Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 70 : Rahasia Tersembunyi Chris


__ADS_3

Allan berjalan menuju ke ruang pertemuan. Tujuannya tentu saja untuk tidur. Dia memang suka tidur di markas ketimbang di rumahnya atau tempat kerjanya.


Katanya, ruang pertemuan itu sangat sejuk dan gampang untuk bisa tidur.


Ia berpapasan dengan Chris, lelaki dewasa itu juga menuju ke ruang pertemuan.


"Mau tidur?" tanya Chris basa-basi.


"Ya... Terus tujuanku selain itu apa?" tanya Allan balik dan berjalan memasuki ruangan tersebut.


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."


"Tanya aja. Gak usah minta ijin segala."


"Sejak kapan kau menyukai Ratu Salju?" Allan seketika berhenti berjalan dan langsung menoleh ke arah Chris.


"Kau..."


"Jangan marah. Sebenarnya aku kasihan sama kamu. Kamu dari dulu hanya mendendam ke dia saja, bukan?"


Allan menghela nafas panjang. Beberapa orang mungkin sudah tau kalau dirinya sejak dulu menyukai sang ratu. Apakah itu rasa kagum atau menyukai sebagai wanita?


"Aku bertemu dia waktu aku berumur 10 tahun..."


"π–ͺ𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 π—„π–Ίπ—†π—Ž 𝖻𝖾𝗋𝖽𝗂𝗋𝗂 π—π–Ύπ—‹π—Žπ—Œ 𝖽𝗂 π—Œπ–Ίπ—‡π–Ί?" 𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 π—Œπ–Ύπ—Œπ–Ύπ—ˆπ—‹π–Ίπ—‡π—€ 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗆𝗉𝗂𝗋𝗂 π—Œπ–Ύπ—ˆπ—‹π–Ίπ—‡π—€ π–»π—ˆπ–Όπ–Ίπ— 𝗅𝖺𝗄𝗂-𝗅𝖺𝗄𝗂.


𝖣𝗂𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗐𝖺𝖻 𝖺𝗉𝖺-𝖺𝗉𝖺. 𝖧𝖺𝗇𝗒𝖺 π—†π–Ύπ—‡π—Žπ—‡π–½π—Žπ—„π—„π–Ίπ—‡ 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺 𝗄𝖾 𝖺𝗋𝖺𝗁 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗁 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂𝖺 𝗉𝗂𝗃𝖺𝗄.


"π–ͺπ–Ίπ—†π—Ž 𝖺𝖽𝖺 π—†π–Ίπ—Œπ–Ίπ—…π–Ίπ— 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 π—„π–Ύπ—…π—Žπ–Ίπ—‹π—€π–Ί?" 𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺𝗇𝗒𝖺 π—Œπ–Ίπ—†π–»π—‚π—… π–»π–Ύπ—‹π—ƒπ—ˆπ—‡π—€π—„π—ˆπ—„ 𝗄𝖾 𝖺𝗋𝖺𝗁 π–»π—ˆπ–Όπ–Ίπ— 𝗅𝖾𝗅𝖺𝗄𝗂 π—‚π—π—Ž.


𝖣𝗂𝖺 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗃𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾 𝖺𝗋𝖺𝗁 𝗅𝖺𝗂𝗇, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 π—†π–Ίπ—Ž 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖾 π—Œπ—‚ 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗇𝗒𝖺 π—‚π—π—Ž.


"π–ͺπ–Ίπ—†π—Ž 𝗅𝖺𝗉𝖺𝗋 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄?"


"𝖳𝗂-" 𝗍𝗂𝖻𝖺-𝗍𝗂𝖻𝖺 π—Œπ–Ύπ–»π—Žπ–Ίπ— π—Œπ—Žπ–Ίπ—‹π–Ί π—„π–Ύπ—‹π—ˆπ—‡π–Όπ—ˆπ—‡π—€π–Ίπ—‡ 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗍 𝗄𝖾𝖼𝗂𝗅 π—‚π—π—Ž.


𝖢𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗆𝖻𝗂𝗍 π—‰π—Žπ—π—‚π— π—Œπ–Ίπ—…π—ƒπ—Ž π—‚π—π—Ž π—π–Ύπ—‹π—Œπ–Ύπ—‡π—’π—Žπ—† π—…π–Ύπ—†π–»π—Žπ— 𝖽𝖺𝗇 π—†π–Ύπ—‡π–Ύπ—‰π—Žπ—„ 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖼𝗂𝗅 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗅𝖺𝗇.


"𝖦𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 π—„π–Ίπ—…π–Ίπ—Ž 𝗄𝗂𝗍𝖺 𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 π–»π–Ύπ—‹π—Œπ–Ίπ—†π–Ί?" 𝖺𝗐𝖺𝗅𝗇𝗒𝖺 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇 π—‹π–Ίπ—€π—Ž 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖺𝗐𝖺𝗋𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 π—‚π—π—Ž, 𝗍𝖾𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 π—Œπ–Ύπ—‡π—’π—Žπ—†π–Ίπ—‡ 𝗒𝖺𝗇𝗀 π—…π–Ύπ—†π–»π—Žπ— 𝖽𝖺𝗇 𝗍𝖺𝗍𝖺𝗉𝖺𝗇 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝗄𝖺𝗇, 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇 π—†π–Ίπ—Ž π—‚π—„π—Žπ— 𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 π–»π–Ύπ—‹π—Œπ–Ίπ—†π–Ί.


"𝖲𝗂𝖺𝗉𝖺 π—‡π–Ίπ—†π–Ίπ—†π—Ž?" 𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 π—‚π—π—Ž π—†π–Ύπ—†π—Žπ—…π–Ίπ—‚ 𝗉𝖾𝗋𝖼𝖺𝗄𝖺𝗉𝖺𝗇.


"𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇, 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇 𝖣𝖾 π–΅π—ˆπ—Œπ–Όπ—ˆ."


"𝖣𝖾 π–΅π—ˆπ—Œπ–Όπ—ˆ, 𝗒𝖺... 𝖠𝗉𝖺𝗄𝖺𝗁 π—„π–Ίπ—†π—Ž π—π–Ίπ–»π—‚π—Œ 𝖻𝖾𝗋𝗆𝖺𝗂𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄-𝖺𝗇𝖺𝗄 π–»π–Ίπ—‡π—€π—Œπ–Ίπ—π–Ίπ—‡ 𝗅𝖺𝗂𝗇?"


𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖺𝗆 π—Œπ–Ίπ—†π–»π—‚π—… 𝖻𝖾𝗋𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇, π—„π–Ύπ—†π—Žπ–½π—‚π–Ίπ—‡ 𝗂𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗐𝖺𝖻, " 𝖳𝗂𝖽𝖺𝗄. 𝖬𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 π—Œπ–Ύπ—†π—Žπ–Ί 𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝖻𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇."


𝖢𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 π—‚π—π—Ž 𝗍𝖾𝗋𝗍𝖺𝗐𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗋 𝗃𝖺𝗐𝖺𝖻𝖺𝗇 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇.


"π–ͺ𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗇𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗍𝖺𝗐𝖺? 𝖠𝗉𝖺 π–Ίπ—„π—Ž π—Œπ–Ίπ—…π–Ίπ—?"


"𝖳𝗂𝖽𝖺𝗄... π–©π–Ίπ—π–Ίπ–»π–Ίπ—‡π—†π—Ž 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋, π—„π—ˆπ—„," 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 π–»π–Ύπ—‹π–½π—Žπ–Ί 𝖻𝖾𝗋𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇 𝗅𝖺𝗀𝗂.

__ADS_1


"𝖭𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗇𝖽𝖺 π—Œπ—‚π–Ίπ—‰π–Ί?" π—Œπ–Ύπ—„π–Ύπ—π—‚π—„π–Ί 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 π–»π–Ύπ—‹π–Ίπ—†π–»π—Žπ— π—‚π—π—Ž π—π–Ύπ—‹π—Œπ–Ίπ–½π–Ίπ—‹. " 𝖠𝗁... 𝖬𝖺𝖺𝖿𝗄𝖺𝗇 π–Ίπ—„π—Ž. π– π—„π—Ž 𝗁𝖺𝗆𝗉𝗂𝗋 π—Œπ–Ίπ—ƒπ–Ί π—…π—Žπ—‰π–Ί. 𝖯𝖺𝗇𝗀𝗀𝗂𝗅 π—Œπ–Ίπ—ƒπ–Ί 𝖑𝗂𝖺𝗇𝖼𝖺."


𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗋𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺𝗇𝗒𝖺. " 𝖠𝗇𝖽𝖺 π—Œπ–Ύπ—‰π–Ύπ—‹π—π—‚π—‡π—’π–Ί π–»π—Žπ—„π–Ίπ—‡ 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗄𝖾𝗋𝖺𝗃𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗂."


"𝖀𝗆𝖺𝗇𝗀 π–»π—Žπ—„π–Ίπ—‡," 𝖑𝗂𝖺𝗇𝖼𝖺 π—„π–Ύπ—†π—Žπ–½π—‚π–Ίπ—‡ π–»π–Ύπ—‹π—ƒπ—ˆπ—‡π—€π—„π—ˆπ—„ 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝖽𝖺𝗉 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇.


"π–ͺπ–Ίπ—…π–Ίπ—Ž π—„π–Ίπ—†π—Ž π—†π–Ύπ—‹π–Ίπ—Œπ–Ί π—„π–Ύπ—Œπ–Ύπ—‰π—‚π–Ίπ—‡, π—„π–Ίπ—†π—Ž π–»π—‚π—Œπ–Ί π—†π–Ύπ—†π–Ίπ—‡π—€π—€π—‚π—…π—„π—Ž 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗂."


𝖑𝗂𝖺𝗇𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗋𝖺𝗁𝗄𝖺𝗇 π—Œπ–Ύπ–»π—Žπ–Ίπ— π—…π—ˆπ—‡π–Όπ–Ύπ—‡π—€ 𝗄𝖾𝗉𝖺𝖽𝖺𝗇𝗒𝖺.


𝖢𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 π—‚π—π—Ž π—†π–Ύπ—‡π—ˆπ—…π–Ύπ— 𝗄𝖾 𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗅𝖺𝗄𝖺𝗇𝗀. 𝖳𝖺𝗆𝗉𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 π–’π–Ίπ—…π—‚π—Žπ—Œ π—Œπ–Ύπ–½π–Ίπ—‡π—€ 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗃𝗂𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺𝗇𝗀 π—Œπ—Žπ—„π–Ί 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀.


"𝖩𝖺𝗀𝖺 𝖻𝖺𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝗂 𝖻𝖺𝗂𝗄-𝖻𝖺𝗂𝗄. 𝖨𝗇𝗀𝖺𝗍. π–ͺπ–Ίπ—…π–Ίπ—Ž π—„π–Ίπ—†π—Ž π—†π–Ύπ—‹π–Ίπ—Œπ–Ί π–»π—ˆπ—Œπ–Ίπ—‡ 𝖽𝖺𝗇 π—„π–Ύπ—Œπ–Ύπ—‰π—‚π–Ίπ—‡, 𝗉𝖺𝗇𝗀𝗀𝗂𝗅 π–Ίπ—„π—Ž," 𝖑𝗂𝖺𝗇𝖼𝖺 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝗂𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇.


"𝖲𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 π—ƒπ—Žπ—†π—‰π–Ί, 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗇..."


Chris dan Allan terdiam satu sama lain. " Apakah kamu sering memanggil dia?"


"Tidak sering, sih. Aku memanggil tiap sebulan sekali. Dan aku terkahir bertemu saat aku menginjak usia 14 tahun."


Allan kemudian merebahkan dirinya di atas sofa. " Dia adalah satu-satunya orang yang mengajak aku bermain, mendengar curhatanku, dan memberi kasih sayang padaku. Itulah awal aku menyukainya."


"Kau bilang... Kamu terakhir bertemu dengan ratu saat berusia 14 tahun, bukan? Bagaimana dengan setelahnya?"


"Loncengnya hilang saat aku pergi ke festival berburu," jelas Allan.


"Dan setelah itu, selama 8 tahun, aku tidak bertemu dengannya dan saat aku bergabung dalam organisasi ini, akhirnya aku bertemu dengannya."


Chris terdiam sambil menatap Allan yang sedang berusaha tidur.


"Hah?" ujar Chris bingung.


"Aku dengar dari Gladys, kamu dulu memiliki hubungan asmara dengan seseorang wanita."


Chris tidak menjawab apa-apa, kemudian beberapa menit ia menjawab, " Itu sudah lama sekali."


Chris bangkit dan hendak pergi meninggalkan Allan yang sedang istirahat. Ia menutup pintu tersebut dan menghela nafas sambil bersender di depan daun pintu.


Mendengar hubungan asmara, Chris tidak bisa lepas dari ingatan masa lalu tentang seorang wanita yang ia cintai dulu.


"Rupanya kamu ada di sini," ujar James menghampiri lelaki itu.


"Ada apa ketua?"


"Apakah kamu ada kesibukan akhir-akhir ini?" dahi Chris langsung mengkerut.


Tumben sekali sang ketua menanyakan hal seperti itu. "Tidak. Kenapa?"


"Kalau begitu temani aku untuk pergi ke suatu tempat."


Chris masih bingung dengan perkataan lelaki itu, tetapi karena yang meminta adalah sang ketua, mau tidak mau ia harus menuruti perkataan dia.


...****************...

__ADS_1


"Oh... Kalian sudah mengerjakan semuanya?" ujar Rossa kagum dengan kerja keras mereka bertiga.


"Apakah ini saja?" tanya Vero kepada Rossa.


"Belum semuanya. Hari ini ada tamu penting dari kerajaan lain."


"Keluarga kerajaan?" tebak Giselle dan Rossa menggelengkan kepala.


"Bukan. Mereka bukan dari keluarga kerajaan. Hanya sekelompok penting yang akan berkunjung."


"Nyonya Harris... Tamunya sudah datang."


"Untuk sekarang, kalian bisa beristirahat," setelah Rossa pergi meninggalkan ketiga wanita itu, mereka langsung jatuh lemas dan menghela nafas lega.


"Astaga... Ternyata tugas sebagai pelayan lebih merepotkan, ya..." ujar Giselle dan dianggukin oleh Vero dan Bianca.


"Gimana kalau kita lihat-lihat desa ini. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu.


Mereka bertiga memutuskan untuk berjalan melihat-lihat keadaan desa khusus wanita. Walaupun desa ini berisi wanita semua, beberapa pria boleh memasuki desa tersebut dengan surat ijin ataupun sebuah diplomatis.


"Apakah mereka tamunya?" tunjuk Giselle ke arah dua pria yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Vero menyimpitkan kedua matanya dan memajukan kepalanya. Rasanya kedua pria itu sangat familiar baginya.


"Kalian berdua..." Vero berjalan mendekati kedua pria itu memastikan bahwa penglihatan Vero tidak salah.


"Ah... Veronica. Ternyata kamu ada di sini?" Bianca dan Giselle segera menghampiri mereka bertiga dan betapa terkejutnya melihat sosok dua pria di hadapan Bianca.


"Dan juga... Kamu tidak sendirian rupanya."


Vero hanya menghela nafas sambil memutar kedua bola matanya.


"Kenapa kalian berdua ada di sini?" tanya Bianca memulai percakapan.


"Tugas. Seperti biasa," balas James.


"Kalian sudah datang rupanya-" ujar Rossa menghampiri tamu dan ia langsung berhenti melihat sosok yang ia kenal.


"Selamat siang, Nona Harris. Bagaimana kabar anda?" sapa James memasang wajah ramahnya.


"Ah... Kabar saya baik, Tuan Ratoulle."


"Psstt... Kalian merasa ada yang aneh dengan Jendral Harris, tidak?" ujar Giselle menyadari tingkah aneh dari Rossa.


"Aku sudah merasakan hal ini barusan," ucap Vero.


Sementara itu, Bianca masih memandang Chris yang dari tadi diam saja. Ada sesuatu yabg selalu disembunyikan oleh Chris.


"Kalau begitu silahkan masuk ke dalam, tuan-tuan..." Rossa mempersilahkan Chris dan James untuk masuk ke dalam.


Ketiga wanita itu memandang mereka sampai mereka masuk ke dalam penginapan.


"Yang mulia... Menurutmu Jendral Harris bertingkah aneh, tidak sih?" ujar Giselle menanyakan hal itu kepada sang ratu.

__ADS_1


Bianca mulai tersadar dari lamunan dan berkata, " Entalah... Aku tidak mau ikut campur urusan orang lain."


Vero mengangguk seolah-olah dia setuju dengan jawaban sang ratu. " Kalau begitu kita pergi sekarang."


__ADS_2