
𝙑𝙞𝙣𝙖'𝙨 𝙋𝙊𝙑
Aku membuka kedua mataku secara perlahan. Kamar yang berbeda dengan kamarku, tetapi kamar yang sama dengan kamar di mimpiku sebelumnya.
Apa jangan-jangan ini masa kecilnya Bianca?
Tiba-tiba seorang pelayan wanita membukakan pintu kamar dan menyambutku dengan sopan.
"Selamat pagi, tuan putri. Hari ini, tuan putri harus bersiap-siap untuk kelas hari ini."
Aiisshh... Kenapa pagi-pagi sudah mendengar begitu sih?
Mau tidak mau aku langsung bangun dan bersiap-siap untuk kelas pagi.
Aku memasuki sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang kelas pribadi dan disambut oleh seorang wanita dewasa berkacamata dengan wajah jutek dan dingin ke arahku.
Ya ampun...
Baru masuk sudah disambut tatapan menakutkan.
"Tuan putri, hari ini adalah kelas dansa. Jadi ikuti gerakan saya dengan baik."
Aku melihat dengan seksama gerakan-gerakan yang ditunjukan oleh guru itu.
Ternyata susah juga memperhatikan gerakan-gerakan dansa ini.
"Sekarang tuan putri, coba praktekan gerakan-gerakan yang saya tunjukan."
Seperti mimpi kemarin, aku tidak bisa menggerakan tubuh ini dan hanya bisa melihat apa yang 'Bianca' lakukan.
Baru gerakan pertama, aku bisa merasakan kalau ada yang salah.
'Cukup!!" seru si guru itu memberhentikanku.
"Gerakanmu salah. Dan juga, langkah kakimu tidak pas sesuai ketukan. Anda harus memberi hukuman, tuan putri."
Apaan ini? Masa kesalahan kecil gini dikasih hukuman.
Guru itu mengambil sebuah tongkat tipis dan menyuruhku untuk mengangkat rok gaunku.
Tentu saja aku tidak bisa menggerakan tubuh ini dan rok gaunku sudah kuangkat tanpa aku perintahkan.
TAAKK!!
Aku bisa merasakan betisku dipukul oleh tongkat tipis dari guru killer itu.
Sakit banget sumpah...
"A-ampuunnn.... Saya akan berusaha dengan semaksimal mungkin...."
"Ini sudah 10 kali anda mengampuni saya, yang mulia..."
TAKK!!
F**k!! Sialan banget nih guru!! Sakit tau!!
Ahh... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit luar biasanya betis kaki ini.
Bagaimana jalannya, ya?
Masa aku harus ngesot?
Setelah kelas dansa bagaikan neraka di musim salju ini, aku kembali ke kamarku dengan ngesot.
Beneran ngesot!!
__ADS_1
Udah gitu jarak ke kamar jauh banget.
Tidak ada satupun pelayan yang mau membantuku ke kamar, tidak?
Aku melihat beberapa pelayan yang sedang menatapku dengan pandangan kasihan.
Bahkan ada yang nertawain aku.
Pantas saja Bianca tidak mau memperkerjakan pelayan lain selain Calius. Pelayannya sama-sama bejat sama si guru.
Aku akhirnya melanjutkan perjalanku dengan ngesot lantai. Bodoh amat kalau pelayan lain marah-marah ke aku karena gaunnya kotor dan rusak akibat ngesot.
Sudah marah, tapi gak bantu. Makan gaji buta mereka.
Akhirnya aku sampai ke kamarku dan menutup pintu kamar dengan sekuat tenaga sambil ngos-ngosan.
Ternyata capek juga jalan pakai ngesot lantai.
Karena aku bisa menggerakan tubuh ini setelah kelas bajingan itu, aku berinsiatif untuk mengintip betis ini yang sudah menjadi korban pukulan guru setan itu.
Aku melihatnya merasa teringis dan sakit hati. Kedua betisku sudah membiru gelap bahkan kulitnya sudah keluar.
Aku merasa jijik melihatnya. Ahh siall!! Kenapa Bianca tidak melawannya sih?
Dia, kan punya kedudukan seorang putri. Seharusnya kalau ada guru yang tidak beres, pecat aja langsung.
Seketika aku teringat dengan ibunya Bianca, Ratu Demetria.
Mengingat ratu itu, aku makin kesal dengannya. Kini aku bisa paham kenapa Bianca tidak memecat guru setan itu.
Percuma.
Percuma kalau Bianca melapor ke ibunya, ujung-ujungnya, dia dimarahin oleh ibunya karena masa calon pemimpin lemah sekali.
IHHH...
"Aku dengar kalau kamu mendapat kesalahan saat kelas dansa, bukan?" kini aku berada di ruang makan bersama 'ibu'ku.
Tentu saja Bianca diam dan Ratu Demetria menghela nafas panjang.
Ia bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan anak perempuannya sendirian tanpa satu kata apapun dari mulutnya.
Boleh tidak sih kalau aku nyebut Ratu Demetria itu 'IBU DURHAKA'?
Emangnya anak saja dibilang anak durhaka, orang tua juga seharusnya ada, bukan?
Aku menghela nafas panjang. Sabar Vina... Ini cuman mimpi atau...
Ini mimpi tentang masa lalu...
Belum juga penderitaan Bianca selesai, aku melihat makanan yang disiapkan pelayan adalah sayur-sayuran yang sudah busuk.
Memang benar. Lebih baik pecat semuanya ajalah. Tidak setia dan tidak kerja dengan baik.
Aku menyingkirkan makanan menjijikan itu dan berjalan menuju ke dapur.
"Yang mulia..." ucap sang koki terkejut melihat kehadiranku.
"Aku ingin makan roti 5 buah," ucapku tegas.
"Tapi yang mulia, bukankah anda sudah malan malam barusan?"
"Makan malam? Yang ada hanya sayuran busuk dan tidak ada daging atau apapun. Kau pikir aku ini kambing?" ucapku marah.
Koki itu sedikit terkejut melihat ekspresiku yang marah. Bagus!! Untung aja aku bisa menggerakan tubuh ini.
__ADS_1
"T-tapi..."
"Saya tidak bisa memberikan itu, yang mulia."
"Tidak memberikan kepadaku? Kamu mau calon penerus mati kelaparan karena tidak dikasih makanan yang layak?" ucapku sekali lagi.
Dia segera memberikan 5 roti dalam keadaan bagus kepadaku. Aku langsung pergi meninggalkan koki itu yang sedang ketakutan.
Tentu saja pergi dengan mengesot lantai karena betisku masih sakit.
Dalam perjalan ke kamar, aku makan roti dengan lahap. Ya iyalah lahap, wong aku lapar banget.
Tiba-tiba sebuah penampakan kaki yang berada di depan mataku. Aku berhenti dan menoleh ke arah atas. Seorang kakek-kakek berpakaian pelayan menatapku dengan tajam ke arahku.
"Apa-apaan ini?" ucapnya setelah melihatku mengesot sambil makan roti dengan lahap.
Aku mah bodoh amat dibilang anak kekurang gizi atau apa yang penting aku kembali ke kamarku segera.
"Kenapa tuan putri berjalan seperti itu dan makan roti dengan berantakan begini?"
Lah terus kenapa?"
Aku ingin berkata sesuatu kepada kakek itu, tetapi aku tidak bisa mengukapkan apa yang aku lakukan.
"Maafkan saya. Saya tidak bisa berjalan karena aku kelas dansa tadi," peringatan, ini bukan aku yang ngomong.
"Kelas dansa?" tanya kakek itu kebingungan.
"Saya permisi dulu," tanpa aku gerakin tubuh ini, aku pergi meninggalkan kakek itu dengan ngesot dengan susah payah.
Aku tebak dia memperhatikanku berjalan yang aneh ini sampai aku menghilang dari pandangannya.
Aku memasuki kamarku dan menaiki kasur sekuat tenaga.
Astaga... Naik kasur aja susah sekali. Aku menghela nafas berat dan merebahkan dirinya di atas kasur.
Melihat apa yang terjadi selama ini, aku memberi kesimpulan bahwa Bianca pasti mengalami hal-hal yang sulit dilalui.
Ngomong-ngomong...
Aku tidak melihat dia menggambar sesuatu sampai saat ini. Apa karena ia tidak bisa ke ruangan gambarnya?
Ya sudahlah... Aku bisa melihat kegiatan dia kapan-kapan.
Aku menutup kedua mataku untuk beristirahat dengan tenang.
Aku membuka kedua mataku dan melihat Aaron sedang duduk di sebelahku.
"Kau sudah bangun?" aku berusaha bangkit dati tidurku dan duduk dengan santai.
Ia melihatku dengan tatapan yang tidak bisa aku jelaskan. Akhirnya aku bertanya kepadanya.
"Kenapa dengan mukaku?"
"Kamu tidak merasakan sesuatu darimu?"
Aku memiringkan kepalaku dengan kebingungan.
Ngomong apa sih dia?
"Kamu tertidur panjang lagi."
Tertidur panjang lagi?
"Berapa lama?"
__ADS_1
Dia terdiam beberapa saat. " Seminggu. Kamu tidur selama seminggu."
LAGI??!!