Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 21 : Kunjungan ke Kerajaan Altuva


__ADS_3

"Yang mulia... Kita sudah sampai," ucap kusir memberitahu Bianca. Kay dan Greda langsung turun dari kereta kuda, disusul Aaron turun dan Bianca.


Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Bianca untuk membantu sang ratu turun dari kereta kuda.


Bianca akhirnya turun dari kereta dan memandang sekitarnya dengan takjub. Berbeda dengan Kerajaan Apendia, Kerajaan Altuvia lebih indah dan penuh warna.


Beberapa pelayan dan penjaga istana menyambut mereka dengan baik. Kepala pelayan membawa mereka ke altar raja.


"Selamat datang, Ratu Bianca," ucap sang raja memberi selamat datang.


"Siapa anak-anak imut ini?" tanya Raja Xeroz, raja Altuva itu.


"Mereka adalah anak-anak asuh saya, yang mulia."


Raja Xeroz tertawa kencang. " Ohhhh.... Sekarang kamu merawat anak-anak ini, ya? Itu bagus, ratu."


"Anak-anak... Bagaimana kalau kalian bermain dengan putri saya di istana barat. Daripada mendengar percakapan orang dewasa."


Bianca menyetujui usulan raja itu dan menyuruh Greda dan Kay bermain ke sana. " Kamu juga. Ikut mereka."


Aaron hanya memutar bola matanya saja. Sebagai pengawal sementara, dia mengikuti arahan sang ratu.


"Dimana istana baratnya, ya..." ucap Greda sambil melihat-lihat sekeliling.


Istana ini 2x lebih besar dari istana Aspendia. " Tinggal lurus aja nanti juga ketemu istana bagian barat."


"Darimana paman tau?" tanya Kay menoleh ke arah Aaron.


"Aku sempat bertanya ke salah satu pelayan."


Mereka berjalan yang ditunjukan oleh Aaron dan benar, mereka sudah sampai di istana bagian barat.


Mereka bertemu dengan seorang wanita cantik berambut pirang keemasan dan gaun yang sangat indah sedang berjalan ke arah mereka.


Kay dan Greda terpukau dengan kecantikan gadis itu. " Kalian siapa?" tanya wanita itu.


"Perkenalkan kami, yang mulia. Kami adalah perwakilan dari Kerajaan Aspendia. Kami disuruh oleh baginda raja untuk bertemu dengan yang mulia," jelas Greda memperkenalkan diri kepada gadis cantik itu.


Aaron maupun Kay sempat terpukau dengan ucapan Greda barusan. Darimana dia belajar kata-kata itu?


"Ah... Kalian anak asuh Ratu Bianca, bukan? Saya dengar dari orang-orang mengenai tujuan kalian ke sini."


Mereka bertiga hanya bisa memasang wajah tersenyum kepada sang putri. Gadis itu berdeham sejenak, kemudian ia berkata, " Maafkan ketidak sopanan saya tiba-tiba tidak memperkenalkan secara langsung."


"Perkenalkan nama saya Putri Tashannie Olga Altuvia, saya adalah putri pertama dalam keluarga kerajaan ini."


"Nama saya Greda, di sebelah saya adalah Kay, dan..." Greda menoleh ke arah lelaki berambut abu-abu karena dirinya tidak tau siapa namanya.


"Nama saya Aaron, yang mulia," lanjut Aaron memperbaiki kata Greda yang sempat terputus.


Tashannie tersenyum paham. " Bagaimana kalau kita bermain di taman istana?"

__ADS_1


...****************...


Aaron menghela nafas panjang sambil mengamati Tashannie dan kedua anak kecil itu.


Sudah hampir 2 jam ia berdiri, mengawasi, dan mengamati tiga orang tersebut yang sedang bermain. Tidak hanya dirinya yang mengawasi mereka, Aaron melirik ke arah seorang pemuda yang berada di sampingnya juga melakukan hal yang sama dengannya, mengawasi dan menjaga tuannya.


Pemuda di sebelahnya mungkin seusia Bianca kalau dari umur wajah sang ratu yang awet muda.


Lelaki itu kembali melanjutkan tugasnya. Ngapain juga ia memperhatikan bocah di sampingnya.


"Apa kalian saudaraan?" tanya Tashannie kepada Kay dan Greda.


2 anak kecil itu saling pandang satu sama lain, kemudian Kay menjawab dengan polosnya. " Tidak, yang mulia. Kami teman dekat sebelum diasuh oleh baginda ratu."


"Terus... Orang tua kalian kemana?" tanya sang putri. Kay dan Greda saling tunduk ke bawah membuat wanita berambut pirang keemasan merasa bersalah karena menanyakan hal sensitif kepada mereka.


"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud..."


"Tidak apa-apa, tuan putri," balas Greda dengan tersenyum manis.


Tashannie membalas dengan senyuman juga. Pertama kalinya ia bertemu seorang anak kecil yang belum genap 10 tahun, bersikap dan berbicara selayaknya orang dewasa.


Bagaimana bisa anak itu bersikap seperti itu?


Dan...


Sang putri melirik ke arah Kay yang menanggapi dengan santai. Seolah-olah dia sudah terbiasa dengan perkataan seperti itu.


"Silahkan dimakan kue-kuenya. Pasti kalian suka, bukan?" tawar Tashannie kepada mereka dengan lembut.


"Ngomong-ngomong..."


"Aku penasaran dengan pengawal kalian. Apakah dia pengawal baru sang ratu? Kudengar para pasukan di Kerajaan Aspendia hanya dari Suku Lirta saja yang bekerja di sana."


Kay dan Greda berhenti dari aktivitasnya dan memandang sang putri yang tersenyum dengan polosnya.


"K-kami... Kami tidak tau, tuan putri," balas Greda tiba-tiba.


Kay langsung mengembalikan kue yang ia pegang dengan diam-diam. Entah kenapa pertanyaan Tashannie ini sangat aneh bagi mereka.


"Ahhh... Begitu, ya. Aku hanya penasaran saja, seorang manusia biasa mau bekerja dengan ratu salju."


Ia langsung menoleh ke arah Aaron yang sedang berdiri di sana. " Dan juga, dia tampan," gumamnya tersenyum.


Di sisi lain, Aaron merasakan kalau ia ditatap oleh sang putri. Menatap ke arah dirinya dengan tatapan genit.


Sekujur tubuhnya langsung merinding kuat.


"Sejak kapan kalian berteman?"


"Sejak lahir karena kami bertetanggan," balas Greda lagi.

__ADS_1


Greda langsung menyenggol siku lengang Kay mengisyaratkan sesuatu kepada Kay.


"Maafkan kami yang mulia, saya ingin pergi ke toilet sebentar."


"Oh silahkan. Toiletnya ada sebelah sana," tunjuknya ke arah barat taman.


Kay turun dari kursinya dan berjalan menghampiri Aaron meminta lelaki dewasa itu menemani Kay ke toilet.


Kini tinggal Tashannie, Greda, dan pengawal sang ratu di sana.


Greda sedang menikmati teh hangat, sementara Tashannie masih memandang gadis kecil itu.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu dengan kamu, Greda?"


"Silahkan, tuan putri," balasnya dengan senyuman ramah.


Tashannie terdiam sejenak, kemudian ia menjawab, " Menurutmu, ratu salju itu jahat, tidak?"


Greda berkedip berkali-kali.


Tashannie justru tertawa dengan anggun. " Maafkan saya, gadis manis. Aku hanya penasaran saja."


Dari perkataan sang putri, Greda sudah tidak enak dengan dia.


Dia ini tidak suka Ratu Bianca atau apa?


Uugghh...


Tiba-tiba Greda sudah mulai mual melihat wanita di depannya.


"Kamu tidak makan kuenya, Greda?"


𝙺𝙴𝙽𝙰𝙿𝙰 π™Ίπ™°π™Όπš„ πšƒπ™Έπ™³π™°π™Ί 𝙼𝙰𝙺𝙰𝙽 π™Ίπš„π™΄ πšπ™°π™²πš„π™½ 𝙸𝙽𝙸??!


Greda membuka kedua matanya dengan lebar.


Suara apa itu tadi?


"Ada apa, Greda?"


Greda menggelengkan kepalanya dengan cepat.


...****************...


Bianca melirik ke arah Greda yang dari tadi murung selama dalam perjalanan ke istana.


Bianca melirik ke arah Kay menanyakan apa yang terjadi. Kay hanya bisa mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau.


Sang ratu beralih ke arah Aaron dengan harapan dapat mendapat jawaban. Sayangnya, lelaki itu tidak memberi jawaban yang pasti kepadanya.


"Bagaimana dengan Putri Tashannie?" tanya Bianca akhirnya buka suara.

__ADS_1


Kay dan Greda saling menatap ke arah sang ratu dan Kay menjawab, " Dia cantik, yang mulia."


"Baguslah..." Ia kembali ke arah Greda. Tampaknya ada sesuatu yang aneh pada gadis kecil itu.


__ADS_2