
Giselle memandang ayah dengan diam seribu bahasa. Gaspal adalah kakeknya?!
"Maafkan ayah, Giselle. Ibumu yang meminta ayah untuk menjaga rahasia ini."
Gadis itu menghela nafas panjangnya. " Sudah kuduga..."
"Kamu mendapatkan ini darimana, Giselle?"
"Waktu itu..." Giselle menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada ayahnya.
"Ayah mengerti sekarang..." ucap Markus akhirnya paham.
"Jadi ada sekelompok yang mengincar kemampuan itu?" Giselle mengangguk.
"Tapi... Kenapa ibu tidak memberitahu kepadaku?"
"Sebenarnya ayah juga tidak tau, Giselle."
Bahkan ayahnya saja tidak tau alasan istrinya tidak memberitahu soal keberadaan kakeknya.
"Mungkin saja... Karena kemampuan 4 elemen ini sangat kuat, orang-orang berusaha mengambil kekuatan itu dari kakekmu."
"Ayah tidak menyangka kalau murid kakek menyerahkan semuanya kepadamu."
"Baiklah... Kamu pergi ke dapur. Tampaknya yang mulia mulai kesusahan memasak makan malam," Giselle mengangguk dan pergi meninggalkan ayahnya.
Markus memandang putrinya dengan pandangan misterius.
"Ternyata mereka sudah mulai bergerak rupanya..." Markus berjalan menuju ruangan tadi dan melanjutkan diskusi dengan dua pemimpin pasukan lainnya.
...****************...
"Ibuku?" ujar Oscar terkejut mendengar ibunya disebutkan oleh Jenny. "Apa kamu ingin berbicara denganku tentang ibuku?"
Jenny mengangguk benar. Jenny bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Oscar.
Ia menyerahkan sebuah buku anak-anak yang Oscar tau.
"Ini kan..."
"Ibumu menitipkan buku ini kepadamu dan berpesan kepadamu," Oscar menerima buku tersebut dan membaca sebuah judul buku itu. ' Kenangan di Taman Everest'.
Lelaki itu menghirup udara lebih dalam dan menghembuskan secara perlahan. Kenangan bersama ibunya kembali muncul.
Badannya langsung bergetar hebat. " Ia bilang kalau dia sangat sayang sama kamu. Ia juga bilang kalau ibumu selalu melihatmu dan ayahmu."
Jenny menyadari kalau lelaki di depannya sedang menangis sambil memeluk buku cerita anak-anak dengan erat.
Jenny langsung memeluk pria itu dan menenangkannya.
"Dia bahagia melihatmu tumbuh dengan baik."
...****************...
"Oh! Giselle?!" seru Bianca melihat Giselle tiba di dapur. " Ah! Apakah saya mengganggu, yang mulia?"
"Tidak, kok. Kamu pasti membantu menyiapkan makan malam, bukan? Kemarilah."
Giselle berjalan menghampiri Bianca dan membantu sang ratu. Sementara itu, Aaron sedang mempersiapkan wajan dan bahan-bahan yang sudah dipotong-potong oleh Bianca.
"Di sini cuman kalian berdua?" tanya Giselle dengan polosnya.
__ADS_1
"Iya. Kenapa?" Giselle langsung terkejut dengan jawaban sang ratu.
Yang mulia dan Tuan Decius.... Berduaan di dapur?!
"Giselle... Giselle... Kamu baik-baik saja?" tanya Bianca khawatir dengan gadis muda itu yang dari tadi diam saja.
Gadis muda itu langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak... Saya baik-baik saja, yang mulia!!" serunya dengan sedikit berteriak.
Aaron yang tidak jauh dari mereka berdua hanya tertawa kecil sambil menutup mulut.
"Kenapa kamu ketawa?!" tanya Bianca sewot.
"Gak. Gak ada apa-apa..."
"Ya udah kita selesaikan masakannya."
...****************...
"Apa?! Kalian berdua ingin pergi ke desa kalian?" tanya Patrick bingung. Kay dan Patrick mengangguk kompak.
"Kami sudah lama tidak mengunjungi tempat tinggal kami," Patrick hanya menghela nafas panjang.
"Aku tidak masalah kalian pergi, tetapi bagaimana dengan yang mulia? Apakah kalian sudah meminta ijin kepadanya?" mereka berdua saling menoleh satu sama lain.
"Sebenarnya... Sebenarnya kami juga ingin berbicara dengannya."
"Baiklah... Kalian pergi ke dapur istana. Mengingat Ivan sedang cuti, mau tidak mau yang mulia langsung turun tangan untuk makan malam."
Kay dan Gerda langsung menujukkan ekspresi kegirangan dan segera berlari menuju ke dapur.
Mereka berdua mengangguk yakin dan kompak. " kami sudah lama tidak mengunjungi ke sana."
Benar juga... Sudah lumayan lama mereka tidak mengunjungi tempat asalnya.
"Baiklah... Tapi kalian berdua harus ditemani, oke?"
"Ditemani? Sama siapa?"
...****************...
"Ah... Jadi ini tempatnya?" ujar Patrick menuruni kereta sihir bersamaan dengan Kay dan Gerda yang sangat kegirangan akhirnya mereka bisa melihat tempat kelahirannya.
"Kenapa juga aku harus ikut?" ucap Aaron sedikit kesal sambil menuruni kereta sihir.
"Padahal aku ingin berbicara dengan wanita putih lebih lama..."
"Yang mulia ingin kita menjaga Kay dan Gerda. Kamu ingat, kan tentang sekelompok misterius yang mencari 'anak spesial'?"
"Tentu saja aku tau," baru mau menoleh, sosok Kay dan Gerda sudah tidak ada di dekat mereka.
"Tuh kan... Baru juga kita bahas itu," mereka berdua sedang mencari Kay dan Gerda sekarang.
"Bisa mampus kita kalau yang mulia mengetahui hal ini."
Kay dan Gerda tiba di rumah Kay dan tiba-tiba seseorang menghampiri mereka berdua.
"Kenapa kalian berdua ada di tempat seperti ini?" Gerda sudah merasakan kalau orang di depannya adalah orang yang sangat mencurigakan.
Mereka berdua langsung mundur secara perlahan dan orang itu justru melangkah mendekati mereka.
__ADS_1
"Tenang... Aku tidak akan menyakiti kalian berdua."
"Hei!! Apakah kamu sudah menemukannya?" ujar seseorang menghampiri mereka bertiga.
"Belum. Lagipula kenapa juga kita ke sini lagi?" orang yang baru saja tiba itu melirik ke arah Kay dan Gerda.
"Anak ini..." dia langsung membisik teman di sebelahnya dan mereka berdua memandang Kay dan Gerda secara menakutkan.
"K-kalian berdua mau apa?!"
"Hmm... Aku bisa merasakan kekuatan yang sangat luar biasa dari anak ini..."
"Tapi yang kita cari cuman satu..."
"Bawa aja salah satunya."
"Kay, mundur!!" seru Gerda menyuruh Kay untuk mundur.
"Gerda..."
"Oh... Tampaknya gadis kecil ini berani juga."
Sebuah ledakan secara tiba-tiba membuat mereka berdua mundur menjauh.
"Hah! Ternyata ada orang asing yang datang kesini."
Ternyata Patrick dan Aaron tiba tepat waktu. " Kalian berdua baik-baik saja, kan?" tanya Patrick kepada dua bocah itu.
"Cih... Ternyata ada pengganggu di sini..." dua orang misterius itu langsung menyerang Patrick dan Aaron secara bersamaan.
Mereka semuanya langsung menghindar dan kesempatan bagi dua orang itu untuk menculik salah satu dari mereka.
"Sial!!" Aaron mengejar mereka yang sudah berhasil membawa salah satunya dan kabur dengan kecepatan kilat.
Aaron akhirnya gagal mengejar mereka.
Ia segera kembali dan melihat Patrick dan Kay berjalan menghampiri Aaron.
"Jadi gimana?" Aaron hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemas.
Kay dan Patrick yang melihat ekspresi Aaron hanya menujukkan rasa kecewa.
"Lebih baik kita harus kembali ke istana dan lapor kepada yang mulia."
"Ini semua salahku... Seharusnya aku tidak mengajak Gerda ke rumahku lebih dulu dari kalian," ucap Kay menudukkan kepala menyesal.
"Kay, tidak apa-apa. Kita bisa mencari cara agar kita bisa membawa Gerda pulang."
"Kita harus kembali sekarang!"
"Apa katamu?!" ucap Bianca tidak percaya mendengar kabar buruk dari Aaron.
Sang ratu memegang dahinya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, yang mulia," ucap Kay takut kepada sang ratu.
"Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku, Kay. aku tau perasaanmu mengunjungi tempat kelahiranmu merupakan sebuah perasaan senang dan rindu."
"Jadi gimana, yang mulia?" tanya Patrick kepada sang ratu.
Bianca tampak berpikir keras. Ia harus mencari jalan supaya Gerda terbebas dari kelompok misterius itu.
__ADS_1