Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 88 : Serius?!


__ADS_3

Ketiga wanita itu saling pandang satu sama lain. Kira-kira Oscar membicarakan apa, ya?


Kini ketiga wanita itu beserta Oscar berkumpul di menara sihir, tempat Patrick bekerja di sana.


"Kenapa kita ada di sini, Oscar?" tanya Rossa bingung.


"Oh kalian sudah datang rupanya..." ucap Patrick tiba-tiba menghampiri mereka berempat.


Lelaki itu mempersilahkan masuk dan langsung saja Patrick menjelaskan kepada ketiga wanita itu.


"Sebenarnya... Oscarlah yang mengusulkan untuk berbicara dengan ibunya."


"Terus?" tanya Bianca penasaran.


"Aku bilang ibunya kalau Ivan sudah menemukan jodohnya di sini dan ia ingin bekerja di sini terus karena orang yang disukainya berada di kota ini."


"Reaksi ibunya gimana?" tanya Giselle buka suara.


Oscar menujukkan ekspresi senang. " Dia tentu saja senang, sebagai ibunya tentu anaknya akhirnya memiliki kekasih, tapi..."


Mereka bertiga menatap Oscar dengan penuh serius dan tajam. " Tapi aku bilang kalau wanita yang disukainya itu manusia biasa."


"Terus?"


"Yah... dia biasa saja sih... Setidaknya anaknya tidak sendirian mulu."


"Untuk itu aku sudah membuat ramuan agar Ivan berubah menjadi manusia," jelas Patrick membuat Bianca dan kedua wanita lainnya dibuat terkejut.


"Me-merubah menjadi manusia?! Kamu jangan bercanda, Tuan Firlutz!" seru Bianca sambil menggoyangkan tubuh lelaki itu.


"Ta-tapi... Apa Ivan akan mau?" tanya Giselle tiba-tiba.


"Ah... Pertanyaan yang sangat bagus. Tentu saja dia setuju," jelas Patrick dengan senyum tanpa dosa.


"Apa?!"


...****************...


Rossa berjalan sambil mondar-mandir, sementara Giselle dan Bianca duduk menunggu para lelaki melakukan eksperimen di dalam sana.


"Kenapa kalian ada di sini?" tiba-tiba Gerda dan Kay berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Oh... Kami sedang menunggu para lelaki keluar dari 'ekperimen' buatan Patrick. Kalau kalian?' tanya Bianca kepada dua bocah tersebut.


"Kami sedang menemui Tuan Firlutz untuk belajar bersama, yang mulia," balas Gerda dan dianggukin oleh Kay.


Pintu tersebut terbuka membuat ketiga wanita secara spontan menoleh ke arah pintu tersebut bersamaan dengan Kay dan Gerda yang juga menoleh karena penasaran.


"Eksperimennya... Berhasil nona-nona!!" seru Oscar senang bukan main. Bianca dan Giselle langsung bangkit dengan cepat.


"Benarkah?! Aku mau lihat wujud manusia Ivan!!" seru Giselle antusias.


Sementara Kay dan Gerda tampak kebingungan dengan perkataan Giselle.


Patrick keluar dengan wajah beseri bersamaan dengan seorang pria berambut hitam berjalan di belakang tubuh Patrick.


Rossa dan lainnya mengintip seperti apa wujud Ivan dan mereka seketika terkejut bukan main.


"I-ini... I-ini kamu Ivan?" tanya Bianca tidak percaya.


"Astaga... Kamu lebih tampan daripada Tuan Decius sekalipun..." ujar Giselle takjub.


Dan Rossa hanya diam dalam takjub. Kay dan Gerda memandang Ivan dengan sebuah tanda tanya di wajahnya.


Siapa lelaki tampan ini?


Ivan menelan ludah dengan sendirinya. Ia masih dalam mode takut karena ditatap oleh ketiga wanita yang terpesona dengan visualnya.


Seketika Bianca menyadari sesuatu. Ivan takut kepada wanita dan perempuan itu memberitahukan kepada lainnya kalau Ivan masih takut dengan wanita.


Dan akhirnya mereka berusaha untuk bersikap netral sebaik mungkin.

__ADS_1


"Jadi... Rencana selanjutnya apa?" tanya Giselle berusaha mencairkan suasana.


"Tentu saja... Kencan buta!!" seru Oscar sambil merangkul Oscar dengan kencang.


"KENCAN BUTA?!!" teriak mereka tidak percaya termasuk dua bocah itu.


"Kencan buta itu apa?" tanya Kay dengan polosnya dan seketika mereka semua langsung diam seribu bahasa.


...****************...


"Kamu sudah datang rupanya... Bagaimana hasilnya?" ujar Bianca kepada Bella keesokan paginya.


"Kami masih dalam pencarian mereka, yang mulia, tetapi kami menemukan sesuatu," tiba-tiba Bella menyerahkan sebuah kalung berbentuk botol kecil kepada Bianca.


Bianca yang melihat langsung terkejut bukan main. Kalung ini, kan...


"Kamu mendapatkan darimana?" tanya Bianca memasang wajah seriusnya.


"Aku menemukan di sekitar kota, yang mulia. Saat aku dan Vero sedang patroli di sana," balas Bianca.


Bianca menghela nafas panjang. Ia sudah tau kalau kalung ini merupakan kalung yang dama ketika ia menjadi Annastasia Girdadez.


"Terima kasih banyak... Oh ya, bisakah kamu membantuku memotong kentang ini. Aku akan kembali dengan segera, oke?"


Bella mengangguk dan Bianca segera pergi meninggalkan Bella sendirian di dapur. Kini Bella membantu sang ratu untuk memotong kentang yang sebenarnya tugas Bianca.


"Dimana yang mulia?" tanya Ivan tiba-tiba datang.


Isabella menoleh ke belakang dan ia langsung terkejut dengan penampakan seorang pria tampan dan tinggi berjalan ke arah Bella.


Tunggu...


Bukankah dia mendengar suara Ivan?


"D-dia se-sedang pergi sebentar. K-kata beliau, ia akan datang sebentar lagi," balas Bella dengan gagap.


Entah kenapa Bella merasa kalau ini pertama kalinya kalau gadis ini terbata di depan pria tampan seperti orang di depannya.


"Oh gitu..." balasnya dan segera kembali ke aktivitasnya.


"Oh rupanya kamu datang juga!!" seru Bianca akhirnya datang dan berjalan ke arah pria itu.


"Bagaimana?" tanya dia setelah ia selesai mencuci peralatan dapur.


"Nih... Daftar-daftar wanita yang ikut kencan buta besok lusa. Ingat ya... Kalau kamu tidak kuat, bilang ke kita. Jangan dipaksa, oke?"


Ivan mengangguk paham dan memulai membaca list para perempuan yang ikut kencan buta kali ini.


Bianca memandang wajah Ivan lumayan lama, kemudian ia berkata. " Entah kenapa aku tidak biasa dengan wujud manusiamu, Ivan."


Mendengar nama Ivan, Bella menoleh ke arah mereka berdua.


"Memangnya kenapa? Apa aku jelek?" tanya Ivan dengan polosnya.


"T-tidak!! Justru kamu lebih... Wow.. Lebih tidak jelek lah..." ujar Bianca panik.


Ivan mulai mengangguk paham dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak mengerti definisi tampan dan jelek di mata manusia seperti apa."


"Memangnya di sukumu tidak ada kata jelek atau tampan gitu?" Ivan menggeleng dengan yakin.


"Kita semua sama. Tidak ada yang jelek maupun bagus. Dan juga..."


"Aku tidak merasa tampan, kok..." Ia menunduk sambil mengecilkan suaranya.


"Tidak, kok!! Kamu tidak jelek!! Kamu-"


"Yang mulia..." mereka berdua menoleh ke arah Bella yang sudah berada di tengah keduanya.


"Aku sudah memotong kentangnya."


"Oh sudah?! Cepat sekali..." Bianca berjalan ke arah tempat para kentang yang sudah dipotong.

__ADS_1


"Lebih baik kamu mencari siapa wanita yang menurutmu cocok denganmu," balasnya lagi dan kini Bianca sedang mencuci kentang-kentang tersebut.


Ivan melirik ke arah Bella dan Bella membalas tatapan lelaki itu.


"Errgghh..." ujar lelaki itu, kemudian ia buru-buru membaca semua profil satu per satu.


"I-itu... Beneran kamu?"


"Iya?" tanya lelaki itu menoleh ke arah Bianca dan akhirnya Ivan mulai sadar.


"Ah ya... Ini memang aku. Aku sedang mencari pasangan segera sebelum ibu datang ke sini."


Bella mengintip kumpulan profil para wanita yang Bianca temukan.


"Kriteria wanita seperti apa yang kamu suka?" tanya Bella tiba-tiba.


"Kriteria?" tanya Ivan dan Bella mengangguk.


Lelaki itu tampak berpikir, kemudian ia berkata...


"Seperti yang mulia Ratu Bianca. Beliau suka memberikan lelucon, tetapi di sisi lain, ia adalah wanita yang pekerja keras."


Mereka berdua sama-sama menoleh ke arah Bianca yang sibuk mencuci kentang di pojok sana.


"Walaupun dia seorang ratu atau orang kerajaan, dia tidak memandang dirinya sebagai 'penguasa'. Kalau ada orang yang kesusahan, dia berusaha membantu."


"Seperti sekarang ini. Aku tidak menyangka kalau yang mulia jago dalam memasak."


"Kamu menyukainya?" tanya Bella membuat Ivan terkejut bukan main.


"B-bukan se-seperti itu... Aku hanya kagum saja. Lagian yang mulia seperti ibu keduaku fi sini."


Bella mengangguk paham dan memikirkan pikirannya sendiri, sementara Ivan sibuk melihat-lihat daftar para wanita yang ia kencani besok.


"Sepertinya ini tidak akan berhasil..." ujar Ivan setelah beberapa menit ia membaca seluruh profil para wanita tersebut.


"Kenapa?" tanya Bella penasaran.


Ivan menghela nafas panjang dan berkata," Entalah... Aku merasa kalau aku tidak siap untuk bertemu dengan mereka."


"Kamu takut?" Ivan menoleh ke arah Bella. " Darimana kamu tau?"


"Aku coba tebak saja," balas Bella berusaha membunyikan sesuatu kepadanya.


Bella sekarang mulai paham kenapa lelaki itu takut dengannya. Menurut cerita dari Richard, Ivan memiliki trauma karena mengalami hal buruk bersama wanita.


Ia melirik ke arah lelaki di sebelahnya. Pantas saja dikejar oleh wanita, dia memiliki pesona yang sangat luar biasa.


Baik saat dia menjadi wujud aslinya maupun wujud manusia pun, para wanita akan selalu tergila-gila dengan visual dia yang sangat luar biasa.


"A-anu..." Bella menoleh ke arah lelaki itu.


"Kamu bilang... Kalau kamu ingin membalas budi dari kebaikanku, bukan?" Bella mengangguk.


"Ada apa? Kamu ingin meminta sesuatu?" .


Dari wajahnya, Ivan masih ragu untuk bicara dengannya. " Santai saja... Aku tidak akan marah. Apapun yang kamu minta, aku akan selalu mengabulkan permintaanmu itu, kok."


Ivan menelan ludahnya sendiri. "Besok lusa, kamu tidak ada kegiatan yang penting, kan?"


Bella mencoba mengingat. " Tidak. Kalau kamu memintaku untuk menjaga dari serangan para wanita yang menyeramkan, aku bisa menjagamu."


Ivan buru-buru menggelengkan kepalanya. " Bukan... Bukan yang itu..."


Wajahnya langsung memerah membuat Bella semakin dibuat kebingungan.


"Kamu mau tidak besok lusa kita kencan?"


"Hah?!"


PRANKK!!

__ADS_1


Sebuah piring pecah yabg membuat mereka berdua terkejut bukan main.


"Maaf!! Aku tidak sengaja!!" seru Bianca tanpa dosa dan buru-buru membersihkan piring yang pecah.


__ADS_2