Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 52: Pertanda Kematian Oscar


__ADS_3

"Siapa perempuan itu, yang mulia?" tanya Aaron sambil menunjuk ke arah Giselle.


Giselle yang baru masuk ke ruang kerja sang ratu dibuat kebingungan dengan dua lelaki yang ia tidak diketahui.


"Dia adalah asisten baruku. Giselle, kenalkan dua orang di sebelah saya. Yang rambut hitam adalah Patrick, bendahara di istana ini. Kamu akan terus bersama dengan dia saat mengurusi catatan tentang istana. Dan di sebelah kiri saya, dia adalah Aaron, dia adalah bodyguard saya."


"H-halo... S-saya Giselle Stenberg, asisten yabg mulia sekaligus anak pertama dari Jendral Markus Stenberg."


"Oh... Kamu adalah anak Jendral Stenberg yang itu? Aku belum ketemu dia sama sekali, tapi dia adalah pemimpin pasukan yang hebat," puji Patrick.


"Terima kasih, Tuan Patrick atas pujiannya. Dan yang mulia..."


"Iya?"


"Ivan ingin berbicara dengan anda saat makan siang nanti."


"Ah... Baiklah..." ujar Bianca sambil melihat jam dinding yang menujukkan waktu makan siang.


"Kalian boleh pergi dan makan siang."


Di ruang makan yang sering dipakai oleh para pasukan untuk makan siang dan makan malam, orang-orang yang bukan dari pasukan istana boleh bergabung dengan mereka.


Walaupun di istana ada pasukan kerajaan, jumlahnya tidak terlalu banyak sesuai standar pasukan kerajaan.


"Nama saya Giselle, saya adalah asisten baru di sini. Mohon kerja sama dengan baik."


Ini pertama kalinya Giselle makan siang bersama para pasukan kerajaan. Selama 2 bulan, ia makan siang dan malam bersama sang ratu atau makan di dapur menemani Ivan yang sedang membersihkan sisa kotoran peralatan dapur habis memasak.


Ia tidak menyangka bahwa Suku Ortaz yang sering diceritakan oleh ayahnya sangat nyata dan baginya sangat menakutkan.


"Jangan terlalu malu atau takut kepada kami. Walaupun penampilan kami menyeramkan, kami tidak menggigit kamu kok."


Giselle hanya tertawa kecil saja. Benar-benar canggung sekali. Kemudian tibalah kedua pemimpin pasukan yang sangat legenda dan terkenal masuk ke dalam ruang makan tersebut.


"Bagaimana masakannya? Apa enak?" tanya Markus kepada putrinya setelah ia duduk di sebelah Giselle.


"Enak. Aku baru tau kalau Ivan bisa masak panggang kecap ini."


"Sebenarnya aku yang memasak bebek ini?" ucap Markus mengakuinya.


"Benarkah? Paman yang memasak ini?" tanya Kay tidak percaya.


Markus hanya tertawa geli. "Jangan ragukan kemampuan masakanku, anak muda. Aku bisa memasak yang jauh enak daripada Ivan."


"Oii Jacob? Bagaimana masakanku? Enak bukan?" tanya Markus kepada rekannya.


"Yah... Aku sangat terkesan dengan kemampuan barumu, Markus."


"Jendral? Apakah Jendral memasak bebek panggang kecap ini?" tanya salah satu pasukan bertanya.


"Tentu saja... Bagaimana enak, tidak?"


"Tentu saja enak, Jendral. Tidak kusangka Jendral bisa memasak makanan seenak ini."


Mereka semua langsung tertawa bahagia. Beberapa menit kemudian, Oscar datang dan ikut bersama mereka. .


Awalnya dia ingin duduk di pojokan sebelah Gerda, tetapi yang tersisa hanya kursi di sebelah Jacob.


Mau tidak mau, lelaki itu duduk di sebelahnya.


"Apa kau sudah mengunjungi istrimu, Jacob?" tanya Markus mengganti topik.


"Iya. 2 bulan yang lalu."

__ADS_1


"Terus... Bagaimana dengan anakmu? Dia okut juga?" Jacob menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak tertarik dengan itu," Markus menghela dengan keras.


"Yah... Aku tidak ingin mencampuri urusan lebih dalam tentang keluargamu, Jacob. Tapi, ini sudah 4 tahun hubunganmu dengan anakmu masih renggang."


Markus melirik ke arah putrinya, begitupun juga dengan Jacob. "Aku iri denganmu, Markus."


"Hmm?"


"Di usia setua ini, kamu dirawat dan disayang oleh kedua putrimu dan sebaliknya kamu menyayangi mereka."


Markus mengambil gelas di dekatnya dan meminumnya.


Tiba-tiba Oscar bangkit berdiri membuat temannya bertanya kepada dia.


"Kamu kenapa? Sakit? Makananmu belum kamu habisin lho..."


"Aku tidak enak badan," ia segera pergi meninggalkan ruang makan tersebut.


"Kenapa dia?" tanya Giselle bingung dengan tingkah lelaki itu.


"Emang selalu begitu, kak," ucap Kay tiba-tiba.


"Maksudnya?"


"Tiba-tiba Paman Oscar langsung pergi dari ruangan ini padahal makanan belum habis," dan langsung saja Gerda menyenggol lengan Kay dengan keras.


"Kamu tau kenapa bisa begitu?" tanya Giselle kepada Kay dan Gerda.


Mereka berdua hanya menggelengkan kepala tanda tidak tau.


"Paman. Aku dengar kalau paman punya anak, ya?" tanya Gerda kepada Jacob.


"Kok aku tidak melihat anak paman? Sibuk kah?" tanya Gerda dengan polos.


Jacob terdiam beberapa detik, kemudian ia menjawab, " Iya. Dia memang sibuk sekali."


"Bolehkah kita bertemu dengan anak paman?" Jacob tertawa kecil dan mengiyakan permintaan Kay dan Gerda.


Di sisi lain, Markus melihat sekelilingnya. "Ayah... Ayah mencari siapa?" tanya Giselle menyadari tingkah aneh ayahnya.


"Dimana Oscar?"


"Tadi dia udah keluar, ayah. Ada apa?"


"Tidak apa-apa," balas Markus dan melanjutkan makannya.


...****************...


"Kamu masih penasaran dengan Oscar yang bisa melihatku, Vina?' tanya Jenny bingung.


"Iya. Masa kamu tidak heran dan bingung dengan dia?"


Jenny hanya mengangkat kedua bahunya dengan santainya. "Sebenarnya sudah biasa sih."


"Sudah biasa?"


"Iya. Biasanya orang-orang yang melihat malaikat sepertiku ini, sebentar lagi akan menjemput ajalnya."


Mendengar itu, Bianca langsung terkejut bukan main. "Hah? Kau bilang apa tadi?!"


"Pokoknya kalau dia melihatku kemungkinan dia akan mati. Entah kapan itu."

__ADS_1


Langsung saja Bianca menepuk pundak Jenny keras. "Berarti... Oscar akan mati, begitu?"


Jenny tidak menjawab sama sekali. Dilihat ekspresi Jenny yang super santai itu menandakan kalau Oscar akan mati.


"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!!"


"Aku tau kenapa kamu tidak ingin Oscar mati, bukan?"


"Apa ada sesuatu supaya dia terhindar dari kematiannya?"


Jenny tampak berpikir keras. "Itu akan sulit, Vina. Bagaimana pun kamu berusaha menghindar takdir kematian, takdir tidak bisa diubah."


Bianca langsung menundukkan kepalanya. "Berarti... Dia tidak bisa ditolong dong..."


"Maaf ya... Aku baru memberi tau kepada kamu."


Sang ratu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, Jenny. Sepertinya kita harus memberitahukan ini kepada Oscar."


"Apa tidak apa-apa?" tanya Jenny.


Bianca mengangguk mantap. "Dia juga harus tau bahwa kematian dia sebentar lagi akan tiba."


"Ah... Ternyata kamu ada di sini," ucap Bianca melihat Oscar sedang rebahan di atas tanah lapangan latihan.


"Yang mulia..." ucap Oscar sambil bangkit dati rebahannya.


Dia juga melihat si malaikat di sebelah sang ratu.


"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu, Oscar."


Bianca melirik ke arah Jenny dan akhirnya Jenny menjelaskan kepada Oscar.


Setelah dijelaskan, Oscar tidak menjawab sama sekali dan dari ekspresinya, dia tetap tenang dan tidak panik sama sekali.


"Oscar..."


"Ternyata begitu, ya..." jawab Oscar akhirnya.


"Kamu... Kamu tidak merasa ketakutan sama sekali."


"Anda menyadarinya ya, yang mulia," ucap Oscar.


"Sebenarnya saat kalian menjelaskan bahwa kematianku akan sebentar lagi, aku jujur saja kaget, tapi akhirnya aku pasrah saja dengan takdirku."


Dia melihat ke arah atas. Melihat awan yang perlahan bergerak.


"Kenapa? Kenapa kamu pasrah begitu?"


Dia menghela nafas panjang. "Aku benci dengan hidupku."


Kemudian ia melihat ke arah Bianca dan Jenny dalam.


"Kau pasti punya impian yang kamu kejar, bukan?"


"Impian, ya... Tidak. Aku bahkan tidak punya impian sama sekali."


"Aku masuk ke militer ini hanya bertahan hidup saja. Bahkan saat aku menjadi pasukan ksatria di kerajaan ini, aku masih bisa bersyukur, walaupun para temanku ada yang ngeluh karena pekerjaan ini."


"Terima kasih sudah memberi tahukan ini kepadaku, yang mulia."


"Saya pamit dulu," Oscar berjalan meninggalkan mereka berdua sendirian di lapangan yang sunyi ini.


"Kita harus gimana, Vina?" tanya Jenny melirik ke arah perempuan di sebelahnya.

__ADS_1


Bianca hanya menghela nafas panjang. "Keputusan hanya ada dia saja. Aku tidak bisa mendorong dia terlalu jauh."


__ADS_2