
𝙑𝙞𝙣𝙖 𝙋𝙊𝙑
Aku membuka mataku secara perlahan. Begitu aku membuka mataku, aku melihat sebuah kamar yang berbeda dengan kamarku biasanya.
Dimana ini?
Tiba-tiba aku melihat seorang wanita muda berjalan menghampiriku. Dari pakaiannya aku bisa menebak kalau wanita itu adalah seorang pelayan.
"Yang mulia. Apakah tidur anda sangat nyenyak?"
Tentu saja tidurku nyenyak. Kamu tidak mendengar suara dengkurku?
"Tidurku nyenyak..."
Lah... Kenapa suaraku seperti anak kecil berusia 8-9 tahun?
Sementara itu, wanita itu sibuk dengan membuka korden, merapihkan kasur yang barusan aku gunakan, membawa beberapa gaun untuk aku gunakan, dan mendandani aku.
"Tuan putri, yang mulia ratu ingin berbicara dengan anda."
HAH?! TUAN PUTRI?! PERASAAN AKU JADI RATU!!
Ngomong-ngomong...
Siapa ratu yang dimaksud?
Selama berjalan menuju ruang makan, aku masih tidak asing dengan tempat ini. Tempat ini sama dengan istana.
Seorang penjaga membuka pintu besar dan aku bisa melihat siapa ratu yang pelayan itu maksud. Apa jangan-jangan ratu yang mereka maksud 'ibu'ku di tubuh ini?
Aku melihat seorang wanita dewasa duduk di posisi tengah meja makan sambil menungguku.
Perawakannya cantik, elegan, dan tentu saja dia mirip Bianca.
Waitt...
Jangan bilang wanita itu adalah Bianca?
"Bagaimana tidurmu, putriku?"
Aku mengangguk dan menjawab apa yang aku bisa kepada wanita itu. Ternyata benar kalau wanita cantik itu adalah ibunya bocah ini.
Aku bergegas menuju kursi dan naik ke kursi dengan susah payah karena kursi ini lebih besar dari tubuhku.
"Hmm... Tampaknya kursi ini tidak cocok dengan tuan putri."
"Alia, bisakah kamu meminta ahli pengerajin untuk membuat kursi untuk tuan putri?"
"Baik, yang mulia," ohh... Jadi pelayan wanita yang membangunkanku tadi namanya Alia.
Namanya mirip teman SMAku.
Aku melihat menu sarapan pagi ini. Ya standart lah untuk menu sarapan kali ini.
__ADS_1
Aku kemudian mengambil garpu dan pisau untuk memulai sarapan kali ini. Sebenarnya aku masih bingung kenapa tiba-tiba jiwaku masuk ke anak ini?
Apakah aku pindah ke masa depan? Kalau iya, Bianca menikah dengan siapa? Tidak mungkin kan memiliki anak kalau ada ibunya doang.
Apa mungkin Bianca hamil di luar nikah?!
Ayolah Vina... Buang-buanglah pikiran negatifmu itu.
"Ibu dengar kalau kemarin kamu bolos belajar. Benarkah itu, Bianca?"
Hah?
Jadi ini waktu saat Bianca masih kecil? Berarti ibu yang di depanku ini...
"Maafkan saya, ibu."
"Apakah cuman minta maaf saja, hm?"
"Itu... Saya bolos karena guru sihir selalu mengolok-olok kepada saya."
Hei... Ini bukan aku yang ngomong lohh...
Aku bisa melihat wanita berambut putih itu menghela nafas berat.
"Hanya mengolok-ngolok begitu saja kamu sampai bolos?"
Waduuhhh... Kenapa emaknya begitu sih?
"Pokoknya ibu akan mengawasi belajarmu. Sampai ibu lihat kamu kabur lagi, ibu bawa kamu kamar biru gelap di lonteng."
Tetapi...
Ini lebih tegas dari dugaanku. Masa ibunya tidak menenangkan anaknya yang belum genap 10 tahun.
Walaupun aku tidak tau secara persis seperti apa tindakan guru sihir Bianca membuat dia sampai takut dengan guru itu bahkan ia bolos.
"Tapi... Guru itu selalu menidas-"
"Tidak ada tapi, tapian, Bianca."
Waduuhh... Tatapannya tajam begini lagi...
Ibu macam apa itu anaknya sampai tidak suka tindakan gurunya, malah diterusin.
Tadi dia bilang apa? Menindas?
Kalau di duniaku, gurunya pasti kena pelanggaran atas kekerasan pada anak.
Ya aku tau sih... Sebagai penerus pemimpin kerajaan, harus terus jalan maju ke depan. Entah itu kena kekerasan secara fisik dan mental, dihina lah, bahkan hal-hal secara ekstrem Bianca harus melewati itu semua.
Mungkin bagi ibunya, sebagai bekal jika dewasa, Bianca bisa melewati seperti itu.
Karena...
__ADS_1
Hidup itu sangat susah...
Aku mengangguk saja. Nah kalau tadi itu aku yang melakukanya.
Aku menghabiskan sarapan tersebut dan bergegas meninggalkan ruang makan.
Bagaimana dengan Ratu Demetria?
Aku melirik ke arah wanita itu. Tampaknya dia cuek saja saat anaknya langsung pergi begitu saja.
Orang tua macam apa itu.
Kini, tubuh ini tidak bisa aku gerakan. Aneh sih... Tiba-tiba aku bisa menggerakan tubuh ini dan bicara, tapi di sisi lain, justru aku tidak bisa dan cuman melihat apa Bianca ini lakukan.
Bianca mau pergi kemana dah?
Dan ternyata dia memasuki sebuah ruangan yang asing bagiku.
Ruangan sekitar 3x4 meter dan tidak ada perabotan manapun. Hanya kumpulan kertas gambar dibuat oleh Bianca berjejer rapi ditempel ke dinding.
Layaknya ruangan galeri. Aku memperhatikan dengan seksama hasil karya Bianca kali ini. Aku cukup terpukau dan terkejut saat melihat hasil karya Bianca.
Untuk seusia Bianca, gambar anak ini sangat bagus. Bukan cuman ada 2 gunung berjejer ditemani matahari yang nyelip di antara 2 gunung itu beserta ladang sawah.
Dia menggambar bunga mawar putih dengan begitu mirip dengan bunga aslinya dan indah. Ini sungguh hasil karya yang menakjubkan.
Bukan hanya itu saja, ada gambar yang menujukkan seorang gadis kecil yang mirip dengannya tertidur dengan air mata yang keluar dari matanya.
Pertama kalinya dalam hidupku, aku sekarang mengetahui bakat terselubung dari ratu salju ini, MENGGAMBAR!
Apalah aku yang bisa main game sampai-sampai babeh ngomel-ngomelin karena aku belum tidur dan asik dengan game.
Dan sekarang, aku melihat Bianca sedang fokus menggambar sesuatu. Gambarnya belum tampak hilalnya karena masih dalam skech dan belum diwarnai. Mungkin sekitar 20%.
Ia menggambar di ruangan kosong begini tanpa ada lampu hanya cuman 3 lilin di sekitarnya sebagai penerangan saja membuat hatiku teriris.
Apa Ratu Demetria tau ya bakat putrinya itu?
Tiba-tiba tanganku merasakan tetesan air yang jatuh dari atas. Atapnya bocor?
Mana mungkin... Daerah sini kan cuman hujan salju doang...
Tiba-tiba tubuhku bergetar dan terisak menangis. Apa Bianca menangis?
Sambil menangis, tubuhku masih terus menggambar tanpa henti. Melihatnya saja membuatku menangis.
Aku jadi merasa kasihan padanya.
Aku sebenarnya tidak tau karakter seperti apa ratu salju itu dan asal-muasalnya. Yang kuketahui, dia jahat dan menculik Kay tanpa tau alasan ia menculiknya.
Dan juga para warga juga bilang kalau ratu adalah pemimpin yang berhati dingin kepada rakyatnya.
Itu sih yang aku pernah dengar.
__ADS_1
Melihat dia tidak mendapat kasih sayang dari ibunya, ditindas sama gurunya, bahkan sebelum tubuh ini membawaku ke ruangan ini, aku tidak sengaja melihat tatapan sinis dati beberapa pelayan yang melewati ke arah aku.
Tanpa terasa, aku tertidur di tengah tangisan dan gambar yang ia kerjakan dan ketika aku membuka mataku, aku melihat Calius dan si malapetaka itu memandangku dengan tatapan khawatir.