Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 54 : Rahasia Yang Telah Terungkap


__ADS_3

Bianca berlari dengan kencang dan akhirnya tiba do ruang kesehatan dimana Oscar terbaring lemah di sana.


"Bagaimana kondisinya?" ujar Bianca panik bukan main.


"Dia dalam masa kritis yang mulia. Bagian perutnya ditusuk sebanyak 3 kali saat melindungi Nona Gerda."


"Melindungi Gerda? Dimana dia?" tanya Bianca dan Dokter Atkinson menunjuk ke arah Gerda yang sedang duduk lemas dan Giselle sedang berusaha menenangkan dia.


"Gerda..." ujar Kay menghampiri temannya dan menenangkan Gerda yang masih syok berat.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Patrick kepada dokter istana itu.


"Kata Gerda, saat mereka mau pulang, tiba-tiba ada orang asing yang berusaha menusuk ke Gerda, tetapi Oscar menyadari dengan cepat dan dia segera melindungi Gerda."


Bianca menarik rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya. Ini benar-benar tidak mungkin, bukan?


Tiba-tiba Bianca pergi meninggalkan ruangan kesehatan dan bergegas menuju ruang kerjanya.


Tidak lama, Aaron, Jacob, dan Markus masuk ke dalam dan terkejut dengan kondisi Oscar yang memprihatikan.


"A-apa yang sebenarnya terjadi..."


Dokter Atkinson menceritakan kronologisnya kepada mereka bertiga. Seketika Jacob langsung jatuh terduduk dengan lemas.


"I-ini tidak mungkin..."


"Jacob..."


"Kenapa.... Kenapa harus begini?" badannya bergetar hebat dan Markus berusaha menenangkan Jacob.


Patrick dan Aaron yang melihat reaksi Jacob menjadi curiga.


Apa hubungan mereka berdua?


Di ruang kerja sang ratu, Bianca menggunakan sihirnya dan mencari tau siapa yang membunuh Oscar di sana.


"Ada apa, Vina? Kamu tampaknya panik sekali..."


"Jenny!! Bagaimana ini Oscar ditusuk oleh orang asing?!!"


"Hah?" balas Jenny dengan wajah bingungnya.


"Maksudmu.... Dia akan segera mati begitu?" Bianca mengangguk lemas.


"Padahal baru saja kita kasih tau kepadanya tapi kenapa dia mati secepat itu?" tanya Jenny bingung.


"Dia belum mati... Dia masih dalam keadaan kritis."


"Yang mulia!!" seru Calius tiba-tiba. Dari ekpresinya, bisa ditebak bahwa ada kabar buruk.


"Oscar... Oscar..."


Bianca hanya bisa diam membeku dan Jenny malah sibuk dengan buku catatan miliknya.


"Calius!! Gawat!! Tuan Baraouske..."


"Kenapa Giselle?" tanya Calius.


"Tuan Baraouske pingsan!!" setelah itu mereka berdua berlari ke ruang istirahat.


"Komandan Baraouske pingsan?" ujar Bianca dibuat kebingungan.


Biasanya, kalau orang pingsan adalah orang terdekatnya, contohnya keluarga yang mendengar kabar duka dari anggota lainnya.


"Sepertinya aku harus berbicara dengannya..."

__ADS_1


...****************...


Jacob akhirnya siuman dari pingsannya dan di situ ada sang ratu yang sedang berjaga.


"Yang mulia..."


"Tampaknya kamu benar-benar kenal sekali dengan Oscar. Hubungan kalian seperti apa sih?"


Dia tidak menjawab sama sekali. Akhirnya Bianca berkata, "Aku turut berduka atas terjadinya anakmu."


Jacob melirik ke arah Bianca. "Aku tidak tau seberapa dekatnya hubunganmu dengan Oscar, tapi bagimu, Oscar sudah menganggap anakmu sendi-"


"Dia anak kandungku."


Seketika Bianca membuka kedua matanya dengan lebar. Sebuah fakta baru yang sangat mengejutkan.


"Aku menikah dengan gadis pujaanku yang berasal dari Suku Ortaz asli dan memiliki putra bernama Oscar Baraouske."


"Desa tempat tinggal Elena, istriku diserang oleh kerajaan sebelah. Waktu itu Elena sedang berkunjung ke rumah keluarganya dan aku serta Oscar sedang berada di kota.... Andai saja aku melarang dia waktu itu..."


"Dan begitulah... Semenjak Elena meninggal, aku berusaha melupakan jejak dia dengan menyibukkan pekerjaanku dan aku sampai lupa dengan Oscar saat itu."


"Apakah aku menyesal? Ya... Aku sangat menyesal. Gara-gara aku egois memikirkan diriku dan melupakan Oscar, dia akhirnya membenciku sampai sekarang."


Kemudian Jacob meneteskan air matanya. "Dan sekarang aku malah melihat anakku yang sebentar lagi akan mati... Aku harus bagaimana?"


Bianca hanya bisa diam saja. Ia tidak ingin menangis karena kisah sedih dari komandan legenda itu, tetapi di sisi lain ia ingin menyelamatkan Oscar.


Seketika perkataan Oscar tentang keputusasaan dia teringat do kepala sang ratu.


Itulah kenapa dia tidak kaget kalau nyawanya akan diambil dalam waktu dekat, karena hidupnya sudah kacau.


Ibunya meninggal waktu muda. Ayahnya tidak memperdulikan dia dan sekarang Bianca mengerti sekarang.


Bahkan dia sempat dengar dari Ivan bahwa waktu pelatihan menjadi ksatria, Oscar sempat dibully oleh teman-temannya karena dia memiliki perbedaan fisik dengan Suku Ortaz yang lain sehingga dikira Oscar berasal dari half.


"Vina..." tiba-tiba Jenny memanggil Bianca.


"Jenny..." gumam Bianca bingung ketika si malaikat itu memanggil dirinya.


"Kalau begitu saya pamit dulu, komandan. Istirahat dengan baik."


Kemudian ia menghampiri Jenny di ruang kerjanya. "Ada apa Jenny?"


Jenny menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu tau apa yang aku bilang waktu itu. Kalau orang-orang pada umumnya ketika ia melihat malaikat kemungkinan ada penanda bahwa kematiannya akan datang?"


Bianca mengangguk mantap. "Nah... Aku awalnya mikir begitu, tetapi pas aku melihat buku catatan riwayat hidup Oscar..."


"Kenapa memangnya?"


"Dia belum mati dalam waktu dekat, jadi dia masih bisa menjalani hidup dalam waktu yang sangat panjang."


"Hah?! Terus... Kenapa dia bisa melihatmu?"


"Aku juga tidak tau sih kenapa bisa. Tetapi, saat aku pergi ke surga dan mengecek apakah Oscar akan mati pada hari itu, ternyata dia belum boleh mati sekarang dan sepertinya ada yang ketuker dengan orang lain."


"T-terus... Gimana dong? Dia dalam keadaan kritis..."


"Itu masalahnya..."


Akhirnya mereka berdua berusaha berpikir keras. tiba-tiba Jenny memiliki sebuah ide.


"Serahkan saja padaku, Vina."


"Hah? Emangnya kamu memiliki rencana apa?"

__ADS_1


"Sudah... Ikuti saja apa yang aku lakukan."


Ucap Jenny mengajak Bianca ke ruang kesehatan.


Mereka berdua sedang mengintip kondisi ruang kesehatan tersebut.


Tidak ada Dokter Atkinson maupun orang-prang yang sedang menjaga Oscar.


"Nah... Sekarang apa rencanamu, Jenny?"


"Aku akan membalikan kondisi tubuh Oscar sebelum insiden kemarin."


"Maksudnya memutar waktu begitu?" Jenny mengangguk mantap.


"Kamu ingat bukan saat tubuh Bianca hancur akibat penyakit aneh yang terus menyerang tubuh Bianca? Aku dan tuanku melakukan memutar waktu dimana sang ratu belum terserang penyakit. Walaupun tetap saja tubuh Bianca akhirnya kena juga."


Bianca terdiam sambil berpikir keras. "Itu ide yang sangat bagus Jenny."


"Tapi..."


"Tapi apa?" Jenny melihat ke arah Oscar yang sedang berbaring lemah di sana.


"Karena dia berasal dari Suku Ortaz, tubuhnya yang seperti batu es akan hancur dan berubah menjadi manusia."


"Terus?"


"Masalahnya, Suku Ortaz yang berubah menjadi manusia biasa di tempat kerajaan ini akan sangat sulit bertahan hidup. Apalagi di cuaca yang sangat dingin begini."


Dan sekarang Vina tau alasan kenapa Suku Ortaz bisa bertahan di luar kerajaan dan daerah bersalju ini ketika mereka berubah menjadi manusia biasa.


"Kecuali kalau Oscar memiliki darah half. Manusia biasa dan Ortaz. Kalau dia half, dia masih bisa bertahan cukup lama di tempat ini."


Seketika Bianca teringat sebuah fakta bahwa Oscar adalah half.


"Dia masih bisa bertahan, Jenny!"


"Hah? Kamu yakin?" tanya Jenny memastikan dan Gerda mengangguk mantap.


"Tentu saja aku yakin," Jenny terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata, " Baiklah... Apa yang kamu bilang, aku akan percaya denganmu."


"Baiklah... Aku serahkan semuanya kepadamu..."


Jenny mengangguk dan melaksanakan aksinya.


...****************...


Jacob duduk sendirian di taman istana dan Patrick berjalan menghampiri lelaki paruh baya itu.


"Kau baik-baik saja, tuan?" dia tidak menjawab sama sekali dan tatapannya kosong.


Patrick menghela nafas panjang. "Aku tidak tau hubungan anda dengan Oscar seperti apa..."


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak tau, Patrick..."


Jacob menghela nafas panjang. "Oscar... Anak itu adalah anakku. Anak kandungku."


Patrick sedikit terkejut, tetapi akhirnya dia tau maksud dari sikap Jacob.


"Sekarang aku mengerti sekarang..."


"Maksudnya?" tanya lelaki itu kebingungan.


"Aku juga memiliki anak, Tuan Baraouske. Aku tau gimana rasanya jika kamu kehilangan anak satu-satunya yang kau sayangi."


Jacob menudukkan kepalanya. "Tapi baginya aku tidak sayang dengannya."

__ADS_1


Patrick akhirnya diam beberapa saat hingga Ivan berlari ke arah mereka berdua.


"Kalian berdua harus ke ruang kesehatan sekarang! Oscar sudah siuman!!"


__ADS_2