
3 hari yang lalu...
Bianca memandang secangkir minuman dari Dokter Atkinson.
"Apa ini dokter?" tanya Bianca kebingungan.
"Ini adalah minuman pengganti obat, yang mulia. Minuman ini sangat berkhasiat untuk menurunkan pusing dan muntah darah."
Bianca memiringkan kepalanya. "Minuman apa ini, dokter?"
"Ini adalah Teh Bunga Adropeda, yang mulia. Bunga ini memang sangat langka ditemukan, tetapi bunga ini sangat berkhasiat."
Aaron dan Patrick memandang sang ratu yang sedang mengambil cangkir tersebut.
"Baiklah..." ia meminum teh tersebut secara perlahan hingga habis.
Rasanya seperti teh melati batin Bianca setelah menghabiskan teh dari Dokter Atkinson.
"Bagaimana, yang mulia? Apa ada gejala lain?"
Bianca terdiam sejenak, begitupun juga dengan kedua pria tersebut yang diam menunggu balasan sang ratu.
"Rasanya... Manis?"
"Manis?"
"Iya. Seperti Teh Bunga Melati?" Dokter Atkinson menoleh ke arah dua pemuda di seberang sana.
"Perasaan saat aku melakukan riset dan mencicipinya, tidak manis..." gumam Dokter Atkinson sambil berpikir keras.
"Kami tidak yakin, dokter? Coba saja tehnya," ucap Bianca menawarkan teh itu ke dokter dan kedua pria di sana.
Mereka berdua mencoba teh buatan dokter itu dan mencicipi hingga dalam.
"Tidak, yang mulia... Ini tidak manis yang anda sebutkan," balas Patrick kemudian.
"Masa sih?" kemudian Bianca mencoba sekali lagi dan mencicipinya.
"Manis, kok. Lidah kalian saja yang aneh."
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain. Akhirnya mereka mencoba sekali lagi dan hasilnya tetap sama, tidak manis.
"Sebenarnya... Teh ini tidak manis yang anda bilang, yang mulia. Rasanya tawar dan pahit seperti obat."
Bianca langsung memiringkan kepalanya. Bingung dengan indra perasanya yang aneh.
"Bagaimana dengan hasilnya, yang mulia? Apa pusingnya sudah turun atau semakin jadi?" tanya Dokter kembali ke topik.
Bianca menggeleng lemah. "Belum ada efek sama sekali di aku...."
"Baiklah... Kalau begitu anda harus istirahat. Efek dari teh ini bisa anda ngantuk dan tidur. Lebih baik istirahat sampai besok."
"Kalau begitu saya permisi dulu," Ucap Dokter Atkinson pamit dan meninggalkan kamar sang ratu.
"Saya juga permisi dulu, yabg mulia. Kay pasti mencariku setelah ini," kata Patrick juga meninggalkan kamar Bianca.
Dan kini, tinggal mereka berdua di kamar sang ratu.
"Aneh..."
"Aneh kenapa?" tanya Aaron bingung.
"Rasanya sedikit aneh pas kamu ada di sini."
"Hah?"
__ADS_1
"Ya... Kamu tau, kan. Akhir-akhir ini kamu jarang banget tidur di sini."
Aaron diam mendengar jawaban dari sang ratu. "Ya... Sekarang sudah beda. Sekarang banyak orang yabg masuk ke istana dan juga aku lagi ada kesibukan."
"Kesibukan apa?" tanya Bianca penasaran.
Aaron tidak menjawab apa pun kepada gadis berambut putih itu. Belakangan ini ia sering membantu Dokter Atkinson meracik obat untuk sang ratu beserta Patrick, penyihir agung itu.
"Pokoknya sibuk, lah... Kenapa? Kangen sama aku?" balas lelaki itu dengan percaya diri.
Bianca terdiam beberapa saat, kemudian ia memegang dadanya yabg terasa sakit.
Aaron yang melihat tingkah laku sang ratu yang aneh, langsung menghampiri Bianca dan bertanya kepadanya, " Ada apa?"
Nafas perempuan itu tersengal-sengal sambil menekan dadanya yang sakit.
"Sial... Kamu tunggu di situ, oke?" ucap lelaki itu dan segera memanggil dokter.
"Dokter Atkinson!!" seru Aaron berlari mengejar dokter itu.
"Ada apa, nak? Mukamu pucat sekali..."
"Per- maksudku yang mulia sedang bahaya!!"
"Apaa?!"
...****************...
"Sudah 3 hari yang mulia belum kunjung sadar..." ucap Dokter Atkinson sambil menghela nafas berat.
"Apa jangan-jangan karena teh itu?" tebak Jacob akhirnya.
"Tidak mungkin. Sekalipun ada racun, kita bertiga yang minum satu teko dengan beliau masih sehat-sehat saja sampai sekarang," balas Aaron membela diri sambil menoleh ke Patrick dan Dokter Atkinson.
Dan mereka berdua mengangguk mantap sebagai bukti.
"Ah! Benar... Padahal rasa aslinya itu tawar dan pahit seperti obat," balas Dokter Atkinson membetulkan argumen Patrick.
"Apa jangan-jangan yang mulia punya riwayat alergi sesuatu?" tanya Giselle tebak.
"Tidak, Giselle. Selama aku bekerja sebagai dokter istana dan merawat sang ratu, yang mulia tidak memiliki riwayat alergi apapun."
"Terus... Kenapa bisa begitu?" mereka semuanya langsung berpikir keras.
Oscar tanpa sengaja melirik sosok yang ia kenal dan diam-diam ia mengikuti orang itu.
"Hey kamu!!" seru Oscar mengejar Jenny.
"Kamu kemana saja selama ini? Yang mulia mencari kamu."
Ternyata Jenny, si malaikat yang diutus oleh Tuhan untuk membantu Vina dalam kasus ini ada di kamar Bianca sekarang.
"Ah... Maaf. Aku tersesat," balasnya dengan lempengnya.
"Tersesat katamu?" Jenny mengangguk kecil.
Ia tidak bisa menjelaskan kenapa dia sampai tersesat. Pokonya dia tersesat gitu.
"Oscar... Kenapa dia tertidur seperti orang mati begitu?" tanya Jenny dengan santainya kepada Oscar.
Temannya lagi panik mencari dia, dianya dengan entengnya bilang ke orang lain bahwa temannya seperti mayat yang tertidur.
Akhirnya Oscar menceritakan asal muasal kenapa sang ratu begitu.
"Kamu bilang apa? Dia sesak nafas dan dadanya sakit setelah minum ramuan untuk kesembuhan dia?"
__ADS_1
Oscar mengangguk mantap.
"Minuman apa yang dia diberikan?"
"Teh Bunga Adropeda," mendengar itu, kedua mata Jenny langsung melebar.
"Aduh... Mampus deh..." gumam Jenny yang panik walaupun tidak menujukan ekspresi apapun.
"Ada apa? Ada masalah?"
Jenny menggeleng dan dia menoleh ke Bianca yang sedang tertidur.
"Kamu ngapain?" tanya Oscar heran ketika malaikat itu mendekat ke arah sang ratu.
"Mau ngecek. Apakah dia masih hidup atau mati."
"Hei kamu... Walaupun aku tidak tau seberapa dekat hubungan kalian berdua, kamu tidak boleh ngomong seperti itu."
Jenny tidak menggubris nasehat dari lelaki itu
"Aku tidak bermaksud menyakiti hati dia," Jenny mengecek hembusan nafas angin dari Bianca yang masih normal atau tidak.
Kemudian, raut wajahnya sedikit berubah dan mengecek detak nadi di area pergelangan tangan Bianca.
Setelah mengecek berulang kali, ia melepaskan tangan sang ratu dengan lemah dan menjauh secara perlahan.
"Ah... Tidak..."
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Oscar dengan polos.
"Dia... Dia meninggal..." Oscar langsung tidak percaya dengan perkataan Jenny dan langsung mengecek detak nadi sang ratu.
"Yang mulia... Bangun, yang mulia!!"
"Yang mulia!!" seru lelaki itu sambil menggoyangkan tubuh ratu.
"Ada apa, Oscar? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Jacob membuka pintu kamar sang ratu dan menghampiri anak lelakinya.
Oscar jatuh dengan lemas dengan tangisan yang tidak bisa ditahannya.
"Yang mulia... Yang mulia..." mendengar perkataan aneh dari Oscar, Dokter Atkinson mengecek keadaan sang ratu.
Dokter Atkinson memutar badannya ke arah mereka yang menunggu jawaban darinya.
"Yang mulia... Yang mulia sudah... Sudah meninggalkan kita selamanya."
Giselle langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aaron langsung menghampiri sang ratu dan berusaha membangunkan Bianca.
Jacob dan Markus hanya bisa diam dengan kesedihan, sementara Kay dan Gerda yang tidak sengaja mendengar kabar buruk dari ratu hanya bisa melihat kejauhan dengan rasa sedih yang mendalam.
Sementara itu, Jenny secara perlahan menghilang dan langsung melapor ke tuannya.
...****************...
"Ada kabar buruk!!" seru seseorang warga yang tiba-tiba mendobrak pintu dan mengumumkan kepada semua orang.
"Ada apa Alfonso? Kabar buruk apa?" tanya Bartender yang sibuk membuat pesanan untuk pelanggan.
"Yang mulia... Yang mulia meninggal dunia!"
Mendengar ada kabar buruk, Allan langsung bangkit berdiri dengan keadaan syok.
Gladys hanya diam saja dengan posisi duduknya. Ia .terkejut dengan kabar yang mendadak sekaligus menjadi kabar buruk bagi Kerajaan Aspendia.
"Habiskan minummu, Gladys. Kita akan kembali ke markas secepatnya. Aku yakin mereka sudah mendengar kabar ini."
__ADS_1
Gladys mengangguk saja dan langsung meminum hingga habis ketika bartender itu datang membawa minuman mereka.