Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 60 : Masa Lalu Aaron Decius


__ADS_3

Lelaki berambut putih kusam itu menghela nafas panjang sambil memandangi pemandangan Kota Aspendia.


Patrick dan oscar duduk di sekitar lelaki itu dan berusaha menghibur.


"Bagaimana dengan acara pemakamannya?"


"Lancar... Kalau kamu ikut, kamu bisa melihat dengan jelas rasa kesedihan mendalam dari para warga."


"Benarkah?" tanya Aaron memastikan.


"Heh... Kau pasti mendengar ada kabar kalau para warga tidak suka dengan yang mulia? Memang benar sih... Tetapi kamu tidak bisa menilai dengan satu pandangan saja."


Baik Patrick maupun Aaron langsung menoleh ke arah Oscar yang tentu saja dia tau lebih lama karena dia adalah penduduk di kerajaan ini.


"Tidak hanya aku dan para pekerja yang bekerja di istana. Penduduk di sini sebenarnya mendukung dia dan menyayangi dia. Walaupun sikap yang mulia dinilai tegas dan jahat, bagi mereka, tindakan tersebut menujukkan kalau yang mulia adalah pemimpin yang hebat. Dan semua orang mengakui hal itu."


"Itulah kenapa, beliau menjabat lebih dari 500 tahun. Lebih lama dari ibunya malahan karena mereka masih percaya dengan yang mulia "


Aaron dan Patrick hanya bisa diam setelah dijelaskan oleh Oscar.


"Yah... Tetapi apa boleh buat.... Kematian seseorang tidak bisa kita ubah. Apalagi seseorang seperti yang mulia."


"Kematian, ya..." gumam Patrick sedikit menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba Aaron tersenyum menyeringai sambil mendengus kesal.


"Kalau begitu... Kenapa aku... Aku tidak bisa kembali?"


Kini tertuju ke arah Aaron. "Klienku sudah meninggal, seharusnya dalam kontrak kalau klien mati, maka aku akan menghilang, tapi... Lihat sekarang! Aku sama sekali tidak menghilang!"


"Tuan Decius..."


"Mendengar ceritamu tentang dedikasi dari dia, bagaimana denganku? Apa yang aku lakukan? Aku cuman diam, disuruh hal-hal yang tidak semesti sebagai Malapetaka... Dan tiba-tiba dia meninggalkan kita semua tanpa menjelaskan ke kita atau aku dia mau apa, tetapi aku tidak kunjung menghilang."


Patrick berusaha menenangkan lelaki itu, tetapi Aaron menolak mentah-mentah.


"Aku ingin sendiri, kalian semua pergi," katanya mengusir Oscar dan Patrick.


Akhirnya mereka berdua terpaksa pergi meninggalkan dia sendirian untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


Setelah mereka berdua pergi, Aaron menghela nafas panjang lagi.


Ia benci...


Ia benci dengan kematian. Apalagi klien yang ia kontrak tiba-tiba meninggal tanpa klien itu meminta sesungguhnya.


Aaron tau kalau klien yang ia kontrak pasti memiliki permintaan yang ia inginkan, tetapi sampai mati pun ia bahkan tidak mengutarakan apa yang ia minta.


Ia mengingat salah satu kliennya yang juga sama dengan Bianca.


Seorang kakek yang bekerja di ladang anggur. Sendirian, belum menikah, dan semua anggota keluarganya pada meninggal.


Ia hanya menyuruh Aaron membunuh monster-monster yang sering mengganggu dan mencuri hasil ladangnya dan juga mendapatkan permintaan aneh, tetapi tidak sulit baginya. Sama persis dengan Bianca.


Tetapi, Aaron tau bahwa permintaan yang ia sering lakukan untuk kakek itu sebenarnya kecil dan pastinya ada keinginan terbesar di dalam hatinya.


Hingga...


Ajal kematiannya sudah dekat, Aaron bertanya kepada kliennya itu, " Sebenarnya... Apa keinginanmu?"

__ADS_1


Dengan kondisi tubuh kakek yang sudah makin lemah dan terbaring di atas kasur, kakek itu menjawab, " Bukannya... Kamu sudah tau apa keinginanku?"


"Permintaanmu hanya membunuh penggangu dan hal-hal aneh yang sebenarnya orang lain bisa."


Kakek itu hanya tertawa kecil. " Kamu ternyata tau kalau ada sesuatu yang saya inginkan dari dulu."


"Kalau begitu, bilang saja apa yang kamu mau sebelum kematianmu akan menjeputmu."


Kakek itu justru tersenyum lembut ke arah Aaron membuat lelaki itu kebingungan. " Kenapa kamu tersenyum aneh seperti itu? Apa keingananmu? Jangan membuat permintaan yang aneh-aneh seperti kemarin."


"Sebenarnya... Hanya satu permintaanku yang sebenarnya kamu sudah lakukakan, Tuan Decius. Permintaan ini... Pasti kamu bisa dan gampang."


Kakek itu tiba-tiba terbatuk, kemudian menjawab, " Kebahagiaan.... Itu permintaanku."


"Kebahagiaan?"


"Iya... Kebahagiaan yang sangat sederhana yang kamu sudah lakukan selama ini."


"Kebahagian apa yang kamu maksud? Emangnya aku pernah melakukan apa?" Tiba-tiba klien yang terbaring lemah di atas kasur tidak menjawab sama sekali.


Ia menutup kedua matanya dengan senyuman tulus yang ia tunjukan.


"Kakek!! Bangun kakek!! Kebahagiaan apa yang kamu mau?! Kakek!!"


Aaron berusaha membangunkan kakek tersebut hingga seluruh tubuh lelaki muda itu perlahan menghilang setelah kontrak mereka berakhir.


Kedua mata Aaron perlahan terbuka dan mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Sial... Kepalaku sakit sekali..." Ia melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa ia sedang berada di kamar sang ratu.


"Kenapa aku bisa ada di sini? Ah... Pasti aku kebanyakan minum."


Tanpa sengaja ia melihat wajah tampannya di cermin meja rias ratu salju. Kondisi sekarang makin kacau, bekas air mata habis nangis, bau alkohol, dan rambutnya yang acak-acak.


Dirinya benar-benar kacau sekarang. Ia akhirnya memutuskan kembali meningggalkan kamar Bianca.


Dengan jalan yang masih sempohyongan ia berjalan menyusuri lorong istana di malam hari.


Tiba-tiba ia melihat sosok wanita berbaju putih panjang memandang ke arah jendela istana.


Ia ngira kalau wanita itu adalah Giselle yang sedang memandangi Kota Aspendia sembari menunggu rasa kantuknya.


Ia melanjutkan perjalanan ke kamarnya sendiri beberapa hari yang lalu.


Wanita berbaju putih itu memandang kepergian Aaron dengan rasa penasaran.


"Apakah aku harus menghampiri dia?"


"Kamu yakin? Nanti dikira hantu sama kamu."


"Lah terus aku harus bagaimana? Yang lainnya sudah pada tidur semua."


"Kita tunggu sampai besok saja."


...****************...


Keesokan paginya, Calius si kepala pelayan sangat sibuk akhir-akhir ini. Mengingat sang ratu meninggal secara mengejutkan membuat dirinya pusing 7 keliling.


Bahkan karena tidak ada penerus di keluarga ini, Calius beserta Jacob dan Markus mencari pengganti Bianca untuk menduduki kursi pemimpin kerajaan ini.

__ADS_1


Untuk menjadi pemimpin, baik raja atau ratu sekalipun, harus ada ikatan batin dengan batu permata dan kristal Aspendia.


Kedua, harus memiliki kemampuan sihir salju atau es, dan ketiga harus ada keturunan yang cocok dengan keluarga kerajaan.


Baik itu orang biasa ataupun orang bangsawan sama sekali.


Calius menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka kalau sang ratu akan meninggalkan tempat ini dan semua orang yang mendukungnya selamanya.


Dia sudah menganggap Bianca sebagai anaknya sendiri dan menyayanginya layaknya anak perempuannya, tapi...


"Bagaimana dengan pengganti yang mulia?" tanya Calius memastikan kepada Markus.


"Kami sudah mencari kemanapun, tetapi tidak ada yang cocok dengan hubungan keluarga kerajaan."


Calius menghela nafas panjang.


Hafi ini akan menjadi hari yang akan berat.


Di tempat lain, Oscar sedang melatih Kay latihan fisik.


Karena Kay sering belajar tentang sihir terus, kekuatan tubuh bocah lelaki itu menjadi turun.


Masa saat Gerda tidak sengaja mendorong tubuh Kay hingga tubuh Kay jatuh ke bawah. Padahal Gerda tidak mendorongnya dengan kuat.


Untuk itu, akhirnya mereka berdua bertukar kelas. Gerda yang kemampuan sihirnya lemah akan diajarkan oleh Patrick, sedangkan Kay diajarkan oleh Oscar.


"Kamu boleh istirahat sejenak," ucap Oscar memberi Kay istirahat.


Kay mengangguk mantap dan beristirahat sejenak.


Oscar melirik ke arah 2 perempuan berbaju putih memandangi dia.


"Eh... Dia liat kita!"


Oscar meminta ijin kepada Kay untuk pergi sebentar dan menghampiri dua wanita misterius itu.


"Kamu kan... Temannya yang mulia, bukan?"


Jenny mengangguk dan Oscar melihat wanita di sebelah Jenny.


"Kamu bisa melihatku?" tanya wanita itu terkejut bahwa ada orang yang bisa melihatnya.


"Tentu saja bisa."


"Kapten... Kamu sedang berbicara dengan siapa?" tanya anak bawahannya sedang menghampiri dia.


"Wanita yang ada di sana," tunjuk Oscar ke arah wanita berambut sebahu.


"Gak ada siapa-siapa di sana. Halu paling kamu."


"Beneran kok. Tuh dia masih ada di sana."


Dia hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Udahlah kamu istirahat dulu. Pasto kamu capek beberapa hari ini."


Dan setelah rekan kerjanya pergi, Oscar menoleh ke arah Jenny dan wanita satu lagi dengan pandangan terkejut.


"S-siapa kamu sebenarnya?"


"Aku adalah Ratu Bianca yang barusan meninggal itu."

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2