
"Apa anda tau orang bernama Markus Stenberg?" tanya Jacob kepada pemilik bar tersebut.
"Markus Stenberg? Ah pria itu... Dia sedang ada di perternakan miliknya di sebelah toko perlengkapan senjata. Kalian belok kiri dari sino, kemudian kalian jalan terus saja nanti kalian bisa melihat perternakan dia di sebelah toko perlengkapan senjata," jelas pemilik bar tersebut.
Mereka bertiga memutuskan pergi menuju perternakan hewan yang sudah dikasih tau oleh pemilik bar tadi.
"Apakah ini tempatnya?" tanya Oscar sambil berkacak pinggang.
"Benar, kok. Tidak salah lagi," balas Jacob berjalan lebih dulu disusul Bianca dan Oscar.
Jacob mengetuk pintu terlebih dahulu, kemudian mereka bertiga menunggu pemilik rumah itu datang.
"Kalian mencari siapa?" lelaki yang sidah berusia 60-an itu terkejut melihat mereka bertiga yang ia kenal.
"Kalian... Kenapa kalian ada sini?"
"Bisakah kami berbicara dengan anda, Tuan Stenberg?" tanya Bianca dengan wajah seriusnya.
Markus mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Bagaimana kabarmu, Mark?" tanya Jacob sambil basa-basi.
"Tentu saja aku baik-baik saja, Jacob. Kau tampaknya tidak berubah sama sekali."
Lalu ia memandang sang ratu dengan dalam. "Lama tidak bertemu, yang mulia."
"Ya lama tidak bertemu. Aku senang kamu masih hidup sampai sekarang," Markus hanya tertawa dengan keras.
"Yang mulia masih tidak berubah, ya..."
HAH?! TIDAK BERUBAH?!!
"Baiklah... Sekarang kalian datang ke sini untuk apa?"
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain.
"I-itu..."
"Saya mohon... Bantulah saya, Jendral Stenberg!!" seru Bianca sambil memohon.
"Anda membutuhkan saya? Bukankah anda sudah tidak membutuhkan saya dan lainnya?"
Satu hal yang hampir Vina lupa bahwa dirinya tidak mengecek terlebih dahulu apa yang terjadi antara Bianca dan para 5 orang penting lainnya.
"Maafkan saya, yang mulia. Saya tidak bisa membantu anda. Saya sudah tua untuk ikut dalam peperangan kali ini. Meskipun saya adalah seorang taktiksi yang sangat handal pada masa itu."
"Jendral..."
Markus bangkit berdiri, "Kalian boleh pergi sekarang."
"Tunggu- UHUUKKK!!" tiba-tiba Bianca batik-batuk keras hingga mengeluarkan darah dari mulut.
__ADS_1
Sial... Kepalaku pusing sekali...
"Yang mulia!!" seru Jacob dan Oscar panik melihat sang ratu mengeluarkan darah.
Begitu pun juga Markus yang terkejut melihat kondisi sang ratu yang tiba-tiba seperti itu.
Akhirnya Bianca tidak sadarkan diri sehingga Oscar dan Jacob semakin panik.
"Bawa dia ke kamar sebelah sana! Aku akan panggilkan anakku," ucap Markus menyuruh Oscar yang sedang menggendong sang ratu membawanya ke kamar yang ditunjuk oleh Markus.
"Jacob, bisakah kamu membantuku mencari Giselle dan Reina?"
"Dimana dia?" tanya Jacob melihat Markus sedang mengambil senjatanya.
"Mereka berdua sedang mencari bahan-bahan makanan hewan ternak ke Ladang Selatan."
"Ayo!! Waktu kita tidak lama, Jacob!"
Jacob menyuruh Oscar untuk merawat sang ratu dan kedua pria paruh baya itu segera pergi ke ladang rumput utara.
"Giselle!! Reina!!" seru Markus berlari menghampiri kedua putrinya.
"Ayah!! Kenapa ayah ada di sini?" tanya Reina bingung dengan kedatangan sang ayah.
"Ayah membutuhkan kalian sekarang juga. Ayo kita pulang!!"
"Tapi, ayah... Bagaimana dengan bahan-bahannya? Persediaan kota sudah habis."
Markus dan Jacob melihat ke arah seekor monster yang sedang berada di daerah sebuah tanaman yang mereka cari.
"Kalian tunggu di sini."
"Hati-hati, ayah... Mereka memiliki pergerakan yang cepat. Lebih baik ayah lebih sering menghindar dari mereka."
Markus mengangguk dan kedua paruh baya itu segera menghabisi 2 monster tersebut. Tidak lama kemudian, monster-monster itu sudah dikalahkan oleh mereka berdua.
"Ayah!! Paman!! Kalian baik-baik saja, bukan?" tanya Giselle berlari menghampiri mereka berdua disusul oleh Reina.
"Kami baik-baik saja, nona muda. Tak kusangka bakat kamu mengalir ke arah anak-anakmu," puji Jacob kepada Markus.
"Namanya juga buah tidak jatuh dari pohonnya."
"Baiklah... Kita akan kembali ke rumah setelah ini."
Mereka berempat kembali ke rumah dan Giselle serta Reina membawa ramuan herbal tradisional kepada sang ratu.
"Apa yang terjadi dengan sang ratu?" tanya Markus kepada Jacob.
"Yang mulia... Yang mulia memiliki penyakit langka yang serius," jawab Jacob akhirnya.
"Kapan?"
__ADS_1
"Aku tidak tau. Bahkan Calius saja tidak tau kapan sang ratu sudah sakit-sakitan."
"Mark... Sebelum yang mulia memohon kepadamu, yang mulia juga memohon kepadaku. Aku tidak tau tujuan yang mulia sebenarnya apa, tetapi dari tekadnya, dia ingin menyelesaikan sesuatu sebelum ajalnya menjemput."
Markus menghela nafas panjang. "Jadi... Itulah dia bilang kepadaku bahwa dia merasa senang melihatku di usia yang sudah senja ini masih sehat dan hidup sampai sekarang," Jacob tidak menjawab apapun.
"Ayah..." panggil Reina tiba-tiba.
"Yang mulia ratu sudah siuman sekarang," mereka berdua saling pandang satu sama lain.
"Baiklah biar ayah yang berbicara dengan yang mulia sendiri. Bilang ke kakakmu untuk siapkan makan malamnya," Reina mengangguk mantap dan pergi memanggil kakaknya untuk siapkan makan malam.
"Aku akan masuk ke dalam dulu," Jacob mengangguk sekali dan Markus memasuki kamar anak perempuannya dimana Oscar sedang menjaga sang ratu yang sudah bangun dari pingsannya.
Oscar yang melihat keberadaan Markus langsung pergi meninggalkan Markus dan Bianca berdua di sana.
"Bagaimana, yang mulia? Apakah ada yang masih sakit?" tanya Markus duduk di dekat sang ratu.
"Aku baik-baik saja, Jendral Stenberg. Tidak perlu kau khawatirkan kepadaku."
Markus menghela nafas berat lagi. "Yang mulia... Walaupun usia anda sudah ratusan tahun lebih tua dariku, yang mulia sudah aku anggap seperti anakku sendiri."
"Jadi... Kalau yang mulia sedang kesusahan, panggil saja aku, oke?"
"Maksudnya?" tanya Bianca bingung.
"Aku akan ikut dengan anda, yang mulia."
...****************...
"Baiklah... Kalian sudah siap semuanya?" tanya Bianca kepada Jacob dan Oscar bergantian.
"Dari dulu udah siap," ucap Oscar dengan ketus membuat Bianca langsung dibuat kebingungan.
"Oscar... Kamu kenapa?" tanya Bianca curiga.
Oscar tersentak, kemudian ia menjawab, " Bukan apa-apa," balasnya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Baiklah kita akan segera naik sekarang, yang mulia-"
"Tunggu! Kita harus menunggu mereka."
"Mereka?" tanya Oscar dan Jacob kebingungan.
"Maaf sudah menunggu lama, tuan-tuan dan yang mulia," ucap Markus berjalan membawa barang-barangnya.
"Reina... Jaga rumah dengan baik, oke. Ayah sudah memanggil bibimu untuk menjagamu."
"Tunggu! Bukankah cuman anda saja yang pergi ke sana?" tanya Oscar bingung.
"Siapa bilang aku akan pergi sendirian, Giselle, anakku juga ikut ke sana. Benar kan yang mulia?"
__ADS_1
Bianca mengangguk sambil tersenyum. Ia tau kalau usia Markus tidak semuda dulu lagi. Dan ketika ia tidak sengaja melihat bakat Giselle yang turun dari ayahnya, yaitu seorang taktisi dan strategis dia sangat bagus, Bianca membutuhkan dia sebagai cadangan dirinya dan Markus kelak.
"Baiklah kita akan pulang sekarang."