Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 40 : Bayi Naga Putih Telah Lahir


__ADS_3

"Dimana Gerda?" ucap Bianca serius.


Penculik itu justru tertawa keras kepada sang ratu.


"Ngapain seorang ratu salju mencari bocah bodoh begitu, hah? Dia bukan anakmu!"


Mulai deh...


"Aku tanya dimana dia?" tanya Bianca sekali lagi.


"Kalau kau ingin mencari bocah itu, kau harus lawan aku dulu."


Bianca bersiap-siap untuk menghabisi penculik songong itu, tetapi secara tiba-tiba penculik itu langsung terjatuh ke bawah dan mengeluarkan darah segar di sekujur tubuhnya.


Bianca langsung dibuat terkejut. Siapa yang melakukannya?


"Tampaknya aku datang tepat waktu," ucap Aaron dengan santainya berjalan.


"Dimana Gerda?" tanya lelaki itu kemudian.


"Kau sudah membunuhnya."


"Apa?"


"Ayo kita cari," ucap Bianca melanjutkan perjalanan mencari gadis kecil itu.


Mereka berdua menulusuri seluruh isi gedung yang tidak berpenghuni ini hingga saat Aaron mendobrak pintu terakhir, mereka berdua mendapatkan Gerda yang sedang duduk diikat dengan tali.


Bianca langsung melepaskan ikatan tersebut dan langsung memeluk gadis kecil itu.


"kau baik-baik saja, kan? Ada yang terluka?" Gerda menggeleng lemah dan dilihat ekspresinya, ia benar-benar sangat ketakutan dan ingin menangis.


"Tenang... Ada aku di sini. Jangan takut."


Mereka berdua bangkit dan bergegas keluar dari gedung tersebut.


"Tunggu!" Gerda dan Bianca saling menoleh ke arah lelaki itu.


"Ada apa?"


"Jangan lewat depan. Lewat sini," mau tidak mau mereka berdua menuruti perkataan si malapetaka.


"Kau baik-baik saja?" tanya Bianca melihat wajah Gerda yang pucat.


"Aku takut..." Aaron berjalan mendekati Gerda dan langsung menggendong gadis kecil itu.


Mereka bertiga bergegas keluar dari gedung tersebut lewat pintu belakang.


Setelah ia keluar, Bianca bisa melihat banyak orang yang menunggu mereka bertiga.


"Banyak sekali..." gumam Bianca takjub.


...****************...


Bianca menatap tajam ke arah Kay. Gerda masih istirahat karena insiden kemarin, sehingga cuman Kay lah yang ia introgasi.


"Kamu bisa menjelaskan semuanya kenapa bisa Gerda diculik?"


Kay hanya bisa menelan ludah sendiri. "Kay?"


"2 hari yang lalu... Kami bertemu orang asing yang tiba-tiba masuk ke istana."


"Tiba-tiba dia nanya kemana sang ratu? Kamu hanya bisa menjawab tidak tau kemana yang mulia pergi, kemudian ia membawa beberapa pasukannya untuk menyerang istana, kemudian Gerda melawan mereka semua."


Mendengarnya, Bianca dibuat kaget. "Gerda yang melakukannya?" Kay mengangguk mantap.

__ADS_1


"Dan setelah itu, orang itu langsung membawa Gerda dan menculiknya langsung."


APAAN INI?! KENAPA BISA JADI GINI?!!


Bianca hanya bisa menghela nafas saja. "Baiklah terima kasih Kay sudah menceritakan ini kepadaku."


"Sekarang kamu kembali belajar bersama Patrick."


Kay memberi hormat kepada sang ratu dan bergegas kembali meninggalkan Bianca di ruang kerja sang ratu.


"Wow... Gadis itu sangat berani sekali," tiba-tiba Jenny datang entah dari mana.


"Apa kamu tau siapa penculik itu?" ucap Bianca mengganti topik.


"Namanya Robert, dia adalah salah satu orang yang kerja di istana Kerajaan Altuvia."


"Sudah kuduga..." gumam Bianca ternyata benar.


"Apakah ini semua gara-gara raja dari Altuvia?" tebak Jenny.


"Tidak. Bukan dia yang secara terang-terangan melakukan hal seperti itu."


"Lalu?"


"Ada orang lain yang melakukannya,"jelas Bianca serius.


"Siapa itu?" tanya dia, tetapi bukan Jenny yang bertanya justru Aaron yang secara tiba-tiba datang dihadapan sang ratu.


"Sejak kapan kamu ada di sini?"


"Sejak kamu bilang 'ada orang lain yang melakukannya'," balas Aaron dengan jujur.


Bianca mendengus sebal.


Bianca menuruti perkataan Aaron dan langsung makan dengan lahap. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyanya menyadari kalau lelaki itu dari tadi melihat sang ratu.


"Aku heran, kamu sakit tetapi kamu lahap banget makannya."


"Aku baik-baik saja, kok."


"Jangan bilang baik-baik saja! Aku udah bosen dengar kamu bilang 'aku baik-baik saja' berulang kali."


"Emang aku masih kuat kok," balas Bianca membela.


Ngomong-ngomong...


Selama lelaki itu bersamanya, ia tidak tau tentang Aaron Decius seluruhnya, selain dia menjadi Malapetaka.


"Aaron."


"Apa?"


"Tugas malapetaka itu... Seperti apa?" Aaron terdiam sejenak, kemudian ia menjawab, "Kamu kan tau tugasku apa?"


"Bunuh, bakar, dan lain-lain..."


"Ya seperti itulah..."


Mereka berdua terdiam sejenak. "Aku mau nanya sesuatu."


"Apa?" tanya Bianca setelah ia selesai minum obat.


"Sejak kapan kamu tau tentang penyakitmu?"


Dia bertanya seperti itu?

__ADS_1


"Baru-baru ini... Sebelum aku meditasi."


Aaron memandangi Bianca dengan lekat. "Kalau misalnya... Kamu meninggal, bagaimana dengan tugasmu sebagai ratu?"


"Akan aku serahkan pada orang yang tepat untuk menggantikan jabatanku."


Aaron tidak membalas lagi. "Aku ingin jalan-jalan!" serunya sambil mengangkat kedua tangannya.


Tiba-tiba Bianca teringat sesuatu.


"AKU HAMPIR LUPA!!" ia bangkit berdiri dari duduknya dan bergegas pergi menuju ke suatu tempat.


"Hei!! Jangan lari!!"


Bianca membuka pintu dan menemukan sebuah telur naga putih yang masih belum pecah sama sekali.


"Telurnya belum pecah?" Aaron menyusul sang ratu yang sudah ngos-ngosan menjawab, "Selama kamu menghilang, telurnya belum pecah."


"Aneh..." gumamnya bingung sambil memeriksa telur naga itu dengan teliti.


Dari menggoyangkan telur, melihat sela-sela kulit telur, hingga memeluk telur itu dengan erat.


Aaron hanya bisa speechless dengan tindakan sang ratu tersebut.


Tiba-tiba sebuah suara keretakan terdengar membuat Bianca dan Aaron sama-sama terkejut dan melihat proses bayi naga yang akan keluar.


"Dia keluar!!" serunya kegirangan.


"Ayo anakku... Kamu pasti bisa!!" ucap Bianca memberi semangat kepada bayi naga yang berusaha keluar dari cangkang telur itu.


Tidak butuh waktu lama, bayi naga putih itu akhirnya keluar membuat Bianca tersenyum kegirangan.


"Selamat ke dunia, anakku!!" ucap Bianca langsung memeluk bayi naga putih itu dengan gemas.


Sekali lagi, Aaron hanya bisa speechless melihat kelakuan sang ratu tersebut.


"Benar-benar deh..."


"Aaron. Enaknya diberi nama apa ya naga ini?" tanya Bianca kepada si malapetaka.


"Kenapa harus aku? Kamu, kan ibunya yang sudah merawat naga itu."


"Tapi... Pas aku menghilang, kata Calius kamu yang gantiin aku merawat bayi naga ini."


"Hah?"


"Y-ya... Terserah kamu saja!! Kamu, kan yang minta!!"


"Pa.. Pa..." tiba-tiba bayi naga itu memanggil Aaron dengan sebutan 'papa' membuat lelaki itu dibuat shock.


"Papa?"


"Ya ampunn!! Dia memanggilmu papa dong!!" seru Bianca kegirangan.


"Ma... Ma..."


"Astaga! Dia juga memanggilku mama?! Ya ampun kamu gemesin banget sih!!" Bianca langsung memeluk bayi naga putih itu dengan gemas.


"Mama... Papa..." tiba-tiba semburat merah nampak di wajah pemuda tampan itu.


"Aaron? Kenapa wajahmu memerah? Kamu sakit?" tanya Bianca menyadari wajah memerah dari Aaron.


"Bukan apa-apa!" ucapnya mengelak kemudian ia segera meninggalkan Bianca sendirian.


"Kenapa tuh papa kamu?" tanya Bianca kepada bayi naga tersebut.

__ADS_1


__ADS_2