
Bianca melirik ke arah pria muda yang masih berdiri di sana dan sedikit terkejut. Ia tidak menyadari bahwa ada Allan di sana.
"Terima kasih sudah menjaga anak-anak ini," ucap sang ratu berterima kasih.
"Sebenarnya saya ingin bertanya sesuatu kepada anda, yang mulia."
Jangan bilang dia bertanya kemana sang ratu pergi, bukan?
"Apa yang mulia baik-baik saja? Aku dengar anda tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Kay, Gerda dan lainnya mencari anda selama 2 bulan."
"Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku memang sengaja tidak memberi tahukan kepada kalian semuanya karena aku sedang berfokus meditasi."
"Meditasi? Meditasi itu apa?" tanya Kay dengan polos.
"Meditasi adalah pengumpulan tenaga dan kekuatan baru. Mereka biasanya akan melakukan itu di tempat tersembunyi, sepi, dan sangat jauh dari orang-orang."
Kay mengangguk paham. "Ah! Itulah kenapa yang mulia pergi tanpa bilang, ya..." Bianca mengangguk mantap.
"Aku dengar dari Ivan, kalian berdua pergi ke Kerajaan Altuvia, bukan? Apa yang terjadi sesuatu?"
Kay dan Gerda saling pandang satu sama lain. " Kami ke sana karena mencari anda, yang mulia."
Ya... Seperti Ivan katakan sebelumnya.
"Apa hubungannya dengan aku?"
"Tentang brosnya. Kami khawatir kalau yang mulia menghilang gara-gara bros itu."
Bianca melirik ke arah Allan. "Ah! Soal itu... Kami dibantu oleh tuan itu ke istana, tapi kami gagal karena kata penjaga istananya pihak istana sedang rapat penting."
"Rapat penting?" Gerda mengangguk.
"Baiklah... Kalian pasti capek, bukan? Istirahatlah di kamar kalian," ucap Bianca menyuruh dua anak itu untuk istirahat.
Setelah mereka berdua pergi, Bianca berkata kepada Allan, " Mau minum teh, Allan?"
"Tidak usah, yang mulia. Lagipula, pelayan anda sedang pergi sekarang."
"Tidak apa-apa. Aku bisa menyajikan teh sendiri- UHUUKKK!!" tiba-tiba sang ratu batuk dengan keras.
"Anda baik-baik saja, yang mulia?"
Sial!!
"Aku baik, Allan!" balas Bianca menyuruh pria itu jangan mendekat.
Allan tidak bergeming sekalipun dan melihat sang ratu masih batuk-batuk.
"Duduklah yang mulia," Allan menyuruh sang ratu untuk duduk dan ia duduk di sebelahnya.
Bianca masih menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Takut ketahuan kalau ia batuk berdarah.
"Kalau begitu saya panggilkan dokter untuk kesini."
"Tidak usah..." tiba-tiba tangan kirinya menggenggam tangan Allan.
"Kau... Kau ambilkan tisu dan duduk di sebelahku," pria itu mengangguk saja dan mengambil kotak berisi tisu kepada Bianca.
Dengan cepat, sang ratu membersihkan noda darah di sekitar mulut dan tangan kanannya sambil bersembunyi.
"Tidak perlu bersembunyi seperti itu, yang mulia," ucap Allan.
"Tapi... Tapi aku malu," balas wanita itu salah tingkah.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum lembut. "Tidak perlu malu, yang mulia. Kewibawaan anda masih ada di mataku."
LO MAU LIHAT DARAH GUE, HAH?!!
Bianca hanya bisa tertawa canggung. Dirinya tidak mau kalau Allan mengetahui penyakit mematikannya.
Karena dia adalah salah satu anggota kelompok yang ia harus musnahkan 'lagi', Black Hole.
Mungkin dirinya akan memberitahu kepada Aaron dan Patrick tentang ini. Cepat atau lambat.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," ia bangkit berdiri dan secara mengejutkan menepuk pucuk kepala sang ratu dengan tersenyum lembut.
"Yang mulia harus istirahat dengan baik."
"Apa kamu khawatir denganku?" Allan sedikit terkejut dengan pertanyaan sang ratu, lalu menjawab, " Iya. Selamat malam, yang mulia."
Setelah pria itu pergi, Jenny muncul kembali.
"Apakah dia salah satu anggota Black Hole?"
"Iya. Itu dia," Jenny melirik ke arah Bianca sebentar.
"Kamu harus berhati-hati dengannya, Vina."
"Iya, aku tau kok. Makanya aku sangat hati-hati."
Malaikat itu menghela nafas panjang. "Berarti tinggal tiga pria itu, ya..."
"Aku dengar, Calius akan pulang besok."
"Bagaimana dengan mereka berdua?"
"Aku tidak tau. Ivan saja tidak tau kemana mereka berdua pergi."
"Aku baru ingat sesuatu. Tuhan bilang bahwa kamu bisa membantuku, tetapi..." wajahnya mendekatkan ke arah malaikat itu.
"Kau bisa membantuku dalam apa, hm?"
"Kamu tidak tau?" tanya Jenny dengan santainya.
"Bagaimana bisa aku tau kalau tuanmu tidak menjawab pertanyaanku."
Jenny menghela nafas panjang dan menjawab, " Sepertinya aku yang akan menjelaskan kepadamu. Intinya tugasku adalah sebagai 'back up' kamu."
"Back up- apa?" tanyanya masih bingung.
"Kalau kamu kesusahan walaupun sudah dibantu oleh tabletmu, kamu bisa meminta bantuan dariku."
"Masuk akal sih..."
"Dan..."
"Dan?"
"Tubuh Ratu Bianca semakin melemah tiap waktu, untuk itu aku akan mem-back up kondisi tubuh itu agar tidak langsung drop secara drastis."
Bianca mengangguk paham apa yang dimaksud oleh Jenny.
"Baiklah.... Sepertinya diskusi kita kita akhiri saja hari ini," ia bangkit berdiri dan melanjutkan, " Aku mau tidur. Aku tebak para pria itu akan pulang besok."
...****************...
Dan hari ini, tebakan Bianca benar.Calius pulang setelah mengadakan diplomasi sebagai perwakilan ratu yang sempat tidak hadir (menghilang) terkejut melihat sang ratu sudah kembali dengan selamat.
__ADS_1
Tidak lama, Aaron dan Patrick juga pulang dan sama-sama terkejut dengan kehadiran Bianca.
"Yang mulia!!! Akhirnya yang mulia kembali dengan selamat!!" Bianca hanya bisa tersenyum masam saja.
"Aku dengar dari Calius kalau yang mulia sedang meditasi, bukan?"
"Yah... begitulah, biar kekuatanku makin meningkat."
"Kenapa tidak bilang dari awal?" Bianca bisa melihat aura gelap yang berada di sekeliling sang malapetaka. Tampaknya dia marah.
"Maaf..."
"Setidaknya, yang mulia telah kembali dengan selamat," ucap Calius menengahi agar tidak terjadi yang tidak-tidak.
"Yang mulia," panggil Patrick membuat Bianca menoleh.
"Ada apa?"
"Bisa bicara sebentar. Ada yang ingin saya-" ia melihat ke arah malapetaka yang juga melirik ke arah penyihir agung itu.
"Tidak maksudku, kami berdua ingin berbicara dengan anda."
Mereka bertiga duduk di ruang kerja Bianca.
"Aku dengar... Kalian berdua pergi ke suatu tempat untuk mencariku, bukan?" ujar Bianca memulai pembicaraan.
"Ya. Kami mencari anda karena kami mendapat berita dari kepala pelayan anda kalau yang mulia sedang meditasi ke suatu tempat."
Ah... Pelayan mulut ember!!
"Tapi bukan itu yang kami bahas."
"Terus?"
"Aku ingin bertanya kepada anda kenapa jiwa anda bisa berpindah ke dimensi lain," Bianca melirik ke arah Aaron yang masih santainya duduk di sebelah pria berambut gelap itu.
"Lanjutkan saja, anggap saja aku tidak ada."
Lo pasti pingin tau, kan? Dasar! batin Bianca dengan kesal.
"Tentu saja karena aku bermeditasi. Yah... Tiba-tiba selama meditasi, aku mengalami kesalahan dan akhirnya jiwaku masuk ke tubuh orang lain."
Patrick tidak membalas apa-apa. "Bagaimana dengan kalian? Selama 2 bulan aku tidak ada, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada yang aneh, hanya saja para bangsawan menanyakan keberadaan anda dan..."
"Dan?"
"Pihak kerajaan Altuvia mendorong kami untuk mencari anda, yang mulia."
Bianca menghela nafas panjang. Entah kenapa ia memiliki firasat aneh saat mendengar kerajaan itu.
"Apa yang mere- UHUUKK!!"
Tanpa aba-aba, Bianca langsung batuk keras dan tanpa persiapan ia tidak menutup mulutnya dengan tangan sehingga keluarlah darah yang cukup darah.
Kedua pemuda itu langsung terkejut dan segera menghampiri sang ratu. "Yang mulia! Yang mulia baik-baik saja."
"Cepat panggilkan dokter!!" seru Aaron kepada Patrick untuk memanggilkan dokter istana.
Patrick segera berlari keluar ruangan kerja sang ratu dan tinggalah mereka berdua.
"Apa yang terjadi denganmu?"
__ADS_1