Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 45 : Perjalanan Ke Kota Bugol


__ADS_3

Allan berjalan mendekati gedung istana Aspendia bagian selatan setelah ia menggunakan sihir teleportasi.


"Apakah kamu yakin?" tanya Allan kepada hewan peliharaannya.


Burung Pheonix itu meyakinkan kalau sang ratu ada di gedung tersebut dan akhirnya Allan segera masuk ke dalam gedung tersebut.


Ia melihat sebuah pintu yang kelihatan usang terbuka cukup lebar. Tanpa pikir panjang ia memasuki ruangan tersebut.


"Gelap sekali..." gumam Allan melihat sekeliling dan akhirnya ia menggunakan sihir cahaya untuk menerangi ruangan tersebut.


Ia melihat beberapa lukisan yang dipajang di sana, tetapi matanya tidak sengaja melihat seseorang yang tergeletak di depannya.


"Yang mulia!!" serunya sambil mendekati ke arah Bianca.


Dia mengecek apalah sang ratu masih hidup atau tidak dan syukurnya Bianca masih hidup.


"Uuurrgghh..."


"Yang mulia..." Allan melihat sekelilingnya. Mencari pertolongan.


Tiba-tiba tangannya dipegang oleh sang ratu secara tiba-tiba membuat Allan menoleh ke arah sang ratu.


"Terima kasih..." ucap Bianca secara tanpa sadar tersenyum manis.


Allan tertegun melihat ratu tersenyum secara tiba-tiba. Apakah dia ngingau?


Allan keluar sebentar dan mencari seseorang yang bisa minta tolong dan dia melihat Kay dan Gerda yang sedang bermain bersama.


Ia akhirnya melemparkan batu kecil ke arah mereka sehingga Kay maupun Gerda menyadari.


"Ada apa?" tanya Kay saat Gerda melihat gedung tersebut.


"Ada yang ngelempar ke kita," mereka berdua yang benar-benar penasaran nekat masuk ke dalam dan melihat pintu yang sudah terbuka.


Penasaran, mereka berdua masuk ke dalam dan melihat sang ratu yang tergelatak di sana.


Kay dan Gerda terkejut bukan main dan Gerda menyuruh Kay untuk memanggil Calius.


Allan tersenyum lega akhirnya ada orang yang menolong sang ratu.


Tetapi di sisi lain...


Jantungnya berdegup kencang dan pikirannya tentang Bianca selalu ada di kepalanya.


...****************...


Bianca masih menunggu Jenny, si malaikat itu datang dan memberi laporan kepadanya.


"Ya ampunn... Lama banget sih dia. Padahal cuman mencari info tentang James."


Ternyata dia masih penasaran dengan lelaki bernama James tersebut.


"Aku datang...." tiba-tiba Jenny muncul sambil membuka kedua tangannya dengan lebar.


"Lama banget sih nyari infonya," ucapnya sambil ngeluh.


"Namanya juga lagi nyari. Banyak banget buku-buku daftar orang yang meninggal."


"Terus... Gimana? Ketemu tidak?" melihat ekspresi Jenny yang kelihatan sedih menunjukan bahwa James Rattoulle belum meninggal.


"Serius? Bukannya sebenarnya sudah meninggal beberapa ratusan tahun yang lalu?"

__ADS_1


"Aku sudah mengecek beberapa kali, tapi pria bernama James Rattoulle tidak ada di daftar orang meninggal."


Benar-benar aneh...


Masa dia hidup abadi seperti Patrick dan Bianca?


"Ini aneh..." tiba-tiba Jenny bersuara.


"Dari riwayat perjalanan hidup Bianca. Saat dia berusia 20 tahun, bukankah sudah ada pria itu."


"Tunggu!! Kamu melihat riwayat Bianca?!"


"Tidak semuanya. Karena ini privasi umat manusia saja. Hanya Tuhan yang bisa melihat riwayat hidup manusia lebih mendalam daripada kami, para malaikat."


"Emangnya kamu boleh melihatnya?" tanya Bianca penasaran. Sebagai makhluk yang hidup di planet ini tentu ia penasaran apa yang dilakukan oleh para malaikat tersebut.


"Boleh kalau disuruh saja."


"Serius?!" ucap Bianca tidak percaya.


"Jadi... Bagaimana dengan James?" tanya Bianca kembali ke topik.


"Sementara waktu, kita pending dulu, Vina. Bukankah kamu memfokuskan tentang 'sisanya'," seketika Bianca tersadar sesuatu.


"Benar juga!!"


"Anda memanggil saya, yang mulia?" tanya Oscar ketika ia sudah masuk ke dalam ruang kerja sang ratu.


"Apakah kamu sibuk, Oscar?" tanya Bianca basa-basi terlebih dahulu.


"Tidak, yang mulia. Saya hanya melatih para prajurit saja," balas Oscar.


"Aku memberi tugas kepadamu," mendengar itu, Oscar menaikan sebelah alisnya, bingung.


"Tugasmu adalah sebagai bodyguardku besok. Besok pagi kita akan berangkat ke sana."


"Tolong kamu suruh anak buah atau orang kepercayaanmu untuk menggantikanmu besok."


"Apa cuman berdua, yang mulia?"


"Tidak. Ada satu lagi."


...****************...


"Sudah siap semuanya?" tanya Bianca kepada dua pria dengan perbandingan usia yabg cukup jauh.


"Kenapa kamu ada di sini sih?" tanya Oscar menunjuk ke arah Jacob.


"Ini tugasku untuk melindungi, yang mulia dan jangan berbicara yang tidak sopan kepada orang tua seperti saya, Oscar."


Oscar mendengus kesal.


"Helloo... Kalian sudah siap kah?" tanya Bianca sekali lagi.


"Saya sudah siap, yang mulia," jawab Jacob dengan sigap. Bianca memandang ke arah Oscar dan pria itu menjawab 'siap' kepada sang ratu.


"Baiklah kita akan pergi."


Mereka bertiga berangkat di pagi hari. Ini hari pertama setelah dua pemuda tampan, Patrick dan Aaron pergi menjelajah ke suatu tempat.


Bianca dan dua lelaki sudah berada di kereta sihir.

__ADS_1


"Kita akan kemana, yang mulia?" tanya Jacob membuka suara.


"Kita akan pergi ke Kota Bugol."


"Kota Bugol? Bukankah kota itu berada di kawasan Kerajaan Hilman?" Bianca mengangguk sambil membaca peta.


"Dari kerajaan kita ke sana cukup jauh juga. Membutuhkan waktu 5 hari menggunakan kereta kuda biasa. Yah... Setidaknya kita bisa berterima kasih dengan kereta kuda sihir kita."


"Anda pergi ke Kota Bugol untuk apa, yang mulia?" Bianca menurunkan peta tersebut dan memandang Jacob dengan lekat.


"Tentu saja mencari Great Commander yang lainnya."


"Mencari mereka? Bukankah anda sudah tidak membutuhkan mereka lagi," mendengar itu, Bianca langsung tertegun seketika.


Oscar yang hanya diam saja melihat reaksi terkejut sang ratu.


APAA??! JADI SI BIANCA TIDAK MEMBUTUHKAN MEREKA??!! KENAPA??!


"O-oh... I-itu... A-anu..."


"Pak tua... Bisa geser tidak sih? Sempit banget di sini."


"Apaan sih? Tidak sempit tau. Tuh lihat punyamu masih luas. Sempit darimana coba?"


"Jangan geser-geser terus kenapa sih? Makin sempit tau, pak tua!!"


"Jangan memanggilku pak tua, bocah!!"


Bianca hanya bisa diam dengan syoknya. Ini pertama kalinya mereka berdua bertengkar dihadapan dirinya.


Apakah mereka berdua selalu begitu?


Tetapi berkat Oscar, topik itu digantikan dengan protesnya Oscar tentang sempitnya tempat duduknya kepada Jacob berujung debat kusir diantara mereka berdua.


"Apakah ini Kota Bugol?" tanya Bianca saat ia menuruni dari kereta kuda.


Sebuah kota sederhana dengan padang rumput mengilingi perbatasan kota tersebut.


"Iya, yang mulia. Ini Kota Bugol," jawab Jacob cepat.


Bianca terkejut dengan sosok pria muda di sebelahnya.


Siapa dia?


"Ah... Maafkan saya, yang mulia. Ini saya Oscar."


Seketika Bianca tersadar sesuatu.


Benar juga, Oscar berasal dari Suku Ortaz yang dimana bisa berubah wujud menjadi manusia biasa ketika keluar dari wilayah Aspendia.


Badannya tinggi sekitar 180-an cm. Kulit putih cerah, wajah berbentuk kotak tegas, mata bewarna biru tua, dan rambut cepak bewarna merah darah. Tidak lupa dengan brewoknya yang lumayan lebat.


Sangat berbeda dengan saat di Aspendia dimana badannya langsung membesar 2 kali lipatnya. Kulitnya berlapis kaca es, dan tidak ada rambutnya.


Meskipun di suku Ortaz tidak ada rambut, suku lain bisa membedakan orang yang satu dengan lain dengan aura mereka.


Ya! Aura mereka berbeda-beda tiap individunya.


"Ah! Maaf aku tidak tau kalau kamu Oscar," balas Bianca yang masih syok dengan perubahan Oscar.


"Tidak apa-apa, yang mulia. Ini juga pertama kalinya aku keluar dari kawasan Aspendia."

__ADS_1


"Selanjutnya kita kemana, yang mulia?"


Bianca tampak berpikir keras. Kita akan pergi ke mana dulu, ya?


__ADS_2