Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 28 : Sang Ratu Menghilang


__ADS_3

Kerajaan Altuvia sedang mengadakan pesta dansa kerajaan bersamaan dengan perayaan ulang tahun sang putri, Putri Tashannie.


Semua kalangan bangsawan datang untuk merayakan pesta tersebut. Mulai dari bangsawan dari kerajaan sendiri, bangsawan dari kerajaan lain, hingga pemimpin kerajaan lain pun juga datang.


Allan menyapa para tamu dengan sopan dan ramah sembari menunggu seseorang yang ia kenal.


"Grand Duke Harva! Kau akhirnya datang juga rupanya..." ucap Marquis Estanol sambil berjalan menghampiri Allan.


"Anda membawa istri dan putrimu juga, ya?"


Marquis Estanol hanya bisa tertawa saja. "Aku mengajak mereka supaya pergaulan mereka semakin luas. Kamu tau, kan kalau tidak hanya bangsawan kerajaan ini, tapi tamu kerajaan lain juga datang ke pesta ini."


"Saya bisa memahaminya Tuan Estanol," balas Allan.


Lelaki itu melihat sekelilingnya. Ia masih menunggu 'orang itu' datang.


"Tuan mencari siapa?" tanya Patricia tiba-tiba.


"Bukan apa-apa. Hanya melihat dekorasi ruangan saja," ucap Allan.


Patricia terdiam saja, begitu pun juga dengan Allan. Lelaki itu menyadari kalau kedua orang tua Patricia tiba-tiba menghilang.


"Kemana orang tuamu?" Patricia hanya mengangkat kedua bahunya saja.


Ia menghela nafas panjang saja, ya sudahlah... Sembari menunggu, ia bisa mengajak Patricia berdansa.


"Mau berdansa denganku?" gadis muda itu terkejut dengan ajakan Allan.


"Sebagai permintaan maafku karena kemarin aku tidak bisa ke acara debutante nona."


Gadis itu mengangguk dan menggenggam tangan Allan pelan.


Di tempat lain, 3 pelayan tersebut hanya bisa berdiri kaku dan ngeri melihat majikannya mengamuk seperti orang gila.


"KENAPA BROSKU BISA HILANG, HAH??!!"


"K-kami sebenarnya tidak tau, tuan putri."


"Tuan putri... Sebentar lagi acaranya sudah dimulai," tiba-tiba pelayan lain datang dan memberitahu kepada Tashannie bahwa acaranya akan dimulai.


Tashannie mengatur nafasnya yang pendek akibat emosinya yang memuncak.


"KALIAN SEMUA!! SELIDIKI SIAPA YANG MENGAMBIL BROSKUU!!"


Setelah berdansa dengan Patricia, Allan berjalan mencari seseorang yang ia tunggu dari tadi.


"Ratu salju tidak datang?" tanya salah satu putri bangsawan yang sedang asik bergosip.


"Kayaknya iya. Dari kemarin aku tidak mendengar kabar dia sama sekali."


"Kamu tidak mendengar kabar yang mulia ratu? Bukankah kamu sering ke Kerajaan Aspendia?"

__ADS_1


"Iya. Tapi, aku tidak mendengar sosoknya saat festival kemarin."


Mendengar gosip-gosip tersebut, Allan memanggil sebuah Burung Pheonix miliknya dan menyuruh hewan peliharaannya menyelidiki keberadaan sang ratu.


Bersamaan itu seorang penjaga dengan suara lantangnya memberi pengumuman bahwa sang putri telah datang.


Para tamu yabg hadir segera berkumpul dan menyambut bintang tamu dalam acara kali ini. Begitu pun juga Allan.


Putri Tashannie berjalan menuruni tangga disambut oleh para tamu yang diundang dengan rasa pukau karena kecantikan sang putri.


Beberapa bangsawan dan pemimpin dari kerajaan lain memberi selamat ulang tahun kepada Tashannie.


Tetapi, bagi wanita yang sudah berumur 20 tahun itu merasa ada yang janggal. Sang ratu salju tidak nampak dalam acara kali ini.


"Apakah kalian melihat Ratu Bianca dari Aspendia?"


"Sepertinya beliau tidak hadir, tuan putri," balas salah satu putri bangsawan itu.


"Tidak hadir?"


"Iya. Aku dengar dari kemarin, sang ratu tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali."


Aneh...


Tashannie merasa ada yang aneh dengan kehadiran sang ratu.


Setahu sang putri, Bianca pasti selalu datang ke acara ini. Mengingat ia kembali ke hadapan publik kelas atas setelah menghilang selama 3 bulan lebih.


...****************...


Sejak kemarin lusa, tubuhnya semakin lemah. Sering batuk darah dan pusing terus. Ia memberitahukan kepada sang dokter tentang gejala ini.


Tetapi kabar buruknya, kondisi tubuh Bianca benar-benar sangat buruk dan bisa saja mengalami masa kritis.


Mau tidak mau, ia harus membunyikan penyakit yang tiba-tiba kepada seluruh orang istana (kecuali dokter pastinya) dan seluruh rakyat Aspendia.


Apalagi Aaron yang suka kepo sekali. Bianca terpaksa menggunakan sihir ilusi layaknya dirinya sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya.


Sambil batuk-batuk darah lagi, ia berusaha memanggil Tuhan sekali lagi, walaupun Tuhan tidak membalasnya, setidaknya Vina berusaha.


"Kemana sih Tuhan? Gak muncul-muncul lagi..."


Tapi, setidaknya dia datang ke pesta di Kerajaan Altuvia tersebut.


Memang nasib baik sekaligus nasib buruk, rencananya gagal total dan ia harus menyusun rencana lain.


Di sisi lain, Greda berkumpul dengan 4 pria dengan perbedaan usia yang berbeda-beda saling duduk dalam bentuk lingkaran sambil berpikir sesuatu.


"Kenapa kita tidak coba tanya ke yang mulia langsung saja?" tanya Greda polos.


"Mau bertemu secara langsung saja sangat susah. Dari kemarin saja dia di kamar terus," balas Aaron menimpali.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita menyusup ke dalam saja?' ujar Kay memberi usulan.


"Bisa-bisa kita disemprot oleh yang mulia, Tuan Kay," balas Calius ikutan.


"Terus gimana?" sementara itu, Patrick masih terdiam sambil berpikir sesuatu.


"Kau ada ide, penyihir agung?" tanya Aaron kepada si penyihir itu.


"Sebenarnya ada, tapi ini agak berisiko bagi kita nanti."


"Apa itu?!" tanya Greda dan Kay kompak dan semangat.


"Saat aku melewati kamar yang mulia, aku merasakan sihir ilusi. Apa yang Calius lihat, bukanlah yang sebenarnya."


"Berarti... Yang mulia sedang melakukan hal rahasia yang kita tidak diketahui, dong?"


Patrick mengangguk benar. Tiba-tiba terdengar suara derapan langkah kaki yang keras membuat mereka berlima saling pandang satu sama lain.


"Ada apa di luar? Tampaknya ada yang bermasalah."


Mereka semuanya keluar ruangan melihat sang dokter istana sedang buru-buru.


"Dokter... Apa yang terjadi? Kenapa muka anda panik begitu?"


"S-saya... S-saya harus buru-buru!" serunya dan langsung berlari meninggalkan kelima orang tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Kay kebingungan.


"Melihat dokter itu tampak panik, sepertinya ada yang tidak beres."


Mereka langsung bergegas mengejar sang dokter, namun sayangnya jejak sang dokter telah hilang duluan membuat mereka semakin frustasi.


"Aku memiliki firasat buruk tentang yang mulia."


Mendengar yang mulia sedang tidak baik-baik saja, mereka berlima segera menuju ke kamar sang ratu.


Calius mencoba membuka pintu kamar sang ratu, namun sayangnya pintu kamarnya dikunci rapat.


"Siall... Sudah kuduga pasti ada apa-apanya."


Secara mengejutkan sang dokter keluar dari kamarnya. Ia juga terkejut melihat kelima orang itu berdiri di depannya.


"Apakah yang mulia ada di dalam?" tanya Calius membuka pertanyaan.


Dokter tampak ragu dan salah tingkah, sementara itu, Aaron menyingkir dokter istana untuk masuk ke dalam dan menyuruh Patrick untuk menghancurkan sihir ilusi buatan Bianca.


Saat mereka masuk ke dalam dan Patrick berhasil mematahkan sihir Bianca, kamar sang ratu telah kosong.


"Dimana dia?!" ucap Aaron sambil menarik kerah baju dokter itu.


"M-maafkan saya, tuan... Saat saya ke sini... Yang mulia sudah tidak ada di kamarnya."

__ADS_1


Mendengarnya, mereka semua langsung dibuat terkejut bukan main.


"APA KATAMU?!!"


__ADS_2