Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 43 : Vina Dream's pt 3


__ADS_3

𝐕𝐢𝐧𝐚'𝐬 𝐏𝐎𝐕


Aku membuka kedua mataku secara perlahan.


Dimana lagi aku?


Ini bukan ruangan gelap yang tadi, bukan juga kamar Bianca yang biasanya, melainkan ini aula yang sangat besar.


Aku melihat kedua tanganku dan seluruh tubuh. Ini tubuhku!! Tubuh Vina, bukan sang ratu salju.


Aku melihat sekitarnya. Tampaknya ada perayaan yang sangat besar.


Tapi...


Kayaknya aku tau aula ini deh...


Tiba-tiba sebagian tanu yang hadir menoleh dan memberi hormat kepada satu orang yang sedang berjalan dengan pelan.


Aku berusaha maju ke depan. Siapa orang yang mencuri perhatian semua tamu itu?


Ternyata Ratu Demetria yang sedang berjalan menuju kursi singgahannya dan menyuruh para tamu untuk melanjutkan acaranya.


Kemana sang putri?


"Tuan putri... Selamat ulang tahun."


Aku melihat beberapa bangsawan mengucap selamat ulang tahun kepada seorang gadis muda cantik.


Apa itu Bianca? Dia benar-benar cantik dan muda dari sekarang.


Ngomong-ngomong...


Apa acara besar ini adalah acara ulang tahun Bianca?


"Bolehkah saya berdansa dengan anda, tuan putri?" tawar seorang pria bangsawan kepada Bianca.


"A-anu..." Bianca melirik ke arah sebelah kanannya dan aku mengikuti arah lirikan wanita itu.


Ia memandang Ratu Demetria yang sibuk berbincang dengan para bangsawan.


"Maaf... Aku sedang tidak ingin berdansa sekarang," Bianca berjalan melewati pria tersebut dengan sikap dinginnya.


Wow...


Dia benar-benar dingin dan jutek daripada yang aku bayangkan.


Tetapi...


Dia mau kemana, ya?


Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti Bianca kemana dia akan pergi.


Beberapa menit setelah aku mengikuti Bianca akhirnya perempuan itu berhenti di tengah taman istana di tengah suasana malam yang sedikit pencahayaan.


Mau ngapain dia? Melamun doang?


Kalau melamun sih... Juga tidak apa-apa. Lagipula aku melihat acara di dalam terlalu bosan dan menoton.


Masa cuman dansa sama makan doang?


Benar perkataanku, Bianca duduk sendirian di bangku taman sambil melamun sendirian.


Bagus, Bianca! Melamun juga bisa mengurangi stres, kok.


Aku memutuskan untuk duduk di sebelah kiri Bianca sambil memandang wajah cantik di sebelahku.


Benar-benar cantik dan sempurna. Pantes saja banyak pria yang ingin berdansa dengan dia.


Tetapi...


Tampaknya dia sedang sedih. Apa karena kelakuan ibunya?


"Kenapa kamu duduk sendirian, nona?" baik aku maupun Bianca saling menoleh ke seorang pria yang berdiri di dekat Bianca.


"Aku cuman melamun saja," balasnya dengan datar.


Astaga...

__ADS_1


Dia sedatar itu, ya... Aku baru tau sifat asli dari Bianca.


"Boleh duduk di sebelahmu?"


Bianca tidak menjawab apa-apa maupun ekspresi sama sekali. Lelaki itu langsung duduk di sebelah kanannya.


Siapa lelaki itu? Dia tampan juga kalau dilihat-lihat.


"Malam begini dingin sekali, ya?" Bianca hanya diam saja menatap ke arah depan dengan tatapan kosongnya.


Ya tentu saja, tuan... Ini kan bersalju dan dingin terus...


"Karena daerah sini selalu dingin," balas Bianca setelah ia diam saja.


"Ah rupanya begitu, ya..." balasnya sambil tertawa kikuk.


Dia ini tidak jago banget menghibur orang.


"Kenapa kamu tidak masuk dan bergabung dengan lainnya?"


"Ah... Karena ingin mencari angin saja."


Bianca tidak menjawab apapun, melainkan melanjutkan melamunnya lagi.


Ni orang kenapa suka melamun sih?


Dan juga laki-laki di sebelahnya juga dari tadi memperhatikan Bianca. Naksir?


"Kenapa kamu dari tadi melihatku terus? Ada yang aneh?" pria itu hanya tersenyum saja.


Gak jelas nih orang.


"Maafkan saya atas mengganggu anda, tuan putri. Bolehkah saya memperkenalkan diri saya sebagai perkenalan kita."


Bianca tetap diam saja dari tadi. Astaga... Dingin banget sih??


"Perkenalkan nama saya James Allaska Rattoulle."


"Saya Bianca Alba Aspendia."


"Kalau itu saya tau, tuan putri."


"Terserah kau saja."


Ihh... Ngambek lo?


"Bagaimana kalau kota jalan-jalan di taman ini sembari berbicara satu sama lain?"


Bianca masih diam saja, kemudian ia mengangguk saja.


Mereka berdua memutuskan jalan-jalan di taman istana di tengah malam hari yabg dingin. Sedangkan aku? Tentu saja mengikuti mereka berdua.


Ini pertama kalinya jiwaku keluar dari tubuh Bianca dan bagaimana sikap Bianca aslinya.


Ngomong-ngomong...


Mereka berdua sedang ngomong apa ya?


"Sepertinya anda bukan dari sini, tuan Rattoulle."


"Panggil saja James, tuan putri. Memang aku bukan dari sini."


"Terus... Kamu berasal darimana?" tanya Bianca.


James memandang Bianca sambil tersenyum.


Entah kenapa James ini mengingatkanku kepada seseorang. Siapa ya?


"Apakah anda tertarik asal-usul dariku, tuan putri?"


Bianca langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Salting, kah?


Mereka berdua kembali berjalan lagi dan aku juga mengikuti mereka berdua hingga tidak terasa kami sudah berada di depan air pancuran.


"Tempat ini sangat bagus."


"Terima kasih sudah memuji, Tu- James," tiba-tiba James mengulurkan tangan kanannya ke arah Bianca.

__ADS_1


Wooowooo!! Apakah si James itu mengajak dansa?!


"M-maaf. Aku tidak bisa."


Lah?! Kenapa??


"Kenapa? Apa karena kita berada di taman?"


"Bukan!!" seru Bianca mengelak.


"Aku... Aku paling benci berdansa," ucap Bianca akhirnya mengaku.


Apa jangan-jangan waktu ia berlatih dansa semasa kecil, ia tidak suka berdansa?


James terdiam sejenak, mungkin berpikir keras mau membalas apa kepadanya.


"Baiklah... Aku tidak memaksamu kok."


Aku yang mendengarnya langsung terpukau dengan balasan James. Dia benar-benar seorang gentleman.


Begitupun juga dengan Bianca, tampaknya dia juga terpukau dengan tindakan James.


"Maafkan saya..."


"Tidak perlu meminta maaf, tuan putri. Seharusnya aku yang meminta maaf kepada anda."


"Aku capek..."


"Apa?" ucapku dan James kompak.


Dia bilang apa? capek?


"Anda capek, tuan putri? Mau duduk sebentar?" tanya James memberi tawaran kepada Bianca.


Dia menggeleng lemah.


"Bukan itu... Aku capek menjadi seorang putri. Capek menjadi calon pemimpin kerajaan ini."


Ah... Ternyata itu alasannya.


Setelah ia mengeluarkan isi perasaannya, Bianca menghela nafasnya panjang.


"Sudah baikan?" tanya James hati-hati. Bianca mengangguk sudah.


James melihat gedung aula yang masih menyala benderang di sana. "Bagaimana kalau kita kembali ke sana. Masa tokoh utama dalam acara kali ini malah menghilang."


Bianca menoleh ke arah air pancuran dengan tatapan kosong.


"Tuan putri..." Bianca memandang ke arah James.


"Selamat ulang tahun, Bianca," ucap James memberi selamat ulang tahun kepada Bianca dengan senyuman tulus


Ooww... Astaga... Kenapa aku jadi baper begini sih?


Berasa aku menonton adegan uwu-uwuan di sebuah drama romantis saja.


Tiba-tiba Bianca mengulum senyuman kepada James membuat pria itu tertegun.


Wow... Bianca tersenyum? BIANCA TERSENYUMMM?!!!


"Terima kasih, James."


Tiba-tiba semua pandanganku langsung menghitam total. Apa yabg terjadi?


Kemudian aku membuka kedua mataku dan melihat Calius dan kedua anak kecil yang aku kenal, Kay dan Gerda memandangku dengan tatapan khawatir.


"Aku dimana?" ucapku berusaha bangun.


"Yang mulia... Apa yang mulia baik-baik saja?" Calius berusaha membantuku berdiri.


Aku melihat sekeliling. Ini masih berada di ruangan rahasia tadi.


"Darimana kalian tau kalau aku di sini?" tanyaku kepada mereka bertiga.


"Tuan Kay dan Nona Gerda menemukan anda di sini."


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

__ADS_1


Sebenarnya tadi itu mimpi apa bukan sih?


__ADS_2