Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 20 : Ciuman Pertama Bianca


__ADS_3

"Cepat sekali kamu mendapatkannya?" tanya Bianca setengah terkejut melihat telur naga putih di tangan Aaron.


"Ya... Ini tidak terduga sih..." balasnya dengan muka masam.


"Apa yang terjadi? Mukamu masam begitu?"


Aaron menghela nafas panjang dan menyerahkan telur putih itu ke arah Bianca. Ia langsung merebahkan diri ke atas kasur membuat Bianca kebingungan.


"Kamu kenapa sih?" lelaki itu tidak menjawab apa-apa justru ia memalingkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan Bianca.


"Kamu ngambek?" katanya penasaran.


Dia tidak menjawab sama sekali. Bianca meletakan telur naga itu dan mendekatkan dirinya ke arah Aaron.


"Hei... Jawab kek... Kamu kenapa?" lelaki itu memutar tubuh dan menjatuhkan tubuh sang ratu ke atas kasur.


Kini posisi Bianca dibawah Aaron. Apalagi dekat sekali lagi.


"H-hei... Lepasin tau, tidak?" Aaron menatap gadis itu dengan tajam, kemudian tidak lama kemudian, ia menatap Bianca dengan lembut.


"Aku... Aku tidak kuat..."


"Hah? Tidak kuat? Kamu sakit?"


Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Bianca dan hanya memeluk wanita di bawahnya.


"Astagaaa... Jawablah!! Aku tidak tau kamu kenapa?"


"Aku ingin menciumu..." bisiknya ke telinga Bianca membuat Bianca kaget.


"Cium?"


"Aku benar-benar tidak kuat sekarang... Badanku langsung lemas saking jarangnya membunuh, menghancurkan..."


"Bukannya kamu sudah membunuh naga itu?" tanya Bianca dengan santai.


"Membunuh naga itu hanya bisa diambil sekitar 20% saja."


"Kecil banget. Kalau diambil terlalu besar memangnya apa?"


Aaron menatap ke arah Bianca cukup lama terutama posisi mereka terlalu dekat.


"Kamu ingin tau?"


"Ckk... Cepatlah!! Kamu buang-buang waktuku..."


"Cium," jawabnya dengan enteng. Bianca langsung memasang wajah kebingungan.


"Cium pipi?"


"Bukan... Bibir," Bianca masih bingung dengan perkataan Aaron.


"Gak ada yang lain?"


"Ada sih... Tapi berisiko..."


"Apa itu?"


"Ituuu.... Ahh!! Pokoknya kalau pengantin baru melakukan malam pertama!!"


Bianca masih diam di tempat begitupun dengan Aaron.


"Cium pipi aja, ya?"

__ADS_1


"Cium pipi tidak mempan, tauu!!"


"Aku tidak mau cium bibir lo. Bau mulut lo kayak sampah!!"


"APAA??!!" Seru Aaron berteriak tidak terima. Ia memastikan apakah dia bau mulut atau tidak.


Dan benar kata sang ratu...


"Sebentar..."


"Mau kemana?"


"Bersihin mulut biar wangi."


Tidak lama kemudian ia kembali lagi dan bersiap-siap.


"Hei, hei... Tunggu!! Aku belum siap!!"


"Tinggal tutup mata kenapa sih?" ucap Aaron sewot.


"Gimana kalau pas aku tidur?"


Ia melihat ke arah jendela. Langit sudah gelap. "Ini sudah malam banget."


Bianca mundur perlahan. " T-tunggu... I-itu..."


Aaron menghela nafas panjang. " Tenang kok aku tidak sampai aneh-aneh kepadamu. Aku cuma butuh energi saja."


"Butuh energi?" tanya Bianca penasaran dan lelaki itu mengangguk betul. " Aku sudah tertidur cukup lama, makanya energiku secara perlahan terkuras selama aku tidur."


"Makanya... Aku sangat membutuhkan itu."


Bianca terdiam sejenak. Apa yang harus dia lakukan?


"Baiklaahh..." akhirnya dengan pasrah. Aaron tersenyum dengan sumringah membuat Bianca hanya bisa menghela nafas saja.


"Tenang. Aku sudah mengunci dan bilang ke pelayanmu kalau anda sedang tidur."


"Baguslah..."


Mereka berdua bersiap-siap untuk melakukan ciuman, tetapi mereka yang riweuh...


"Ini gimana sih?"


"Ya maaf... Ini pertama kalinya aku ciuman," ucap Bianca jujur. Tidak sih... Saat jiwa Vina masuk tubuh Annastasia Girdadez, ia sudah ciuman dengan Frans Hourmant.


Kalau ini bukan tubuh Anna, jadi Vina bilang kalau ini pertama kalinya.


"Samaa..." balas lelaki itu gumam.


Akhirnya lelaki itu menarik tubuh Bianca dan bibir Aaron menempel bibir sang ratu. Bianca otomatis terkejut hingga kedua bola matanya membulat besar.


"Hnn..." wanita berambut putih itu tersentak saat bibirnya dilumati oleh Aaron.


Ciuman mereka berlanjut hingga mereka berdua terlarut dalam tidur bersama.


...****************...


Bianca menghela nafas panjang. Entah kenapa ciuman kemarin terasa berbeda dengan saat menjadi Anna.


Ia memegang bibirnya yang tebas. Ugghh... Laki-laki itu ngapain aja sih sampai bibirnya sakit begini.


Ia menoleh ke arah laki-laki di sebelahnya yang tertidur dengan damai sambil memeluk Bianca.

__ADS_1


Tidak ada penghalang es yang Bianca gunakan.


Dan juga semenjak kemarin malam, badannya langsung segar dan tidak merasa pusing. Biasanya saat bangun, ia selalu pusing.


Tetapi...


Tiba-tiba Bianca langsung batuk-batuk dan ini lebih parah membuat Aaron terbangun karena suara batukan wanita itu.


"Kamu sakit?" katanya dengan suara paraunya.


"A-aku... Uhuk... Tidak apa-apa... Uhukk..."


Ia bangkit dati tidurnya. " Jangan dipaksakan... Aku tidak tau kau sakit apa, tapi aku merasakan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja."


Bianca tertegun beberapa detik, kemudian ia menjawab, " Tenang. Aku benar-benar baik kok," Ia berdiri dan bersiap-siap untuk kerja.


Sementara Aaron hanya menghela nafas panjang sambil menyisir rambut panjangnya ke belakang.


Ngomong-ngomong...


Tuhan tidak memanggil Vina akhir-akhir ini. Memang keputusan Vina sih tidak bertemu sang pencipta terlebih dahulu.


Terutama kondisi tubuh sang ratu yang tiba-tiba sakit-sakitan. Perasaan tubuh sang ratu baik-baik saja dan kuat, kenapa menjadi lemah begini?


"Ohh... Anda sudah bangun, yang mulia?" Calius cukup terkejut dengan kehadiran sang ratu.


"Ada berkas-berkas dokumen lain yang harus aku kerjakan?" Bianca bertanya kepada kepala pelayan sekaligus asisten.


"Hanya ini saja yang anda kerjakan, yang mulia." Bianca melihat tumpukan kertas yang ia harus kerjakan.


Rasanya ia kembali ke masa dimana ia bekerja sebagai manager general di perusahaan yang ia kerja itu.


"Bagaimana dengan anak-anak?"


"Greda dan Kay? Mereka melakukan seperti biasa, tapi..."


"Tapi kenapa?" tanya Bianca bingung.


"Akhir-akhir ini kemampuan sihir Greda tidak berkembang seperti Kay," jelas Calius.


Kata-kata itu juga diungkapkan oleh Oscar beberapa hari yang lalu. "Kemampuan pedang mereka sama-sama berkembang, tetapi kemampuan sihir Greda tidak mengalami berkembang dengan baik daripada Kay."


"Greda..." Greda menoleh ke arah Kay yang berjalan menghampiri gadis kecil itu.


"Kamu baik-baik saja?" dia menggelengkan kepalanya dengan lemas.


"Apakah aku bodoh? Sampai sekarang aku tidak bisa menguasai sihir, Kay..." Kay terdiam melihat Greda menangis karena ia merasa gagal dalam bidang sihir.


"Kamu tidak bodoh, Greda," ucap Bianca tiba-tiba membuat mereka berdua menoleh ke arah sang ratu.


"Yang mulia..."


"Kemampuan sihirmu bisa keluar kapan saja. Mungkin suatu saat sihirmu lebih hebat daripada Kay," ujarnya memberi nasehat.


Greda menyeka air matanya dan mengangguk.


"Mungkin kemampuan sihir Kay keluar sekarang ini, tetapi kita tidak tau kalau kamu akan keluar juga, bukan?"


"Bersabarlah dan kerja keraslah, oke."


"Oh ya..." tiba-tiba Bianca mengingat sesuatu.


"Siap-siap untuk besok lusa, karena kita akan pergi keluar kerajaan ini."

__ADS_1


"Kemana, yang mulia?" Bianca tersenyum misterius.


Sebuah kerajaan tetangga yang menjadi rencana Bianca selama ini.


__ADS_2