
Kay dan Gerda melihat bayi naga putih yang baru saja menetas dengan pandangan takjub.
"Apakah ini naga putih, yang mulia? Bianca mengangguk mantap.
"Bagaimana kalau kalian mendiskusikan nama naga ini. Karena aku bingung memberi nama yang cocok dengan dia."
"Benarkah?" tanya Kay saat mendengar ucapan sang ratu.
"Tentu."
Kay langsung berusaha berpikir keras nama yang cocok dengan bayi naga putih itu.
"Bagaimana dengan Blacky?"
"Kok Blacky? Dia kan putih, bukan hitam," balas Gerda.
"Atau Pearl! Dia terlihat seperti mutiara yang bersinar!" ucap Gerda memberi usulan.
"Tapi... Dia kan jantan, Gerda."
Bianca hanya bisa menggelengkan kepalanya saat dua bocah itu sedang beragumen tentang nama bagi naga putih itu.
"Kalau begitu kita panggil saja Sello?"
"Ah! Itu ide yang bagus. Dan juga cocok dengan dia."
"Bagaimana? Apa kalian sudah menentukan nama bayi naga ini?" Kay dan Gerda mengangguk kompak.
"Namanya Sello, yang mulia."
"Sello? Bagaimana denganmu? Apa nama itu sangat bagus?"
Tampaknya naga putih itu sangat senang dengan nama barunya. "Baiklah mulai sekarang namanya adalah Sello."
...****************...
"Bunga Roshperdia?" ucap Patrick kepada Dokter Atkinson.
"Ya. Bunga ini bisa menyembuhkan penyakit langka yang mulia."
"Tapi... Darimana anda menemukan kalau bunga itu bisa menyembuhkan baginda ratu?"
Dokter Atkinson menyerahkan sebuah buku kuno kepada penyihir agung itu.
"Walaupun tidak dijelaskan secara rinci, penyakit yang ditulis di sana hampir sama dengan penyakit yang dialami yang mulia."
Patrick membuka lembaran demi lembaran satu persatu.
"Hmm..."
"Memang benar sih apa yang ditulis di buku kuno ini hampir sama dengan penyakit yang mulia," ia menyerahkan kembali buku itu kepada Dokter Atkinson.
"Dimana bunga itu kita dapatkan?"
"Tidak dijelaskan juga di sini, tetapi selama aku mencari keberadaan bunga tersebut, bunga itu berada di puncak Gunung Fordia."
"Gunung Fordia?" tanya seseorang yang ternyata bukan penyihir agung itu.
__ADS_1
"Ah kau..."
"Gunung Fordia ada dimana?"
"Itu sangat jauh, tuan. Kalau dari sini ke gunung itu bisa memakan waktu 6 bulan belum waktu mencari bunga itu."
"Kau mendengar semuanya?" tanya Patrick kepada malapetaka.
"Aku dengar semuanya," balasnya.
"A-apakah kalian akan pergi ke sana, tuan-tuan?" baik Aaron maupun Patrick saling pandang satu sama lain.
"I-itu... Kami belum memutuskan untuk pergi ke sana dalam waktu dekat," Aaron hanya bisa diam saja yang menandakan bahwa dirinya setuju dengan jawaban sang penyihir itu.
"Oh ya ngomong-ngomong... Kenapa kamu ada di sini?" tanya Patrick mengganti topik.
"Emangnya aku tidak boleh datang ke sini?" tanya balik ke arah penyihir itu dengan judes.
"Biasanya kamu selalu nempel dengan yang mulia."
Ia menghela napas panjang. "Aku hanya berjalan-jalan saja di sini."
"Tuan-tuan.... Bolehkah saya meminta bantuan kepada anda?" Patrick dan Aaron langsung menoleh ke arah dokter istana itu.
"Ada apa?"
Di tempat lain, Bianca hanya bisa menguap dengan lebar sambil melihat perkembangan Kay dan Gerda di lapangan latihan.
Ia menyadari bahwa salju telah turun. Ini pertama kalinya bagi Vina melihat salju turun secara nyata. Biasanya ia melihat salju turun di film-film barat atau drama korea yang sedang turun salju.
Ia menghela nafas panjang, apakah dirinya akan berhasil dalam misi kali ini? Kalau gagal, dirinya bisa kembali ke tempat asalnya sesuai dengan kesepakatan Tuhan kepadanya.
Ini benar-benar diluar rencana Vina sama sekali, awalnya dia menggunakan rencana yang lama saat dirinya masuk ke tubuh Anna dan mengkombinasikan dengan rencana baru.
Tetapi tiba-tiba kondisi sang ratu langsung drop dan memiliki riwayat penyakit yang sangat langka untuk disembuhkan.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bianca yang asli? Tiba-tiba ingatan Vina seketika muncul di otaknya.
Ia ingat saat ia bermimpi pertama kalinya di tubuh sang ratu. Dimana Bianca kecil sering pergi ke ruangan kosong yang dijadikan mini gallery hasil karya menggambarnya Bianca.
Calius telah datang dengan membawa secangkir teh pesanan yang mulia.
"Calius! Apakah kamu tau di istana ini ada sebuah ruangan yang tidak boleh dimasukin oleh sembarang orang?"
"Ruangan yang tidak boleh dimasukin oleh sembarang orang..." ucap Calius sambil berpikir.
"Labortarium sihir?"
"Ah... Kalau itu aku tau, Calius. Ada yang lain tidak?"
Calius masih berpikir keras.
"Sepertinya tidak ada yang mulia. Hanya labortarium sihir yang tidak boleh masuk sembarang orang."
Bianca berpikir sejenak. "Ada apa, yang mulia?"
"Tidak... Tidak ada apa-apa," setelah Calius pergi, kini Bianca mencari ruangan yang belum pernah didatangin oleh orang lain. Bahkan sang ratu sendiri.
__ADS_1
Ia tidak menyalahkan Calius sama sekali. Tentu saja lelaki paruh baya itu tidak tau tentang ruangan rahasia yang dibicarakan sang ratu karena dia sudah bekerja di istana kurang lebih 25 tahun. Sedangkan sang ratu sudah memimpin kerajaan ini kurang lebih selama ratusan tahun lebih.
"Kalau tidak salah ingat... Ada di sekitar sini- Ah ketemu!" akhirnya Bianca menemukan sebuah pintu yang sedikit mencolok daripada pintu lainnya.
Ia masih ingat ruangan rahasia Bianca kecil ketika ia sibuk menggambar. Dengan bekas cat warna kuning terang.
Ternyata, ruangan ini berada gedung istana bagian selatan. Dan gedung ini sangat jarang dilewati oleh orang bahkan sedikit tidak terurus dengan baik.
Dan jarak dari gedung utama ke gedung selatan sangat jauh sekali.
Ia membuka kenop pintu ruangan itu, tetapi pintu tersebut terkunci.
"Sudah kuduga... Pintunya terkunci," ujar Bianca dan mengeluarkan sebuah kunci dari kantong gaunnya.
Ia memasukan kunci itu ke dalam lubang kenop pintu dan memutar ke arah kanan.
CEKLEK!!
Ternyata kunci bewarna silver yabg telah usang itu adalah kunci ruangan rahasianya.
Ia membuka pintu tersebut dengan hati-hati. Benar-benar gelap dan tidak ada pencahayaan lilin ataupun lampu sama sekali.
"Benar-benar gelap sekali..." gumam Bianca yang tidak bisa melihat apapun.
Akhirnya ia memakai sihir bola cahaya untuk menerangi seluruh isi ruangan tersebut.
Ia terkejut dengan apa saja di dalam ruangan itu. Benar kata Vina, ruangan ini seperti gallery pameran seni yang memamerkan hasil karya lukisan yang menakjubkan.
Bianca memandang seluruh hasil karya Bianca (asli) dengan takjub.
Hasil karya berupa sepasang kekasih berkencan, pemandangan Kerajaan Aspendia, dan tentu saja bunga itu.
Bunga mawar putih yang indah dan menakjubkan. Bunga yang sama dengan ada dalam mimpi Vina pertama kali.
Ia melihat ke arah sebelahnya. Hasil karya yang menampilkan seorang wanita berambut putih yang terbaring dengan bunga mawar putih yang berduri sambil memejamkan kedua matanya.
Kedua tangannya berada di depan dadanya layaknya ia sedang berdoa dan tangannya penuh darah merah akibat terkena batang duri dari bunga tersebut.
Dan wanita itu seperti...
"Aku..."
Secara mengejutkan Bianca terjatuh dengan memegang kepalanya erat.
Ia merasa pusing dan sakit dalam bersamaan.
𝑳𝒊𝒉𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒎𝒖... 𝑺𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒊 𝒔𝒂𝒏𝒂...
Jantungnya berdegup kencang dan ia merasa sesak nafas.
𝑨𝒌𝒖....
Bianca berusaha mengatur nafasnya sambil memegang kepalanya yang sakit sekali...
𝑲𝑼𝑩𝑰𝑳𝑨𝑵𝑮 𝑺𝑰𝑨𝑷𝑨 𝑵𝑨𝑴𝑨𝑴𝑼𝑼??!!
𝑩𝑰𝑨𝑵𝑪𝑨 𝑨𝑳𝑩𝑨 𝑨𝑺𝑷𝑬𝑵𝑫𝑰𝑨!! 𝑪𝑨𝑳𝑶𝑵 𝑹𝑨𝑻𝑼 𝑨𝑺𝑷𝑬𝑵𝑫𝑰𝑨 𝑩𝑬𝑹𝑰𝑲𝑼𝑻𝑵𝒀𝑨!!
__ADS_1
Dan setelah itu, Bianca langsung terjatuh lemas di ruangan gelap itu.