
Bianca melipatkan kedua tangannya sambil berpikir keras. Sudah 3 jam mereka menunggu Rossa, tetapi belum kembali sama sekali.
"Mereka bertiga sedang ngapain sih?" ujar Bianca tidak sabaran.
"Tentu saja sedang berdiskusi tentang perdagangan dan kekuasaan wilayah," jawab Vero.
"Berarti... Yang mengawasi tempat ini pasti perempuan, soalnya desa ini hanya perempuan saja, laki-laki tidak boleh menginjak di sini."
"Tentu saja, perempuanlah yang akan menjadi perwakilan di tempat ini," ujar James tiba-tiba nimbrung.
"Ketua... Kenapa ketua ada di sini?" ujar Vero kaget begitupun juga dengan Bianca dan Giselle.
James tertawa kecil. " Maafkan aku. Kalian pasti capek menunggu rapatnya, bukan?"
"Lama banget," jawab Bianca ketus.
"Ngomong-ngomong... Jendral Harris pada kemana?" tanya Giselle mencari keberadaan Rossa.
"Ah... Benar juga. Kita, kan mencari dia."
"Kalian mencari dia? Dia sedang berbicara dengan Chris."
Vero ingin bertanya sesuatu kepada ketuanya, namun dia mengurungkan niatnya karena seorang wanita berlari ke arah mereka berempat.
"Apakah Lady Harris ada?"
"Kenapa kamu panik sekali? Dia sedang berbicara dengan tamu."
"Aduh... Ini gawat. Desa kita diserang!!" mendengar kabar itu, semuanya langsung kaget dan panik.
"Kalau begitu kamu boleh masuk ke dalam."
Wanita itu segera berlari masuk ke dalam dan melaporkan kepada Rossa.
"Kita harus cek ke sana!" mereka berempat segera menuju gerbang desa.
"Tunggu!!" ucap James memberi aba-aba.
"Lebih baik kalian berhati-hati, sepertinya musuh kali ini sangat berbeda dari yang lain."
Bianca mengangguk setuju dengan James. Ia juga merasakan kalau ada sihir hitam di luar sana.
Sihir yang sama saat dirinya menjadi Anna.
"Vero, siapkan senjatamu dan alihkan ke musuh. Kamu, awasi para warga jangan sampai mereka keluar dari desa dan yang mulia..." James menatap Bianca dengan serius.
"Anda ikut dengan saya," Bianca awalnya bingung dengan ucapan James, tetapi dia akhirnya mematuhi perkataan James.
Rossa dan Chris berlari ke arah James dan Bianca, sementara Giselle dan Vero sudah menjalankan tugasnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rossa dengan kepanikan.
"Tampaknya ada kedatangan tamu 'tak diundang'. Chris, kamu bisa kan bantu Vero mengalahkan musuh di depan gerbang?"
"Siap, ketua!"
__ADS_1
"Lady Harris, semuanya akan baik-baik saja. Lebih baik anda mengawasi warga anda terlebih dahulu."
"Baik, terima kasih Tuan Ratoulle," Rossa melirik ke arah Bianca dan mengangguk sebuah tanda, kemudian ia segera pergi melihat para warga.
"Ayo, ikut aku!" serunya sambil menarik lengan Bianca.
Bianca hanya pasrah saja. Mereka berdua berlari ditengah para warga yang sedang panik karena desanya di serang.
Mereka berdua berhenti di atas pohon. Entah kenapa lelaki itu memilih berdiri di rantai pohon yang kokoh sebagai tempat yang paling aman.
"Kenapa kita ada di sini?" ujar Bianca kebingungan.
James menujuk ke arah orang bertudung misterius. " Bisakah kamu menebak dia menggunakan sihir?"
"Hah?!" James menatap ke arah Bianca seolah-olah kalau apa yang diucapkan adalah hal yang serius.
Bianca menghela nafas panjang dan mengikuti perkataan lelaki itu. Dengan kekuatan sihir es Bianca, orang tersebut langsung terjatuh dan mereka berdua langsung berjalan mendekati dia.
"Awas!!" seru James dan langsung memeluk perempuan itu untuk melindungi dia dari serangan tiba-tiba.
Ternyata tidak hanya orang misterius yang Bianca tembak, ada sekitar 2 orang menyerang James dan Bianca.
James dengan cepat langsung melumpuhkan mereka berdua secara langsung. " Anda tidak apa-apa, kan?"
Bianca langsung tertegun dengan sikap lelaki itu. Terutama wajah mereka sangat dekat. " A-aku baik-baik saja..."
James melepaskan pelukannya secara tidak sadar dan membawa kedua orang itu bersama sosok bertudung itu.
Bianca langsung terkejut saat mereka berdua mengecek ketiga sosok misterius itu. "Ada apa, yang mulia?"
"Maksudnya?" Bianca menelan ludah sendiri dan menoleh ke arah James.
"Mana hitam... Ini mana yang sama saat aku menjadi Annastasia Girdadez."
James menoleh ke arah ketiga orang yang sedang pingsan dan berpikir sejenak.
Kemudian ia berdecih dengan senyuman di wajah tampannya. "Pantesan saja dia memanggilku..."
"Dia?"
"Tuhan," James bangkit berdiri begitupun dengan Bianca. Perempuan itu langsung menggunakan sihirnya kepada ketiga orang tersebut hingga sosok ketiganya itu menghilang dihadapannya.
"Kamu apakan dengan mereka?"
"Menjauhkan dari lokasi ini. Pokonya mereka tidak akan bisa keluar dari sana."
Bianca dan James menoleh ke arah kanan, mendengar suara teriakan dari sana. " Apakah kamu mendengarnya?" tanya Bianca kepada James.
Lelaki itu mengangguk dan mereka berdua segera menuju lokasi tersebut.
"Oh! Lady Harris?" mereka berdua terkejut ternyata Rossa sedang menghabisi musuh.
"Kalian berdua baik-baik saja, kan?"
"Kami baik, tapi... Bukannya kamu sedang di dalam desa?" kata Bianca.
__ADS_1
"Aku tidak bisa diam jika mereka langsung menyerang desa ini."
Bianca langsung paham apa yang dimaksud Rossa. Tentu saja dia adalah ksatria, dia tidak akan bisa diam saja kalau ada seseorang yang diserang. Misalnya kejadian sekarang.
Tidak lama, Vero dan Chris datang menghampiri mereka bertiga.
"Semuanya sudah kita atasi, ketua."
"Bagus. Lebih baik kita segera kembali dan membahas hal ini."
...****************...
"Sihir hitam?" tanya Rossa dan Bianca mengangguk yakin.
"Aku tidak tau darimana mereka berasal. Sepertinya mereka mengincar sesuatu di tempat ini."
Mereka semua menoleh ke arah Rossa yang seakan-akan meminta jawaban kepadanya.
"Kalau itu benar... Di desa ini ada seorang wanita yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa."
"Kemampuan luar biasa?" Rosa mengangguk mantap.
"Dia bisa mengendalikan 4 elemen sekaligus. Api, petir, udara, dan cahaya."
"Terus... Kemana dia?" tanya James penasaran.
Rossa hanya bisa mengangkat kedua bahunya seraya berkata, " Aku tidak tau keberadaan dia. Dia sangat pintar. Dia bisa saja mengaku-ngaku kalau dia adalah orang biasa, tetapi sebenarnya dia memiliki kemampuan seperti itu."
Vero berpikir keras. " Apa kita harus mencari dia?"
"Itu akan sangat sulit mencari dia. Dia sangat pintar," balas Chris.
Giselle yabg dari tadi diam saja berpikir bagaimana caranya supaya bisa bertemu wanita itu.
"Kamu mau kemana, Giselle?" tanya Bianca kepada anak Jendral itu.
"Aku harus ke toilet. Tiba-tiba kebelet pipis."
Bianca mengijinkan gadis itu pergi ke toilet dan Giselle segera pergi mencari toilet.
Setelah menjauh dari mereka, Giselle berjalan berlawanan arah dan mencari sosok yang ia ketemui.
Ia tidak kebelet pipis seperti yang ia katakan, tetapi ia bertemu seorang wanita yang seusia dengannya.
"Akhirnya kamu datang juga..." ujar wanita itu.
"Kamu inging bicara apa denganku?" tanya Giselle langsung to the point.
"Aku ingin minta tolong kepadamu..." Giselle memiringkan kepala dengan bingung.
"Memangnya apa yang kamu minta kepadaku?"
Secara mengejutkan tangan Giselle langsung ditarik olehnya dan muncul sebuah cahaya di sekitar tangannya.
Kedua matanya langsung melebar.
__ADS_1
"A-apaan ini!!"