
"Apa-apaan ini?" Jacob dan Patrick terkejut melihat kondisi tubuh Oscar yang sangat berubah.
"T-tunggu... Kenapa kamu menjadi manusia biasa begitu?!" tanya Patrick masih syok dengan perubahan Oscar.
Oscar hanya diam saja tanpa menjawab apa-apa.
Jacob mengisyaratkan Patrick dan Calius untuk keluar ruangan dan dia ingin berbicara dengan dia berdua.
Mereka mengangguk paham apa yang Jacob maksud dan segeralah mereka keluar ruangan. Tinggalah mereka berdua di ruangan tersebut.
"Kamu baik-baik saja, bukan?"
Oscar mengangguk pelan. Jacob menghela nafas panjang. "Maafkan ayah...."
"Aku tau ayah pasti sakit ketika ibu meninggal, bukan?" ucap Oscar kemudian.
"Jadi... Aku menerima permintaan maafmu, ayah karena aku masih sayang dengan ayah."
"Oscar..." air mata lelaki paruh baya itu keluar tanpa sadari.
"Maafkan ayah Oscar... Aku juga sayang padamu...." ia langsung memeluk anak satu-satunya itu.
Oscar yang masih lemas hanya bisa diam saat ayahnya tiba-tiba memeluknya, seketika air matanya jiga turun dalam diam. Ia merasa terharu akhirnya ayahnya merasa sayang padanya.
"Bodoh... Kenapa harus menjadi gini sih..."
...****************...
Tiga hari setelah Oscar sadar dari masa kritisnya, akhirnya lelaki itu kembali bertugas. Dengan penampilan baru, membuat seluruh pasukan istana dibuat terkejut dengan kapten tersebut.
"Kapten?! Apakah ini kapten kami?!"
"Tentu saja ini aku!!" jawabnya sedikit protes.
Seketika beberapa pasukan lain langsung menyerbu ke arah Oscar. "Ini beneran anda, kapten? Kapten kelihatan berbeda sekali."
"Aku tau wujud manusia darimu, tapi aku tidak menyangka kalau penampilan kali ini sangat segar dan tampan."
"Akhirnya kapten kami sudah kembali!!" Oscar tersenyum simpul melihat rekan-rekannya serta anak buahnya merasa senang akhirnya kapten yang mereka banggakan telah kembali.
Ia melihat Gerda sedang berjalan menuju ke lapangan sambil membawa pedang kayunya untuk latihan.
"Nona Gerda!! Selamat pagi!!' Gerda menoleh ke arah lelaki itu dan menampilkan ekspresi aneh.
Pria itu tau maksud dari wajah aneh Gerda dan segera pergi menghampiri Gerda.
"Ah... Aku hampir saja lupa soal ini. Ini aku, Oscar, guru pedangmu. Ingat, kan?"
Seketika Gerda dibuat takjub dengan penampilan baru Oscar. "I-ini Oscar?!'
Oscar tertawa. "Tentu saja ini aku, nona muda."
"Kau kelihatannya sudah baikan sekarang," ucap Bianca tiba-tiba.
"Yang mulia..." ucap Oscar dan Gerda kompak.
Bianca langsung menyipitkan kedua matanya ke arah Oscar. Perasaan kemarin Oscar memiliki jabang rambut di area mulutnya.
"Oh... Yang mulia menyadari ini ya?" kata Oscar sambil mengelus area dagu dan kumisnya.
"Aku mencukurnya yang mulia," Bianca mengangguk paham.
"Kalau kamu cukur, keliatan muda."
Oscar tertawa dengan keras. "Sebenarnya... Usiaku masih 21 tahun, yang mulia."
Bianca langsung melotot ke arah kapten di depannya. "APA?! 21 KATAMU?!!"
Justru lelaki itu malah ketawa tanpa dosa.
__ADS_1
Bianca kemudian menghela nafas panjang. "Baiklah... Kalian berlatih sana."
Kemudian ia segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ah! Tunggu yang mulia!!" Oscar berlari mengejar sang ratu. "Ada apa?"
"Bisakah aku berbicara dengan teman anda yang selalu bersama yang mulia?" alis sebelah gadis itu terangkat satu.
"Untuk apa, Oscar?" tanya perempuan itu.
"Aku ingin berbicara sesuatu dengan dia," Bianca menghela nafas panjang.
"Sebenarnya... Dia tidak ada di sini."
"Maksudnya?"
"Setelah kamu sadar, dia langsung pergi begitu saja."
"Kemana dia?" tanya Oscar dan Bianca mengangkat kedua bahunya.
Malaikat itu suka ngilang tiba-tiba, datang tiba-tiba.
Bianca a.k.a Vina sempat mengomel ke arah malaikat itu karena suka hilang tanpa aba-aba.
Tetapi, reaksi malaikat itu seperti sudah biasa dan santai saja.
Dan semenjak malaikat itu berusaha membalikan kondisi tubuh lelaki itu sebelum kejadian, ia langsung menghilang tanpa ucapan sama sekali.
Dan sekarang, sudah 3 hari setelah Oscar sadar, Jenny tidak kunjung datang.
"Ah... Begitu ya..." Oscar pamit kepada sang ratu dan segera berjalan menuju ke Gerda yang sedang siap-siap.
"Bagaimana, Komandan Baraoske dan Jendral Stenberg?" ujar Bianca berjalan menghampiri tiga pemimpin legenda di Kerajaan Aspendia.
"Sepertinya kami menemukan kasus baru, yang mulia."
"Kasus baru?" tanya Bianca penasaran.
"Bisa dijelaskan apa yang terjadi."
Dari penjelasan Jacob, Gedung Topsith digunakan sebagai bangunan hiburan. Mulai dari teater, taman bermain, dan hiburan-hiburan lainnya.
Permasalahannya adalah pembangunan Gedung Topsith belum memberikan ijin kepada pemerintah. Yang artinya sang ratu tidak tau tentang pembangunan tersebut.
Pantas saja, Bianca sempat mendengar dari beberapa warga ada pembangunan gedung tersebut.
Dan pemilik gedung tersebut merupakan bangsawan dari kerajaan Altuvia, yang mana para bangsawan dilarang membangun usaha di kerajaan Aspendia seijin ratu.
Bianca yang mendengar itu langsung kesal.
Keterlaluan!!
Mentang-mentang sang ratu waktu itu lagi tidak ada, seenak jidatnya bangun gedung tanpa ijin.
"Sia bangsawan itu?"
"Duke Arcatia, yang mulia," jawab Markus kemudian.
"Cari bukti-bukti lain tentang pembangunan itu, kalau sudah mendapat bukti yang cukup, bawa dia ke sini."
"Baik yang mulia," jawab mereka berdua dengan kompak.
"Yang mulia..." ucap Jacob tiba-tiba. Bianca menoleh ke arah lelaki paruh baya itu.
"Ada apa Komandan?" tanya Bianca dibuat penasaran.
"Bisakah saya meminta tolong kepada anda, yang mulia?" Bianca menaikan sebelah alisnya dan Markus melirik ke arah Jacob yang juga penasaran.
"Apa itu, Komandan?"
__ADS_1
...****************...
"Kenapa minta tolong seperti ini sih?" ujar Bianca kesal.
"Maafkan ayah saya, yang mulia. Mungkin bagi ayah, anda bisa mengatasi persoalan ini," ujar Oscar meminta maaf.
"Ya... Gak apa-apa juga sih. Lagipula aku bisa jalan-jalan keluar istana," Oscar hanya tersenyum pasrah saja.
Tidak hanya Oscar saja yang menemani sang ratu, Aaron juga ikut dalam perjalanan kali ini.
Awalnya, Aaron tidak mengenali sama sekali dengan putra dari Komandan Baraouske ini, tetapi dengan sadar, Bianca menjelaskan kalau lelaki berambut merah cepak ini adalah Oscar.
Tentu ini membuat Aaron terkejut bukan main.
"Memangnya, Tuan Baraouske meminta anda apa, yang mulia?" tanya Aaron akhirnya.
"Katanya ada sebuah kuil di sekitar Hutan Utara Aspendia. Nama kuilnya kalau tidak salah Kuil Putih Utara."
"Kuil Putih Utara?" tiba-tiba Oscar terkejut dengan nama kuil tersebut.
"Kamu tau sesuatu, Oscar?" tanya Aaron kepada lelaki itu.
"Aku sering mendengar kisah dari ayah dan pasukan lainnya. Kuil itu terkenal sangat berbahaya. Hanya orang atau makhluk terpilih yang bisa masuk ke sana."
"Ah... Itulah kenapa ayahmu meminta kepadaku."
"Tapi... Bisa saja yang mulia bukan orang terpilih itu," Bianca langsung menatap Aaron dengan tajam.
"Emangnya di dalam kuil itu apa aja?"
"Harta karun."
"Harta karun katamu!" mendengar harta karun, Aaron langsung bersemangat bahkan tanpa sengaja menyenggol bahu Bianca dengan kuat.
"Rumornya seperti itu sih..."
"Berarti... Ayahmu memintaku untuk mengambil harta karun begitu?" tampaknya Bianca mulai kesal.
Pasalnya, seorang bawahan meminta atasan mengambil barang yang tidak terlalu penting.
"T-tidak... Walaupun aku tidak terlalu dekat dengan ayah, ayah bukan orang yang suka harta karun. Pasti dia ingin mencari sesuatu."
Bianca membuka kertas yang berisi gambaran dari Jacob itu. Sebuah kotak berukiran bunga mawar dengan warna ungu tua.
"Benar sih... Dia mintanya kotak ini," Oscar dan Aaron melihat lebih dekat hasil gambar dari komandan itu.
Di waktu yang sama, Giselle sedang mengambil buku-buku yang ia cari dan baca di perpustakaan.
"Permisi..." Ia tersentak sebentar, kemudian ia melirik ke arah samping.
"Apakah Yang mulia ratu ada?" tanya lelaki muda kepada Giselle.
"Yang mulia sedang pergi. Ngomong-ngomong... Kenapa anda bisa do sini, orang lain tidak boleh masuk ke istana sembarang orang lho..."
Pemuda itu tersenyum menyeringai dan menjawab, "Maafkan kelancangan saya, nona. Mungkin nona masih baru jadi anda tidak tau."
"Hah?" tanya Giselle bingung.
"Hei, Richard!! Darimana saja kamu!! Ujar Chris akhirnya menemukannya.
"Chris?"
"Maafkan teman saya, nona. Anak ini memang suka kabur seenaknya."
"Hei!! Aku sedang cari ratu salju tau!!" balas Richard protes.
Chris langsung membawa Richard pergi meninggalkan Giselle.
"Sampai ketemu lagi, nona cantik!! Aaww sakitt!!"
__ADS_1
Giselle memasang muka masamnya kepada mereka berdua.
"Mereka... Mereka siapanya yang mulia?"