
Bianca dan Giselle memandang si koki dengan lekat bahkan saat Rossa yang sempat mengunjungi ke dapur terkejut dan terheran dengan tingkah laku mereka.
"Kenapa wajah kalian murung begitu?" tanya Rossa dibuat keheranan.
"Oh... Kamu... Kami merasa kasihan..."
"Kasihan? Kepada siapa?" Giselle menunjuk Ivan yang sedang mengupas kentang. Rossa yang mengikuti arahan si Giselle dibuat bingung.
"Ivan?"
"Sungguh kasihan dia..." Giselle mengangguk setuju dengan perkataan Bianca membuat Jendral wanita itu makin bingung.
"Kalian sebenarnya bahas apa sih?" tanya Rossa akhirnya.
Giselle menjelaskan sambil bisik-bisik mengenai permasalahan Ivan.
"Perjodohan? Sebenarnya sih tidak apa-apa sih... Lagian aku kasihan dengan ibunya yang selalu mendengar rumor-rumor yang tidak sedap tentang anaknya."
"Masalahnya... Dia mengalami trauma yang cukup serius," balas Bianca
"Apa hubungannya dengan perjodohan?" Giselle membisikkan Rossa sekali lagi dan setelah itu reaksi Rossa dibuat terkejut.
"Astaga... Aku tidak menyangka seperti itu." balas Rossa terkejut.
"Makasnya itu... Kami berdua benar-benar bingung," dan keduanya menghela nafas berat.
'Jendral Harris? Ada apa anda ke sini?" tanya Ivan tiba-tiba berjalan mendekati ketiga wanita itu.
"Oh... Aku ingin makan siang hari ini."
'Mau masak apa?'
"Terserah saja. Yang penting aku makan," Ivan mengangguk paham dan melihat Bianca dan Giselle yang terduduk dengan wajah muramnya.
"Yang mulia? Giselle? Kenapa kalian ada di sini?"
"Bosan..." jawab Bianca asal. Baik Ivan dan Rossa hanya memandang satu sama lain.
'Baiklah aku akan memasak untuk kalian bertiga."
Ivan kembali bertugas dan Rossa duduk disebelah Giselle. " Oh ya... Aku hampir lupa. Besok, perwakilan Black Hole akan datang ke sini."
Bianca yang mendengar itu langsung menoleh cepat ke arah Rssa. " Ke sini? Ngapain?'
"Aku dengar... Perbatasan Kekaisaran Egard dengan Kerajaan Aspendia sedang dalam masalah. Makanya perwakilan kerajaan kita, Kekaisaran Egard, dan Black Hole akan rapat di sini."
"Terus... Siapa yang menggantikanku? Gak mungkin Calius, kan?" Rossa menggelengkan kepalanya.
'Bukan. Komandan Baraouske yang menjadi perwakilan kerajaan kita,' balas Rossa dan Bianca mengangguk paham.
Jacob memang pantas dalam urusan politik begini.
"Terus... Perwakilan Black Hole dan Kekaisaran Edgard siapa?" tanya Giselle yang penasaran dengan percakapan Bianca dan Rossa.
"Kalau perwakilan dari Kekaisaran Edgard itu adalah Duke Von Weithz, satu keluarga dengan kekaisaran langsung dan untuk perwakilan Black Hole... Aku tidak tau."
__ADS_1
"Kamu tidak tau siapa yang mewakili Black Hole?" Rossa menggelengkan kepalanya lagi.
"Tidak. Mereka tidak memberitahu kami siapa yang perwakilan Black Hole. Kita lihat siapa yang menjadi perwakilan kali ini."
"Tampaknya kalian sedang membahas yang seru," ucap seseorang membuat ketiga wanita menoleh.
'Errgghh... A-anda siapa, ya?" tanya Bianca bingung dengan sosok wanita cantik dan seksi berambut merah.
"Ohh... Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Isabella Billiard, panggil saja aku Bella."
"Black Hole?" tanya Giselle memastikan dan wanita bernama Bella mengangguk.
"Jangan bilang... Kamu mengirim surat dari ketuamu, kan?" tebak Bianca dan Bella tersenyum sambil mengangguk.
"Benar,' ia memberikan sebuah surat kepada sang ratu. 2 hari yang lalu pemuda bernama Richard yang datang, sekarang wanita seksi ini yang datang. Terus siapa lagi habis ini?
"Ini pesanan anda, nona-nona..." ucap Ivan sambil menyerahkan makanan kepada ketiga wanita tersebut. Tanpa sengaja Ivan menoleh ke arah Bella dan begitupun juga Bella. Mereka berdua saling pandang satu sama lain.
"Makasih atas makanannya, Ivan!!" seru Giselle berterima kasih kepada si koki beruang.
Ivan langsung menoleh ke belakang dan langsung sibuk dengan urusannya sendiri.
"Kenapa dia?" tanya Rossa menyadari kalau sikap Ivan langsung berubah.
Bianca menoleh ke si wanita berambut merah itu dan berkata, " tugasmu udah selesai, kan? Kenapa kamu ada di sini?"
Bela tersentak sejenak dan membalas, " Kalau begitu saya pamit dulu, yang mulia," sebelum pergi, wanita itu melirik Ivan yang sedang sibuk membersihkan alat masaknya dan setelah itu dia langsung cabut begitu saja.
Rossa menyadari bahwa ada sesuatu hubungan antara Ivan dan wanita iyu.
'Ivan. Bolehkah aku bertanya kepadamu?"
"Apakah kamu kenal wanita barusan itu?' Ivan berhenti sejenak, kemudian ia membalas, " Tidak, jendral."
Bianca dan Giselle langsung menoleh ke arah wanita itu. " Ada apa, Rossa? Ada sesuatu yang terjadi?"
Rossa langung menggelengkan kepalanya. " Tidak. Tidak apa-apa, yang mulia."
Sementara itu, Bella langsung kembali ke markas dan berjalan menuju ruang istairahat dan berpapasan dengan Gladys, rekan satu organisasi sekaligus adik dari Allan.
"Ohh... Kamu sudah kembali rupanya..." Gladys menyadari ekspresi aneh dari Bella.
'Ada apa, Bella? Wajahmu pucat sekali? Apa kamu tidak kuat kedinginan di sana?" Bella langsung menggelengkan kepalanya.
" Aku baik-baik saja," ucapnya dan berjalan meninggalkan Gladys, tetepai sebelum itu dia menoleh ke arah adik Allan itu dan berkata, " Aku sudah bertemu dengan dia."
"Hmm? Siapa?'
"Orang itu... si 'dia'."
Awalnya Gladys bingung dengan ucapan Bella dan berpikir sejenak, tetapi tidak lama ia langsung menyadarinya dan memanggil wanita itu.
Sayangnya... Dia sudah menghilang di depan matanya.
'Kamu ngapain di sini?" tanya Allan tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Oh.. kakak?! Dari tadi aku mencarimu," ia langsung mengkerutkan dahinya.
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" Gladys mengangguk mantap.
"Iya, kak. Tolong bantuin aku dong..."
"Iya, iya... Kamu mau minta tolong apa?"
******************************************************
"Terima kasih atas makanannya, ya..." ucap Giselle dan Bianca kompak, sedangkan Rossa mengelap mulutnya dengan kain dan langsung bangkit berdiri.
"Oh ya, yang mulia.... Ada yang saya bicarakan dengan anda," kemudian Rossa menoleh ke arah Giselle.
"Dan kamu juga, Giselle."
Setelah mereka bertiga pergi, tinggal lah Ivan sendirian yang sibuk dengan mencuci peralatan masak dan piring-piring bekas pakai dari ketiga wanita itu.
Ivan menghela nafas panjang. "Kenapa aku harus bertemu dia sih?"
Di tempat lain, ketiga wanita itu berkumpul di kamar Gerda. Pemilik kamar saja kebingungan kenapa kakak-kakak ini tiba-tiba datang ke kamarnya?
"Kamu bilang kalau wanita berambut merah itu ada hubungannya dengan Ivan?" tanya Bianca sedikit terkejut dengan pernyataan Rossa.
Rossa mengangguk benar dan Giselle berkata, " Jangan bilang... Dia adalah salah satu wanita yang sempat mengancam Ivan itu, kan?"
"Ada apa dengan Ivan? Ivan diancam sama seseorang?" tanya Gerda bingung dan panik dan tentu saja gadis itu panik karena Ivan adalah makhluk yang paling disukai selain Bianca di istana ini.
Mau tidak mau, Giselle menjelaskan kepada Gerda hingga gadis itu mulai paham. " Apakah itu benar, Jendral Harris?"
"Aku tidak yakin apakah dia lah orang itu, tetapi untuk berjaga-jaga kita harus menyelidiki wanita itu."
Tiba-tiba Gerda mengucapkan sesuatu kepada ketiga wanita itu dengan mengejutkan, " Kemarin malam... Aku bermimpi tentang Ivan."
"Benarkah? Apa yang kamu mimpikan?' Gerda berusaha mengingat kejadian-kejadian di dalam mimpinya.
"Aku melihat Ivan melamar seseorang..."
"Melamar seseorang?" tanya ketiga wanita tersebut. Gerda mengangguk serius.
"Siapa dia? Ciri-cirinya saja deh..."
"Wanita berambut merah seperti darah... Itu yang aku ingat."
"Wanita berambut merah seperti darah?" ucap mereka sambil berpikir keras.
"SI WANITA TADII!!" teriak mereka membuat Gerda terkejut bukan main.
"E-ehh... Maaf, Gerda. Kami tidak bermaksud..." ucap Rossa meminta maaf.
'Kalau dia bukan yang sempat ngancam Ivan, hubungan mereka apa?"
"Bisa saja mereka berdua tidak kenal."
"Tapi mereka berdua saling tatapan lama banget."
__ADS_1
'Bisa saja mereka saling terpukau."
Ketiga wanita sibuk berdiskusi kemungkinan-kemungkinan terjadi, sementara Gerda hanya menyimak saja.