
Daryl dan Lorent Barton, dua kakak-adik ini merupakan pemimpin pasukan Star Wings serta Moon Wings dari Six Wings, Wind Wings dipimpin oleh Jacob, Ice Wings dipimpin oleh Markus, dan Sky Wings dipimpin oleh Rossa.
Kini, Six Wings sudah dibubarkan oleh sang ratu sendiri, Ratu Bianca. Otomatis, keenam pemimpin pasukan Six Wings itu dipecat secara tidak langsung dan segera meninggalkan kerajaan ini tanpa jejak.
Kini, Bianca dalam jiwa Vina mencari Barton bersaudara ini dan membawa kembali ke istana. Tentu saja untuk bisa mengalahkan sekelompok misterius yang menginginkan dua kristal penting di Kerajaan Aspendia.
"Yang mulia.." Bianca menoleh ke arah Chris yang sedang menghampiri dia.
"Maaf mengganggu kegiatan anda, tetapi Kota Vindo merupakan 'Kota Langit' yang dimana kita harus pergi ke Pelabuhan Udara Dabasca."
"Pelabuhan Dabasca?" ujar Bianca bingung. Ia sama sekali tidak tau tentang pelabuhan udara di dunia ini.
Chris mengangguk. "Kalau dari Kerajaan ini ke sana mungkin bisa memakan waktu 3 hari. Apa anda tidak apa-apa?"
"Tentu saja saya baik-baik saja," jawab Bianca dengan santai. Chris dan Allan sedang berkunjung ke istana untuk masalah perdagangan.
"Anda serius, yang mulia?" tanya Allan membuka suara.
"Kenapa? Kalian mau ikut denganku?" tanya Bianca menawarkan ajakan kepada kedua pria tersebut.
"A-apa?!" mereka berdua dibuat terkejut dengan ajakan Bianca. Lagian, selain Bianca, wanita itu mengajak Giselle dan Rossa untuk bergabung dan juga Bianca baru mengetahui kemampuan bela diri Giselle yang ternyata ia ahli dalam berpedang.
Sebenarnya ia juga mengajak Oscar, tetapi di daerah barat Kota Lunrei ada kejadian perampokan besar-besaran. Mau tidak mau, Oscar harus turun tangan ke sana.
Bagaimana dengan Jacob dan Markus? Bianca tentu saja tidak membawa dua pria tua itu ikut dengannya mengingat Jacob menggantikan posisinya sementara dan Markus harus fokus dengan militer keamanan kerajaan.
Patrick?
Penyihir agung juga harus mengurus Kay dan Gerda serta mengajari mereka berdua.
"Bagaimana?" tanya Bianca kepada mereka berdua. Mumpung ada laki-laki yang ikut dengan Bianca yang lain, bisa melindungi ketiga wanita dalam perjalanan.
Chris dan Allan saling pandang satu sama lain. Saling berpikir ke depannya bagaimana.
"Baiklah... Kita akan ikut dengan anda, yang mulia," jawab Chris akhirnya.
__ADS_1
"Saya sama dengan Chris, yang mulia. Berbahaya pergi sendirian ke sana."
"Sebenarnya... Aku pergi tidak sendirian, kok," baik Chris maupun Allan saling memiringkan kepalanya.
Kira-kira siapa yang ikut selain mereka berdua?
**************************
"Yang mulia..." ujar Rossa memandang sang ratu dan ia menunjuk ke arah Chris sambil berkata lagi, " Kenapa anda membawa mereka, yang mulia?!"
Bianca reflek memundurkan kepalanya karena suara kencang dari Rossa. "Memangnya kenapa? Lebih banyak orang, makin seru," jawab Bianca tanpa dosa.
"Bukan begitu, yang mulia..." ucap Rossa sambil menepuk dahinya dengan frustasi. Kenapa pula ratunya itu mengajak calon suaminya?
"Oh! Aku tau!! Anda canggung bertemu dengan dia, bukan? Apalagi kalian sebentar lagi kalian akan menikah?" kata Giselle mulai menebak-nebak.
"Oh ya benar juga katamu, Giselle. Tapi tidak apa-apa, bukan? Lagi pula kalian berdua belum banyak bicara sejak lama. Aku tidak mempermasalahkan itu, kok," kata Bianca sambil mengayunkan telapak tangan kanannya seolah-olah kalau masalah itu adalah hal yang sepele.
"B-bukan seperti itu, yang mulia..." Chris menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka akan bergabung dengan calon istrinya. Sebenarnya bagus sih... Bisa ada kesempatan semakin dekat, tetapi tidak dalam momen seperti ini.
Sementara itu Allan datang terakhir dengan membuka mulut dengan lebar membuat Chris menoleh ke arah pemuda berambut putih itu. "Pasti kamu begadang lagi, ya..."
"Jadi.. Apakah kalian sudah siap?" tanya Allan kemudian mengganti topik.
Mereka semuanya mengangguk mantap dan perjalanan mencari Barton bersaudara itu akhirnya dimulai.
*******************************
"Kota Vindo termasuk kota paling tertua dari seluruh kota di Kerajaan Borton... Wah... Kira-kira kota itu sudah ada sejak kapan, ya?" ujar Giselle takjub setelah membaca sejarah singkat Kota Vindo, kota yang dijuluki sebagai 'Kota Langit' itu.
"Kota Vindo sudah ada sejak sebelum Kerajaan Borton didirikan. Ada legenda bahwa Kota Vindo merupakan kota perkumpulan para dewa. Para dewa-dewi itu tinggal di Kota Vindo dan menjalani kehidupan dengan normal. Itulah kenapa kota itu dibangun di atas langit," jelas Allan sambil melihat pemandangan dari jendela kereta kuda.
Giselle yang berada di depan Allan langsung dibuat kagum dengan pengetahuan Allan yang sangat luas. "Aku baru tau tentang itu..."
'Itu hanya legenda saja..."
__ADS_1
"Tapi tetap saja itu sebuah pengetahuan yang harus diingat," Allan melirik ke arah Giselle yang sedang kembali membaca buku. Mereka berlima pergi ke pelabuhan menggunakan 2 kereta kuda dan kereta kuda ini diisi oleh Giselle dan Allan saja.
Allan menghela nafas panjang. Ia berharap bisa duduk satu kereta dengan Ratu Bianca, tetapi nasibnya tidak beruntung kali ini.
Ia melihat kesibukan Giselle yang sedang membaca buku dari tadi. Pertama kali Allan melihat Giselle, di pikirannya adalah Giselle merupakan gadis muda yang suka cerewet, periang, suka tebar keimutan dan 11:12 dengan adik perempuannya, Gladys.
Tetapi, sampai sekarang Giselle selalu diam dan sibuk membaca buku. "Kamu sedang baca buku apa?" tanya Allan mulai penasaran dengan buku yang dibaca Giselle.
"Oh ini... Ini tentang bagaimana Kota Vindo berkembang dari tahun ke tahun sebagai kota yang paling maju di Kerajaan Borton," dari jawaban Giselle bisa dipastikan bahwa ia membaca buku tentang hal-hal yang rumit.
"Isinya seperti apa?" tanya Allan lagi dan Giselle memandang pemuda di depannya.
"Anda penasaran dengan buku ini?" Allan mengangguk dengan enteng. "Dimulai tentang sejarah didirikan kota ini. Menurut ahli sejarah, Kota Vindo bisa melayang di atas langit menggunakan sihir di bagian 8 titik dibagian tanah kota ini, kemudian dilanjutkan tradisi di kota Vindo yang ternyata orang-orang sana..." Allan mulai memperhatikan cara menjelaskan Giselle yang begitu antusias menceritakan apa saja yang ia baru saja gadis itu baca.
Senyuman Allan perlahan mulai mengembang. Mungkin, baginya ini merupakan perjalanan yang tidak akan bosan.
Sementara itu, di kereta kuda yang lainnya. Bianca memandang sepasang kekasih saling diam satu sama lain. Bianca menghela nafas dengan frustasi. Seharusnya ia duduk bersama Allan dan Giselle saja di kereta satunya.
Ia merasa bersalah dan canggung terhadap dirinya sendiri. Terutama Chris dan Rossa dari tadi diam saja. Ia juga merasa kalau dia adalah makhluk yang mengacaukan orang pacaran.
"Kira-kira sampai ke pelabuhan kapan, ya?" tanya Bianca membuka suara. Daripada diam terus seperti kuburan, mending bertanya basa-basi.
"Kalau menggunakan kereta sihir paling sepat sehari sudah sampai, yang mulia," jawab Chris akhirnya mau buka suara. Rossa masih diam saja dari tadi.
"Chris... Bolehkah kamu menceritakan tentangmu. Sekalian bisa berkenalan lebih jauh," ucap Bianca kepada Chris. Sang ratu juga sebenarnya juga ingin tau latar belakang Chris seperti apa.
"Tentangku? Ah.... Dimulai darimana, ya?" Chris mulai berpikir sejenak, kemudian ia melanjutkan.
"Aku terlahir dari keluarga biasa saja. Ayahku seorang pegawai pemerintah dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku memiliki 2 adik...."
"Terus... Bagaimana kalian bertemu?" seketika baik Chris dan Rossa saling pandang satu sama lain.
"K-kami teman tetangga dari kecil," akhirnya Rossa mulai bicara.
"Wahh... Kalian dulu sahabatan, ya..." balas Bianca dengan rasa kagum Kagum karena hubungan mereka masih awet dari temenan dan tetangga langsung naik status menjadi teman hidup. Itu perjuangan yang sangat susah dan pengorbanan.
__ADS_1
Di dunia Vina juga ada, itulah kenapa Vina merasa ke-trigger dengan cerita asmara mereka berdua. Mengingatkan kepada kisah asmara kakak laki-lakinya, Bang Vino dengan istrinya, Kak Bunga.
Gara-gara Bianca, mereka berdua menceritakan kisah asmara mereka hingga tidak terasa mereka sudah sampai di Pelabuhan Udara Dabasca.