
Giselle menguap dengan lebar sembari meletakan beberapa dokumen di atas meja sang ratu.
"Bagaimana dengan ayahmu, Giselle?" tanya Bianca yang sibuk dengan beberapa dokumen negara.
"Seperti biasa, melatih para prajurit bersama Tuan Baraouske dan Oscar."
Bianca melirik ke arah gadis muda itu. "Oscar? Sejak kapan kamu memanggil dia nama panggilan?" Bianca tau kalau Oscar adalah orang yang tidak suka dengan memanggil dengan nama depannya.
Hanya Ivan, Calius, dirinya dan beberapa orang di istana yang dekatnya boleh memanggil doa nama depannya saja.
Dengan santainya, Giselle hanya mengangkat kedua bahunya. "Dia yang minta, yang mulia."
Bianca kembali melanjutkan tugasnya. "Oh ya... Apakah kamu sudah melihat pergerakan dari kerajaan sebelah selatan."
Bianca tidak menyebutkan kerajaan mana yang dia bahas. Hanya sang ratu, Tuhan, dan Giselle yang tau.
"Masih dalam posisi diam, yang mulia. Mereka belum ada pergerakan sama sekali."
Berbeda dengan ayahnya yang jago dalam taktik dalam perang, Giselle justru jago dalam mengatur strategis dan taktik dalam bidang yang luas.
Anggap saja, Giselle jago memprediksi mana yang naik, mana yang turun dalam investasi saham.
Bahkan Giselle mengetahui titik lemah musuh dalam sekali tindakan para musuhnya. Untuk itulah Bianca membawa dia sebagai pembantu taktik dengan ayahnya, Markus.
"Ngomong-ngomong... Kata Ivan, selain kita ada dua orang lain yang ada di sini."
"Ah... Mereka berdua. Mereka sedang berkelana," ucap Bianca mengingat dua pemuda itu.
Bianca menyuruh Giselle membawa obatnya untuk dikonsumsi. Bisa gawat kalau dia sampai telat.
Bersamaan itu, Calius datang membawa makan siangnya untuk sang ratu.
"Apakah kamu sudah makan, Giselle?" tanya Bianca bangkit berdiri.
"Belum, yang mulia. Habis ini saya akan makan bersama dengan lainnya."
"Ya sudah... Kamu makan dulu. Kalau sudah selesai, kembali ke sini," Giselle mengangguk saja dan pamit pergi dulu disusul oleh Calius.
Kini hanya Bianca saja di ruang kerjanya, sampai ada seseorang yang membuat perempuan itu terkejut.
"K-kamu..." ucap Bianca terkejut setengah mati melihat Allan tiba-tiba datang tanpa permisi.
"Maafkan saya, yang mulia membuat anda terkejut."
"Lagi," balas Bianca memperalat kalimat Allan.
Allan tersenyum tanpa arti, kemudian ia duduk di dekat sang ratu.
"Kau tampaknya sehat, yang mulia?" alis sebelah sang ratu terangkat.
"Memang aku sehat, kok."
__ADS_1
"Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini, Allan?" tanya Bianca to the point.
"Yang mulia tidak lupa, kan soal pemberontakan Kota Ultia?"
"Bukankah sudah diatasi oleh rekanmu?" ucap Bianca sambil menyuapi daging steak buatan Ivan.
"Tentu saja sudah diatasi, tetapi para pemberontak itu muncul lagi akhir-akhir ini."
Sambil mengunyah, Bianca tampak berpikir sejenak. Kok bisa?
"Kok bisa? Seharusnya ketua kelompok itu sudah dihukum mati, bukan?"
"Aku mendengar dari salah satu anak buahku lalau masih ada beberapa anggota lain yang ingin melakukan aksi lagi. Tetapi karena sudah diringkus hampir semua pengikutnya, yang masih tersisa menunggu waktu yang tepat sambil mengumpulkan kekuatan mereka," jelas Allan.
"Terus... Siapa yang menjadi ketuanya sekarang?"
"Demian Christine."
Demian... Kok pernah dengar ya...
"Ada apa, yang mulia? Apakah anda mengenal dia?" tanya Allan.
Bianca cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Terus... Mereka sekarang ada dimana?"
"Sementara ini, mereka sedang bersembunyi di suatu tempat. Masalahnya... mereka suka berpindah-pindah tempat."
Bianca mengangguk paham.
Ini bukan pertama kalinya ratu salju dan Black Hole sama-sama membasmi pemberontak di Kota Ultia.
Dan ketiga kalinya Black Hole yang dibantu oleh Bianca akhirnya meringkus kelompok pemberontak kontra terhadap Black Hole dan membunuh semua anggota pemberontak tanpa sisa.
Namun, nasib bagi anggota tersisa yang masih hidup, mereka segera melarikan diri, mencari tempat persembunyian, dan mencari strategis yang bagus untuk mengalahkan mereka.
Seandainya Bianca tidak bekerja sama dengan Black Hole, dirinya dengan suka rela membantu mereka bersamaan dengan bantuan dari lima komandan yang sangat hebat di kerajaan ini.
'Yang mulia..."
"Ya?" tanya Bianca bingung melihat pemuda itu tampak sangat khawatir dan panik.
"Hidung anda... Hidung anda berdarah, yang mulia."
Bianca dengan bingungnya menyeka di sekitar hidung dan benar kata Allan, ada darah.
"Yang mulia!! Anda baik-baik saja, kan?"
Mampus... Aku mimisan!! batin Bianca sambil berusaha mengambil beberapa lembaran tisu dan memasukan ke dalam lubang hidungnya sebagai penghambat darahnya keluar.
Allan juga membantu sang ratu dengan membawa bantal sofa dan menumpuk hingga tinggi dan menyenderkan kepala sang ratu doa atas bantal dan menaikan kepala Bianca ke atas.
"T-terima kasih... Allan," Allan membalas dengan senyuman sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
"Yang mulia... Saya bawakan surat dari-" Calius berdiam tidak berkutit melihat sang ratu yang sedang rebahan dengan 2 gumpalan tisu yang dimasukan di kedua lubang hidungnya.
"Astagaa!! Yang mulia!! Yang mulia kenapa bisa begini?"
"Yang mulia tiba-tiba mimisan, Tuan Calius," jawab Allan secara tiba-tiba.
"Apa?! Astaga... Yang mulia..." balas Calius semakin panik.
"Aku baik-baik saja, Calius. Kau ke sini untuk mengirim sebuah surat, bukan?" tanya Bianca langsung menggantikan topik.
"Ah... I-iya... Ini ada surat dari Nyonya Baron Hirtadia."
Nyonya Hirtadia siapa lagi dah? batin Bianca.
"Kalau begitu saya permisi dulu..." kemudian Calius segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Pria paruh baya itu tau kalau mereka berdua ingin menghabiskan waktu berdua, sehingga dirinya tidak ingin dianggap sebagai pengganggu.
"Apa ada yang pusing, yang mulia?" tanya Allan memastikan.
"T-tidak... Tapi makasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Bianca sambil berusaha bangkit dari rebahannya.
"Jangan! Nanti anda-"
"Sudah jangan khawatirkan aku, Allan," ucapnya sambil menunduk ke bawah. Biar darahnya cepat turun.
Mereka berdua saling diam satu sama lain, hingga Bianca memutuskan angkat suara. "Allan... Aku ingin bertanya sesuatu denganmu."
"Apa itu?" tanya Allan penasaran.
"Sebenarnya tujuan kelompokmu untuk apa? Aku selalu membantu kalian, tetapi alu tidak tau tujuan kelompokmu sebenarnya apa?"
Allan diam saja tanpa menjawab sama sekali.
"Tujuan kita..."
Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar membuat mereka berdua saling menoleh ke arah pintu tersebut.
"Tampaknya Calius datang lagi," Allan bangkit dan berpamit kepada Bianca.
"Terima kasih, ya Allan," ucap bianca tersenyum lembut membuat Allan tertegun sekali lagi.
"Kenapa... Kenapa kamu masih tersenyum meskipun kamu kesusahaan..."
"Hah? Apa?" Sebuah kecupan kecil mendarat di dahi Bianca membuat perempuan itu langsung kaget bukan main.
"Kalau begitu, saya pergi yang mulia..." perlahan tubuh Allan menghilang dengan sendirinya.
Bianca yang masih duduk dengan tatapan kosong, kemudian Giselle langsung membuka pintu karena khawatir kalau sang ratu ada apa-apa.
"Yang mulia... Yang mulia baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
Bianca tidak merespon sama sekali, bahkan tanpa sedari dua tisu langsung dihembuskan lewat lubang hidungnya.
Takut jika terjadi yang buruk, Giselle segera memanggil Dokter Atkinson untuk memeriksa sang ratu.