
Bianca menghembuskan nafasnya dengan bete dan bosan.
Selama dalam pengawasan Black Hole dan mencari keberadaan 2 pemimpin pasukan yang sampai sekarang belum ditemukan.
"Kenapa kamu tidak jalan-jalan ke luar saja, Vina," ujar Jenny memberi usulan kepada perempuan itu.
"Pinginnya sih iya, tapi Dokter Atkinson melarangku keluar istana terlalu lama."
"Kenapa tidak pakai portal-"
"Percuma... Dokter itu malah meminta para penjaga atau Oscar yang menjagaku, tapi kamu tau kan kalau hari ini mereka masih libur?"
Jenny terdiam sejenak. "Benar sih..."
"Ah... benar-benar sial..." gumam Bianca merasa bosan dan kesal.
"Ngomong-ngomong..." ucap Jenny tiba-tiba.
"Bukankah ini sudah 2 bulan setelah dua pria itu pergi."
Seketika, Bianca teringat sesuatu.
"Benar juga... Apakah mereka sudah pulang?"
Tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar membuat Bianca menyuruh masuk. Paling anatar Giselle atau Calius yang datang ke sini.
Setelah pintu tersebut terbuka, Bianca langsung melebarkan kedua matanya. "Kalian..."
"Yo... Yang mulia. Lama tidak jumpa."
Patrick dan Aaron sudah kembali setelah sekian lama tidak bertemu.
Tetapi...
"Tunggu... Apa yang terjadi dengan kalian?"
"Maksudnya?" tanya Patrick kebingungan.
"Rambut kalian!! Rambut kalian kenapa hah?"
Terakhir Bianca bertemu dengan mereka berdua, kedua pria itu memiliki rambut yang sama-sama panjang.
Dan sekarang, rambut mereka menjadi pendek dan juga... Mereka sedikit berubah selama 2 bulan berkelana ke luar kerajaan.
"Ah... Itu. Tidak apa-apa yang mulia ini hanya sebagai pertahanan kita waktu itu."
"Pertahanan katamu?!" ucap sang ratu masih syok.
"Kamu?!" tunjuk Bianca ke arah Aaron.
"Kamu bawa apa di belakangmu?" tunjuk Bianca ke arah sebuah kantong besar di belakang tubuh si malapetaka.
"Ah... Itu. Ini oleh-oleh, yang mulia," balas Aaron sambil menujukkan tas tersebut.
"Emangnya kamu bawa apa aja, Aaron?"
Mereka berdua saling pandang satu sama lain. "Ini rahasia."
"Hah? Rahasia? Kalau rahasia kenapa kamu bilang kalau itu oleh-oleh?"
"Itu buat Dokter Atkinson, yang mulia," tiba-tiba Patrick menjawab.
"Kebetulan saat kita mau pergi, Dokter Atkinson menitipkan barang yang dia mau kepada kami."
"Ah... Jadi begitu..." ucap Bianca mengangguk saja.
"Ya udah... Kita mau ke ruang kesehatan. Kami pergi dulu," ucap Aaron dan Patrick pamit kepada si penyihir tersebut.
"Aku ingin tau isi di dalamnya..." gumam Bianca sambil berpikir isi dalam kantong berukuran sedang itu.
"Kamu penasaran, Vina?" tanya Jenny tiba-tiba muncul begitu saja.
"Menurutmu... Kamu penasaran tidak isi dalam kantong yang dibawa mereka?" Jenny langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ngapain juga penasaran dengan isi dalam tas itu. Itu kan barang yang dititipkan si dokter itu. Hanya mereka bertiga saja yang tau."
Perkataan Jenny memang benar.
"Tapi, ngomong-ngomong... Mereka berdua kelihatan sedikit berbeda daripada 2 bulan yang lalu."
"Kau menyadarinya, Jenny?" Jenny mengangguk mantap.
"Tapi aku penasaran dengan perubahan rambut mereka. Kenapa mereka potong rambut, ya..."
"Ah... Iya. Tiba-tiba dia mereka merubah penampilan mereka."
Di ruang kesehatan, Dokter Atkinson merasa senang akhirnya bahan yang dia cari selama ini ada di depan matanya.
"Berapa lama kamu akan membuat obat itu, dokter?" tanya Aaron sambil melipatkan kedua tangannya.
"Paling cepat sekitar 3 hari. Karena ini adalah penelitian pertamaku, ini akan memakan waktu lama. Paling seminggu obatnya sudah jadi."
Dokter melihat kedua pemuda itu didepannya.
"Aku benar-benar mengucapkan terima kasih banyak kepada kalian berdua. Bahkan kalian rela sampai memotong rambut kalian karena mengambil bunga itu demi yang mulia."
"Tidak perlu merasa bersalah yang mulia. Kami sebenarnya senang membantu anda."
Aaron mengangguk benar. "Tapi... Kenapa kalian rela memotong rambut kalian sendiri? Pasti ada alasan khusus kenapa kalian melakukan hal itu."
Baik Patrick maupun Aaron saling pandang satu sama lain.
"Itu... Sebenarnya..."
"Mau apa kalian, hah?" tanya seseorang mengintrogasi Patrick dan Aaron.
Mereka berdua yang sedang diikat kedua tangan dan kakinya meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Tentu saja... Mencari bunga langka yang ada di sekitar sini..."
"Maksudmu Bunga Adropeda, bukan?" mereka berdua diam satu sama lain yang mengatakan bahwa mereka mencari bunga langka itu.
"Kenapa kalian mencari bunga itu? Bunga itu hanya sebuah parasit saja di tempat kami."
"Apakah seseorang itu penting?" tanya seseorang membuat semua orang menoleh ke arah orang itu.
"Pak Kepala?"
Pria tua itu berjalan dan memandangi mereka berdua.
"Kau bukan dari sini- maksudku kalian bukan dari satu dunia yang sama dengan kami."
"Darimana kau tau kalau kami bukan dari dunia ini, pak kepala?" tanya Patrick membuat Aaron menoleh ke arah pria di sebelahnya.
Kedua mata kepala suku itu mempertajam ke arah mereka berdua.
"Kami hanya bertanya kepada anda, pak kepala," jawab Aaron cepat.
"Baiklah... Kita kembali ke intinya. Kalian ingin mencari bunga itu untuk seseorang bukan? Seberapakah pentingnya orang itu ke kalian?"
Mereka berdua terdiam beberapa saat, hingga Aaron menjawab. "Dia penting bagi kami dan banyak orang. Kalau tidak ada dia, banyak masalah yang jauh lebih besar nanti."
"Tolong... Dengan bunga itu, dia tidak akan selamat," ucap Aaron sambil memohon kepada kepala suku itu.
Patrick yang berada di sebelahnya terkejut melihat aksi yang sangat langka bagi Aaron.
Seorang Malapetaka yang hebat, licik, dan jahat sampai memohon kepada orang asing yang tidak dikenal bahkan orang itu bisa mengambil nyawa mereka.
Kepala suku itu terdiam cukup lama, kemudian ia menyuruh anak buahnya melepaskan ikatan di kedua tangan dan kedua kaki mereka.
"Dan juga ambilkan tas berukuran sedang di gudang 1," tanpa jawab sama sekali, mereka segera mengambil tas yang diperintahkan oleh kepala suku itu.
Tak lama mereka meletakan tas berukuran tas dihadapan Patrick dan Aaron.
Kedua pria itu dibuat bingung dengan tindakan kepala suku itu.
"Tas itu berisi bunga-bunga yang sudah dipetik oleh warga sini karena bunga itu merugikan kita."
__ADS_1
"Kalau kalian ingin mengambil bunga itu, kalian harus membayar bunga itu kepada kita."
"Apa itu?" tanya Patrick dan Aaron serius.
Dia terdiam beberapa detik kemudian ia menjawab, "Salah satu dari kalian harus menikahi putri saya."
Mereka berdua langsung dibuat kaget dengan tawaran itu.
"Sebentar... Pak kepala. Kami ingin diskusikan dulu," ujar Patrick memberi jeda kepada kepala suku itu.
"Baiklah..."
Kemudian kedua pria itu langsung berdiskusi.
"Menikah putri kepala suku ini? Bagaimana ini, penyihir agung?"
"Aku sebenarnya bingung. Kenapa dia meminta salah satu dari kita menikah putrinya sih?"
"Kalau gitu kamu saja."
"Aku gak mau!! Kamu saja..."
"Ya gak bisa dong... Selama berkontrak dengan klien, aku tidak boleh menikah dengan perempuan manapun."
"Aku juga tidak bisa. Aku masih cinta sama istriku walaupun dia sudah meninggal."
Mereka masih berdiskusi hingga 20 menit.
"Pak kepala... Saya dan teman saya tidak bisa memenuhi permintaan anda," ucap Patrick akhirnya.
"Kalian menolak permintaan saya?" ucap kepala suku itu.
"Maafkan kami, kepala suku. Sebenarnya kami keberatan dengan permintaan yang anda sebut. Sebenarnya saya sudah menikah dan teman saya sedang dalam terjalin kontrak dengan seseorang, yang artinya dia tidak bisa menikah perempuan manapun sampai kontraknya berakhir."
"Kapan kontrakmu akan berakhir?" tanya kepala suku ke arah Aaron.
"Itu... Tidak semudah yang anda pikirkan, pak kepala."
"Jawab sekarang, anak muda."
"Baiklah... Anda bisa lihat kalau kontrak saya dengan klien adalah unlimited alias tidak bisa berakhir," jawab Aaron sambil menujukkan surat bukti kontrak kepada kepala suku.
"Berarti... Kemungkinan sampai anda mati, begitu?" Aaron mengangguk mantap.
Kepala suku itu menghela nafas panjang.
"Baiklah... Gimana kalau rambut kalian yang saya ambil."
"Rambut kita?!" tanya Patrick dan Aaron kompak.
"Iya. Sebenarnya gampang kalau kalian lakukan. Bagaimana?"
Mereka berdua kembali berdiskusi.
"Gimana? Mau tidak?"
"Sebenarnya aku tidak mau rambut indahku diambil."
"Emangnya kamu yang tidak mau. Aku juga."
"Ya sudah deh... Demi yang mulia."
Dan akhirnya mereka setuju dengan tawaran kepala suku tersebut.
"Begitulah ceritanya..." jelas Patrick.
Dokter Atkinson hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tak kusangka kalian bertemu dengan Suku Turja."
"Yah... Begitulah... Setidaknya kita bebas dari tempat itu."
Dokter Atkinson mengecek tas tersebut.
__ADS_1
"Kerja bagus kalian semuanya!"