinginan.


Bianca meninggalkan Decius sebentar dan ia kembali lagi dengan membawa sebuah stone bewarna merah. Perempuan cantik itu menyerahkan stone itu kepada Decius.


"Pakailah batu ini. Ini Fire Stone yang berguna untuk menghangatkan tubuhmu saat kamu memegangnya."


Decius mengambil batu sihir dari pemberian sang ratu. " Kamu tidak tidur?" Bianca menggelengkan kepalanya.


"Gimana kalau kamu menceritakan tentangmu?" Decius membalas tatapan Bianca.


"Terlalu rumit kalau aku menjelaskan kepada anda, yang mulia."


"Sekarang kamu memanggilku dengan yang mulia, ya?" Decius hanya menyeringai tidak niat.


"Kalau kamu?" tanya Decius balik.


Bianca terdiam cukup lama. " Aku tidak ingat. Setelah aku bangun dari tidur panjangku, aku tidak mengingat apa-apa."


Decius tidak membalas apa-apa.


"Aku dengar kalau kamu tertidur cukup lama."


"Kau bilang kalau kamu adalah kehancuran, bukan?"


"Memangnya kenapa?"


"Kamu tidak percaya, kepadaku?"


"Sedikit."


"Sedikit?" Bianca melirik ke arah lelaki itu.


"Ya begitulah pokoknya..." Decius menarik tangan perempuan itu hingga wajah wanita itu maju mendekat ke arah Decius.


"Bagaimana kamu bisa mempercayaiku kalau kamu tidak memberiku tugas yang seharusnya."


Bianca terpaku dengan perkataan Decius. Mereka terdiam saling pandang satu sama lain cukup lama.


"Baiklah..."

__ADS_1


"Aku memberi tugas kepadamu."


__ADS_2