
Bianca menatap Jenny yang menghampirinya. Wajah sang malaikat tiba-tiba tampak serius dan juga sedikit khawatir.
Apa yang terjadi dengannya? pikir Bianca dengan penuh ratusan pertanyaan tentang si malaikat tersebut. "Bagaimana dengan pembicaraan dengan Fra- Oscar?"
Jenny menatap ke arah Anna sebentar dan dia berkata. "Hanya percakapan basa-basi."ucap sang malaikat dengan datar.
"Ada yang ingin aku bicarakan selain tentang permintaan Frans Hourmant sebelumnya." alis Bianca langsung naik ke atas pertanda bahwa dirinya sedang kebingungan.
"Hah?! Bicara apa?"
"Ini berkaitan dengan misimu...."
"Misiku? memangnya misiku kenapa? Ada yang masalah?" Bianca semakin bingung dengan pernyataan dari sang malaikat tersebut. Jenny menghela nafas panjang dan beberapa saat dia terdiam dengan cukup panjang, Jenny mengatakan. "Atas permintaan dari tuan kita, kami terpaksa membawamu pulang ke tempat asalmu."
Bianca menatap sang malaikat dengan tatapan tidak percaya. Sang ratu tiba-tiba tertawa dengan ngakak. Perkataan si Jenny memang lucu bagi Bianca.
"Kamu jangan bercand-"
"Aku serius, Vina..." kata Jenny memasang wajah serius dan menunjukkan sebuah surat dari Tuhan. Bianca langsung mengambilnya dan membaca tulisan tersebut dengan sangat serius.
"T-ttunggu... Apa yang sebenarnya terjadi?!" seru Bianca yang masih tidak paham dengan isi surat tersebut.
Sekali lagi Jenny menghela nafas panjang. "Saat aku kembali ke surga, aku diberitahu bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja."
"Kami sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, tetapi demi keselamatanmu, kami terpaksa membawamu ke dunia asalmu."
Kedua mata Bianca langsung terbuka dengan lebar. Dunia ini sedang tidak baik-baik saja. "Kamu jangan aneh!! Bagaimana dengan misi ini!!"
Jenny memalingkan wajahnya dari sang ratu. Dia tidak bisa berkata-kata soal kelanjutan misi ini. "Karena akan membutuhkan waktu yang lama, misi ini dibatalkan."
Bianca berdiri dengan kaku. Menatap ke arah sosok malaikat dengan tatapan kosong. Kemudian kedua tangannya mengepal lebih keras.
INI PASTI KELAKUAN TASHANNIE!!
"Itu bukan perbuatan Tashnannie, Vina." sang ratu menoleh ke arah Jenny dengan tatapan kebingungan.
"Terus.... Kalau begitu siapa?"
"Intinya... Dia jauh lebih kuat dari Tashannie maupun ibunya Ratu Bianca."
"T-tunggu!! Jadi ini perbuatan orang ke-3?!"
"Bisa jadi..."
Bianca benar-benar frustasi hingga dia menggigit bawah bibirnya.
"Kapan aku akan pulang, Jenny?" dengan pasrah, Bianca bertanya soal kepulangan dirinya.
"Sekarang..." Jenny juga memberikan beberapa bukti kepada sang ratu bahwa ini dunia ini sedang kacau-kacaunya. Banyak monster yang tiba-tiba datang dan menghancurkan area penduduk, kabut tebal yang secara misterius menyerang ke beberapa kerajaan, dan masih banyak lagi hal-hal aneh yang terjadi.
"Ayo... Kita harus pergi sekarang."
"T-tapi... Bagaimana dengan lainnya?"
Bagaimana dengan si malapetaka?
Bagaimana dengan Kay dan Greda?
Bagaimana dengan Black Hole?
__ADS_1
Bagaimana dengan James?
Kali ini, Jenny tidak bisa berbuat apa-apa tentang pertanyaan itu. Sang malaikat membuka portal besar dan menggenggam tangan Bianca.
"Kita harus pergi sekarang, Vina." Bianca akhirnya mengikuti perintah si malaikat tersebut dan keduanya langsung masuk ke dalam portal tersebut.
Sebelum itu, Bianca berbalik badan melihat sekeliling isi ruang kerjanya. Dia akan merindukan tempat ini dan orang-orang di sini meski misinya belum selesai karena ada kendala yang secara tiba-tiba muncul.
Mereka berdua segera masuk dan portal tersebut perlahan menghilang seiring keduanya pun juga menghilang.
Pertanyaan-pertanyaan di pikiran Bianca terus menghantuinya. Tetapi, seiring mereka berdua masuk lebih dalam portal tersebut, pertanyaan itu semakin lama, semakin menghilang.
...----------------...
Vina membuka kedua matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah kamarnya sendiri. Ya, dia akhirnya bisa kembali ke dunia asalnya sekarang.
Tiba-tiba alarm dari ponselnya bergetar dan Vina segera mematikan bunyi alarm tersebut. Dia menatap atap plafon di dalam tempat tidurnya dengan tatapan kosong.
Dia sudah kembali, tetapi dia merasa bahwa Vina belum puas untuk menyelesaikan misinya tersebut.
Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Dan siapa orang ke-3 yang Jenny bilang?
Vina menggelengkan kepalanya dengan keras. Dirinya tidak boleh terlalu banyak pikiran soal dunia dalam dongeng itu. Sekarang, dia sudah kembali menjadi Vina, wanita karir yang sukses dan bahagia.
Vina segera bangkit dari tidurnya dan bergegas untuk mandi. Pagi ini, dia harus kembali ke rumah kakaknya untuk menjemput ponakannya, Kayla.
...****************...
"Tante..." panggil Kayla membuat Bianca menoleh ke arah ponakannya. "Ada apa? Kamu lapar?" Kayla menggelengkan kepalanya.
"Aku dengar dari percakapan sama papa, tante mau pergi ke luar negeri..."
Vina tersenyum kecil dan menepuk kepala Kayla dengan lembut. "Maaf ya, Kayla tante tidak memberitahu soal ini."
"Tapi aku tidak mau tante pergi!!" Kayla sudah bersiap-siap untuk menangis dan Vina hanya menghela nafas panjang.
"Mau bagaimana lagi, ini untuk masa depan tante juga..." Vina segera memeluknya ponakannya yang sudah menangis.
Bagaimanapun, Kayla pasti akan mengerti suatu saat nanti.
"Jadi Lo akan melanjutkan S2?" Vina mengangguk benar sambil menyeruput minuman manis.
"Ya... Dan juga aku dipromosikan jabatan gue dan pindah tempat kerja dari perusahaan." Vina menatap ke arah temannya, Jovi yang sedang sibuk menscroll ponselnya.
"Lo sedang apa?"
"Cari tiket..."
"Cari tiket? Mau kemana lo?" alis sebelah Vina langsung terangkat.
"Ke London, gue juga melanjutkan pendidikan gue di sana." Kedua mata Vina langsung terbuka lebih lebar.
"London?! G-gue juga sama..." Jovi langsung terkejut bukan main dan dia bertanya lagi. "Lo kuliah dimana?"
"Stanford. Lo?"
"Sama. Gue diterima di sana." keduanya saling terdiam satu sama lain, namun tiba-tiba mereka berdua tertawa dengan ngakak.
"Kok jadinya kebetulan begini sih?!"
__ADS_1
"Mana gue tau. Jangan-jangan jodoh..." Vina pun terdiam saat Jovi mengatakan jodoh. Dia barusan saja teringat dengan mimpi kemarin malam. Dimana Tuhan akan memberikan petunjuk siapa jodoh Vina nanti.
"Jodohmu adalah... Seorang pria yang memiliki tanda lahir berbentuk bulat sabit di telapak tangan kirinya..."
"Ah gak mungkin..." gumam Vina membuat Jovi bisa mendengarnya. "Kamu ngomong apa?"
"B-bukan... Bukan apa-apa." katanya dengan panik dan secara tidak sengaja dia melihat ke arah telapak tangan kiri milik Jovi. Tanda lahir berbentuk bulat sabit yang persis apa yang ditunjukkan oleh Tuhan.
Jovi sadar bahwa teman kuliahnya itu menatap tangan kirinya. "Kamu penasaran dengan ini?" Vina langsung terkejut dan mengangguk benar.
"Matamu jeli, ya... Banyak orang yang tidak sadar dengan tanda lahir ini."
"Ini asli?" tanya Vina dengan polosnya. "Tentu saja asli!!" seru Jovi sambil menunjukkan telapak tangannya kepada Vina.
Vina melihat dan merapat telapak tangan dari lelaki itu dengan serius. Ini benar-benar asli.
"Jovi..."
"Ya?"
"Kapan lo akan berangkat?"
"Paling 2 bulan lagi... Makanya aku melihat tiketnya terlebih dahulu. Memangnya kenapa sih?"
Vina menjelaskan bahwa kemarin dia bermimpi bahwa dia akan menemukan jodohnya dengan ciri-ciri yang sama dengan bentuk tanda lahir di telapak tangan Jovi.
"Ngomong-ngomong soal mimpi... Aku kemarin juga yang sama."
"Apaan tuh?"
"Sebentar lagi aku menemukan jodohnya..."
"Begitu doang?!"
"Iya!! Apalagi?!" keduanya terdiam satu sama lain hingga Jovi membuka suara. "Sebelum kita pergi ke sana, bagaimana kalau kita nikah."
Vina yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak hingga terbatuk-batuk. Jovi langsung membantu Vina yang sedang tersedak tersebut.
"Sialan lo!! Bikin kaget aja!!"
"Gimana? Mau tidak?" Vina terdiam sambil menatap Jovi dengan lekat.
Itu... Ide yang bagus!!
"Oke! Gue setuju."
"Astaga... lo langsung terima aja, gitu?"
"Ya terus gimana? Lo juga bernasib buruk soal percintaan, sementara gue dari orok masih jomblo!!"
"Benar sih... Oke!! Sabtu besok jangan kemana-mana!!"
"Memangnya kenapa?" tanya Vina menaikkan sebelah alisnya. "Tentu saja datang ke rumah orang tua lo, minta restu. Masa lo gak tau sih!!"
Vina terdiam sejenak hingga dia tersenyum dengan manis. Bagi Jovi, ini pertama kalinya dia melihat senyuman Vina yang semanis ini.
"Baiklah... Aku tunggu sabtu besok."
~END~
__ADS_1