
Chris melepas jeweran telinga Richard dan pemuda berusia 20 tahun itu meenggesekan telinganya yang habis dijewer oleh seniornya.
"Sakit tau!!" ujar Richard kesal kepada Chris.
"Kenapa kamu berkeliaran, Richard? Jangan dibiasakan seperti itu meskipun kita sudah sering ke sini."
Richard langsung cemberut dan mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kembali ke markas.
"Chris..." saat mereka telah kembali, Chris dan Richard langsung menoleh ke arah Bella dan Gladys.
"Kau dipanggil oleh ketua sekarang," ucap Bella kepada lelaki tersebut.
Chris menghela nafas panjang. Pasti ada yang dia bicarakan kepadanya. Entah itu bicara santai atau serius.
"Baiklah... Aku akan pergi," ucap Chris berjalan meninggalkan mereka bertiga.
Richard mulai penasaran kenapa si ketua ingin berbicara secara empat mata dengan Chris dan bertanya kepada kedua perempuan itu.
"Aku tidak tau. Ketua hanya menyuruhku untuk memanggil dia ketika kalian sudah kembali."
"Bagaimana dengan kunjungan ke Istana Aspendia?" kini Gladys bertanya mengganti topik.
"Sang ratu lagi pergi. Kata kepala pelayan dia akan pulang lebih lama, jadi kita putuskan untuk kembali ke istana besok."
Sementara itu, Chris sudah memasuki ruang kerja sang ketua dan menunggu ketua itu berbicara.
"Chris... Ada yang saya bicarakan denganmu berdua."
Chris terdiam menunggu kelanjutan dari sang ketua. Pertama kalinya ia berbicara secara empat mata dengan ketua.
Biasanya dia akan berbicara dengan dirinya ketika sedang makan malam bersama dengan anggota lainnya.
"Tentang Kerajaan Hulta di bagian barat Pulau Aldatia. Bisakah kamu mengatasi itu?"
"Maksud ketua... Aku akan pergi dan mengivansi ke sana begitu?"
Dia tidak menjawab sama sekali. "Ya... Kamu tau, kan apa tujuan utama kita?"
"Menguasai seluruhnya."
"Bagus... Dan juga kita harus cepat-cepat mengambil ahli kekuasaan kerajaan itu karena ada beberapa oknum yang ingin menghancurkan kita."
"Baik," ucap Chris tegas.
"Oh! Ada satu lagi, Chris."
"Besok kamu dan Richard akan pergi menemui Ratu Bianca, bukan? Tolong berikan ini kepada sang ratu," ketua menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya.
Chris penasaran dengan isi kotak tersebut, namun niat diurungkan karena itu tidak sopan. Hanya ketua dan sang ratu yang tau isi kotak tersebut.
"Baiklah... Kamu bisa pergi sekarang," Chris menunduk sedikit dan bergegas keluar dari ruangan.
__ADS_1
Lelaki itu sedikit melirik ke arah ketua yang sedang menghela nafas panjang. Walaupun dari kejauhan, Chris bisa melihat ekspresi ketua yang sedih.
...****************...
"Jadi... Ini tempatnya?" tanya Aaron sambil memandang kuil yang megah dengan takjub.
"Pantas saja diberi nama Kuil Putih Utara, seluruh bangunan ini dicat bewarna putih."
"Ayo kita masuk," ajak Bianca kepada kedua lelaki itu. Saat mereka bertiga masuk ke dalam, mereka bertemu seorang pria berusia 70 tahun sedang berdiri memandang patung besar.
"Kalian sudah datang rupanya," ucap pria itu akhirnya.
"Darimana kamu tau kalau kita ada di sini?" tanya Oscar bingung.
"Tentu saja aku tau itu, anak muda. Kemarilah..."
Mereka bertiga mengikuti pria tua itu dan akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besar putih salju dengan ukiran butiran salju besar.
"Silahkan masuk ke dalam dan semoga kalian kembali dengan selamat."
Pria tua itu berjalan meninggalkan mereka bertiga dengan penuh kebingungan.
"Apaan pria tua itu? Dia bilang kalau kita harus dalam keadaan selamat waktu kembali?"
"Mungkin di dalam ada perangkap," jawab Oscar kepada Aaron.
"Bah!! Perangkap-perangkap apanya?" balas Aaron menyepelekan hal ini.
Bianca hanya tersenyum masam mendengar ucapan Aaron. Awas aja kamu ngeluh nanti?
Saat memasuki ke dalam kuil, mereka disambut oleh roh-roh misterius yang mencoba menyerang mereka.
Dengan cepat, Aaron dan Oscar segera menyerang roh-roh tersebut hingga roh-roh itu menghilang akibat serangan kedua lelaki itu.
Tiba-tiba Bianca teringat dengan sebuah permainan RPG, dimana ada warrior, tanker, dan magic berkumpul dalam satu unit dan mencari sebuah harta karun lewat sebuah labirin yang disebut dugeon.
"Baru masuk sudah disambut oleh roh-roh tidak jelas..." gumam Aaron.
"Mereka adalah roh pelindung kuil ini. Tugasnya ya... Melindungi dari orang-orang yang mencoba memasuki kuil tersebut," jelas Aaron di tengah perjalanan mencari kotak yang disebut oleh Jacob.
"Pantesan saja pak tua itu berkata seperti itu."
Mereka bertiga berhenti dan menemukan sebuah 2 pintu di hadapannya.
"Ada 2 pintu.... Kita harus lewat mana?" ujar Oscar bingung sambil berpikir.
"Lewat sini," ajak Bianca dengan santainya berjalan menuju ke arah kiri.
"H-hei... Kenapa memutuskan sendiri, kalau ada perangkap lagi gimana?" balas Aaron sedikit protes.
"Sudahlah... Percayakan saja sama aku," akhirnya mereka memasuki pintu kiri dan benar saja, tidak ada perangkap sama sekali.
__ADS_1
Beberapa meter berikutnya, ada roh-roh pelindung kuil lagi dan dengan gampangnya mereka berhasil mengalahkan roh tersebut.
Seketika Bianca sedikit takjub apa yang ia lihat. Ia merasa bahwa ia sedang memainkan game RPG versi virtual alias ia bisa mengalahkan monster dengan kekuatannya sendiri.
Sangat menakjubkan!!
Setelah mereka berjalan-jalan mencari kotak yang diminta oleh Jacob, akhirnya mereka memutuskan untuk rehat sejenak.
"Astagaaa.... Tempat apaan ini? Kenapa berasa luas sekali sih?" keluh Aaron sambil jatuh terduduk karena kecapekan.
Sudah kuduga... batin Bianca sambil menggelengkan kepalanya. Begitupun juga dengan Oscar yang juga merasa kelelahan.
"Baiklah kita istirahat sejenak."
Mereka bertiga memutuskan untuk beristirahat dengan membentuk segitiga.
"Yabg mulia... Apa yang mulia tidak capek?" tanya Oscar merasa khawatir. Ia tau kalau sang ratu dalam keadaan sakit-sakitan.
Lelaki muda itu sebenarnya memprotes kepada ayahnya yang meminta kepada Bianca untuk mengambil kotak yang ia inginkan.
Padahal sang ratu sedang sakit-sakitan, terutama penyakitnya itu bisa merenggut nyawa seseorang.
"Tidak apa-apa, Oscar. Aku masih kuat. Lihatlah... Aku masih kuat, bukan?" Aaron yang hanya diam sambil melirik hanya menghela nafas panjang.
"Baiklah... Ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
Mereka bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanan. Tidak terasa mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan penyimpanan khusus dimana kotak yabg terbuat dari permata indah itu ada di sana.
Tetapi, seekor monster besar menghalangi mereka dan mau tidak mau, Bianca, Aaron, dan Oscar harus melawan monster tersebut.
Beberapa kali ronde saja, akhirnya mereka berhasil mengalahkan monster tersebut dan segera mengambil kotak yang diminta oleh Jacob.
Bianca mengambil kotak tersebut dan sebuah cahaya menerangi di sekeliling kota itu.
Kotak itu terbuka dengan sendirinya dan menampakan sebuah permata biru Saphire yang indah itu.
"Batu itu, kan..." seketika Oscar terkejut bukan main melihat batu permata yang ada di dalam kotak itu.
"Ada apa Oscar?" tanya Aaron kebingungan, begitupun juga dengan sang ratu.
"Itu... Batu Permata Aspendia!! Batu pasangan dengan Batu Ktistal Aspendia!!"
"Apa?!" ujar Bianca dan Aaron dibuat kebingungan lagi.
...****************...
Batu Kristal Aspendia perlahan bersinar saat ketua sedang selesai dengan tugasnya. Ia melirik ke arah batu kristal yang secara misterius menyala.
Tetapi, tidak lama batu tersebut justru kembali sirna dan menjadi hitam pekat.
Ia merasa bahwa batu pasangannya, batu permata itu sudah diambil oleh sang empunya.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Bianca Alba Aspendia, Ratu Kerajaan Aspendia.
Dan kali ini, selama bertahun-tahun akhirnya si ketua keluar dari tempat persembunyiannya. Ia akan pergi ke Kerajaan Aspendia ke sana.