Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 6 : Salah Panggilan


__ADS_3

Krisis bahan bakar sudah teratasi, kini ia harus mencari solusi lain pada masalah lain di kerajaan ini.


Walaupun cara mengatasinya bagi semua rakyat terlalu kejam dan jahat, Bianca tidak peduli begituan.


Ini semua juga demi rakyat.


Contohnya, tentang pajak. Masalah pajak, pasti ada aja masalahnya.


Untuk itu, Bianca membuat peraturan baru bahwa harus membayar pajak tepat waktu, jika tidak, bagi warga yang tidak membayar akan didenda 3 kali lipatnya.


Padahal bayar pajaknya sudah sesuai dengan gaji rata-rata di kerajaan ini.


Masalah dengan Kay dan Greda...


Akhirnya Bianca sendirilah yang turun tangan mengajarkan membaca dan menulis kepada Greda dan Bianca.


Dan syukurnya, mereka berdua bisa mengikuti dengan baik dan kemampuan mereka sudah mulai meningkat.


"Yang mulia!!" seru Greda berlari menghampiri ratu salju itu.


Gadis kecil berumur 7 tahun itu menyerahkan sebuah kertas berisi hasil karya Greda dan Kay kepada ratu.


Di gambar itu ada seorang gadis kecil yang diyakini adalah Greda, anak laki-laki berambut cokelat adalah Kay, dan wanita muda berada di tengah yang sedang memegang Kay dan Greda adalah sang ratu salju.


Bianca tersenyum kecil dan mengelus kepala Greda dengan lembut. " Kerja yang bagus, Greda."


Greda langsung tersipu malu mendengar pujian dari sang ratu.


"T-terima kasih..." dan Greda langsung pergi meninggalkan Bianca dengan wajah kebingungan.


Bianca sedang membersihkan mejanya agar meja kerjanya tidak berantakan dilihat.


Tidak sengaja, ia melihat sebuah kertas bewarna kuning kusam yang ia temukan di rumah Greda.


Apakah ini mantra pemanggil monster?


Tiba-tiba ia mendapatkan ide gila.


Bukan namanya Vina kalau mengeluarkan ide gila yang bikin orang-orang bingung.


Sang ratu mengecek keadaan diluar area kamarnya. Tidak ada orang siapapun. Biasanya Calius ataupun 2 anak itu tiba-tiba mengetuk pintu secara mengejutkan.


Dan waktu ini mereka bertiga masih sibuk dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri.


Bianca mengunci pintu kamarnya dan membaca petunjuk bagaimana cara memanggil monster di sana.


Mau mencoba apakah mantra dari dimensi lain masih bisa di dimensi ini.


Sesuai petunjuk, untuk memanggil 'monster' ia harus mengambil darahnya dan menggambar sesuai dengan kertas petunjuk itu.


Bianca mengiris salah satu jarinya dan darah pun mengalir keluar.


Sang ratu menggambar sesuai petunjuk dan tidak butuh waktu lama, Bianca telah selesai menggambar mantra tersebut.


wanita berambut putih salju itu membaca petunjuk. Ia berjalan memasuki lingkaran mantra dan membaca mantra dengan lantang.


Sebuah sinar hitam keluar dari lingkaran mantra. Bianca segera keluar dari lingkaran itu dan melihat penampakan 'monster' tersebut.


Sebuah asap hitam menutupi hampir satu ruangan. Bianca masih berdiri diam dan melihat bentuk monster tersebut.


Kumpulan asap menjadi satu dan membentuk sosok menyerupai seorang manusia. Tidak butuh waktu lama hingga menampilkan sosok pria berambut putih keabuan panjang dengan dua tanduk di kepalanya.


Bianca yang melihatnya dibuat kaget.


INI SIAPA??!! BUKANNYA DI PETUNJUK NYEBUTNYA MONSTER?!


Mereka berdua saling pandang satu sama lain dalam diam.


"Haaahh..."


"Kau bukan dari kelompok itu, kan?" tanya lelaki itu mendekatkan dirinya ke arah Bianca.


"Hah?" tanya sang ratu bingung.


"Dari auramu sepertinya bukan mereka."


"Helloo... Kamu ngomong apaansih?"


Lelaki itu melirik ke arah Bianca.

__ADS_1


"Siapa kamu?" Bianca sedikit terkejut, tetapi wanita itu masih diam saja.


"Kamu memanggilku?"


"T-tidak... Aku tidak memanggilmu. Aku memanggil monster."


"Monster?" Lelaki itu tidak sengaja melihat sebuah kertas di tangan Bianca dan langsung merebutnya.


"Ini kan..."


"Kamu mendapat ini darimana?"


"Dari rumah orang," jawab Bianca ngasal. Ia tidak mau memberitahukan kalau kertas itu dari rumah Greda.


Lelaki bertanduk itu melihat sekelilingnya dan memeluk dirinya karena kedinginan.


"Ini dimana?"


"Di Kerajaan Aspendia."


"Aspendia?!" balas lelaki itu terkejut.


"Aku tidak mendengar nama itu..."


"Sebenarnya kamu siapa, sih?" tanya Bianca penasaran dan santainya.


"Kau tidak mengenalku?"


TENTU SAJA GUE GAK KENAL LO!!


"Sepertinya kamu tidak mengenalku. Baiklah... Saya adalah Malapetaka, Lord Decius..."


Mendengar itu, Bianca terkejut bukan main.


Dia bilang apa?


"Kamu sudah memanggilku dan aku akan mengabulkan keinginanmu."


Wanita itu berdiri dengan membeku. Ia masih tidak percaya kalau pria di depannya adalah si malapetaka yang hilang setelah perang 200 tahun itu.


"Kamu masih dengar, kan?" tanya Lord Decius memastikan.


"AAARRGGGHHH!!" teriak wanita itu hampir terdengar satu istana.


"Kau bilang kalau aku memanggilmu, berarti kontrak kita akan berjalan begitu?" lelaki itu mengangguk mantap dan menyelimuti dirinya dengan selimut milik Bianca.


Bianca menepuk jidatnya dengan keras. Dia pikir, ia bisa memanggil monster untuk dijadikan hewan peliharaan, malah muncul seorang pria.


"Terus... Kontrak kita berakhir sampai kapan?"


"Sampai mati," jawabnya dengan santai.


Mampuss...


"Kalau anda mati, kontrak kita juga akan berakhir."


"Masalahnya... Aku hidup abadi," gumam Bianca membuat Decius kaget bukan main.


"Apa kau bilang?"


"Mastermu yang sekarang adalah bukan manusia biasa."


Decius tertawa tidak niat.


"Aku tidak peduli, kalau kamu bukan manusia atau-"


"Aku adalah seorang ratu salju," perkataan Decius terpotong karena balasan Bianca.


Lelaki itu menoleh dengan menujukkan ekspresi kaget.


"HAH?!"


"K-kau... Kau ratu salju?" Bianca memasang wajah datar dan diam saja menujukkan kalau dirinya benar-benar ratu salju.


"Okelah... Itu urusan nanti. Yang terpenting, kamu buatlah permintaan kepadaku."


"Permintaan?"


"Iya. Kamu mau minta apa? Membunuh orang, membakar rumah, penipuan, terutama kalau masalah penghancuran, aku paling jagonya."

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkannya."


"Apa?"


"Dengar, ya... Di kertas petunjuk itu disebutinnya 'monster' bukan 'malapetaka'. Lihat saja sendiri."


Decius membaca kertas petunjuk sekali lagi.


"Kalau misalnya yang muncul 'monster', apa yang kamu lakuin?"


"Jadi hewan peliharaan."


Tidak semua monster mau menjadi hewan peliharaan batin Decius kesal.


"Tapi sekarang yang muncul justru aku, bukan? Setidaknya kamu buat permintaan dariku-"


Sebuah ketukan terdengar dari arah pintu kamar Bianca.


WADUUHH!! GIMANA NIH??!


"Yang mulia..." ucap Calius menghela nafas panjang.


"Saya tidak mengerti dengan pikiran anda. Kemarin anda membawa 2 anak kecil, sekarang membawa seorang pria asing..."


Bianca melirik ke arah Decius yang dengan santainya duduk di sebelahnya. Wanita itu menyadari kalau dua tanduk di kepalanya tidak ada.


Apa dia menggunakan sihir ya?


"Maafkan saya, Calius. Saya tidak sengaja memberitau hal ini kepadamu. Karena ini urusan mendadak."


"Apa yang mulia ingin menikah?"


"ASTAGAA!! AKU TIDAK MERENCANAKAN HAL SEPERTI ITU!!" teriaknya sambil kaget.


Ini kenapa pak tua berpikiran seperti itu sih?


"Pokoknya siapkan baju hangat untuknya."


"Terus... Kamar untu tuan ini?" Calius melirik ke arah Decius.


"Kalau itu biar aku yang ngurus. Kamu tau, kan kamar-kamar kosong di sini dipakai buat alat-alat persenjataan kita."


"B-baik, yang mulia."


Setelah kepergian Calius, Bianca menoleh ke arah Decius.


"Kamarnya bagaimana?"


"Kau bilang kalau kamu bisa apa saja, kan?"


"Iya."


"Kalau begitu, berubah jadi binatang. Terserah mau jadi serigala, kek.. Mau jadi burung, kek..."


"Hah??!! Tapi..."


"Ini perintah..." balas Bianca menatap tajam.


...****************...


"Apa? kalian ingin punya hewan pelihara?" Greda dan Kay mengangguk kompak.


Kenapa mereka pingin yang aneh-aneh sih?


"Bukannya yang mulia juga ingin mempunyai keluarga?"


"Kapan aku bilang begitu?" Kay memberikan sebuah buku kepada sang ratu.


Sebuah buku diari. Bianca membaca dengan seksama. Setelah membaca setengahnya, perempuan itu akhirnya mengetahui kenapa dua bocah itu berbicara seperti itu.


Vina bisa merasakan betapa kesepiannya sang ratu yang hidup ratusan tahun.


Itulah kenapa sang ratu menculik Kay di dongeng aslinya.


Ngomong-ngomong soal hewan peliharaan...


"Aku tidak mau," balas Decius menolak keras.


"Kau bilang bisa mengabulkan keinginanku..."

__ADS_1


"TAPI KALAU KAMU MINTANYA JADI HEWAN PELIHARAAN BAGI ANAK-ANAK AKU TIDAK MAU!!"


Bianca menutup kedua telinganya. Astaga... Suaranya mengalahkan suara toa masjid.


__ADS_2