
Bianca memandang seluruh anggota Black Hole dengan pandangan takjub.
Ini pertama kalinya ia melihat anggota lainnya selain Richard, Chris, dan Allan.
Sementara itu, Allan dan James sedang berbincang-bincang yang tidak jauh dari mereka.
Mungkin mereka membahas tentang kebangkitan Bianca yang secara mendadak.
"Apa maksudmu tiba-tiba membangkitan ratu salju, hah?"
"Tenang dulu, Allan. Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
James melirik ke arah Bianca dan sang ratu mengangguk sebagai penanda ke arah laki-laki tersebut.
"Yang mulia... Memintaku untuk membangkitkan nyawanya karena tugasnya belum selesai."
"Tugasnya belum selesai?"
"Benar... Allan. Tugasku ada yang belum selesai."
"Seseorang mengincar batu permata maupun batu kristal Aspendia dan tentu saja menculik seorang anak kecil. Aku meyakini kalau salah satu diantara Kay dan Gerda."
"Tetapi, waktuku tidak lama. Aku harus bertahan selama 100 hari di sini dan untuk itu..."
Bianca menoleh ke arah seluruh anggota Black Hole.
"Tolong kerja sama sekali lagi..." ucap sang ratu sambil menunduk ke dalam.
Mereka semua langsung terdiam melihat aksi sang ratu yang memohon kepada mereka.
"Yang mulia..."
"Tentu saja kami akan membantu anda, yang mulia. Yang mulia sudah sering membantu kami, ya kan?" Vero membalas ke teman-temannya.
Mereka mengangguk mantap.
"Tenang saja, yang mulia. Kita akan membantu sebisa mungkin. Karena anda juga membantu kota selama bertahun-tahun..."
"Kalian semua..." balas Bianca terharu. Tidak menyangka kalau Black Hole sebaik ini, tetapi...
"James... Aku ingin bertanya sesuatu," James tersentak dan semua anggota langsung bubar begitu saja. Mereka tau kalau kedua orang itu sedang berbicara hal penting.
Allan melirik ke arah mereka berdua. Penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Mau bicara tentang apa?" tanya James sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kamu tau tentang Alex Pirtanzia, bukan?" mendengar nama itu, James bertanya balik, " Memangnya kenapa?"
"Dia bilang kalau dirinya adalah anggota Black Hole."
"Oh... Aku tau maksud anda. Kalau tidak salah anda pernah melawan dia, bukan?"
"Darimana kamu tau?" James justru mengangkat kedua bahunya dengan santai.
"Aku dengar dari Tuhan. Kamu tau, kan hubunganku dengan beliau?"
Tentu saja Vina tau hubungan mereka.
"Alex Pirtanzia, orang yang anda lawan bukanlah dari anggota kami."
"Apa?!" mendengar jawaban dari James, Bianca terkejut bukan main.
"Dia tampaknya pura-pura mengaku kalau dirinya adalah keturunan dari salah satu anggota Black Hole yang selamat dari pembantaian itu."
"Jadi... Pembantaian massal itu... Beneran?" James justru tertawa dengan pertanyaan Bianca yang dianggap lucu.
"Kau lucu juga, ya... Tidak, yang mulia. Kami semua langsung pergi setelah perang itu telah usai."
__ADS_1
"Kemana?" Dia menunjuk ke sini yang menandakan kalau mereka pindah ke dunia dongen 'Ratu Salju'.
"Jadi... Selama ini... Kalian sudah di sini berapa lama?"
"Berapa lama, ya... Aku tidak tau. Ratusan tahun mungkin...."
"T-tunggu... J-jadi semua anggotanya berumur lebih dari ratusan tahun dong?"
"Sepertinya..." jawab James tersenyum tanpa dosa.
Bianca mengacak rambutnya dengan kasar.
Fakta macam apa ini?
"Terus... Anda akan kembali ke istana gitu?"
Bianca mengangguk mantap. "Aku akan berbicara dengan Aaron dulu."
"Ohh... Sekarang anda memanggil dia dengan nama depan, ya?"
"Memang kenapa? Ada yang salah?" James menggelengakan kepalanya.
"Aku akan mengantarkan ke istana, yang mulia."
...****************...
"Oh... Rupanya kamu di sini," ucap Oscar melihat Giselle sedang membersihkan meja kerja sang ratu.
"Ada apa, Kapten?" tanya Giselle menoleh ke arah laki-laki tersebut.
"Ayah- maksudku Komandan Baraouske memanggilmu. Katanya ada yang penting," Giselle mengangguk paham.
"Tunggu sebentar... Aku harus membersihkan meja yang mulia."
"Mau aku bantu?" tawar Oscar kepada gadis muda itu.
"Ah... Kalian sudah datang rupanya," Giselle tampak kebingungan melihat semua orang yang bekerja bahkan tinggal di istana hadir di ruang pertemuan.
"Baiklah... Karena semuanya sudah berkumpul, saya akan langsung ke intinya."
Jacob menoleh ke sosok bayangan menyuruh dia untuk maju menghadap semua orang.
Mereka semua terkejut melihat sosok ratu salju yang mereka rindukan ada di hadapan mereka.
"I-ini... Tidak mungkin..."
"Halo semuanya... Lama tidak bertemu...."
Bianca menceritakan kenapa dia bisa ada di sini dan tujuan dia sebenarnya.
"Aku diberi kesempatan 100 hari sampai tugasku selesai."
"Tolong semuanya bantu aku untuk tugas terakhirku ini...." ucap Bianca memohon kepada semua orang di ruang pertemuan ini.
Mereka terdiam memikirkan pikiran mereka sendiri.
"Tentu. Kami akan membantu anda yang mulia. Saya senang anda bisa kembali ke sini."
Mereka mengangguk setuju dengan perkataan Markus.
"Terima kasih semuanya."
Bianca menoleh ke arah Aaron yang dari tadi diam tak bersuara.
"Tolong juga... Jangan beritahu tentang kembalinya aku kepada orang lain. Biar mereka tau kalau ratunya sudah meninggal."
"Baik, yang mulia."
__ADS_1
"Tuan Decius... Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Temui aku ke kamarku," Aaron tidak banyak bicara dan menuruti perkataan Bianca.
Tiba di kamar sang ratu, Bianca menghela nafas lega. "Ah... Jadi kangen tempat ini."
"Aku juga..." Bianca menoleh ke arah lelaki itu.
"Ada apa? Kamu tampaknya kelelahan sekali?" Aaron secara mengejutkan memeluk perempuan itu dengan erat.
"Aaron..."
"Aku benar-benar merindukanmu, sangat merindukanmu..."
Bianca terdiam kaku mendengar pernyataan Aaron. Gadis itu tau apa yang dirasakan oleh Aaron.
"Kau pasti mengalami kesulitan karena aku tidak ada, bukan?"
Dia mengangguk kecil. " Aku tidak mau kehilanganmu lagi..."
"Aaron... Aku tau kamu pasti sedih saat aku tidak ada, tapi kamu harus tau kalau aku di sini cuman sebentar."
"Aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk meneruskan tugasku yabg belum aku selesaikan. Selama 100 hari."
Bianca tersenyum lembut sambil mengelus pipi Aaron dengan lembut. "Itulah kenapa kamu tidak menghilang meskipun aku sudah meninggal."
"Karena tugasmu belum selesai?"
"Tepat sekali. Untuk itu, aku meminta satu permohonan kepadamu," mendengar kliennya meminta permohonan, Aaron melepaskan pelukannya.
"Apa itu?"
"Tolong... Carikan siapa yang mencoba membunuhku."
...****************...
"Yang mulia?" Allan terkejut melihat sosok Bianca tiba-tiba datang di markas Black Hole.
"Kelihatannya kalian sibuk?"
"I-iya... Kami sedang-AWW!!" Gladys meringis kesakitan ketikan lengannya dicubit oleh kakaknya.
"Tidak ada kesibukan kok, yang mulia," jawab Allan sambil tersenyum lembut.
"Hey!!" seru Gladys memprotes.
"Kalian tampaknya sangat akrab."
"Oh! Yang mulia tidak tau? Kami berdua kakak-adik kandung," jawab Gladys ceria, sementara Allan hanya diam saja.
"Kenapa kamu tertawa sendiri?" tanya James tiba-tiba datang, kehadiran ketua itu membuat Allan memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Tidak apa-apa, mengingatkanku pada sesuatu."
"Ada keperluan apa yang mulia ke sini?" tanya Gladys mengganti topik.
"Oh... Aku ingin bertemu dengan Veronica. Veronica, bukan? Apakah dia ada di sini?"
"Vero? Dia sedang ada di ruang istirahat. Mari saya antarkan."
Setelah Gladys mengantarkan ke ruang istirahat, Vero baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.
"Vero!! Kamu dipanggil sama Ratu Bianca."
Vero berjalan mendekati mereka berdua. " Ada apa, yang mulia?" senyuman Bianca mengembang di wajahnya membuat Vero dibuat kebingungan.
"Apakah kamu tidak sibuk, Veronica?"
__ADS_1