
Bianca tidak menyangka kalau ada kasus pembunuhan di sebuah kapal yang ditumpanginya.
Terutama pelakunya masih ada di satu lokasi yang sama dan anehnya dengan gampangnya mengaku kalau dialah yang membunuh.
Karena pengaruh alkohol paling, ya...
Dan juga ia baru mengetahui kalau Vero adalah seorang detektif hebat. Semua orang yang ada di kapal memuji bakat dia dan dijuluki 'Putri Detektif'.
Dan akhirnya kapal yang ditumpangi mereka bertiga telah tiba.
Bianca, Giselle, dan Vero menuruni tangga dan disambut oleh seorang pria berusia 20-an.
Mereka dibawa ke ke kereta kuda yang sudah disiapkan.
"Kalian ingin tau tentang bagaimana Olivia bisa mengunci ruang itu dengan mengunci dari dalam?"
Bianca dan Giselle menoleh ke arah Vero secara bersamaan. Walaupun mereka tidak menanyakan hal itu, tetapi di pikirannya, mereka juga ingin tau kenapa bisa begitu.
"Itu semua bisa digunakan dengan satu cara."
"Apa itu?" tanya Giselle dibuat penasaran.
"Kalian ingat, tidak tentang tali kapal di ruangan situ. Saat Albert sudah digantung, Olivia melemparkan bola kasti lewat fentilasi yang berlubang dan mengenai kursi. Kursinya pasti tidak secara langsung jatuh begitu saja, ia harus melemparkan bola itu berulang kali baru jatuh."
"Terus... Pintu terkuncinya?"
"Setelah kursinya jatuh, tubuhnya langsung melayang dan ada tali lagi di bagian atap untuk ditarik ke arah kunci pintu tersebut dan menguncinya."
"Tapi, kita tidak menemukan kuncinya?" ujar Bianca kepada Vero.
"Sebenarnya ada, cuman waktu ada salah satu petugas kapal yang mengecek dan ia terpaksa mendobrak pintunya sehingga kuncinya juga otomatis terlepas."
Kini mereka berdua mengangguk paham.
"Tak kusangka kamu adalah seorang detektif yang hebat. Pantas saja kamu dijuluki sebagai Putri Detektif."
Vero hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kamu akan terkejut dengan latar belakang anggota lainnya."
Seketika itu, Bianca mengingat sesuatu.
"Bagaimana dengan Allan?" gadis muda itu melirik ke arah sang ratu.
"Maksudnya?"
"P-pekerjaan... Ya, pekerjaan!"
"Dia seorang Grand Duke," jawabnya dengan santai.
Kemudian, Vero menoleh ke arah Giselle. " Aku dengar kau adalah anak seorang strategis yang hebat. Pasti kau memiliki bakat yang hebat seperti ayahmu."
Giselle tersenyum lembut. " Suatu kehormatan mendapat pujian dari putri detektif seperti anda," Bianca melirik ke arah sebelahnya.
Dia benar-benar sopan, ya.
Vero menujulan sebuah senyuman menyeringai di wajahnya. " Kau menarik sekali, pantas saja dia tertarik denganmu."
__ADS_1
"Hm? Siapa?"
"Oh! tampaknya kita sudah sampai," Bianca memotong pembicaraan mereka karena kereta yang ditumpangi oleh ketiga gadis itu telah tiba.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ujar sang kusir dan segera pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Jadi ini desa kaum perempuan, ya..." gumam Giselle melihat papan nama desa yang tertera di sana.
"Ayo kita masuk," ajak Vero kepada dua perempuan itu untuk masuk ke dalam.
"Sesuai dengan julukannya, desa kaum perempuan, semuanya hanya perempuan. Tidak ada kaum laki-laki di sini."
"Hey, kalian bertiga..." mereka bertiga menoleh ke arah asal suara.
"Kalian pendatang baru?"
"Tidak. Kami mencari seseorang. Apakah anda tau seorang perempuan bernama Rossaria Harris?"
Perempuan itu terdiam beberapa saat dengan ekspresi horrornya. "K-kalian... K-kalian ke sini untuk mencari dia?"
Perempuan itu langsung lari dan meninggalkan mereka dengan tanpa menjawab keberadaan Jendral Harris itu dimana.
"Kenapa dia lari?"
"Mana aku tau. Ayo kita tanya yang lain."
Sudah lebih dari 3 orang, tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Rossaria Harris.
"Aduh... Orang-orang pada tidak mau menjawab kemana dia."
Mereka bertiga menghela nafas panjang. "Bagaimana kalau kita mencari penginapan dulu?" usul Giselle dan kedua perempuan itu menyetujui.
...****************...
Mereka bertiga disambut oleh pemilik penginapan.
"S-sebenarnya bukan. Kami bertiga ke sini untuk mencari Rossaria Harris," seketika wajah dari ibu pemilik penginapan terkejut bukan main.
Vero langsung bertanya. " Tampaknya anda membunyikan sesuatu kepada kami. Tidak cuman anda, beberapa perempuan yang kita lewat juga bereaksi yang sama."
"Dimana dia?" ujar Bianca dengan tegas.
"I-itu..."
"Kalian mencari saya?" mereka bertiga menoleh ke seorang wanita dengan aura yang elegan dan dewasa berjalan menghampiri mereka.
"D-dia..."
"Tidak salah lagi."
"Lama tidak berjumpa, yang mulia ratu."
Bianca terdiam beberapa saat, kemudian ia tersenyum di wajahnya.
"Kau tampaknya sangat sehat, Rossa."
...****************...
__ADS_1
"Ah... Jadi begitu," jawab Rossa setelah mendengar penjelasan dari Bianca.
"Jadi, yang mulia mengumpulkan kelima pemimpin hebat Aspendia karena sesuatu, bukan?"
"Tentu saja. Mereka sudah mengincar batu berharga Kerajaan Aspendia sejak dulu. Saat pemimpin kerajaan meninggal, istana sedang dalam kacau dan mereka mengambil kesempatan untuk mengambil itu."
Rossa terdiam sambil berpikir. " Aku tau, kamu tidak ingin kembali berperang, tapi-"
"Aku akan ikut dan kembali ke istana, tetapi ada satu syaratnya."
Mendengar ada sebuah syarat yang harus dipenuhi, Vero berdecak dalam hati.
"Tenang saja. Syaratnya sangat mudah."
"Apa itu, Jendral Harris?' tanya Giselle penasaran dan antusias.
"Syaratnya adalah..."
...****************...
"Kenapa kita harus melakukan begini sih?" ujar Vero kesal sambil mengucek kain dengan keras.
"Tampaknya ada kedatangan tamu yang banyak," ujar Giselle sambil mencuci baju di pinggir sungai.
"Aku heran dengan anda. Anda adalah seorang ratu, tetapi anda bisa mencuci baju dengan benar," Vero melirik ke arah sang ratu yang sibuk dengan mencuci baju.
"Hehehe... Ini bakat rahasiaku selama ini."
Vero hanya memutar kedua bola matanya. " Yang penting tugas kita harus cepat selesai. Setelah itu, kita harus mengantarkan selimut dan seprai yang sudah kering ke tempat penyimpanan."
Bianca dan Giselle hanya mengiyakan dalam hati. Ternyata Vero lebih cerewet kalau masalah beginian.
Maklum, dia adalah putri bangsawan, mana mungkin dia melakukan yang seharusnya dikerjakan oleh pelayan.
"Oh ya soal Allan..." mendengar nama Allan, Bianca menoleh ke arah gadis bergaya gothic itu.
"Dia sempat bilang ke aku saat anda meninggal."
"Dia bilang apa?" ujar sang ratu penasaran.
"Dia bilang... Pokoknya dia sedih dan frustasi karena dia kehilangan orang yang sangat berarti."
"Maksudnya?" Vero berdecak kesal.
"Masa anda tidak tangkap apa yang aku omongin sih?"
"Ya... Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. Emangnya Allan bilang begitu?" Vero terdiam beberapa saat, kemudian ia bangkit membawa kain-kain yang sudah ia cuci.
"Menurutmu?" Vero berjalan meninggalkan mereka berdua membuat Bianca dibuat sedikit kesal, tetapi masih bingung dengan ucapan Vero.
"Aku tau maksud omongan Vero..." tiba-tiba Giselle berkata kepada sang ratu.
"Benarkah? Apa itu?" ucap Bianca antusias.
"Intinya... Orang bernama Allan itu menyukaimu, yang mulia."
Bianca yang mendengar itu langsung terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Benarkah?