
πΌππ§π€π£ πππ'π¨
Ucapan nenek tua itu membuat pikiranku terganggu.
"Kau harus menjaga sang ratu, anak muda," itulah yang dia katakan saat aku dan wanita putih hendak pergi.
Dari perkataan nenek itu, pasti ada yang tidak beres. Terutama dia bilang bahwa wanita putih itu sedang tidak baik-baik saja.
Aku harus menemuinya lagi.
"Mau kemana kamu?" wanita putih itu tiba-tiba menyahutku.
"Pergi ke suatu tempat. Ada yang penting yang harus aku tanganani."
Aku pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Anehnya, dia tidak mencegatku atau apapun walaupun aku keluar dari istana.
Memang dia pernah bilang kalau kamu bosan atau apa, pergi keluar saja mencari hiburan.
Klienku memang aneh dan mandiri sekali.
Kemana aku harus pergi? Tentu saja menemui nenek tua di hutan luas sana.
"Kamu lagi?" tampaknya nenek tua itu terkejut dengan kehadiranku tiba-tiba.
"Apa kamu masih penasaran dengan perkataanku, anak muda?"
Dengan memakai tudung untuk menutupi wajahku, aku mengangguk dalam diam.
Nenek tua itu mempersilahkan aku untuk masuk 'lagi'.
"Apa yang kamu tanyakan kepadaku?"
"Kenapa kamu menyuruhku untuk menjaga wa- yang mulia?"
Dia tersenyum misterius membunyikan sesuatu. " Aku tidak bisa menjawab terlalu dalam, tetapi aku pernah bermimpi."
"Mimpi apa itu?"
"Ratu salju... Mengalami masalah yang sangat besar. Ia selalu mengalami tidur panjang, sakit-sakitan, dan menunggu ajal telah tiba."
Aku yang mendengar pun sedikit terkejut dan tidak percaya.
"Ada lagi?"
Nenek tua itu menggeleng lemas. " Yang mulia sudah mengalami hal-hal sulit selama ia hidup."
"Untuk itu, tolong jaga yang mulia dengan baik, walaupun aku tidak begitu dekat dengan beliau."
Tidur panjang...
Wanita putih itu pernah mengalami tidur panjang sebanyak 2 kali.
Sakit-sakitan...
Dia tampak kelihatan baik-baik saja dan kuat.
"Kamu boleh tidak percaya denganku, anak muda, tetapi ingat. Jangan menyesal apa yang terjadi di masa depan."
Aku bangkit berdiri dan hendak pergi dari rumah nenek itu.
"Sebelum kamu pergi... Boleh saya menanyakan sesuatu kepadamu?"
"Apa itu?" balasku singkat.
"Apa kamu berasal dari dunia lain? Aku tidak merasakan hawa yang familiar di dunia ini."
__ADS_1
Aku terdiam sejenak. Aku berasal dari dunia lain?
"Saya permisi dulu," aku langsung pergi meninggalkan rumah itu segera.
Entah kenapa perasaanku tidak enak tiap memasuki rumah nenek tua itu.
Aku kembali ke istana dan hendak bertemu wanita putih itu. Tidak lama mencari dia, aku bisa menemukan dia yang sedang menikmati secangkir teh di kamarnya.
"Tugasmu sudah selesai, yang mulia?" tanyaku iseng bersandar di depan daun pintu kamar.
"Kenapa? Apa aku kelihatan ratu pengangguran?" balas wanita itu sambil menyerumput teh dengan elegan.
Aku mendengus kesal. Kenapa aku harus melayani klien yang aneh. Dari awal bertemu, aku sudah punya firasat aneh dan ternyata benar kalau klienku benar-benar aneh.
"Kau minum apa?" tanyaku menghampiri dia.
"Teh Bunga Cassonia. Katanya teh ini berkhasiat untuk menetralkan pikiran."
Aku mengangguk saja dan duduk di hadapannya.
"Apa enak?" Wanita putih itu melirikku dengan raut wajah kebingungan.
Kenapa?
"Enak kok. Cobalah sekali-sekali," aku terdiam mengamati dia dalam diam.
Aku selalu begitu saat wanita putih itu melakukan sesuatu. Mengerjakan tugasnya sebagai ratu, makan, membaca buku, mengajarkan 2 bocah membaca dan menulis, dan tidur.
Mengamati dia beraktivitas membuatku senang dan seru saja. Apalagi kalau dia tertidur...
"Yang mulia. Black Hole datang menemui yang mulia."
Wanita putih itu berhenti beraktivitasnya dan menoleh ke arah Calius.
"Aku akan ke sana," balasnya dengan dingin. Dia selalu begitu, dingin, tetapi kalau bersama 2 bocah itu, dia menjadi orang gila.
"Kenapa?" tanyaku penasaran. Emang kenapa kalau aku harus tetap berada di kamar ini.
"Ini perintah," balasnya dingin lagi.
Selalu saja begitu, kalau ada kelompok itu datang, wanita putih itu selalu menyuruhku tetap berada di kamarnya atau menyuruhku membunuh monster-monster di hutan utara yang sudah mendekat ke arah kerajaan.
Tampaknya dia sengaja agar aku tidak bertemu dengan mereka. Heii... Aku ingin bertemu dengan mantan klienku saja.
Setelah ia pergi, aku berinsiatif untuk menyusul dia dan menguping apa yang mereka bahas.
Aku tiba di ruang pertemuan. Ada sekitar 4 orang di sana. Aku mengetahui anak laki-laki berambut hitam.
Yang lainnya aku tidak mengetahui siapa mereka. Black Hole sudah berubah sekali.
Wanita putih itu berjalan memasuki ruangan dan duduk di tengah meja. Tampaknya mereka sedang mengadakan rapat.
Rencana menyerang Daerah Yota?
Aku tidak mendengar daerah itu sebenarnya. Memang aku tidak mengetahui apa-apa di tempat ini.
Apa aku sudah tertidur terlalu lama sehingga aku tidak tau apa yang terjadi sekarang.
Aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut. Tidak ada yang menarik bagiku karena aku tidak bekerja sama dengan mereka.
Aki bertemu dengan 2 bocah itu. Siapa namanya?
"Kalian sedang ngapain?" tanyaku sambil berkacak pinggang.
"Kami mau ke kamar, paman."
__ADS_1
Paman...
Entah kenapa panggilan itu terasa familiar di telingaku sejak awal mereka memanggilku 'paman'.
Apa perasaanku saja?
Aku hanya mengangguk saja dan bergegas menuju ke kamar ratu salju.
Aku mendengar suara bisikan dari mereka berdua, tetapi aku tidak memperdulikan hal itu.
"Paman," gadis kecil itu memanggilku.
"Boleh kita bertiga berbicara. Ada yang kami ingin bicarakan kepada yang mulia."
Aku memiringkan kepalaku menujukan kebingungan kepada mereka.
"Baiklah... Kita bicara dimana?"
"Di kamar kita."
Aku akhirnya mengikuti mereka berdua. Aku memperhatikan mereka berdua saat berjalan. Mereka kalau berjalan tampak lucu.
Pantesan saja wanita putih itu tergila-gila dengan mereka berdua.
"Kalian ingin bicara apa?" tanyaku memulai topik.
Mereka berdua menatap satu sama lain, kemudian Greda menjawab, " a-anu... Kami berdua berterima kasih waktu itu."
"Waktu itu?" ucapku bingung.
"Saat kita berada di desa tanpa penghuni."
Aku langsung mengingat kejadian itu. Ternyata mereka berdua sudah tau kalau itu aku.
"Terima kasih banyak, paman," ucap mereka kompak. Aku terdiam dengan tindakan mereka berdua.
Astagaaa....
Aku bisa merasakan kenapa ratu itu menjadi orang gila saat dia bersama mereka berdua.
Aku menghela nafas panjang. "Sekarang kalian mau ngapain?"
Mereka berdua mengangkat bahu tanda tidak tau. Tiba-tiba Calius datang membawakan cemilan untuk mereka berdua.
Lelaki itu terkejut dengan kehadiranku. Kenapa sih dia selalu kaget kalau ada aku di kamar ini?
"Silahkan tuan dan nona cemilannya," mereka berdua langsung berlari ke arah cemilan yang dibawa oleh Calius.
"Makan yang banyak, ya biar kalian tumbuh dengan sehat dan kuat," ucap Calius sambil menepuk kepala mereka berdua.
"Ini enak!! Apa yang mulia suka dengan makanan ini Calius?" Calius mengangguk benar.
"Apa pertemuannya sudah selesai, Calius?"
"Kenapa tuan menanyakan hal itu?"
"Kami bertiga ingin bertemu yang mulia," Aku menangkap raut wajah lelaki paruh baya itu.
Dia sedikit panik dan khawatir. Ada sesuatu yang tidak beres.
"Apakah yang mulia sakit?" tanyaku tiba-tiba.
Entah kenapa aku menjadi ingat dengan perkataan nenek penyihir itu. Calius langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"T-tidak... Yang mulia baik-baik saja," aku menghela nafas lega.
__ADS_1
Benar kata Calius, dia kan kuat. Kenapa aku harus percaya perkataan nenek penyihir itu?