
Semua anggota Organisasi Black Hole berkumpul dalam makan malam bersama.
Kecuali satu orang yang tidak hadir dalam acara tersebut.
Isabella menghela nafas panjang. Dari semua anggota di organisasi ini, Allan paling susah untuk diajak bertemu.
Mau itu acara resmi atau cuman kumpul biasa, dia selalu tidak hadir.
Anak satu ini memang susah diatur.
"Dimana Allan?" ketua menanyakan kepada semua anggota lain sebelum acara dimulai.
"Seperti biasa, ketua... Dia suka ngilang begitu saja," balas Richard dengan santainya.
Ketua hanya bisa menghela nafas panjang. "Anak itu... Padahal aku ingin berbicara dengannya sekarang."
"Apa saya memanggil dia, ketua?' tanya Gladys menawarkan diri.
"Baiklah... Makan malamnya masih lama kok," Gladys bangkit dari kursi makan dan segera mencari keberadaan Allan.
Biasanya.... Allan selalu berada di ruang pertemuan untuk tidur atau baca buku sejarah apapun.
Gladys tiba di ruang pertemuan dan membukakan pintunya. Di pikirannya pasti ia sedang tidur di sofa.
Allan merupakan orang yang susah dibangunin. Tidak hanya Allan saja, Richard juga termasuk di dalamnya.
Perempuan cantik itu segera memasuki ruangan dan melihat sosok yang ia kenal yang sedang rebahan di atas sofa.
Itu dia!! batin Gladys berjalan mendekati lelaki itu.
"Hei, Allan... Kamu tidak ikut acara makan malam bersama?"
Allan tidak bergeming sama sekali.
"Hei... Bangun!" tanpa belas kasih, Gladys menipuk wajah tampan Allan menggunakan bantal sofa.
"Aw... Apaan sih?' dengan setengah sadarnya, ia akhirnya terbangun juga.
Sambil menyilangkan kedua tangannya, Gladys menjawab, "Ketua mencarimu dari tadi."
"Aku tidak peduli," Gladys mendengus kesal.
"Kenapa sih punya kakak gak bisa diatur? Hei!! Siapa suruh tidur lagi?!" Gladys tanpa ampun, menjewer telinga kakaknya untuk bangun.
"Iya, iya... Ini bangun."
Setelah membutuhkan waktu lama untuk membujuk Allan ikut ke acara, akhirnya lelaki berambut warna hitam mau juga.
"Bagaimana dengan Marquis Orpha?"
"Marquis Orpha?" tanya Gladys balik.
"Ckk... Bukannya kamu sedang menjalin kerjasama dengannya?" dan setelah itu Gladys akhirnya mengingat juga.
"Oh itu... Akhirnya tidak jadi deh..."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Biasa... Beda berpendapat. Dia bilang kalau kita berhasil, wilayah Indter akan menjadi miliknya seutuhnya, tetapi tujuan kita juga mengambil wilayah itu."
Allan yang mendengar cerita adiknya melirik ke arah kanannya.
"Gladys... Ikut aku," tiba-tiba tangan perempuan muda itu ditarik olehnya.
"Hei... Kamu mau kemana. Acaranya bentar lagi dimulai lho!"
"Gak usah ikut. Sekali-kali saja."
Mendengar itu, Gladys langsung ngomel-ngomel panjang lebar. Udah susah-susah bangunin kakaknya untuk ikut ke acara malah dibawa bolos.
"Kalau kita berdua ketauan bolos, bagaimana? Kamu mau bertanggung jawab?"
"Santai saja, adikku... Aku akan mengurusin semuanya."
Di tempat perjamuan makan, acara makan malam telah dimulai.
Bella yang belum makan sama sekali terus melihat ke arah pintu.
"Kenapa mereka berdua lama sekali? Acaranya sudah mulai lho..."
"Biarin saja, Isabella. Aku tau pasti Allan membawa Gladys ke suatu tempat," ucap ketua mengetahui isi hati Bella.
"Tapi, kan..."
Ketua menujukkan senyuman yang samar kepadanya.
"Tidak apa, Isabella. Mereka berdua tampaknya ada urusan yang jauh lebih penting dari acara ini," kemudian ketua menoleh ke arah Chris.
"Baik. Terima kasih, ketua," kemudian ia menatap ke arah Veronica.
"Vero, besok lanjutkan penelitian tentang batu kristal itu. Aku akan ikut meneliti bersama Steven."
"Baik," balas Vero dan Steven kompak.
"A-anu... Ketua..." tiba-tiba seorang pelayan datang menghapiri ketua.
"Kami mendapat surat dari Kerajaan Aspendia."
Mendengar Kerajaan Aspendia, seketika raut wajahnya yang tenang berubah menjadi serius.
Semua anggota tau kalau ada ketua memiliki hubungan rahasia dengan sang ratu, tetapi sampai sekarang mereka masih belum tau hubungan seperti apa mereka berdua.
Sambil makan hidangan yang telah disediakan di atas meja, mereka semua melirik dan menunggu ketua selesai membaca surat daro Ratu Bianca.
"Apa-apaan ini?"
Mendengar reaksi yang buruk, semua anggota terutama Isabella memiliki firasat buruk dengan Kerajaan Aspendia.
...****************...
Kedua kakak-adik itu tiba di sebuah bar yang menjual minuman anggur terbaik di Kerajaan Aspendia.
__ADS_1
"Kenapa kita ke sini? Aku kira ada yang tidak beres di markas."
"Aku menghindari dari mereka," Gladys mendengus kesal.
"Kalau mau menghindar... Kenapa sampai sejauh ini? Terus... Kenapa harus aku yang bawa?"
"Suka-suka aku, dong," untung saja lelaki yang berada di sebelahnya adalah kakaknya, kalau bukan udah Gladys bunuh pakai pedangnya.
"Lagipula di tempat ini terkenal dengan anggur yang sangat enak dan berkualitas tinggi. Kamu bilang kalau kamu ingin berkunjung ke sini, bukan?"
Ternyata itu alasan lainnya...
"Bilang dong daritadi... Bikin orang kesal aja."
Allan tersenyum kecil ke arah adiknya dan meminta pesanan yang ia pesan kepada bartender.
"Kalau kamu apa, Gladys?" Gladys tampak berpikir sejenak sambil melihat menu.
"Ini semuanya alkohol? Aku ada alergi dengan begituan."
"Oh! Anda alergi dengan alkohol? Kalau begitu saya merekomendasikan wine yang bebas alkohol. 100% anggur asli dengan kualitas tinggi, tetapi frementasinya dengan cara berbeda, jadi wine ini 100% non alkohol."
Mendengar itu, Gladys masih tampak ragu dengan rekomendasi dari bartender itu. Allan tau kalau adiknya memiliki alergi alkohol.
Pernah suatu hari, saat perjamuan makan malam yang biasanya dijadwalkan 3 bulan sekali, tanpa tau kalau ada satu anggota yabg tidak bisa alkohol.
Gladys mendapat minuman alkohol. Ia kira kalau ini jus dan langsung meminumnya, setelah itu tubuhnya bereaksi dan jatuh pingsan.
Melihat itu semua anggota yang ikut langsung panik, terutama ketua.
Allan sebagai kakaknya tentu saja marah kepqda pelayan yang memberi adiknya minuman alkohol.
Tetapi, pelayan itu mengaku kalai dirinya tidak tau kalau Gladys memiliki alergi terhadap alkohol.
Meskipun Allan marah kepadanya walaupun dia sudah memberi penjelasan, perkataan pelayan itu ada benar juga.
Gladys tidak ngomong soal alergi terhadap alkohol. Yang tahu cuman kakaknya saja dan ngira kalau minuman untuknya bukan sejenis wine atau alkohol lainnya.
"Tenang... Aku pernah mencipi minuman itu dan tidak ada alkohol sama sekali."
"Beneran?" tanya perempuan itu yang masih ragu.
"Kalau ada, aku akan bunuh bartender itu," seketika bartender yang disebut langsung merinding disko.
"Baiklah... Aku mau yang itu," setelah itu bartender tadi langsung membuatkan pesanan kakak-adik itu.
Suasana di bar ini cukup ramai dan dipenuhi suara tawa yang keras dan teriak-teriak dari orang-orang yang sudah mabuk.
Dan juga bau dari bahan alkohol yang kuat, membuat orang yang jarang pergi ke bar pasti tidak kuat dengan bau itu.
Tetapi berbeda dengan Gladys yang memang bukan peminum, tetapi dia masih kuat dengan alkohol tersebut.
"Semuanya!! Ada kabar buruk!!"
Tiba-tiba salah seorang warga mendobrak pintu dan berteriak ke semua pengunjung bar tersebut.
__ADS_1
"Ada apa Alfonso?" tanya bartender yang sedang membuat minuman pelanggan.
"Yang mulia.... Yang mulia sudah meninggal..."